IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Gerald!!"
Pelayan laki-laki yang di panggil Naufal dengan sebutan nama Gerald itu tercekat. Melirik Naufal sekilas, lalu tertunduk lagi.
"Kamu ... ngapain di sini?" tegur Naufal. Sambil meraih lengannya.
Gerald duduk di sebelah Naufal. Laki-laki berusia 18 tahun itu masih menyembunyikan wajah lesunya. Wajah tampan yang amat mirip dengan wajah ayahnya, yaitu Jeremy suami dari Megan–sahabat Regina.
"Gue lagi kesel sama Mama!" ujarnya, tanpa mengangkat wajah.
"Kesel kenapa? Kamu kabur dari rumah?" Naufal mencoba bertanya pelan.
Anin ikut fokus mendengarkan, bahkan Dimsum yang tadi begitu membuat nya berselera, kini sudah tak lagi menarik mintanya.
"Mama tuh terlalu ngatur-ngatur Bang, mana ngomongnya pedes banget." Gerald baru mengangkat wajahnya.
"Kamu tersinggung?" hati-hati Naufal bertanya.
"Ya gimana nggak tersinggung Bang, Gue lagi suka sama cewek. Meskipun gue belum suka-suka banget sama dia, tapi ini bukan soal gue suka dan tidaknya. Ini soal Mama yang ngerendahin selera gue."
Naufal terdiam, melirik Anin sebentar.
"Cewek itu, kerja di kafe. Bapaknya juru parkir di sana. Trus apa masalahnya? Kerja di kafe dan juru parkir kan kerjaan halal. Tapi Mama, malah nuduh macam-macam."
Anin tercekat, lantas menelan ludah. Kenapa kisah cewek yang di ceritakan Gerald mirip dengan kehidupannya.
"Mama, pake ngancem segala. Dan bilang kalo cewek itu berpotensi kriminal karna hidupnya keras dan dari keluarga berantakan. Mama nggak mau gue terkena dampaknya."
Deg!
Anin dan Naufal saling berpandangan. Cerita Gerald jelas-jelas cerita yang sama dengan cerita mereka. Bahkan lebih parahnya lagi, mereka berdua saling mencintai dan sebisa mungkin mengabaikan halangan itu. Walau mereka tahu, lambat laun pasti terjadi.
"Jadi, kamu kabur dari rumah dan mencoba kerja di sini?"
Gerald mengangguk, "Gue nggak suka sama pandangan Mama yang begitu. Kan nggak semua buah jatuh nggak jauh dari pohonnya. Lagian kalo memang gue berjodoh sama cewek itu, bisa ajakan gue ajak dia tinggal di luar negeri, biar nggak ikut terkena masalah sama keluarganya. Tapi tetep, Mama nggak mau denger. Maunya bener sendiri. Dan itu yang buat gue kesel sama Mama. Nggak pernah dengerin anaknya."
Naufal termangu, kata-kata Gerald soal tinggal di luar negri, seolah memberi ia gagasan. Ide cemerlang. Dan bisa ia terapkan bersama Anin.
"Terus kamu tinggal di mana, sekarang?"
"Di hotel star, udah tiga malam."
Naufal terlonjak, "Gajih kamu kerja di sini emang cukup buat bayar tinggal di star?"
"Abisnya kemarin, aku tinggal di kosan teman, badan aku gatal-gatal Bang, mana panas. Aku nggak bisa tidur."
Naufal menahan tawa, betapa masih bocahnya si Gerald ini, malah sok-sokan kabur dari rumah.
"Aku bilang sama Papa, dan Papa yang nyuruh sementara tinggal di star aja. Papa lebih ngertiin aku Bang, dari pada Mama."
Naufal menepuk pundak Gerald pelan. "Ya udah, kamu kerja yang bener deh di sini. Siapa tahu kamu sukses, dan bisa ngajak tinggal di luar negri cewek kamu itu."
Gerald menggeleng, "Udah nggak sama cewek itu lagi Bang, dia mutusin aku. Setelah tahu aku kerja disini. Dia ngira aku orang miskin. Nggak cocok sama dia. Miskin ketemu miskin, nanti nggak bisa maju, katanya."
Naufal sekuat tenaga menahan tawa. Cerita yang lucu sekaligus mengenaskan.
Berbeda dengan Naufal yang menahan tawa, Anin justru semakin terdiam. Lambat laun, cerita Gerald yang berseteru dengan Megan–Ibunya– pasti akan menerpa hubungan mereka. Sudah sangat di pastikan.
"Bang, kalian pacaran?" Tanya Gerald, sambil menatap Anin dan Naufal bergantian.
"Iya kita pacaran, kenapa?" Naufal menimpali.
"Nggak, tanya aja. Soalnya kalo nggak pacaran, bisa kali Kak Anin sama gue aja." goda Gerald.
Sontak Naufal menjitak kepalanya.
"Lagian, dari dulu gue panutannya elo Bang. Bagi gue Lo itu sempurna, dan gue pengen jadi kayak Lo."
"Halah, kamu aja belajarnya males, mana bisa kamu jadi kayak Abang."
Anin memaksakan senyum, lantas menggigit dimsumnya pelan.
"Ya nggak dengan profesi Lo Bang, gue nggak tertarik jadi malaikat berjas putih kayak Lo sama Mas Albie. Gue lebih tertarik jadi lawyer deh kayanya."
"Lawyer? Serius mau masuk Fakultas Hukum?" Naufal memicingkan mata.
"Serius gue," Gerald melirik ke area konter. Seseorang sudah berdiri di sana, menatap lurus padanya. "Bang, gue lanjutin kerja ya, itu bos gue udah lirik-lirik." ujarnya sambil berdiri.
"Kak Anin, baik-baik sama Abang gue. Semoga sampe nikah ya kalian." Lantas berlalu, tanpa menunggu komentar Anin, ataupun Naufal.
Naufal mulai menikmati burger yang ia pesan, "Sayang, mau cobain dong Dimsum nya. Suapin..."
Anin mengambil sebuah Dimsum dengan sumpitnya, menyuapkan di mulut Naufal yang sudah ternganga.
"Iya, bener ya... Enak! Aku suka." ujarnya di sela kunyahan.
Tapi Anin tetap diam,
"Sayang, kamu kedistrak sama ceritanya Gerald ya?"
Anin mengangguk pelan, "Kejadiannya sama persis. Kita juga bakal begitu, kalau Mama tahu."
"Udah sih, nanti aja mikirinnya. Kan belum kejadian?"
Anin menghela nafas panjang, meski Naufal mencoba menenangkannya, tapi tetap saja rasanya sesak.
Dimsum dan Burger sudah habis, mereka melanjutkan perjalanan. Keduanya sama-sama diam, larut dalam pikiran masing-masing.
Naufal mengantar Anin terlebih dahulu ke kafe KYN, baru setelahnya Naufal ke rumah sakit pusat.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍