NovelToon NovelToon
Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Time Travel
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Jilal Suherman

ajil seorang suami yang ditinggal istrinya meninggal dunia setelah kelahiran anak keduanya.
sampai pada suatu ketika dia berjalan dijalan raya tanpa melihat kanan kiri menyebrang jalan, lalu ia tertabrak kendaraan.
tapi seketika ia berada ditempat dimana keadaan yang jauh dari planet bumi dan bertemu seorang Dewi yang akan memberikan kehidupan dan petualangan baru disdimensi lain diplanet yang bernama ridokan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Samurai di Sudut Kedai dan Air Mata di Ujung Perpisahan

Matahari siang bersinar terik menyengat atap-atap bata merah Kerajaan Valeria, namun hawa dingin seolah merayap dari bayang-bayang kota saat empat sosok berjalan melintasi gerbang utama. Sepatu bot tempur Ajil yang berlumuran darah kering dan debu merah dari Lembah Kematian Berdarah meninggalkan jejak yang membungkam seluruh jalanan. Tidak ada yang berani bersorak. Tidak ada yang berani berbisik. Berita tentang pembantaian seratus elit Silver Fang dan Crimson Lion telah terbang lebih cepat dari embusan angin, dibawa oleh segelintir pasukan yang diampuni nyawanya oleh sang Algojo.

Ajil melangkah dengan postur tegap yang absolut. Setelan Malam Abadi Kelas SS miliknya menyerap teriknya matahari, wajahnya tak sedikit pun memancarkan kelelahan apalagi penyesalan. Di sebelahnya, Erina berjalan dengan dagu terangkat, zirah sutra mithrilnya bersinar suci. Di belakang mereka, Rino dan Richard memanggul senjata mereka yang masih menyisakan aroma daging terbakar dan darah beku, menatap tajam siapa pun yang berani menghalangi jalan sang Pemimpin.

Tujuan mereka hanya satu: Guild Petualang Valeria.

Begitu Ajil mendorong pintu ganda kayu ek raksasa itu, engselnya berderit panjang, dan seketika itu pula, seluruh hiruk-pikuk di dalam aula raksasa itu mati. Para petualang yang sedang memegang gelas bir membeku. Mereka menahan napas, menundukkan pandangan mereka dalam-dalam, tak berani menatap mata pria yang baru saja meruntuhkan dua pilar kekuatan terbesar di benua barat.

Di tengah keheningan yang mencekam itu, dua sosok berlari tergesa-gesa menuruni tangga dari lantai dua.

Master Leon, sang jenderal perang dengan zirah putih mutiaranya, dan Reyna, Master Guild dari kota tetangga yang memegang busur kilat kuningnya. Wajah kedua veteran perang itu pucat pasi, dipenuhi oleh kecemasan yang luar biasa. Mereka telah mendengar laporan dari para penyintas yang kembali dengan jiwa hancur. Mendengar bahwa Ajil, yang hanya membawa tiga orang (dua di antaranya belum sembuh total dari luka naga), berhadapan dengan Galahad (Level 140) dan Boros (Level 120) beserta seratus elit, membuat jantung Leon nyaris berhenti.

"Ajil!" panggil Leon, suaranya sedikit bergetar saat ia menghampiri pria berjaket hitam itu. Leon memindai tubuh Ajil dari atas ke bawah, mencari luka fatal atau anggota tubuh yang hilang. Reyna di sebelahnya menutupi mulutnya, tak percaya melihat Ajil berdiri tegak tanpa cedera berarti.

"Kau... kau benar-benar membantai mereka semua?" bisik Reyna, matanya membelalak ngeri sekaligus lega. "Kami mengira kau akan hancur! Boros memiliki racun mematikan, dan Galahad memegang pedang suci... Bagaimana kau bisa kembali tanpa kehilangan satu anggota tubuh pun?!"

Ajil menatap Leon dan Reyna dengan pandangan sedatar permukaan danau es. Tidak ada rasa bangga di matanya.

"Aku tidak datang kemari untuk melaporkan mayat serangga," ucap Ajil dingin, suaranya yang berat membelah keheningan Guild. "Aku datang untuk menyelesaikan urusanku."

Namun, di tengah ketegangan antara Ajil dan para Master Guild, insting God-Tier Ajil tiba-tiba berkedip samar. Ada sebuah fluktuasi mana yang sangat tenang, sangat sunyi, namun setajam pisau cukur, bersembunyi di sudut tergelap aula kedai.

Tanpa memutar kepalanya sepenuhnya, sudut mata kelam Ajil melirik ke arah meja kayu bundar di pojok ruangan yang minim cahaya.

Di sana, duduklah seorang pria misterius yang memancarkan aura berbeda dari ksatria atau penyihir di benua ini. Pria itu mengenakan jubah biru pekat yang potongannya menyerupai haori dari negeri timur jauh. Sebuah topi anyaman jerami lebar menutupi separuh wajahnya, menyisakan rahang tegas yang dihiasi cambang tipis. Di pinggang kirinya, terselip sebuah pedang melengkung bersarung kayu hitam—sebuah Katana—yang memancarkan hawa dingin tak kasat mata.

Pria itu adalah Kurogane, Master Guild dari Kota Mutiara Merah (Red Pearl City). Ia sedang menyesap sake murni dari sebuah cangkir kayu kecil dengan sangat tenang.

Kurogane bukanlah orang sembarangan. Tiga puluh tahun yang lalu, ia adalah salah satu sahabat seperjuangan Leon dan Reyna di garis depan saat umat manusia melawan invasi ras iblis. Ketiganya pernah bermandi darah bersama di medan perang. Namun, karena letak kotanya yang berada di ujung benua, Kurogane jarang mencampuri urusan politik pusat. Ia datang ke Valeria hari ini semata-mata karena dipanggil oleh Leon yang merasa firasat buruk akan kebangkitan iblis.

Meskipun kuat dan merupakan pahlawan perang, Kurogane—sama seperti Leon dan Reyna—belum mengetahui sebuah rahasia gelap yang disembunyikan oleh sistem dimensi: bahwa saat ini, ada Tiga Dewa Iblis (Demon Gods) yang telah bangkit dan bersiap memimpin peperangan mutlak melawan ras manusia. Mereka masih berpikir bahwa ancaman iblis hanyalah sisa-sisa jenderal dari tiga dekade lalu.

Di balik bayangan topi jeraminya, mata setajam elang milik Kurogane terus memperhatikan Ajil secara tidak langsung. Tangan kanan Kurogane yang kapalan dengan pelan mengetuk meja kayu mengikuti ritme langkah Ajil.

"Jadi, ini anomali yang membuat Leon ketakutan sekaligus menaruh harapan," batin Kurogane, menyesap sakenya. "Berjalan layaknya kehampaan. Tidak ada fluktuasi mana yang bocor. Membunuh Level 140 tanpa meninggalkan luka gores di tubuhnya sendiri. Menarik... sangat menarik. Pedangku sudah lama tidak bergetar melihat seorang manusia."

Ajil memutus kontak mata ekornya dari Kurogane. Jika samurai berbaju biru itu tidak berniat mencabut pedangnya, Ajil tidak akan membuang tenaganya.

Langkah Ajil berlanjut, membelah formasi Leon dan Reyna, lurus menuju meja kaca mahoni resepsionis.

Di balik meja itu, Karin sudah tidak mampu lagi mempertahankan postur profesionalnya sebagai staf Guild. Begitu melihat Ajil kembali dengan selamat, dengan percikan darah musuh di ujung sepatunya, pertahanan emosional gadis itu runtuh total. Jantungnya yang sedari tadi dipompa oleh ketakutan ekstrem, kini digantikan oleh kelegaan yang menyesakkan dada.

"T-Tuan Ajil..." panggil Karin. Suaranya pecah seketika.

Gadis berambut pirang itu tidak lagi memedulikan tatapan ratusan petualang di aula. Ia berhambur keluar dari balik mejanya, wajahnya merah padam, dan air matanya tumpah ruah. Ia menangis sesenggukan, bahunya bergetar hebat. Kedua tangannya terulur dengan gemetar, nyaris meraih lengan trench coat hitam Ajil, matanya yang basah menelusuri wajah dan lengan Ajil untuk memastikan pria itu benar-benar utuh.

"Hiks... S-Saya pikir... S-Saya pikir Anda tidak akan kembali..." isak Karin dengan napas tersengal, air matanya menetes membasahi kemeja seragamnya. "B-Boros memiliki racun... Galahad memiliki ribuan pasukan... A-Anda tidak terluka parah 'kan? K-Katakan pada saya Anda baik-baik saja, Tuan..."

Ajil berdiri mematung. Matanya yang kelam menatap gadis manusia yang sedang menangis tersedu-sedu di depannya. Tidak ada respons emosional dari wajah Ajil. Dinding es di hatinya terlalu tebal untuk ditembus oleh tangisan seorang gadis yang baru ia kenal beberapa minggu. Ia tidak menepis tangan Karin yang mengambang di udara, namun ia juga tidak memberikan kenyamanan apa pun.

Namun, sebelum Karin sempat menyentuh lengan Ajil, sebuah tangan berkulit pualam yang sangat dingin mencengkeram pergelangan tangan Karin dengan keras.

Grep!

Erina melangkah maju, memotong jarak di antara mereka. Mata zamrud sang High Elf berkilat oleh amarah yang membakar dan arogansi yang mutlak. Rambut peraknya berkibar pelan oleh sihir angin yang tak kasat mata.

"Singkirkan tangan kotormu, Manusia yang menyedihkan," desis Erina, suaranya mengalun sangat merdu namun dipenuhi bisa yang mematikan. Ia menghempaskan tangan Karin dengan kasar. "Kau pikir pria ini adalah kaca rapuh yang akan pecah hanya karena menghadapi sekumpulan serangga? Tangisanmu yang cengeng ini adalah sebuah penghinaan bagi kemenangannya."

Karin terhuyung mundur, memegangi pergelangan tangannya yang memerah. Rasa malu, sedih, dan cemburu yang luar biasa membuat air matanya semakin deras mengalir. Ia menatap Erina dengan kebencian, namun ia tak memiliki kekuatan untuk melawan.

"S-Saya hanya... Saya hanya mengkhawatirkannya!" isak Karin, suaranya meninggi di sela-sela tangisnya. "Anda tidak punya hati! Anda tidak tahu rasanya menunggu di sini, membayangkan pria yang... pria yang Anda hormati mati di lembah terkutuk itu!"

Erina tersenyum sinis, sebuah senyuman yang begitu kejam hingga membuat Rino dan Richard di belakang Ajil ikut merinding.

"Aku tidak perlu menunggu di sini sepertimu," balas Erina tajam, mencondongkan wajah sempurnanya ke arah Karin. "Karena aku berdiri di sampingnya saat ia membelah lautan darah itu. Aku adalah perisai yang menyembuhkannya, dan pedang yang mengiris musuhnya. Sementara kau? Kau hanyalah penonton yang hanya bisa menangis sesenggukan di balik meja kaca ini. Jangan pernah bermimpi untuk menyamakan posisimu denganku, Gadis Resepsionis."

Perang dingin itu telah meledak menjadi pembantaian mental secara sepihak. Karin menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menangis sejadi-jadinya hingga lututnya lemas dan ia terduduk di lantai pualam Guild. Hatinya hancur berkeping-keping.

Seluruh aula terdiam kaku. Leon dan Reyna menelan ludah, tak berani mencampuri urusan pribadi sang anomali dan elf mengerikan di sebelahnya. Dari sudut ruangan, Kurogane hanya menarik ujung bibirnya sedikit di balik topi jeraminya, terus mengamati tanpa suara.

Ajil, yang sedari tadi hanya diam memandangi pemandangan itu, akhirnya menghela napas panjang. Udara di sekitarnya seketika turun suhunya.

Ia tidak membela Karin, tidak pula menegur Erina. Baginya, drama perasaan ini adalah hal yang paling tidak relevan dalam misinya. Ia menatap Leon yang berdiri tak jauh darinya.

"Urusanku di kota ini sudah selesai, Leon," ucap Ajil datar, suara baritonnya menghentikan isak tangis Karin sesaat, membuat gadis itu mendongak dengan wajah basah.

Leon terkesiap. "Selesai? K-Kau mau pergi, Ajil? Tapi... Valeria membutuhkan kekuatanmu. Kaisar Iblis bisa bergerak kapan saja, dan dengan hancurnya Silver Fang, keseimbangan kekuatan militer kita—"

"Itu bukan urusanku," potong Ajil tanpa belas kasihan. Wajahnya sekaku pahatan baja. "Aku bukan anjing penjaga kerajaanmu. Aku sudah mendapatkan apa yang kucari di hutan itu. Besok pagi, aku akan berangkat ke Benua Utara. Tempat para Dwarf."

Reyna melangkah maju, wajah cantiknya memucat. "Benua Utara? Ajil, kau tidak tahu apa yang kau bicarakan! Benua itu tertutup badai salju abadi. Para Dwarf sangat benci pada manusia dan elf. Mereka telah menutup gerbang benua mereka sejak Perang Iblis. Kau tidak akan bisa masuk!"

"Dinding yang dibangun oleh rasa takut selalu bisa dihancurkan oleh keputusasaan," balas Ajil dengan sebuah Kata Mutiara yang membekukan darah semua orang yang mendengarnya. Ia menatap lurus ke mata Reyna. "Jika gerbang mereka tertutup, aku akan mendobraknya. Jika mereka menghalangi jalanku, aku akan meleburkan gunung mereka."

Ajil memutar tubuhnya perlahan, memunggungi Leon, Reyna, dan Karin yang masih menangis di lantai. Jaket Malam Abadi-nya berkibar elegan namun memancarkan isolasi absolut.

"Rino, Richard, Erina. Kita kembali ke penginapan. Siapkan perbekalan untuk cuaca ekstrem," perintah Ajil tanpa menoleh.

"S-Siap, Pemimpin!" seru Rino dan Richard serempak, meninju dada kiri mereka.

Erina memberikan tatapan merendahkan terakhirnya pada Karin, lalu melangkah anggun menyusul Ajil, bahunya nyaris bersentuhan dengan lengan pria berjaket hitam itu.

"T-Tuan Ajil..." panggil Karin dengan suara serak dan putus asa dari atas lantai pualam.

Langkah sepatu bot Ajil terhenti sesaat. Ia memutar kepalanya hanya setengah, melirik gadis resepsionis yang telah banyak membantunya sejak hari pertama ia tiba di Valeria dalam wujud gelandangan Kelas F. Mata kelam Ajil tidak memancarkan cinta, namun ada sebersit pengakuan yang sangat dingin.

"Terima kasih atas administrasinya selama ini, Karin," ucap Ajil datar. "Tetaplah hidup."

Hanya itu. Tanpa janji untuk kembali, tanpa pelukan penenang. Sang Algojo Dimensi kembali melangkah, mendorong pintu ganda Guild dan menghilang ke dalam teriknya matahari siang Valeria, meninggalkan Karin yang menangis sesenggukan, Reyna yang mematung, Leon yang memijat pelipisnya karena pusing, dan Kurogane yang diam-diam menuangkan cangkir sakenya yang kedua dengan senyum misterius di sudut ruangan.

Malam harinya, di penginapan Bulan Sabit Berdarah.

Suasana di luar jendela dipenuhi oleh suara angin malam yang menderu. Di dalam kamar yang disewa khusus untuk kelompok Algojo Dimensi, Rino dan Richard tengah sibuk memoles senjata baru mereka di sudut ruangan, sementara Erina duduk di tepi jendela, membersihkan busur emasnya sambil menyenandungkan lagu kuno bangsa peri yang sangat merdu.

Ajil duduk bersila di atas ranjang kayunya. Matanya terpejam. Mana Tak Terbatas mengalir stabil di dalam nadi dan jantungnya. Ia sedang menyelaraskan energi kosmik dari Prasasti Dimensi Pertama yang kini bersemayam di dalam Cincin Ruangnya. Setiap kali ia memfokuskan pikirannya, ia bisa merasakan kepingan ruang dan waktu beresonansi di ujung jarinya.

Satu dari enam keping telah ia dapatkan. Perjalanan ke Benua Utara akan memakan waktu dan menguras fisik. Badai salju abadi, ras Dwarf yang keras kepala, dan misteri yang tersembunyi di balik pegunungan es menunggunya.

Ia membuka matanya. Tatapannya menembus dinding kayu kamar penginapan, menerawang jauh menembus batas dimensi. Di dalam kekosongan pikirannya, senyum Arzan dan Dara kembali melintas, menjadi satu-satunya pelita yang menjaganya agar tidak sepenuhnya menjadi monster tanpa hati di dunia yang kejam ini.

"Tidurlah kalian semua," ucap Ajil memecah keheningan kamar. "Besok pagi, kita akan menyeberangi lautan."

Erina tersenyum lembut, menyarungkan busurnya. Rino dan Richard mengangguk hormat, membereskan peralatan mereka. Malam ini adalah malam terakhir mereka di Kerajaan Valeria, kota di mana legenda sang Algojo dimulai, dan kota yang akan menjadi saksi kebangkitan dewa kematian yang akan mengguncang seluruh tatanan Planet Ridokan.

1
Mr.Jeje
bilamana ada kesalahan tulisan mohon untuk memberi tahu saya sebagai author🙏
Mr.Jeje
saya sebagai author, bila mana ada kesalahan kata atau kalimat, mohon saran dan kritik nya untuk para pembaca. sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak.🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!