Dikhianati... Kemudian dibunuh...
Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.
Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.
"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.
"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Muka Tebal.
"Lee, kamu yakin baik-baik saja?"
Suara bernada khawatir yang Thalia lontarkan membuat Lea yang sebelumnya menunduk membaca buku mengangkat wajah, menemukan netra Thalia tengah menatapnya khawatir.
Alis Lea berkerut tipis, netranya menatap Thalia bingung. "Maksudmu?"
Thalia menatap wajah sahabatnya lekat. Siang ini, Lea datang ke kampus hanya untuk menyerahkan tugas tanpa mengikuti kelas, dan sekarang mereka tengah duduk di kantin kampus untuk beristirahat sejenak.
"Wajahmu pucat, kamu juga terlihat lelah, lingkar hitam di bawah matamu bahkan lebih parah dari terakhir kali kita bertemu," ucap Thalia.
Lea tersenyum, menutupi rasa kesal yang hatinya rasakan. "Bagaimana aku bisa baik-baik saja? Aksa menyiksaku pagi ini dengan latihan fisik lebih berat dari yang paman Don berikan," gerutunya dalam hati.
"Aku baik-baik saja, hanya kurang tidur," dusta Lea menenangkan sahabatnya.
Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Bahwa pagi ini, sebelum matahari terbit, Angkasa sudah memaksanya bangun untuk memulai latihan. Diawali dengan peningkatan fisik, latih tanding dengan Angkasa sebagai lawan dan cara latihan menggunakan senjata sampai membuat jemarinya mati rasa. Dan ia tahu, besok, ia akan mengawali hari dengan aktivitas yang sama sampai hasil yang Angkasa tentukan tercapai.
"Kamu yakin?" tanya Thalia memastikan.
"Ya." jawab Lea seraya meneguk es kopinya. "Oh, bagaimana dengan rumus yang pernah aku berikan padamu? Kau sudah mencobanya?" lanjut Lea bertanya.
Thalia menghela napas. Ia paham, Lea sedang mengalihkan pembicaraan hanya agar ia tidak khawatir. "Sudah."
Thalia membuka ranselnya, mengeluarkan botol kaca kecil berisi serbuk putih yang mereka sebut sebagai rumus, lalu menyodorkannya pada Lea.
"Kamu periksa sendiri, apakah ada yang kurang atau tidak," ucap Thalia. "Aku membuatnya sesuai dengan catatan yang kamu berikan menggunakan ekstrak atropa belladonna putih. Tapi, ini obat apa, Lee?"
"Bahasa sederhananya ...halusinogen," jawab Lea tanpa jeda seolah apa yang ia kataka adalah hal biasa. Ia menerima botol itu, menjepitnya dengan dua jari selama beberapa saat, kemudian menggenggamnya. "Hanya saja, di sini tidak ada kandungan narkotika, dan aku sudah memiliki penawarnya."
"Kenapa kamu memintaku membuat obat seperti itu?" tanya Thalia.
"Karena aku tidak mungkin membuatnya di mansion Aksa. Di sana minus peralatan," jawab Lea.
"Aksa?" ulang Thalia dengan alis terangkat, sedetik kemudian senyum jahil terbentuk di bibirnya.
"Bukan main ..." ia menepuk tangan dengan gaya dramatis. "Sudah sejauh mana hubungan kalian berdua? Kamu bahkan memiliki panggilan khusus untuk orang sekelas mafia. Banyangkan saja."
"Sejauh aku sangat ingin memasukan obat ini ke minumannya besok pagi," jawab Lea ketus.
"Pft ..." Thalia terbahak. "Tapi serius," lanjutnya setelah tawa mereda. "Untuk apa obat itu?"
"Membuat seorang predator seksual bicara," jawab Lea tanpa beban seolah sedang membicarakan menu makan siang.
Thalia melotot, menelan salivanya kasar mendengar jawaban sahabatnya. "Kadang aku berpikir ...apakah kau terlalu mempercayaiku atau kau terlalu meremehkanku? Dengan membiarkan aku berada di ruang harta karunmu tanpa kau ada di sana? Aku bisa saja mengambil semuanya dan pergi meninggalkan kota ini."
"Aku justru penasaran bagaimana cara kamu akan melakukan itu. Apakah kau akan membakar rumahku atau sejenisnya?" balas Lea seolah bisa menembus pikiran sahabatnya.
Bukan tanpa alasan ia berkata demikian. Di kehidupan sebelumnya, Thalia adalah satu-satunya orang yang selalu berada di sisinya. Bahkan, sebelum hari di mana Thalia kehilangan nyawa, sahabatnya itu mengatakan satu kalimat yang tidak akan pernah ia lupa. "Andai kehidupan kedua itu benar-benar ada, aku ingin tetap menjadi sahabatmu."
Thalia bergidik. Siratan kalimat yang sahabatnya ucapkan seolah ingin mempertegas bahwa Lea bisa menemukannya di mana pun ia berada. Dan yang membuat ia kehabisan kata adalah bagaimana cara Lea mengatakan hal seperti itu dengan wajah santai seolah sedang memilih mana coklat terenak di antara dua pilihan.
Lea memasukkan botol itu ke saku jaketnya. Belum sempat ia kembali berbicara, salah satu mahasiswa yang menjadi temannya berjalan mendekat ke arahnya dan berdiri di samping meja tempat ia dan Thalia berada.
"Lea, ada yang mencarimu. Dia menunggumu di depan gerbang kampus," ujarnya.
"Mencariku?" Lea mengerutkan kening. "Siapa?"
"Dia yang sering datang menjemputmu, yang pernah menjadi senior kita dulu," dia menjawab.
Ekspresi wajah Lea berubah seketika. Ia tahu siapa yang dimaksud. Sedetik kemudian, ia kembali tersenyum tipis, menatap temannya yang baru saja menyampaikan pesan tak diinginkan itu padanya.
"Terima kasih, aku akan ke sana," ucap Lea.
Dia mengangguk. "Lebih baik segera kamu temui. Banyak mahasiswa lain berkerumun, dia membawa buket bunga besar, Sania juga ada di sana," ujarnya.
Lea kembali mengangguk, mengucapkan terima kasih sekali lagi, dan dia pergi.
"Sepertinya Sam belum menyerah." ucap Thalia sembari menggelengkan kepala. "Dia gila atau apa?"
"Lebih tepatnya ..." Lea berdiri, menyampirkan tas ke bahu kirinya. "Dia frustasi karena sumber uangnya lari."
"Muka tebal." Thalia berkomentar dengan tawa singkat, menyampirkan ransel ke bahunya, lalu turut berdiri dan mengikuti Lea meninggalkan kantin.
Lea melangkah santai, memasukkan buku tebal yang ia baca beberapa saat lalu ke dalam tas, lalu memasang earphone ke telinga kirinya untuk mendengarkan lagu favoritnya. Lagu yang selalu ia dengar lagi dan lagi.
Kerumunan kecil sudah terbentuk di depan gerbang kampus saat Lea tiba. Di tengah-tengah kerumunan itu, Samuel berdiri dengan buket bunga berukuran besar di tangan. Tersenyum saat Lea datang.
Samuel merapikan jasnya, memberikan senyum menawan saat Lea melangkah mendekat, dan menyodorkan bunga di tangannya pada Lea.
"Untukmu," ujar Samuel.
Lea menatap buket bunga itu selama beberapa saat tanpa memiliki niat untuk menyentuhnya, kemudian pandangannya beralih pada pria yang menyodorkan bunga itu.
"Ada apa mencariku?" tanya Lea datar seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya.
Senyum di bibir Samuel perlahan memudar, netranya mengamati penampilan Lea yang sangat jauh berbeda. Celana longgar itu, jaket dengan hoodie yang menutupi kepala, earphone terpasang di telinga, itu adalah penampilan yang tidak ia sukai.
"Kamu sangat sulit kuhubungi belakangan ini. Rumahmu sering terkunci, kamu sangat jarang ke kampus, dan-..."
"Dan itu laporan yang Sania berikan padamu?" potong Lea cepat dengan alis terangkat. "Lalu?"
"Lea ...jika aku melakukan kesalahan, tolong katakan," ucap Samuel dengan suara sehalus beludru.
Andai yang berdiri di depan Samuel saat ini adalah Lea yang dulu, ia akan luluh dengan mudah. Tapi kali ini, Lea yang ada di hadapan Samuel bukan lagi Lea yang akan menelan mentah semua yang Samuel ucapkan.
Tiba-tiba, Samuel berlutut di depan Lea, di hadapan semua mahasiswa yang sedang mengamati mereka, sekali lagi menyodorkan buket bunga, tapi kali ini diikuti sebuah kotak beludru abu gelap yang dalam keadaan terbuka dengan cincin di dalamnya.
"Sejak pertama kali kita bertemu, di kampus ini, i semester awal kamu tercatat sebagai mahasiswi di sini, aku sudah menyukaimu. Rasa itu tumbuh menjadi cinta yang tidak bisa aku kendalikan. Aku mencintaimu, Lea. Maukah kamu menikah denganku?"
Teriakan histeris dari para mahasiswi di sekitar seketika meledak. Mereka meneriakan kata 'Terima' secara berulang, dan saat itu jugalah Sania melangkah mendekat. Memposisikan tubuhnya di samping Lea di sisi berbeda dengan Thalia.
"Terima, Lea. Bukankah kamu juga menyukai Sam sejak lama?"
. . . .
. . ..
To be continued...