NovelToon NovelToon
Fajar Kedua Sang Lady

Fajar Kedua Sang Lady

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Wanita perkasa
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Genevieve menggertakkan giginya sekuat tenaga. Urat-urat di lehernya menonjol. Matanya membelalak, memancarkan perlawanan absolut. Alih-alih membiarkan lututnya menyentuh lantai, ia menggunakan tangan kirinya untuk mencengkeram erat tepi meja altar obsidian yang membeku, menjadikan batu itu sebagai penopang tubuhnya. Ia memaksa dirinya untuk tetap berdiri tegak, membiarkan buku-buku jarinya memutih karena tenaga yang ia kerahkan.

"Aku bukan pengkhianat," desis Genevieve dari sela-sela giginya, suaranya nyaris tenggelam oleh tekanan energi murni tersebut, namun artikulasinya sangat tajam. "Aku adalah korban dari darah pengkhianat itu."

Massa bayangan itu berhenti bergolak. Tekanan yang menghimpit tubuh Genevieve sedikit mengendur, memberikan paru-parunya kesempatan untuk meraup udara. Dari tengah-tengah kabut hitam itu, dua titik cahaya merah menyala terang, menyerupai sepasang mata raksasa yang tidak memiliki emosi selain kebencian kuno. Mata itu menatap langsung menembus daging, menembus tulang, menatap langsung ke dalam jiwa Genevieve.

*"Kau membawa darah Kaelen Blackwood,"* suara entitas itu bergema lebih lambat, mengamati jiwa di hadapannya. *"Tapi jiwamu... jiwamu tidak membawa setetes pun kotoran dari garis keturunannya. Kau adalah orang luar. Namun kau memakai nama mereka. Kau berbau seperti mereka. Kau adalah Lady dari House Blackwood."*

"Itu adalah nama yang dipaksakan padaku," jawab Genevieve, nada suaranya sama sekali tidak memohon, melainkan membalas tatapan entitas itu dengan keberanian yang nyaris gila. Ia melepaskan cengkeramannya dari altar, menarik kerah gaun linennya yang robek, memperlihatkan kulit leher dan bahunya yang penuh memar ungu kehitaman, goresan kayu, dan pembuluh darah yang menonjol akibat kelelahan ekstrem. "Ini adalah hadiah dari keluarga yang kau benci. Mereka meracuniku setiap malam. Mereka memasukkanku hidup-hidup ke dalam peti mati, dan membuangku ke dasar jurang ini agar aku membusuk tanpa nama."

Genevieve melepaskan kerahnya, membiarkannya jatuh kembali. Ia mendongak, matanya yang sedingin es bertemu dengan mata merah menyala dari bayangan tersebut.

"Mereka mengkhianatimu demi cahaya dan kekuasaan," lanjut Genevieve, suaranya kini mengalun rendah, penuh dengan perhitungan dan manipulasi yang brilian. "Dan mereka membuangku demi mempertahankan kekuasaan itu. Darah Kaelen Blackwood di dalam botol ini adalah kunci yang kau minta, namun kebencianku pada keturunannyalah yang membawaku ke depan altarmu. Kau telah menunggu berabad-abad dalam kegelapan ini. Apakah kau hanya akan terus meratapi pengkhianatan di masa lalu, atau kau ingin menggunakan tanganku untuk mencekik leher keturunan Kaelen di masa sekarang?"

Hening. Keheningan yang begitu absolut hingga Genevieve bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdebar gila-gilaan.

Ia sedang bernegosiasi dengan sebuah anomali magis purba yang bisa menghancurkan tubuh rapuhnya hanya dengan satu jentikan pikiran. Ia sedang berdiri di tepi jurang kewarasan, mempertaruhkan nyawanya pada asumsi bahwa entitas ini lebih haus akan balas dendam daripada haus darah segar.

Tiba-tiba, suara tawa yang mengerikan menggelegar di dalam pikiran Genevieve. Tawa itu kering, serak, dan menggetarkan ubin marmer di bawah kakinya.

*"Keberanian dari seekor serangga yang terperangkap di jaring laba-laba,"* ejek Inti Kegelapan, bayangan itu melesat memutar mengelilingi tubuh Genevieve, membawa hawa dingin yang membuat rambut peraknya berkibar pelan. *"Kau memiliki tubuh yang nyaris menjadi mayat. Tulangmu retak, ototmu hancur, dan jiwamu terlalu rapuh untuk menampung sepersekian dari kekuatanku. Jika kuberikan lautan padamu, kau hanya akan tenggelam."*

"Maka berikan aku tetesan pertama yang kubutuhkan untuk mulai meracuni sumur mereka," balas Genevieve tanpa ragu sedetik pun. "Aku tidak meminta kekuatan untuk menghancurkan gunung hari ini. Aku meminta benihnya. Biarkan aku menanamnya. Aku memiliki sesuatu yang tidak kau miliki, Entitas. Aku memiliki wujud fisik untuk berjalan di bawah sinar matahari ibukota, dan akal untuk menghancurkan mereka dari dalam dinding rumah mereka sendiri."

Bayangan hitam itu kembali berkumpul di atas altar, melayang turun hingga posisinya sejajar dengan wajah Genevieve. Dua mata merah menyala itu menatapnya lekat-lekat. Entitas itu sedang menelanjangi pikirannya, merasakan setiap emosi, setiap logika, dan setiap inci tekad bertahan hidup yang telah membawa wanita ini selamat dari maut yang berulang-ulang.

Entitas itu tidak menemukan kepanikan. Tidak menemukan kenaifan. Yang ia temukan adalah seorang predator murni yang sedang tertidur dalam tubuh manusia yang rusak.

*"Sebuah benih..."* bisik entitas itu, suaranya berubah menjadi lebih dalam dan menghipnotis. *"Sebuah perjanjian. Bukan sebagai tuan dan pelayan. Bukan seperti Gereja Cahaya yang menuntut ketaatan buta. Kita akan membuat perjanjian darah dan bayangan. Aku akan menanamkan fragmen terdalam dari kekuatanku ke dalam jiwamu. Benih ini akan tumbuh seiring dengan jumlah penderitaan dan ketakutan yang kau ciptakan pada musuh-musuhmu. Kau akan menjadi cawanku yang berjalan, Genevieve."*

"Sepakat," jawab Genevieve tegas, menolak untuk memberikan jeda bagi keraguan.

*"Maka terimalah bagian dari keabadian yang membeku."*

Seketika, massa bayangan itu melesat maju, menghantam langsung ke tengah-tengah dada Genevieve dengan kecepatan cahaya.

Tubuh Genevieve terlempar ke belakang akibat gaya tumbukan yang sangat masif, menabrak salah satu pilar pualam di dekatnya. Ia jatuh tersungkur ke lantai marmer hitam, mulutnya terbuka lebar namun tidak ada suara jeritan yang keluar. Udara di paru-parunya dipaksa keluar sepenuhnya.

Rasa sakit yang menghantamnya tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Rasanya seolah-olah darah di dalam nadinya dikuras dan digantikan oleh besi cair yang membeku. Sensasi terbakar dan membeku terjadi secara bersamaan, merobek-robek jaringan selnya hingga ke tingkat molekuler. Visinya memutih, lalu menghitam, lalu meledak dalam warna ungu pekat. Ia mencengkeram lantai marmer hingga kuku-kukunya retak, tubuhnya melengkung kejang menahan energi yang masuk secara paksa ke dalam struktur jiwanya.

Di tengah penderitaan yang melampaui batas kewarasan manusia itu, panel biru Sistem kembali muncul dengan sendirinya, mendominasi pandangan mental Genevieve dengan rentetan teks yang berkedip brutal.

**[PERINGATAN! INTRUSI ENERGI ASING TINGKAT LEGENDA!]**

**[Energi Kegelapan Murni mencoba mengambil alih matriks saraf Tuan Rumah!]**

**[Merespons ancaman... Mengaktifkan Protokol Asimilasi Paksa. Menyaring fluktuasi entitas.]**

**[Sistem Pertahanan Jiwa: 10%... 45%... 80%... 100%. Asimilasi Berhasil.]**

**[Pemberitahuan Sistem: Energi entitas 'Inti Kegelapan' telah berhasil dijinakkan dan diintegrasikan ke dalam Sistem sebagai sub-modul kekuatan Tuan Rumah.]**

Bersamaan dengan munculnya teks terakhir itu, rasa sakit yang menyiksa Genevieve lenyap secepat ia datang.

Genevieve terengah-engah, tubuhnya tergeletak di lantai marmer, wajahnya dipenuhi keringat dingin. Ia memejamkan mata selama beberapa detik, mengatur kembali ritme napasnya yang kacau. Perlahan, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Ada sebuah pusaran kehangatan gelap yang berputar sangat pelan di ulu hatinya. Sebuah energi yang asing, namun kini terasa begitu jinak dan menuruti setiap komandonya.

Ia memaksakan diri untuk duduk, bersandar pada pilar pualam. Matanya menatap panel Sistem yang kini menampilkan informasi baru dengan desain antarmuka yang sedikit berubah—tepi layarnya kini dihiasi oleh ornamen rambatan bayangan ungu.

**[Status Kelas Diperbarui.]**

**[Kelas Tuan Rumah: 'Vessel of the Abyssal Dragon' (Wadah Naga Kegelapan) - Tingkat Awal.]**

**[Kemampuan Baru Terbuka: 'Aura of the Predator' (Pasif) - Menyembunyikan sinyal kelemahan fisik dan memancarkan intimidasi level rendah pada makhluk di sekitar.]**

**[Kemampuan Aktif: 'Shadow Stitch' (Jahitan Bayangan) - Level 1. Tuan rumah dapat memanipulasi bayangan padat untuk menutup luka fisik parah secara sementara atau mengikat objek ringan. (Konsumsi Energi Vital: 5 Poin/menit).]**

**[Syarat Peningkatan Kekuatan: Kumpulkan Poin Teror dan Keputusasaan dari musuh-musuh Tuan Rumah.]**

Genevieve menatap tulisan itu dengan napas yang perlahan menjadi stabil. Sistem telah bertindak sebagai penyaring, mengambil benih kekuatan entitas purba itu dan menerjemahkannya ke dalam kemampuan yang bisa ia kontrol sepenuhnya tanpa risiko jiwanya dilahap oleh kegelapan.

Ia mengangkat tangan kanannya. Dengan satu pikiran yang terfokus, sebuah benang bayangan hitam pekat seketika meluncur dari ujung jarinya, bergerak meliuk-liuk di udara seperti asap yang hidup, sebelum akhirnya menempel dan membalut erat di sekitar tulang rusuk kirinya yang retak. Sensasi dingin dari bayangan itu bertindak sebagai penyangga dan penghilang rasa sakit yang luar biasa efektif, memberikan kestabilan mekanis pada tulangnya yang rusak.

Genevieve tersenyum. Sebuah senyuman aristokrat yang sangat anggun, dingin, dan kini dipenuhi oleh otoritas mematikan yang tidak bisa dibantah.

Ia perlahan bangkit berdiri. Tubuhnya tidak lagi terasa rapuh. Beban kelelahan memang masih ada, tetapi rasa penderitaannya telah ditekan, digantikan oleh kesadaran absolut akan kekuatan baru yang mengalir di nadinya. Ia menatap ke sekeliling Suaka Gerhana. Cahaya merah di ruangan itu perlahan memudar, kembali ke pendaran ungu kristal yang menenangkan. Altar obsidian kembali diam tak bernyawa. Perjanjian telah selesai.

Genevieve berjalan kembali menuju altar, mengambil *Nightfang*, dan menyarungkannya ke pinggang dengan gerakan yang sangat terukur. Sang Lady yang terbuang telah masuk ke dalam ruangan ini sebagai manusia yang hampir mati, dan kini, ia melangkah sebagai entitas yang paling berbahaya di seluruh penjuru Jurang Hitam.

Langkah selanjutnya bukanlah lagi tentang sekadar bertahan hidup dari malam yang dingin. Langkah selanjutnya adalah mempersiapkan jalan kembali ke permukaan, kembali ke pelukan Kastil Ravenscroft.

1
Ana Kurniawan
aq jadi bingung terus fungsinya sistem buat apa..?
Ana Kurniawan
kan udah punya sistem ya, ku kira sistem itu yg bakal bantu dia tanpa harus ada esentitas lain...
Murni Dewita
👣
Bambang Widono
🙏👍💯💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏🙏
Memyr 67
𝗆𝖾𝗇𝖺𝗋𝗂𝗄
Wahyuningsih
thor sustemnya kok cuman gitu aja gk srulah
Wahyuningsih
thor buat suaminya menyesal d buat segan matipun tk mau biar nyakho dia n buat bbadaz abuz biar mkin keren
Wahyuningsih
q mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!