Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.
Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.
Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka
Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.
Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?
Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16 Besar
Trowulan tidak pernah sesunyi ini saat fajar, namun juga tidak pernah sebising ini saat matahari mulai mencapai puncak langit.
Alun-Alun Utama Majapahit telah disulap menjadi sebuah koloseum batu yang mengerikan. Ribuan rakyat dan bangsawan duduk di tribun yang melingkar, namun fokus mereka berkumpul di satu titik: sebuah singgasana tinggi di sisi utara tempat Maharaja duduk di balik tirai sutra emas yang tipis, didampingi oleh para tetua kerajaan dan barisan Pandita yang memiliki ketebalan mata setajam silet.
Subosito berdiri di lorong arena yang gelap, merasakan denyut nadinya yang mulai berpacu. Di sebelahnya, Larasati menggenggam tongkat cendananya erat-erat. Kehangatan pelukan malam tadi masih tersisa di hatinya, namun kini udara di sekeliling mereka hanya menyisakan aroma pasir dan ketegangan.
“Waspadalah, Sura,” bisik Larasati memperingatkan Subosito. "Getaran di luar sana berbeda. Ini bukan sekadar sayembara, ini adalah panggung pertempuran!"
Subosito hanya mengangguk pelan, lalu melangkah keluar saat namanya—atau lebih tepatnya identitas samarannya—dipanggil.
Begitu Subosito menginjakkan kaki di pasir arena, terdengar sorak-sorai penonton memekakkan telinga. Namun, mata Subosito segera mencari sosok Kala Dirja, sang Kesatria Naga Sisik Perak.
Subosito menduga takdir akan mempertemukan mereka di sini, namun harapannya pupus. Kala Dirja justru duduk tenang di barisan peserta elit, matanya yang tanpa pupil menatap lurus ke arah Subosito dengan senyum tipis yang penuh teka-teki.
Lawan Subosito muncul dari lorong selatan.
Bumi bergetar, sosok yang keluar bukan sekadar kesatria, melainkan raksasa setinggi dua tombak dengan dada selebar pintu gerbang istana.
Pria itu bernama Gajah Segoro, namun bukan fisiknya yang membuat nyali para penonton menciut. Dari pori-pori kulitnya, keluarlah uap putih yang dingin dan berbau hutan liar.
Di belakang tubuhnya, samar-samar terlihat proyeksi energi berbentuk macan putih raksasa yang sedang menggeram.
"Roh Macan Putih...!" batin Subosito tercekat, dia tahu legenda itu.
Roh Macan Putih adalah pelindung kuno yang hanya bisa dirasuki oleh mereka yang telah memberikan bantuan demi kekuatan murni. Ini adalah musuh bebuyutan alami dari Garuda. Jika Garuda adalah api dari langit, maka Macan Putih adalah badai dari bumi.
Pengadil kerajaan mengangkat tangan, lalu menjatuhkannya dengan keras. "Mulai!"
Tanpa peringatan, Gajah Segoro menerjang. Kecepatannya sangat tidak masuk akal untuk ukuran tubuh sebesar itu. Pukulan pertama menghantam tanah tempat Subosito berdiri sedetik sebelumnya, menciptakan kawah sedalam satu meter dan menerbangkan bongkahan batu ke udara.
Subosito bersalto di udara, mendarat dengan lincah, namun Gajah Segoro sudah berada di depannya lagi.
Pukulan demi pukulan bertubi-tubi datang. Subosito hanya bisa bertahan menggunakan teknik kuncian tangan dan langkah kaki Sungsang Aji .
Setiap kali lengan berbenturan dengan tangan Gajah Segoro, Subosito merasa seolah-olah sedang menghantam batang pohon jati padat yang dilapisi baja.
BRAK!
Sebuah tendangan menyamping dari sang raksasa mengenai tulang rusuk Subosito. Tubuhnya terpental jauh, menghantam dinding batu arena hingga retak.
Penonton berteriak histeris. Bagi mereka, sang kuli bisu itu hanyalah mainan yang sedang diremukkan oleh kekuatan dewa.
Subosito bangkit sambil menyeka darah dari sudut tepi bibirnya. Pemuda itu melihat Gajah Segoro mulai kehilangan kendali atas roh di dalamnya.
Mata pria berbadan besar itu memutih sepenuhnya, dan kuku-kukunya memanjang seperti cakar. Aura Macan Putih di punggung kini menjadi terlihat lebih nyata, mengeluarkan raungan batin yang sanggup meruntuhkan mental orang-orang lemah di tribun.
Gajah Segoro merunduk, bersiap untuk serangan pamungkas yang bisa meratakan seluruh arena. Dia melesat seperti kilat putih.
Subosito tahu, jika dia hanya mengandalkan fisik murni tanpa energi, dia akan mati di tempat ini.
Rahasianya atau nyawanya?
Namun, Subosito melihat Larasati di pertarungannya, dan dia melihat diremehkan oleh Kala Dirja. Sesuatu di dalam dada Subosito berontak. Dia tidak akan mati di sini sebagai sampah.
Saat kepalan tangan raksasa itu hanya berjarak beberapa jengkal dari wajahnya, Subosito menarik napas dalam. Pemuda itu tidak melepaskan seluruh segelnya, melainkan hanya membuka satu katup kecil di inti jiwa.
"Manunggal...!" bisiknya di dalam hati.
BZZZT!
Seketika, tinju kanan Subosito terbungkus oleh pendaran api keemasan yang sangat padat. Warnanya bukan merah api biasa, melainkan emas murni yang bersinar seperti matahari pagi. Pemuda itu menghantamkan tepat ke arah tinju Gajah Segoro.
Duarrr!
Terjadi energi yang beradu di tengah arena. Gelombang kejutnya menyapu debu dan pasir hingga menciptakan pusaran angin yang besar.
Panggung batu yang konon tak terpatahkan kini terbelah menjadi dua bagian besar. Gajah Segoro terlempar ke belakang, terguling-guling di pasir sementara Roh Macan Putih di punggungnya melengking kesakitan sebelum akhirnya lenyap.
Penonton terdiam sejenak, sebelum akhirnya ledakan sorak-sorai yang lebih dahsyat dari sebelumnya pecah.
"SURA! SURA! SANG PEMBAWA CAHAYA!"
Namun, di tengah kegembiraan itu, Subosito merasakan hawa dingin yang lain. Dia melirik ke arah tribun atas.
Para Pandita yang memegangi kain putih—para pembaca pikiran kerajaan—kini berdiri tegak. Mereka tidak lagi hanya mengawasi; mereka mulai merentangkan tangan, memusatkan fokus batin mereka ke arah Subosito. Mereka merasakan frekuensi yang tidak terdengar. Frekuensi emas yang telah lama menghilang dari bumi Majapahit.
Subosito segera menarik kembali apinya. Tangannya gemetar, bukan karena kelelahan, tapi karena dia tahu dia baru saja menyalakan obor di tengah sarang pemburu.
Di sisi lain, Maharaja di balik tirai sutra tampak condong ke depan, seolah-olah sedang mengamati sesuatu yang sangat berharga..., atau sesuatu yang harus segera dihancurkan.
Subosito berjalan tertatih-tatih meninggalkan arena. Dia telah menang, namun dirinya merasa seperti baru saja masuk ke dalam jebakan yang lebih besar.
Subosito melewati lorong gelap dan bertemu dengan Larasati yang menantinya dengan wajah tegang.
"Kau membocorkannya," bisik Larasati pelan. "Para pembaca pikiran itu..., mereka mulai membedah setiap jengkal ingatan yang kau coba sembunyikan!"
Subosito hanya bisa menunduk, napasnya masih terengah-engah. Dia menatap telapak tangannya yang masih menyisakan sisa panas emas.
Subosito selamat dari Macan Putih, tetapi dia tidak tahu apakah bisa selamat dari mata-mata kerajaan yang kini haus akan kebenaran di balik sosok Sura.
Ketegangan di arena tidak berakhir di sana. Pertandingan berikutnya segera diumumkan, dan kali ini, seluruh penonton menahan napas.
Nama yang dipanggil adalah nama yang akan menentukan apakah harapan akan tetap ada, ataukah kegelapan perak akan menyapu bersih segalanya.
Subosito telah memenangkan pertarungan brutalnya, namun api keemasan yang dia keluarkan telah mengundang perhatian kekuatan paling berbahaya di kerajaan—para pembaca pikiran Maharaja. Kini, identitasnya berada di ujung tanduk, di ambang pembongkaran yang bisa berakhir pada eksekusi massal.
Kejutan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di atas arena yang masih retak, takdir kembali mempermainkan jiwa-jiwa yang terluka. Larasati, sang gadis buta yang hanya mengandalkan keheningan, kini harus berdiri menghadapi sosok yang misterius.
Mampukah kesunyian Larasati mampu menahan calon lawannya? Ataukah babak 16 besar ini akan menjadi tempat di mana semua cahaya matahari dan rembulan akan dipadamkan selamanya?
Simak kelanjutan kisahnya dalam 'Subosito'.