Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?
Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
Lampu-lampu putih di lorong rumah sakit menyala terang, namun suasana di sana terasa dingin dan sunyi.
Nathan duduk di kursi panjang dengan kedua tangan saling menggenggam di depan wajahnya. Jasnya masih sedikit kusut karena tadi terburu-buru keluar dari mobil.
Di ujung lorong, pintu ruang ICU tertutup rapat. Di balik pintu itu, Vivian sedang ditangani dokter.
Nathan menghela napas panjang. Sampai sekarang ia masih sulit mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Astaga! Mami, kenapa selalu cari gara-gara," gumamnya meskipun ia belum tahu kejadian sebenarnya seperti apa, namun ia yakin jika Andin tidak pernah mencari masalah.
Beberapa menit berlalu dokter keluar dari ruang ICU, dengan mimik yang cukup serius.
“Pasien mengalami stroke ringan,” jelas dokter itu dengan nada profesional. “Diduga dipicu oleh benturan di kepala dan tekanan emosi yang sangat tinggi.”
Nathan langsung menegang.
“Apakah… berbahaya?”
“Untuk saat ini kondisinya stabil,” jawab dokter. “Namun sebagian fungsi tubuhnya masih lemah. Kemungkinan untuk sementara beliau akan sulit bicara.”
Sulit bicara.
Kalimat itu terus terngiang di kepala Nathan. Pria itu akhirnya menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap kosong ke lantai rumah sakit yang mengkilap.
Pikirannya tidak bisa berhenti kembali ke kejadian di gang kecil tadi. Ibunya datang ke kontrakan Andin sendirian, dan hal itu benar-benar membuat Nathan mengerutkan dahinya.
Bagaimana Mami bisa tahu alamat Andin?Pertanyaan itu terasa semakin berat. Ia mengingat kembali kata-kata tetangga tadi.
“Tadi ibu itu datang ke sini, Nak…”
Datang.
Bukan kebetulan lewat. Artinya Maminya itu memang mencari Andin. Nathan menghembuskan napas panjang dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Nathan berdiri cukup lama di samping tempat tidur itu. Suara mesin monitor berdetak pelan di ruangan yang sunyi.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia melihat ibunya dalam keadaan begitu rapuh.
Wanita yang selama ini selalu terlihat kuat… selalu mengendalikan segalanya… kini hanya bisa terbaring lemah dengan satu sisi tubuh yang hampir tidak bergerak.
Nathan menatap wajah Vivian cukup lama. Kebenaran tentang masa lalu Andin memang sudah ia ketahui.
Tentang bagaimana ibunya membuat Andin pergi. Tentang fitnah yang membuat perempuan itu harus menanggung semuanya sendirian.
Akan tetapi melihat keadaan seperti ini tetap membuat dadanya terasa sesak.
Ia tetap anak Vivian. Wanita itu tetap ibunya. Nathan menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur. Tangannya mengusap wajahnya sendiri perlahan. Bagaimana caranya ia menyadarkan sang ibu agar tidak terus menerus mengusik Andin.
Nathan kembali menatap ibunya cukup lama. Baru saja ia ingin berdiri ketika pintu kamar rawat itu tiba-tiba terbuka cukup keras.
Nathan menoleh.
Seorang pria paruh baya masuk dengan langkah cepat. Wajahnya tegang, sorot matanya tajam penuh kemarahan.
Marcel.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya pria itu tanpa basa-basi.
Nathan langsung berdiri.
“Papi—”
Namun Marcell sudah berjalan mendekati ranjang Vivian. Tatapannya berubah tegang saat melihat kondisi istrinya.
“Mami…” gumamnya pelan.
Ia menoleh pada Nathan lagi. “Kenapa Mami kamu bisa sampai seperti ini?”
Nathan menarik napas pelan. “Mami datang ke tempat seseorang.”
“Ke tempat siapa?” tanya Marcell cepat.
Nathan terdiam sesaat sebelum menjawab. “Ke kontrakan Andin.”
Nama itu langsung membuat wajah Marcell berubah datar penuh emosi.
“Andin?” ulangnya tajam.
Nathan mengangguk pelan. Namun reaksi yang muncul dari Marcell justru jauh dari yang Nathan harapkan. Pria itu tertawa pendek dengan nada sinis.
“Aku sudah bisa menebak,” katanya dingin.
Nathan mengerutkan kening. “Maksud Papi?”
Marcell menatapnya tajam. “Perempuan itu lagi.”
Nathan langsung menghela napas. “Papi—”
“Jangan membela dia!” potong Marcell dengan suara keras.
Suasana kamar rawat langsung terasa tegang. Marcell menunjuk ke arah Vivian yang terbaring lemah.
“Lihat ibumu sekarang!” katanya dengan nada penuh emosi. “Kamu pikir ini semua kebetulan?”
Nathan menatap ayahnya tanpa berkedip.
“Papi mau menuduh Andin lagi?” tanyanya pelan.
Marcell langsung menyeringai tipis. “Menuduh?” katanya. “Perempuan itu sudah membuat kekacauan sejak dulu.”
Nathan mengepalkan tangannya. “Papi tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
“Justru kamu yang tidak tahu!” balas Marcell tajam.
Nathan menahan emosinya. “Mami jatuh sendiri,” katanya tegas. “Ada banyak saksi.”
Marcell tidak terlihat percaya. “Dan kebetulan sekali kejadiannya di depan rumah perempuan itu?” katanya sinis.
Nathan menatap ayahnya dengan serius. “Papi bisa tanya langsung ke warga di sana.”
Namun Marcell tetap menggeleng pelan. “Aku sudah terlalu lama hidup untuk tahu bagaimana perempuan seperti dia bekerja.”
Nathan akhirnya benar-benar kehilangan kesabaran.
“Cukup, Pi.” Suara Nathan kali ini terdengar jauh lebih tegas.
Marcell menatap anaknya dengan tajam, seolah tidak terima dengan apa yang diperjelaskan.
Namun bukannya takut Nathan justru melanjutkan dengan nada yang lebih rendah namun penuh tekanan.
“Untuk sekali ini saja… jangan menuduh Andin tanpa bukti.”
Kamar itu langsung terasa sunyi. Marcell memperhatikan Nathan beberapa detik. Sorot matanya berubah, seolah baru menyadari sesuatu.
“Kamu membelanya sekarang?” tanyanya dingin.
Nathan tidak menjawab. Namun diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
Marcell tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak hangat.
“Menarik,” gumamnya pelan.
Tatapannya kembali ke arah Vivian yang terbaring lemah. Namun dalam pikirannya, satu nama terus berputar.
Andin.
Dan setelah sekian lama, Marcell mulai merasa perempuan itu benar-benar menjadi ancaman bagi keluarganya.
Bersambung ...
Maaf ya dikit