Menjadi editor sebatang kara itu membosankan, tapi dirampok sampai pingsan dan pindah ke dunia novel? Itu diluar nalar!
Lin Xia Yi bertransmigrasi menjadi Lin Xia Mei, wanita yang akan tewas karena cinta buta suaminya, Wei Zhu Chen. Untuk bertahan hidup, ia harus menurunkan tingkat rasa suka Wei Zhu Chen dari 99% ke 20%.
Bersama sistem berwujud kucing imut bersayap bernama Bao, Lin Xia Yi akan memulai misi demi kembali ke dunianya serta membawa pulang hadiah yang menggiurkan.
Hadiah menggiurkan menanti, tapi nyawa taruhannya. Siapkan camilan favoritmu dan temanilah Lin Xia Yi sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
030~ Kecelakaan
Lin Xia Mei diam di tepi jalan, menunggu jalanan sepi untuk menyebranginya.
"Hmmm, lama sekali." keluhnya sambil menutupi area matanya dengan tangan kirinya guna menghalangi sinar matahari.
"Untung Bao memiliki sayap, jadi bisa terbang."
Lin Xia Mei hanya terkekeh. Kendaraan terus berlalu-lalang, tidak memberi kesempatan pada Lin Xia Mei yang ingin menyebrang.
Di danau...
Wei Zhu Chen tiba dengan napas tersengal-sengal usai berlari, matanya mencari batang hidung istrinya dengan ekspresi panik.
"Xia Mei!" panggilnya dengan keras.
Kakinya tidak tinggal diam, langkah demi langkah menyusuri sekitar danau, berharap menemukan Lin Xia Mei.
"Xia Mei!" panggilnya lagi.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar, menahan tangis dan panik. Benar saja, ia tidak menemukan istrinya.
"Xia Mei, apakah kau kabur?!!" pikiran mulai parno.
Beberapa waktu belakangan ini Istrinya sangat jelas sedang menghindarinya bahkan tidak ragu mengungkap kebenciannya, tentu Wei Zhu Chen berani mengambil kesimpulan bahwa Lin Xia Mei sudah berhasil kabur dari genggamannya.
Dengan napas menggebu, Wei Zhu Chen kembali mencari Lin Xia Mei, tidak kunjung ditemukan, ia memutuskan menelpon Lin Xia Mei.
Lin Xia Mei yang sedang menunggu di tepi jalan mendengar ponselnya berdering, ia melihat nama di layar.
"Sepertinya dia mencarimu, inang." ujar Bao.
"Biarlah dia kebingungan mencariku," balas Lin Xia Mei, ia langsung menolak panggilan dan menonaktifkan ponselnya.
Kesal karena panggilannya ditolak, Wei Zhu Chen mencoba menelponnya lagi, namun nomor Lin Xia Mei tidak dapat dihubungi. Dadanya berdesir dan emosi mulai menyerangnya.
"Kau.. Berani pergi dariku?!"
Wei Zhu Chen kembali berlari ke arah lain untuk mencari istrinya, ia mengikuti jalan setapak dan akhirnya berakhir di tepi jalan raya.
Ia merasa sedikit lega saat melihat di seberang jalan sana ada Lin Xia Mei.
"Inang, tokoh utama pria ada di seberang jalan." kata Bao sambil menunjuk ke arah Wei Zhu Chen.
"Dia bisa menyusulku rupanya."
"Tentu saja, Inang. Inang hanya pergi tidak jauh dari taman, tentu bisa di susul."
"Iya iyaaa."
Satu menit berlalu..
"Bao, kalau aku kabur sekarang juga, apa risikonya?" tanya Lin Xia Mei.
"Tokoh utama pria adalah tokoh yang ekonominya diatas rata-rata inang, termasuk kaya raya dan dia bisa menggerakkan orang dengan uang. Dengan memilih jalan kabur, kemungkinan besar dia akan mengerahkan orang untuk mengejar dan rasa sukanya tidak akan turun, justru sisi jahatnya akan terpancing. Maka episode inang dikurung total akan dimulai."
Lin Xia Mei merasa ngeri.
"Itu artinya kabur saat ini sama saja mempercepat kematianku?"
"Ya, seperti itu inang."
"Selingkuh berbahaya, kabur pun berbahaya. Ini adalah misi yang membutuhkan kesabaran."
Bao mengacungkan jempol.
"Inang, saat ini skill jahatmu sudah lebih baik daripada awal datang kemari. Sebaiknya Inang mengubah metode kejahatan berikutnya."
Lin Xia Mei mengangguk.
"Benar, kalau hanya marah-marah tidak efisien. Bukannya rasa sukanya turun, justru aku yang mulai nyaman menjadi orang kejam." ucap Lin Xia Mei sambil melirik ke arah Bao, Bao langsung memalingkan wajah menghindari tatapan Lin Xia Mei.
Dengan wajah tegang, Wei Zhu Chen memberi kode dengan tangan pada Lin Xia Mei agar tidak menyebrang dulu. Lin Xia Mei langsung memutar bola mata, seolah malas meladeninya.
Setelah lama menunggu, akhirnya kendaraan yang lewat mulai berkurang, baru saja kaki Lin Xia Mei maju selangkah, Wei Zhu Chen langsung memberi kode lagi agar ia diam di tempat saja.
Wei Zhu Chen maju perlahan dan menyebrang dengan hati-hati, satu langkah lagi ia akan sampai di seberang jalan.
'Tiiinnnnnnnn' Suara klakson nyaring berbunyi tanpa jeda terdengar, Lin Xia Mei membeku seketika saat Wei Zhu Chen terpental sebab disundul mobil yang mengalami rem blong.
Tubuh Wei Zhu Chen tergeletak beberapa meter dari titik ia ditabrak tadi, sedangkan mobil yang menabraknya langsung banting setir dan menabrak sebuah tiang beton besar. Kepulan asap keluar dari mobil yang sudah ringsek itu.
Tubuh Lin Xia Mei bergetar hebat, ia berlari menghampiri Wei Zhu Chen yang sudah berlumuran darah. Wei Zhu Chen belum kehilangan kesadarannya, matanya masih sedikit terbuka, telinganya berdenging hebat hingga ia merasa suara di sekitarnya tidak jelas, pandangannya sedikit kabur.
"Sial, aspalnya panas sekali." keluhnya dalam hati.
Orang-orang mulai berkerumun, dengan tangan gemetar Lin Xia Mei segera menghubungi Ambulance.
Melalui penglihatan yang mulai kabur itu, Wei Zhu Chen tersenyum kecil saat melihat Istrinya. Meski raut wajahnya datar-datar saja, tapi dia menyadari tangan Istrinya bergetar.
Sebagian orang langsung membantu pengemudi mobil yang menabrak Wei Zhu Chen, tidak yanya body mobilnya yang ringsek, tetapi pengemudinya pun ikut terluka dan tidak sadarkan diri. Darah segar mengalir dari mulut, hidung dan telinganya. Terlihat beberapa orang juga sibuk menelpon polisi dan Ambulance.
Panggilan diterima, Lin Xia Mei berbicara dengan suara bergetar tanda panik. Setelah menutup telpon, ia menyeka darah yang mengalir dari hidung Wei Zhu Chen.
"Bertahanlah, jangan menyusahkanku." ucap Lin Xia Mei dengan ketus.
Perlahan kesadaran Wei Zhu Chen berkurang, ia memejamkan mata tanpa membalas perkataan Lin Xia Mei. Sampai matanya terpejam, hanya Lin Xia Mei yang dilihatnya, tatapannya tidak sedikitpun teralihkan darinya.
Sedetik kemudian Wei Zhu Chen benar-benar tidak sadarkan diri, saat itulah Lin Xia Mei kembali menjadi dirinya sendiri, tidak ada lagi raut wajah datar, yang ada hanyalah kekhawatiran.
Bao terdiam melihat semuanya, kemudian ia terbang dan melayang di atas wajah Wei Zhu Chen.
"Inang, tenang. Tokoh utama pria hanya pingsan dan kemungkinan besar akan tetap hidup." ucap Bao berusaha menenangkan.
Lin Xia Mei mengangguk, ia menyeka air matanya yang tiba-tiba mengalir.
"Aku... Aku menangis??"
Bao mengangguk, ia menatap Lin Xia Mei dengan senyum tipis.
"Inang, kau telah benar-benar jatuh hati padanya. Tingkat rasa sukamu pada tokoh utama pria sudah mencapai nilai minimum."
Lin Xia Mei menyeka air matanya lagi, keramaian disekitarnya tidak membuatnya malu untuk menangis.
"Bao, tenang saja. Jika benar aku sudah jatuh hati padanya, aku berjanji akan menyelesaikan misiku."
Bao mengangguk, ia melayang dan berhenti di samping kepala Lin Xia Mei.
Tidak berselang lama dua Ambulance datang bersamaan, tidak hanya itu, mobil polisi pun sampai di lokasi setelah petugas Ambulance mulai mengevakuasi korban.
Wei Zhu Chen dibawa masuk ke dalam mobil Ambulance.
"Maaf Nyonya, apakah anda anggota keluarga dari pasien?" tanya petugas.
"Ya, saya istrinya."
"Baiklah, anda boleh ikut kami ke Rumah Sakit, Nyonya."
"Saya akan menyusul," balas Lin Xia Mei.
Lin Xia Mei melirik darah Wei Zhu Chen di atas permukaan aspal yang masih panas, ia menghela napas lalu berjalan menuju taman.