Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.
Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.
Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?
"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 44
Keheningan yang datang setelah sirene polisi menjauh sering kali terasa lebih menyesakkan daripada kebisingan konflik itu sendiri. Felysha duduk di kursi tunggu kayu yang terletak di selasar samping lobi hotel, tempat di mana deru mesin mobil yang datang dan pergi terdengar seperti ritme jantung kota yang tak pernah tidur. Dia menatap ke arah ujung sepatunya yang kini sedikit lecet karena terburu-buru melangkah tadi. Di sampingnya, Mahesa duduk diam dengan kepala yang bersandar pada dinding marmer yang dingin. Jas tuxedo-nya sudah dia lepaskan, menyisakan kemeja putih yang kini lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan beberapa goresan merah yang sedang ia biarkan mengering.
Felysha meraba tas kecilnya, mengeluarkan sebungkus tisu basah dan sebotol air mineral yang ia minta dari pelayan tadi. Dia tidak bicara. Dia menarik napas panjang, lalu perlahan mulai membersihkan noda debu di wajah Mahesa dengan tisu itu. Mahesa tidak menolak; dia hanya memejamkan matanya sejenak, menikmati sentuhan tangan Felysha yang terasa sangat kontras dengan kekerasan yang baru saja dia hadapi di ruang penyimpanan linen.
"Apa sakit?" tanya Felysha pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan angin yang berhembus di antara pilar-pilar hotel.
Mahesa membuka matanya, menatap Felysha dengan sorot yang kini jauh lebih tenang, meskipun ada sisa-sisa adrenalin yang masih membuat jemarinya sedikit bergetar. "Aku sudah pernah merasakan yang lebih parah di Paris, Fely. Luka ini hanya pengingat bahwa aku masih punya sesuatu untuk diperjuangkan."
Felysha menekan tisu itu sedikit lebih kuat pada luka di sudut bibir Mahesa, membuat pria itu sedikit meringis. "Jangan bicara seolah-olah kamu adalah pahlawan dalam film action. Kamu hampir membuat jantungku berhenti saat aku melihatmu di balkon tadi."
Mahesa menangkap pergelangan tangan Felysha, menghentikan gerakannya. Dia menatap mata Felysha dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa seluruh dunianya seolah terpusat pada satu titik. "Aku harus melakukannya, Fely. Kalau aku tidak mengungkap rencana Pierre dan keterlibatan Andra malam ini, mereka akan terus menghantuimu. Aku tidak mau kamu hidup dalam ketakutan setiap kali melihat bayangan di rumahmu sendiri."
Felysha terdiam, jemarinya yang masih berada di dalam genggaman Mahesa terasa hangat. Dia menyadari bahwa Mahesa baru saja mempertaruhkan nyawanya—dan status hukumnya yang masih rapuh—demi memastikan kebebasannya. Dia merasa beruntung, namun di saat yang sama, dia merasa terbebani oleh besarnya pengorbanan pria di depannya ini.
"Papaku..." Felysha memulai, suaranya sedikit ragu. "Beliau sedang di dalam bersama tim audit dan pengacaranya. Sepertinya pengakuanmu di depan semua orang tadi benar-benar mengubah segalanya."
Mahesa melepaskan tangan Felysha, lalu ia menyandarkan tubuhnya kembali. Dia menatap ke arah jalanan Thamrin yang masih dipenuhi lampu-lampu kendaraan. "Andra melakukan kesalahan terbesar dengan berpikir bahwa uang bisa menutupi semua jejak. Dia meremehkan orang-orang seperti aku, orang-orang yang terbiasa hidup dari detail yang diabaikan dunia."
Mahesa merogoh saku celananya, mengeluarkan kartu memori asli yang berisi bukti-bukti yang lebih mendalam—kartu memori yang tidak ia serahkan kepada polisi tadi karena ia ingin menyimpannya sebagai senjata terakhir jika Gunawan masih meragukannya. "Ada banyak hal di dalam sini yang bisa membuat keluarga Andra tidak akan berani muncul di depan Papamu selama bertahun-tahun."
"Kamu akan memberikan itu pada Papa?"
Mahesa menatap kartu kecil di tangannya, lalu ia menatap Felysha. "Aku akan memberikannya padamu. Kamu yang berhak menentukan apa yang ingin kamu lakukan dengan informasi ini. Aku tidak mau membangun hubungan kita di atas pemerasan atau ancaman. Aku ingin kita menang karena kita memang layak, bukan karena kita memegang rahasia kotor orang lain."
Felysha menerima kartu memori itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia menatap benda kecil itu, menyadari bahwa di tangannya kini terletak kekuatan yang bisa menghancurkan masa depan Andra sepenuhnya. Namun, melihat ketulusan di mata Mahesa, Felysha memutuskan bahwa dia tidak akan menggunakan benda ini untuk balas dendam. Dia hanya akan menyimpannya sebagai jaminan keselamatannya sendiri.
Tiba-tiba, Gunawan muncul dari arah pintu lobi. Pria itu tampak sangat lelah, kerutan di keningnya terlihat lebih dalam di bawah cahaya lampu jalan yang pucat. Dia berjalan mendekati mereka berdua, langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai granit. Mahesa segera berdiri, diikuti oleh Felysha.
Gunawan menatap Mahesa cukup lama. Tidak ada lagi nada penghinaan di matanya; yang ada hanyalah sebuah pengakuan yang jujur antara dua orang yang baru saja melewati badai yang sama.
"Polisi sudah membawa Pierre dan timnya. Andra juga sedang dalam perjalanan ke markas besar," Gunawan memulai pembicaraan, suaranya terdengar lebih lunak daripada sebelumnya. "Papa baru saja bicara dengan kolega Papa di Singapura. Semuanya sesuai dengan apa yang ada di tabletmu tadi."
Gunawan beralih menatap Felysha, lalu ia menghela napas panjang—sebuah helaan napas yang terdengar seperti melepaskan beban berton-ton. "Fely, Papa minta maaf. Sepertinya Papa terlalu sibuk melihat angka di atas kertas sampai lupa melihat karakter orang yang Papa pilihkan untukmu."
Felysha melangkah mendekati ayahnya, ia memeluk pria itu dengan erat—sebuah pelukan yang sudah bertahun-tahun tidak ia berikan secara tulus. "Fely cuma mau Papa percaya pada pilihan Fely, Pa."
Gunawan membalas pelukan putrinya, lalu ia menoleh ke arah Mahesa. "Mahesa, Papa memberikan jaminan penuh untuk statusmu di sini. Pengacara Papa akan memastikan semua catatanmu di Paris tidak akan menjadi masalah lagi bagi agensimu. Tapi Papa punya satu syarat."
Mahesa menegakkan bahunya, wajahnya tampak sangat serius. "Apa itu, Pak?"
"Kirimkan portofoliomu ke bagian kreatif perusahaan Papa besok pagi. Papa butuh fotografer yang tidak hanya bisa menangkap gambar, tapi juga bisa melihat apa yang disembunyikan oleh dunia," Gunawan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat langka. "Dan jangan terlambat. Papa benci orang yang tidak tepat waktu."
Gunawan berjalan menuju mobilnya yang sudah menunggu di lobi bawah, meninggalkan Felysha dan Mahesa dalam kesunyian yang kini terasa begitu manis.
Felysha menoleh ke arah Mahesa, air matanya kini benar-benar jatuh karena rasa lega yang luar biasa. Mahesa menarik Felysha ke dalam pelukannya, mendekap gadis itu erat-erat di tengah hiruk pikuk Jakarta malam itu. Dia tidak peduli lagi pada luka di wajahnya atau kemejanya yang kotor. Dia merasa seolah-olah dia baru saja menyelesaikan pencurian paling besar dalam hidupnya—dia telah mencuri kembali masa depannya dari tangan takdir yang kejam.
"Kita menang, Mahesa," bisik Felysha di balik dada Mahesa.
"Iya, Fely. Kita menang," jawab Mahesa, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan.
Mereka melepaskan pelukannya perlahan saat sebuah taksi berhenti di depan mereka. Mahesa membukakan pintu untuk Felysha, sebuah gerakan yang kini terasa seperti sebuah tradisi baru di antara mereka. Saat taksi itu mulai melaju meninggalkan kawasan Bundaran HI, Felysha menyandarkan kepalanya di bahu Mahesa.
Melalui jendela mobil yang gelap, Felysha menatap ke arah Monas yang berdiri kokoh di kejauhan. Jakarta malam ini tidak lagi terasa seperti sangkar emas yang membosankan. Jakarta terasa seperti awal yang baru. Dia teringat kembali pada langit Paris di malam terakhir mereka, warna Midnight Blue yang begitu indah namun penuh rahasia. Kini, dia menyadari bahwa warna itu akan selalu ada bersama mereka, bukan lagi sebagai lambang pelarian, tapi sebagai pengingat bahwa di setiap malam yang paling gelap, selalu ada janji akan fajar yang baru.
"Aku mencintaimu, Mahesa," bisik Felysha sebelum ia memejamkan matanya karena lelah.
Mahesa menggenggam tangan Felysha erat-erat, ia mengecup kening gadis itu dengan penuh perasaan. "Aku juga mencintaimu, Fely. Dan kali ini, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi."
Mobil itu terus melaju, membelah malam Jakarta yang sunyi, membawa dua jiwa yang telah berhasil menyatukan kepingan-kepingan kejujuran mereka menjadi sebu
ah cerita yang akhirnya benar-benar milik mereka sendiri.