Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.
Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.
Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…
Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Suasana mendadak berubah. Tatapan Aleta yang sebelumnya hanya dingin kini benar-benar gelap, tajam, dan penuh tekanan.
Angin sore berembus pelan, mengibaskan rambut hitam Aleta yang terurai berantakan. Bahunya terasa nyeri akibat pukulan tadi, sudut bibirnya sedikit robek, namun gadis itu tetap berdiri tegak seolah rasa sakit bukan sesuatu yang penting.
"Aura itu..." gumam pemimpin kelompok itu pelan. "Kau pernah bertarung sebelumnya."
Aleta memutar pelan lehernya hingga terdengar bunyi kecil. "Kalian terlalu lambat untuk menyadarinya."
Detik berikutnya Aleta melesat maju lebih dulu. Gerakannya begitu cepat hingga salah satu pria terlambat bereaksi.
BUGH!
Pukulan Aleta menghantam tenggorokan pria itu keras. Tubuhnya langsung terhuyung sambil mencengkeram lehernya sendiri karena kesulitan bernapas.
Belum selesai lutut Aleta menghantam perut pria lain dari samping. Saat tubuh pria itu membungkuk, Aleta menarik kerah bajunya lalu membanting kepalanya ke kap mobil van.
BRAK!
Kaca depan mobil retak seketika, darah merembes dari kepala pria itu.
"Sialan!" Satu pria mengayunkan rantai besi ke arah Aleta.
CRANG!
Aleta menangkap rantai itu dengan tangan kosong. Telapak tangannya langsung memerah karena gesekan besi, tapi dia tidak peduli. Dia menarik rantai itu kuat-kuat.
Pria itu kehilangan keseimbangan, detik itu juga tendangan keras Aleta menghantam wajahnya tanpa ampun. Tubuh pria itu terpelanting ke aspal.
Napas Aleta mulai memburu. Adrenalin mengalir deras di tubuhnya, sudah lama dia tidak bertarung seperti ini. Namun anehnya dia menikmatinya.
"Sekarang aku paham..." ujar salah satu pria dengan napas berat. "Kenapa Ravian sampai menjaga gadis seperti ini."
Aleta meliriknya tajam. "Kalau mau ngobrol, nanti saja."
Dua orang menyerangnya bersamaan dari kanan dan kiri. Aleta menunduk cepat. Tongkat bisbol itu justru saling berbenturan.
BUG!
Saat celah terbuka, Aleta menghantam rahang pria di kanan dengan pukulan keras.
KRAK!
Pria itu langsung jatuh. Sementara pria satunya lagi mencoba memeluk tubuh Aleta dari belakang. Namun, Aleta menghentakkan kepalanya ke belakang.
DUK!
Hidung pria itu langsung berdarah. Tanpa memberi ampun, Aleta memutar tubuh lalu menghantam siku ke wajahnya berkali-kali.
BUGH! BUGH! BUGH!
Pria itu roboh dengan wajah penuh darah. Semua orang mulai menyadari satu hal gadis di depan mereka bukan manusia normal. Dia bertarung seperti orang yang terbiasa melukai dan dilukai.
"Apa kalian mulai takut?" tanya Aleta pelan.
Napasnya tersengal sedikit, tapi sorot matanya justru semakin tajam. Pemimpin mereka tertawa kecil, meski wajahnya kini jauh lebih serius.
"Kau gila."
"Terima kasih."
"Tidak ada gadis normal yang tersenyum saat dikeroyok."
Aleta menarik sudut bibirnya lebih lebar. "Siapa bilang aku normal?"
Detik berikutnya, pemimpin itu sendiri maju menyerang. Gerakannya jauh lebih cepat dibanding anak buahnya.
BUKH!
Pukulannya mengarah lurus ke wajah Aleta. Kemudian Aleta menangkis dengan lengan, tapi benturan itu tetap membuat tubuhnya terdorong mundur satu langkah.
"Oh?" gumam Aleta pelan.
Pria itu tidak memberi jeda.
BUGH!
Tendangan mengarah ke pinggang Aleta. Kali ini Aleta melompat menghindar, namun ujung sepatunya tetap mengenai sisi tubuhnya. Tubuh Aleta bergeser beberapa senti.
"Jadi kau bukan sampah biasa," katanya pelan.
Pria itu menyeringai. "Akhirnya kau berhenti meremehkan."
Mereka kembali bergerak hampir bersamaan.
BUKH!
Pukulan.
DUAK!
Tendangan.
BRAK!
Benturan demi benturan terdengar menggema di jalan sepi itu.
Aleta memutar tubuh menghindari serangan rantai, lalu membalas dengan tendangan berputar ke arah kepala lawannya.
Pria itu menahan dengan tangan, namun tetap terdorong mundur.
"Sial..." desisnya.
Aleta tidak memberinya waktu bernapas. Dia menyerang membabi buta sekarang. Pukulan demi pukulan menghujani pria itu tanpa jeda.
BUGH! BUGH! BUGH!
Sampai pria itu mulai kewalahan menahan. Satu pukulan telak menghantam pipi pria itu hingga darah keluar dari sudut bibirnya.
Aleta langsung menarik kerah bajunya dan menghantamkan tubuh pria itu ke mobil van.
Alarm mobil berbunyi nyaring.
"Aku sudah bilang..." napas Aleta terdengar berat sekarang. "Aku tidak mau main-main."
Pria itu mencoba melawan dengan menghantam perut Aleta menggunakan lutut.
BUGH!
Aleta meringis kecil. Namun bukannya mundur dia justru tertawa pelan. Tawa kecil yang membuat bulu kuduk beberapa orang berdiri.
"Gila..." gumam salah satu anak buah.
Aleta mencengkeram kerah pria itu lebih kuat. "Lagi?" tantangnya.
Sorot matanya sekarang benar-benar mengerikan. Bahkan pemimpin kelompok itu mulai sadar kalau pertarungan ini diteruskan, mereka mungkin benar-benar akan babak belur.
Namun tepat saat suasana memanas deru mesin mobil terdengar dari kejauhan. Mendekat dengan kecepatan tinggi. Aleta sempat melirik sekilas. Dan dalam detik itu, pemimpin kelompok langsung memanfaatkan celah.
BUGH!
Pukulannya menghantam bahu Aleta keras hingga tubuh gadis itu terdorong mundur.
Aleta menatapnya tajam. Namun sebelum dia sempat bergerak lagi mobil hitam berhenti mendadak. Pintu terbuka kasar. Langkah kaki terdengar mendekat.
Saat melihat siapa yang datang, ekspresi mereka berubah.
Ravian.
Pria itu tidak datang sendiri, melainkan bersama bodyguard yang mendampinginya.
"Kenapa kau ada di sini?" Tanya Aleta keheranan.
dtggu kelanjutan ny yx kak
/Grin//Grin//Grin/
aduuuh ad aj yg nyarii masalah sama aleta yx ,,
gx takut sama akibat ny tuuuh 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
waaaah ravian mulai penasaran niiih🤭🤭🤭🤭😒😒😒😒😒