NovelToon NovelToon
Cinta Diusia Senja

Cinta Diusia Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cintapertama
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: riena

"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 4. Panggung sandiwara

Hari-hari berikutnya berganti menjadi teror mental yang nyata bagi Imam. Di kantor, di rumah, bahkan saat menatap sajadah sehabis sholat, pikirannya tidak pernah tenang. Kegelisahan itu merayap seperti racun yang pelan-pelan melumpuhkan logikanya.

Imam berdiri di balkon rumah, menatap langit malam dengan sebatang rokok yang sengaja tidak ia sulut. Pikirannya buntu.

Jika rencana pernikahan Ameera dan Rayhan terus dilanjutkan, lalu bagaimana dengan dirinya dan Habibah?

Mereka akan resmi menjadi besan. Mereka akan sering bertemu di acara keluarga, merayakan hari raya bersama, dan duduk berdampingan saat menimang cucu. Menjadi besan berarti memasang dinding pembatas yang super tebal; pembatas yang menegaskan bahwa hubungan mereka tidak boleh lebih dari sekadar kerabat.

Bagaimana mungkin ia bisa menahan diri jika harus terus melihat Habibah, sementara rasa yang ia punya untuk wanita itu sama sekali tak lekang oleh waktu? Tiga puluh tahun terpisah, ternyata tidak mengurangi kadar cintanya barang satu persen pun. Justru, pertemuan di kafe kemarin memperjelas bahwa api itu masih menyala sangat besar di dada mereka berdua.

Namun, kalau pernikahan itu dibatalkan... itu jauh lebih tidak mungkin.

Ameera sangat mencintai Rayhan. Imam tahu betul bagaimana mata putri tunggalnya itu berbinar setiap kali menceritakan kebaikan calon suaminya. Pembatalan tanpa alasan yang jelas hanya akan menghancurkan hati Ameera, mengacaukan hubungan baik yang sudah terjalin, dan egoisnya itu akan membuat anak-anak menjadi korban dari ego masa lalu orang tua mereka.

"Papa? Kok melamun di luar malam-malam begini? Dingin, lho," suara lembut Ameera tiba-tiba memecah keheningan. Gadis itu membawakan secangkir teh hangat, meletakkannya di meja pembatas balkon.

Imam tersentak, cepat-cepat menyembunyikan kegelisahannya di balik senyum hangat seorang ayah. "Ah, tidak apa-apa, Meer. Papa cuma sedang berpikir... waktu cepat sekali berlalu, ya. Rasanya baru kemarin Papa mengantarmu ke sekolah dasar, sekarang anak gadis Papa sudah mau menikah saja."

Ameera tertawa kecil, bersandar pada lengan kokoh ayahnya. "Papa tenang saja. Walaupun Ameera nanti sudah menikah dengan Rayhan, Ameera tidak akan pernah melupakan Papa. Oya, tadi Rayhan kirim pesan. Katanya Tante Habibah mengundang Papa untuk makan malam santai di rumah mereka lusa. Katanya, kali ini harus benar-benar membahas tanggal pernikahan. Papa bisa, kan?"

Deg.

Jantung Imam seperti berhenti berdetak sesaat. Undangan itu seperti sebuah vonis tak tertulis. Habibah seolah sedang menantangnya untuk kembali masuk ke dalam sandiwara ini, atau mungkin, wanita itu juga sedang merasakan kegelisahan yang sama gila-nya di sana.

Imam menelan ludah, tenggorokannya mendadak kering. Menatap mata polos putrinya, Imam tahu ia sudah terpojok di sudut takdir.

"Iya, Meer... sampaikan pada Rayhan, Papa akan datang," jawab Imam parau.

Malam itu, Imam sadar bahwa ia harus bersiap mengubur hidup-hidup perasaannya sendiri. Namun, sekeping hati kecilnya yang liar justru berbisik: ‘Sanggupkah kamu berbohong selamanya saat menatap mata Habibah di meja makan itu nanti?’

*

*

Malam yang dicemaskan itu akhirnya tiba. Rumah Habibah yang bernuansa asri malam ini tampak lebih hangat dengan cahaya lampu kekuningan. Aroma masakan rumah yang menggugah selera menguar hingga ke teras, menyambut kedatangan Imam dan Ameera.

Namun, bagi dua orang paruh baya di rumah itu, makan malam ini tak ubahnya sebuah panggung sandiwara dengan naskah yang sangat rapuh.

"Silakan masuk, Om, Meera," sambut Rayhan dengan senyum lebar, membukakan pintu lipat jati rumahnya.

Imam melangkah masuk dengan dada yang bergemuruh. Begitu kakinya menginjak ruang makan, sosok Habibah sudah berdiri di dekat meja, menata mangkuk sup buntut yang masih mengepul. Malam ini Habibah mengenakan khimar rumahan yang sederhana namun tetap bersahaja, membuat guratan keanggunannya justru semakin terpancar.

Mata mereka sempat beradu selama dua detik, sebelum akhirnya Habibah beralih menyapa Ameera dengan pelukan hangat.

"Wah, masakan Tante wangi sekali," puji Ameera tulus saat mereka semua mulai duduk mengitari meja makan berbentuk lingkaran itu.

"Ini semua masakan Ibu, Meera. Ibu sengaja bangun lebih pagi untuk belanja ke pasar, katanya mau masak spesial untuk calon besan," timpal Rayhan bangga sembari melirik ibunya.

Calon besan. Kata itu telak menghantam ulu hati Imam. Ia melirik Habibah, yang saat itu juga sedang menunduk dalam, pura-pura sibuk menyendokkan nasi ke piring Rayhan untuk menyembunyikan tangannya yang mendadak gemetar.

"Ayo dimakan, Mas Imam... Ameera. Jangan sungkan," ucap Habibah, suaranya terdengar begitu tenang di luar, meski Imam bisa menangkap ada getaran tipis menahan sesak di sana.

Makan malam pun berlangsung. Secara kasat mata, semuanya berjalan sempurna. Rayhan dan Ameera terlihat sangat serasi, saling mengambilkan lauk dan sesekali melempar candaan bumbu-bumbu asmara anak muda. Sementara Imam dan Habibah, lebih banyak menjadi pendengar. Mereka mengunyah makanan dengan hambar, karena setiap suapan seolah tertahan di tenggorokan oleh rasa bersalah yang menggunung.

Begitu piring-piring kosong disingkirkan dan diganti dengan teh hangat, Rayhan berdehem, mengubah atmosfer santai menjadi sedikit lebih formal.

"Om Imam, Ibu... karena kita sudah berkumpul, kami ingin meminta saran terkait tanggal baik pernikahan kami. Kalau dari pihak vendor dan gedung, ada slot kosong di bulan Oktober nanti. Menurut Om Imam dan Ibu bagaimana?" tanya Rayhan penuh harap.

Suasana ruang makan itu mendadak hening. Angin malam yang berhembus dari jendela samping terasa begitu dingin.

Imam meletakkan cangkir tehnya perlahan. Ia menatap Ameera yang duduk di sampingnya dengan mata berbinar penuh harap, lalu beralih menatap Habibah yang duduk tepat di seberangnya. Wanita itu meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan, matanya menyiratkan ketakutan sekaligus kepasrahan yang luar biasa.

Rasa cinta yang tak lekang oleh waktu di dada Imam berteriak egois, memohon agar ia menunda pernikahan ini. Namun, saat melihat binar bahagia di mata putrinya, logika Imam dipaksa tegak.

"Kalau Papa... mengikuti kenyamanan kalian saja. Oktober adalah bulan yang baik," ujar Imam akhirnya, suaranya terdengar berat dan parau, seolah setiap kata yang keluar harus dibayar dengan separuh jiwanya.

Rayhan langsung menoleh ke arah ibunya dengan senyum lebar. "Kalau dari Ibu bagaimana? Setuju bulan Oktober?"

Habibah tertegun. Ia menatap Imam, mencari sisa-sisa pembelaan di mata pria itu, namun yang ia temukan hanyalah tatapan terluka yang pasrah. Habibah tahu, mereka berdua tidak punya pilihan. Menolak pernikahan ini berarti menghancurkan masa depan anak-anak mereka.

Habibah menarik napas panjang, menahan air mata yang mendesak keluar, lalu memaksakan sebuah senyuman. "Iya, Ray. Ibu... Ibu juga setuju. Oktober... waktu yang bagus."

"Alhamdulillah!" seru Rayhan dan Ameera kompak, wajah mereka berdua langsung dipenuhi rona kebahagiaan.

Di balik tawa riang kedua anak muda yang sedang merayakan masa depan itu, Imam dan Habibah justru sedang meratapi akhir dari kisah mereka. Di meja makan itu, janji pernikahan anak-anak mereka resmi diketuk, dan di saat yang sama, status 'besan' mengunci mati setiap harapan cinta masa lalu mereka untuk selamanya.

****

1
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Safitri Agus
terimakasih kak Riena updatenya 🙏🥰🥰🥰
Afternoon Honey
tetap menyimak dan membaca cerita bersambung ini..m
Indriyani_ Indry
Alhamdulillah novel ini ada update nya ... terimakasih kk😍😍😍
Safitri Agus
TRIms kak Riena updatenya 🙏🥰
Safitri Agus
rumit ya,🤦
Safitri Agus
😭😭😭
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏🥰
Safitri Agus
ujian sebelum pernikahan, mereka pasti dilema....
Safitri Agus
terimakasih kak Riena sudah update 🙏🥰
Fitria Rastanti
gx lanjut kak riee ceritanya
Safitri Agus: lanjut dong kak biar tau endingnya 😊
total 3 replies
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
dari kmrn blm ada bab yg br ka ... libur yah ka?
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
sy sukaaa semua novel karya author ini ... novelnya kereeennn dan berkls ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!