NovelToon NovelToon
Datanglah Padaku

Datanglah Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: vennyrosmalia

Revania Agatha, Ibu muda berusia 32 tahun yang sudah memiliki seorang putra. Terjebak dalam dilema antara bertahan atau pergi disaat rumah tangganya tak lagi membuatnya merasa diinginkan oleh suaminya sendiri.

Nathan Alexander, pria dewasa dan mapan yang masih betah melajang dan disibukkan dengan karir yang dibangunnya. Namun tanpa di duga dirinya justru tertarik pada wanita yang sudah bersuami.

Gimana ya kisahnya, yuk ikutin ceritanya. ☺

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vennyrosmalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 30

Kebetulan hari ini ada rapat pemegang sahan di perusahaan Nathan. Daddy Alex yang tidak bisa hadir meminta Satria untuk datang mewakilinya.

Satria tidak menolak hal itu sebab dirinya juga memang ingin sekali bertemu dengan Nathan. Jadi waktu ini begitu tepat karena Satria tidak perlu mencari alasan agar bisa bertemu Nathan.

Ruang rapat sudah mulai dipenuhi dengan beberapa pemegang saham. Satri duduk tepat di sisi Nathan karena sahan Daddy Alex memang yang paling besar di antara pemilik yang lain.

Nathan melaporkan setiap perkembangan perusahaan dengan sangat baik. Semua tampak puas dengan hasil yang diberikan Nathan untuk kemajuan perusahaan Mereka.

Satria juga sangat mengakui kemampuan Nathan. Tidak diragukan lagi jiwa pemimpin Nathan menurun dari Daddy Alex.

"Sampai bertemu di rapat selanjutnya." ucapan Bram mengakhiri rapat yang berlangsung selama satu jam.

Beberapa orang mulai keluar dari ruangan dan menyisakan Satria, Bram juga Nathan disana.

"Anda tidak pulang?" Tanya Bram pada Satria yang masih duduk di kursinya.

"Aku ingin bicara dengan Nathan." Jawab Satria tanpa basa-basi.

Satria sudah tahu jika Nathan orang yang tidak suka bertele-tele. Satria juga sama, dirinya tidak bisa untuk tidak langsung menanyakan hal yang membuatnya penasaran.

"Aku tidak ada waktu bicara denganmu." Nathan beranjak dari kursinya dan hendak melangkah menuju pintu keluar di ikuti oleh Bram tentunya.

"Vania."

Nama yang diucapkan oleh Satria tentu saja membuat langkah kaki Nathan terhenti. Nathan berbalik untuk menatap Satria yang juga sudah beranjak dari kursinya.

"Kau sudah mengenal Vania dan putraku bukan?" tanya Satria.

Nathan kemudian meminta Bram untuk meninggalkannya dengan Satria disana. Bram menurut tanpa debat.

.

.

"Hal apa yang ingin Kau tanyakan?" tanya Nathan.

"Sejak kapan Kau mengenal Vania dan Resa?"

Satria tentu ingin tahu bagaimana Vania juga Resa bisa tampak begitu akrab dengan Nathan.

"Tidak masalah kan kalau Aku mengenal Mereka."

Nathan tidak tahu darimana Satria mengetahui kedekatannya dengan mantan istrinya itu.

"Selama tujuanmu bukan untuk menyakiti Mereka, Aku tidak masalah." jelas Satria.

Wajar Satria memiliki kecurigaan itu pada Nathan karena Satria takut jika Nathan berniat untuk balas dendam padanya melalui Vania juga Resa.

"Kau tidak salah? Yang menyakiti Mereka bukan Aku, tapi Kau sendiri." tunjuk Nathan dengan wajah dingin.

"Lalu apa tujuanmu sebenarnya mendekati Mereka?" Satria tentu ingin tahu alasan Nathan mendekati Vania dan Resa.

Nathan berdiri sambil memasukkan kedua tangannya dalam saku celananya. Kemudian mengatakan hal yang membuat Satria terkejut.

"Aku menyukai Vania dan akan menikahinya." tegas Nathan lalu melangkah pergi dari ruangan itu meninggalkan Satria yang diam mencerna pernyataan Nathan.

.

.

Vania menunggu kedatangan Nathan yang mengatakan akan menjemput Mereka di sekolah Resa.

"Bunda, kenapa Uncle Nathan lama sekali?" tanya Resa yang sudah bulak-balik bertanya sambil bermain di taman sekolah.

"Sebentar ya Sayang, Bunda akan coba telepon Uncle Nathan." Resa mengangguk dan kembali beain ayunan disana untuk mengusir rasa bosannya.

Vania kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Nathan.

Kring,kring,kring

Suara dering ponsel terdengar cukup kencang di telinga Vania. Ternyata Nathan sedang melangkah cepat menuju ke arahnya.

"Maaf Vania, Aku terlambat." sesal Nathan dengan nafas tersengal.

"Tidak apa-apa Nathan. Kau berlari dari parkiran?" tanya Vania yang melihat Nathan terengah.

Nathan menganggukan kepalanya. "Uncle." seru Resa yang melihat Nathan. Seperti biasa Resa akan memeluk dan berakhri digendong oleh Nathan.

"Sayang turun, kasian Uncle Nathan lelah." titah Vania pada Resa.

Kali ini Resa menurut dan hanya meminta Nathan untuk menggandeng tangannya. Mereka segera pergi menuju mobil Nathan.

.

.

Pengacara Nathan sudah datang di tempat milik Nathan yang akan dijadikan toko roti oleh Vania, dan ditemani oleh Bram disana. Mereka menunggu kedatangan Nathan yang sedang menjemput Vania.

Tidak lama Nathan datang dengan menggandeng tangan Resa. Vania juga turut berjalan sedikit dibelakang Mereka.

Bram menggelengkan kepala melihat pemandangan keluarga kecil yang sebentar lagi akan selalu dilihatnya.

"Maaf Kami terlambat." ucap Nathan.

Kemudian Nathan menarik kursi untuk Vania duduk di sampingnya. Resa diberikan ponsel oleh Nathan di meja yang berbeda agar tidak merasa bosan.

"Ini beberapa surat yang sudah kami pindahkan yang awalnya atas nama anda menjadi nama Revania Agatha." jelas pengacara.

Vania tentu terkejut mendengar hal ini. Baru kemarin Mereka membahas hal ini, dan Vania belum menyetujuinya karena berfikir Nathan hanya ingin menggodanya saja kemarin.

"Nathan." ucap Vania pelan.

Dia menggelengkan kepala tanda tidak setuju dengan keputusan Nathan ini.

"Tenanglah." Nathan menggenggam satu tangan Vania di bawah meja.

"Dimana Aku harus tanda tangan?" tanya Nathan.

Pengacara menunjukan letak dimana Nathan harus membubuhkan tanda tangannya.

"Sekarang giliran Nona." pinta pengacara sambil menunjukan letak untuk tanda tangan Vania.

Vania terdiam seolah ragu dengan semua ini. Tapi Nathan kembali mengatakan sesuatu yang membuatnya tidak bisa menolak.

"Terimalah jika Kamu menghargai pemberianku." ucap Nathan.

Akhirnya tempat itu sudah resmi menjadi atas nama Vania. Pengacara memberikan surat kepemilikan itu pada Vania lalu berpamitan pulang. Bram mengantar pengacara itu sampai ke mobilnya berada.

"Nathan ini berlebihan."

Setelah kepergian semuanya dan hanya menyisakan Mereka berdua, Vania baru bisa membuka suaranya. Sedari tadi Nathan selalu mendominasi Vania agar menurutinya.

"Gak Vania, Aku tulus melakukan semua ini untuk membantu Kamu juga." jelas Nathan.

"Nathan." lirih Vania yang sudah ingin menangis.

"Hey, kenapa menangis?"

Nathan memegang wajah Vania dan menyeka air mata yang lolos di pipi Vania.

"Terima kasih Nathan." hanya itu yang bisa Vania ucapkan pada Nathan.

Nathan membawa Vania untuk bersandar di pelukannya dan Vania tidak menolak hal itu.

"Rasanya nyaman." batin Vania.

.

.

......................

1
Indah Tuk Di Kenang
sakitya thorrr liat satria bahagia 😭😭semangat up therusss thorrr👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!