Seorang pria muda, yang menyukai wanita lebih tua darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Sedangkan Sasa bersama arif, mereka selesai makan, lagi lagi telepon genggam nya berdering dan berbunyi, Arif mengambil telepon genggam itu,
saat di nyalakan, terlihat notifikasi pesan dari Gea,
~Gea : Rif, Lo masih di PaxelResto kan?
Arif hanya membacanya, pesan itu, tatanyan sesekali melihat ke Sasa yang memperhatikannya, lalu Arif kembali mengalihkan ke telepon genggamnya dan membalasnya,
~arif : Udah enggak, emang kalian lagi dimana?
~Gea : gue lagi di bengkel, selesai ganti tabung,
~Arif : Yaudah gue ke sana,
~Gea : Tapi kan mobil Lo di pake sama Felix,
~Arif : gue pesen taxi ajah,
~Gea : Yaudah kalau gitu, gue tunggu di sini
arif membaca pesan itu, dia mematikan telepon nya lalu memasukan ke dalam saku, tatapannya langsung tertuju ke Sasa,
"Sayang, aku pamit ya, temen aku udah nungguin," ucap Arif dengan senyuman.
"Tapi, kamu ga bawa mobil kan, kalau gitu aku antar ajah," Jawab Sasa, menatap arif,
"Enggak usah sayang, aku udah pesan taxi, sekrang lagi di jalan, bentar lagi nyampe,"
"Eumm, iya deh, hati hati ya di jalan."
"iya sayang." Arif tersenyum, dia berdiri, dan melangkah pergi untuk keluar dari restoran itu,
Arif melangkah pergi keluar dari restoran, dia menghela napas karna merasa lega, wajahnya tersenyum sampai di pinggir jalan langkahnya terhenti,
arif mengambil telepon genggam di sakunya, saat akan menyalakan, tiba tiba kendaraan taxi terhenti di depannya, pintu kaca mobil terbuka, dari dalam supir berbicara. "dengan mas Arif Wiguna?" tanyanya,
Arif kembali memasukan telepon genggamnya, "iya mas, dengan saya sendiri," Jawab Arif, dia menarik pintu dan berlalu masuk ke taxi itu, Hingga dia duduk dalam, dia kembali berbicara, "mas, anterin ke bengkel ya," ucapnya,
"Baik mas," jawabnya, lalu melajukan kendaraan itu,
***
Sementara itu, Laras sedang tidak baik baik saja, pikiran tidak teratur, dengan masalah yang dia dapat,
Dia, sedang duduk di ranjang di kamarnya, tatanya tertuju ke telepon genggam yang dia taru di ranjang,
dia menghela napas, "kenapa sih, masih ajah aku tungguin dia, lagian ga mungkin Arif ngechat," Gunamnya dalam hati.
"satu-satunya cara agar lupa, aku harus membencinya," Bisiknya pelan Tatapannya tajam, ke telepon genggam,
Dari luar pintu kamar, terdengar suara mengetuk dan memanggil, Laras mengalihkan tatapan ke pintu itu.
Tok, Tok, Tok.
"Mba," Panggil Bu ani, terdengar lumayan keras.
"Sebentar bibi," Jawab Laras, dia menggeser dan berdiri di samping ranjang, lalu melangkah ke pintu dan langsung membukanya, terlihat Bu Ani berdiri dan berbicara, "mba, Barusan Mama telepon, mba Laras kenapa enggak angkat." Tanyanya,
"perasaan Mama enggak nelpon." jawab Laras, merasa bingung,
"Kata mama, udah berkali kali telepon mba,"
Laras melangkah masuk ke dalam kamarnya, lalu dia mengambil telepon genggam, dia langsung menyalakan dan melihat layar telepon genggam itu,
Laras menghela napas, "Eh, lupa nyalain datanya," Bisiknya pelan, dia pun menyalakan data internet,
beberapa saat, tidak terjadi apa apa, namun tiba tiba di telepon genggamnya, terlihat banyak sekali notifikasi yang masuk, terutama dari mamanya, yang sudah berkali kali menelepon,
Laras tersenyum tipis, dia merasa malu, karena benar apa kata bu Ani, kini dia pun menelepon balik mamanya,
panggilan telepon menyambungkan, hingga panggilan telepon tersambung, Laras menggerakan telepon ke telinganya,
"Iya hallo ma," Ucap Laras.
"iya, kamu kenapa, Dari tadi mama telepon, ga di angkat sih," suara Sasa dari telepon genggam itu,
"lupa nyalain data mama," Jawab Laras, perlahan dia duduk, sesekali menatap ke arah pintu kamar yang terbuka,
Bu Ani yang sebelumnya berdiri kini sudah tidak terlihat, sedangkan dalam telepon genggam Laras terdengar suara Sasa,
"Kamu sekarang ke sini ya, temenin mama," ucap Sasa dari telepon genggam itu,
"Mau ngapain emang ma,"
"Temenin mama, nanti malam mama nanti malam mau ketemu sama tamu, sesekali kamu temenin mama, agar kamu paham tujuan perusahaan mama,"
"Enggak ma, aku lagi males ngapa-ngapain,"
"Kamu lagi ada masalah apa sih, belakang ini kamu keliatan aneh banget,"
"Enggak ada ma, udah ma, aku mau makan dulu,"
"Laras. jangan di matiin dulu."
Laras langsung mematikan panggilan telepon itu dan kembali menarunya, kini dia berdiri dan melangkah pergi keluar dari kamar,
***
sementara Arif, dia baru saja keluar dari taxi, setelah menutup pintu mobil, dari dalam garasi bengkel, Felix melangkah mendekat sambil berbicara, "bjirr, untung ajah, belum di pake, yang ada bisa kalah," Felix mendekat lalu terhenti di depan Arif,
"Lebih bagus sih, tanpa n2s, haha. " Arif terlihat bahagia,
"buset, kalau kalah bisa-bisa gue sama mobil lo di tahan,"
"lo tahuran, diri lo sama mobil gue."
"Bukan gue yang mau, tapi kiky yang minta, dia juga maunya duel,"
"Buesett," Arif menggeleng-gelengkan kepala,
"Tenang ajah, Rif, gue yakin ga bakalan kalah, lagian mobil yang gue pake ga mungkin kalah," Felix tersenyum, lalu kembali berbicara, "Udah, mending kasih tau fungsi, di mobil Lo," Felix menaikan alisnya,
"oke," jawab Arif,
mereka berdua pun melangkah menuju ke garasi bengkel mobil, yang terlihat begitu luas dan besar, di dalam Gea sedang berdiri menatap ke mobil nya yang sedang di perbaiki, sebelumnya tampak rusak, tapi kini sudah 90% hampir selesai.
"Kalau naikin mesin lagi, bisa ga?" tanya gea menatap Zyan Yang sedang memperbaiki mobil.
dia terhenti memperbaiki mobil itu, mengalihkan tatapanya ke Gea, "Kalau dari kualitas, ini udah terbaik, kecepatannya ajh udah stabil." Ucapnya,
"kalau kecepetan lumayan lah, tapi aku rasa masih kurang,"
"bisa ajah, di naikin, tapi ga bisa sekarang, mungkin butuh waktu, sebulan, karena mesinnya ga ada,"
"nanti kalau udah ada, call me ajah,"
Arif bersama Felix yang mendekat, terhenti di samping gea, Arif berbicara. "kayanya ada yang nyaingin, " ucapnya dengan wajah tersenyum
"hehe, enggak," Gea mengalihkan tatapannya ke Arif yang menatap Felix, dengan kedua alisnya di angkat,
tiba tiba, terdengar suara telepon genggam yang berbunyi dan berdering, Arif langsung mengambil telepon genggamnya, tapi bukan telepon genggamnya yang berbunyi, Gea juga melakukan yang sama,
"kalian pada ngapain," Tanya Felix, tangan nya memegang telepon genggam, yang berbunyi dan bedering, dia pun lengsung mengangkat panggilan telepon yang masuk itu,
"Halo," ucap Felix menggerakan teleponya ke telinga,
"Lo lagi dimana?" suara dari telepon genggam itu,
"Gue di bengkel, mau ngapain?" Jawab Felix, dia melangkah menjauh dari Gea dan Arif yang memperhatikanya,
"Bisa ketemu sekarang ga?" Suara dari telepon genggam itu,
"Mau ngapain emang?" Felix begitu serius,
"Gue mau ngobrol berdua, ini penting banget, kita ketemuan di Coffe shop ajah, gimana?"
"Yaudah, gue ke sana, share lokasinya ajah"
"Tempat biasa, gue tunggu, sekrang,"
"Oke, oke,"
panggilan telepon itu terputus, Felix menatap ke layar teleponnya, sambil berbicara,"Ada masalah apa sih," Bisiknya pelan, lalu memasukan telepon genggam ke sakunya,
Felix kembali mendrkat ke arah Arif yang bersama Gea, mereka berdua sedang memperhatikan mobil gea yang di perbaiki,
Felix yang terhenti langkahnya dia berbicara,"Rif, Gea, gue pergi dulu ya." ucapnya
"mau kemana?" Arif mengalihkan tatapanya ke Arif.
"Ketemu Haikal, Lo sama Gea disini ga apa apa kan," Felix menaikan alisnya,
"mau ngapain?"
"Ga tau sih,"
"Oke, Oke,"
"Yaudah gue pergi dulu ya," Felix lalu melangkah pergi menuju ke kendaraan Arif, di depan kendaraan dia langsung masuk dan berlalu pergi,
Arif menatap kepergian, felix, Gea yang berdiri dan mendengarkan, dia mulai berbicara, "Felix mau ngapain ketemu Haikal," Tanyanya merasa penasaran.
"Entahlah, aku juga ga tau," jawab Arif menatap Gea,