Laura adalah seorang wanita karir yang menjomblo selama 28 tahun. Laura sungguh lelah dengan kehidupannya yang membosankan. Hingga suatu ketika saat dia sedang lembur, badai menerpa kotanya dan dia harus tewas karena tersengat listrik komputer.
Laura fikir itu adalah mimpi. Namun, ini kenyataan. Jiwanya terlempar pada novel romasa dewasa yang sedang bomming di kantornya. Dia menyadarinya, setelah melihat Antagonis mesum yang merupakan Pangeran Iblis dari novel itu.
"Sialan.... apa yang harus ku lakukan???"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chichi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU INGIN MEMILIKINYA
Adler sungguh menjaga pikirannya baik-baik. Kini kondisi Adler 98% sudah kembali fit. Adler membersihkan dirinya, bersiap untuk pergi dari penginapan itu. Meski sebentar, dia mengobrol berdua dengan Louis saat Edith baru memasuki kamar mandi.
"Kemana tujuanmu setelah ini?" Tanya Adler dengan tiba-tiba.
Mata perak Louis, menatap Adler. "Kau benar-benar berubah"
"Aku hanya ingin keluar dari wilayah ini. Tapi, dengan kondisiku yang seperti ini, akan sulitkan?" Tanya balik Louis.
Adler mengakui jika lawan bicaranya itu sungguh akan kesulitan untuk keluar dari perbatasan, dengan kondisi mana yang lemah seperti itu.
"Jika kau belum bisa keluar, akan lebih aman jika bersama kami. Aku tidak berniat peduli denganmu. Gadis itu, bisa marah jika aku membiarkanmu pergi seperti ini" Ucap Adler yang ditujukan pada Edith.
Louis tidak bisa berkata-kata mendengar ucapan Edith. "Kau sungguh berubah Pangeran" Lirihnya.
"Hah?!" Adler tidak mendengarnya dengan jelas.
Louis melihat wajah Adler sekali lagi. "Bukan apa-apa. Sebenarnya, akan lebih cepat jika gadis itu memberikan Guiding padaku" Ucap Louis.
Adler langsung menatap Louis dengan tajam. Tatapan itu, terlihat jika Adler marah atas ucapan Louis.
"Aku bercanda. Tapi, aku sungguh membutuhkan heal secepat mungkin. Ya, jika melakukannya bertiga, aku tidak mas..."
SRAAAAAAAA
Kabut dingin, muncul di sekitar kaki Adler. Sekujur tubuh Louis bergidik merasakan aura yang mendominasi itu. "Melakukannya bertiga? Kau bahkan bukan siapa-siapanya. Pilihlah, tetap memilih untuk minta guiding pada kekasihku, tapi kehilangan kedua mata dan pita suaramu, atau tetap mengikuti kami, tapi jangan menyentuhnya sedikitpun. Jika kau menyentuhnya, ku pastikan kulitmu yang bersentuhan dengannya teriris" Kedua mata merah Adler menatap Louis. Dia sungguh memberi ancaman pada Louis.
Louis tertawa. Dia mengangkat kedua bahunya. "Daripada aku memilih salah satunya, akan lebih baik jika aku tidak.berada diantara kalian. Kau itu, Iblis gila Adler. Aku kasihan pada kekasihmu itu. Dia menerimamu, tanpa mengetahui seperti apa dirimu. Dia bahkan tidak tau jika kau adalah satu-satunya Iblis yang memakan manusia demi kelangsungan hidupmu. Mari kita hitung, 17, ah...hampir 18 tahun kau menahan laparmu 'tuk memakan manusia. Kira-kira itu akan bertahan sampai kapan? Ya... kita lihat nanti, saat itu terjadi....kita pasti akan bertemu kembali" Luois menyeringai lebar dan berjalan ke arah pintu keluar. Dia membuka pintu itu.
Di saat yang sama, Edith keluar dari kamar mandi. Rambut merah mudanya masih sedikit basah. Dia mencium aroma yang menusuk di hidungnya. Itu seperti pengharum ruangan aroma ek. Dia juga merasakan tekanan di sekitarnya. Kabut tipis terlihat di lantai kamar.
"Kabut apa ini?" Tanya Edith berjalan ke arah Adler.
Adler menghentikan auranya. Dia menoleh ke arah Edith. Dia sungguh khawatir jika Edith mendengar obrolan itu.
"Hei, kenapa kau menatapku seperti itu? Apa yang kalian obrolkan?" Edith mendekat ke arah Adler dan menepuk bahunya.
"Haha, Adler sungguh baik karena memintaku untuk tetap bersama kalian. Sayangnya, aku juga memiliki urusan yang banyak. Nah, Edith,... terima kasih untuk roti dan cokelatnya. Jaga baik-baik hubungan kalian. Di masa depan, kita pasti akan bertemu. Dan kupastikan, aku akan membayar hutang budiku pada kalian" Louis menghilang dari sana.
"Lah? sayang sekali" Ucap lirih Edith sambil kembali menutup pintu kamar itu dan mengeringkan rambutnya.
Adler terdiam. Dia menatap punggung mungil Edith. Dia merasa takut. Takut, jika suatu hari nanti akan membuat Edith terluka. Dia berjalan perlahan ke arah Edih. Memeluk pinggang Edith dari belakang dan menengelamkan wajahnya di rambut Edith yang masih basah.
Edith terkejut. "Eh?! Adler. Kau kenapa?"
Adler tidak menjawabnya. Dia memejamkan matanya dan mencium aroma wangi Edith. "Haah...." Dia membuang napas panjang. Adler enggan mengatakan apa yang sedang dia pikirkan. "Cepatlah, di luar sedang mendung, aku tidak mau kehujanan di jalan" Ucapnya masih memeluk Edith.
Edith menepuk pinggul Adler. "Hei! Setidaknya, lepaskan aku!" Tegas Edith.
Adler melepaskan Edith dan membantu mengemasi barang bawaan Edith. Sekatung permen cokelat jatuh saat Adler hendak mengangkat ransel itu. Bola-bola aluminiumfoil berwarna emas mengelinding ke kaki Edith.
Edith mengambil permen itu dan melihat ke arah Adler yang mengumpulkan permen itu. Edith tersenyum tipis. Dia sungguh belum benar-benar meminta maaf kepada Adler. Dia mengulurkan permen cokelat itu pada Adler.
"Anu, Adler.... Sebenarnya, aku ingin minta maaf padamu, saat aku melempar jubahmu. Kurasa, aku sudah kelewatan batas" Ucap Edith.
Adler tidak pernah mempermasalahkannya. "Kau lucu. Apa kau kepikiran hanya karena hal kecil seperti itu?" Tanya Adler sambil membukakan kantung merah berisi permen itu kepada Edith.
Edith memasukkan permen itu. "Tentu saja, meski kau menganggapnya itu hal kecil, itu sangat menyebalkan karena membuatku merasa tak enak setiap kali melihat orang menggunakan jubah. Permen itu untukmu" Ucap Edith sambil bangkit dan merapikan barang penginapan, seperti handuk dan selimut.
Adler menatap sekantung permen cokelat itu. "Edith...." Adler memanggil Edith perlahan.
"Hah? Kenapa?"
"Ku rasa, akan aman jika kau tidak bersamaku. Aku akan mengantarkanmu di pemukiman Manusia yang terdekat dari sini" Ucap Adler sambil memasukkan kantung kecil cokelat itu ke dalam sakunya.
Edith menoleh dengan cepat ke arah Adler. Adler membelakanginya dan menggunakan sepatu cokelat miliknya. "Apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa kau menyuruhku untuk pergi? Bukankah kau yang menawarkan ban-"
"INI BERBEDA!" Tegas Adler membalas tatapan Edith.
Kedua mata Edith bergetar melihat iris merah itu. Adler terkejut melihat raut ketakutan yang sekilas dia lihat dari wajah Edit.
"Apanya yang berbeda? Jika kau membawaku untuk seterusnya, jangan meninggalkanku. Ini dunia yang sangat asing bagiku, Adler. Jika kau ada masalah, ceritakan pelan-pelan padaku. Kita pasti bisa menyelesaikan bersama-sama" Edith mendekat ke arah Adler. Dia memegang kedua pipi Adler yang hangat.
Tangan Edith terasa sangat menyejukkan di kedua pipinya. Adler tidak bisa berkata jujur. Dia khawatir jika Edith akan menjauh darinya.
Adler tersenyum kaku, "Aku hanya memanfaatkan saja. Aku tidak benar-benar menyukai manusia sepertimu" Ucap Adler.
Edith menyadari ada yang aneh dengan Adler. Dia menghela napas panjang. "Bukankah, aku juga memanfaatkanmu agar bisa kabur dari Mansion busuk itu? Sudahlah, anggap saja obrolan ini tidak pernah terjadi. Jika tentang perasaan, pelan-pelan perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya. Ayo Adler, waktunya pergi dari sini" Ucap Edith mengusap pipi kiri Adler dan mengecup ujung hidung Adler dengan bibir kecilnya.
Adler merasakan debaran aneh di dadanya. Ini pertama kali baginya merasakan debaran ini. Debaran yang aneh, seperti rasa senang, tapi juga takut. "Aku ingin memeluknya, aku tidak ingin orang lain melihatnya, aku sungguh menginginkan dia menjadi milikku sepenuhnya" Adler menatap mata Edith yang ada dihadapannya.
btw semangat thor nulisnya