Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Kesepakatan yang Berbahaya
Keesokan sorenya, Langit keluar dari loby kantor pusat Wicaksana Corp. Ia tidak langsung pulang ke apartemennya. Ia justru mengarahkan mobilnya ke pusat kota dan berhenti di depan sebuah gedung tinggi di kawasan bisnis Sudirman. Gedung kantor Arvantara Group.
Ia mematikan mesin mobilnya dan duduk diam beberapa detik. Tangannya masih berada di setir. Pikirannya kembali pada satu hal.
Meilina.
Langit mengambil ponselnya lalu menekan sebuah nomor. Telepon itu tersambung beberapa detik kemudian.
“Langit?” Suara Meilina terdengar tenang.
“Kita perlu bicara.”
“Bukankah kita sudah selesai bicara seminggu yang lalu?”
“Aku di depan kantormu. Kamu datang?”
“Iya.” Meilina terdengar menarik napas pelan. “Tunggu di lobby.”
Langit mematikan teleponnya.
Lima belas menit kemudian Meilina keluar dari lift. Wanita itu terlihat elegan dan mahal seperti biasa. Sorot matanya melembut saat melihat Langit berdiri di dekat pintu kaca. “Tidak kusangka kamu datang langsung.”
Langit menatapnya tanpa senyum. “Kita perlu bicara.”
Meilina menyilangkan tangan. “Di sini saja?”
“Tidak.” Langit menunjuk ke arah kafe kecil di lantai dasar gedung.
Mereka duduk berhadapan beberapa menit kemudian. Pelayan baru saja meletakkan dua gelas kopi di meja. Namun tidak ada yang menyentuhnya.
Langit langsung berbicara. “Kamu datang ke rumah Ishani.”
Meilina tersenyum tipis. “Jadi dia meneleponmu.”
“Aku tanya sekali lagi.” Nada suara Langit berubah dingin. “Kenapa kamu datang ke sana?”
Meilina menyandarkan punggungnya ke kursi. “Aku hanya ingin melihat perempuan itu.”
“Untuk apa?”
“Aku penasaran.” Tatapan Meilina tajam. “Perempuan seperti apa yang membuatmu menghancurkan pertunangan kita.”
Langit menghela napas. “Kita tidak pernah benar-benar bertunangan.”
Meilina tertawa kecil. “Langit, keluarga kita sudah membuat kesepakatan.”
“Itu kesepakatan bisnis.”
“Bagi keluargamu mungkin.” Tatapan Meilina berubah sedikit lebih dalam. “Tapi tidak bagiku.”
Langit terdiam beberapa detik. “Aku datang ke sini untuk mengatakan sesuatu dengan jelas.”
Meilina menunggu.
“Jangan mendekati Ishani lagi.” Kalimat itu terdengar sangat tegas.
Meilina tersenyum. “Kenapa?”
“Karena itu urusanku.”
“Justru itu urusanku.” Meilina mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Langit, kamu membatalkan perjanjian antara dua keluarga besar.”
“Aku tidak pernah menyetujuinya.”
“Namun keluargamu setuju.”
Langit menatapnya tajam. “Jangan ganggu Ishani.”
“Kalau aku tidak mau?”
Langit tidak menjawab. Namun tatapannya sudah cukup jelas.
Meilina terdiam beberapa detik sebelum tertawa kecil. “Aku baru sadar satu hal.”
“Apa?”
“Kamu benar-benar serius dengan perempuan itu.”
Langit tidak menyangkalnya.
Meilina menunduk sebentar. Untuk pertama kalinya ekspresi wajahnya berubah. Ada sesuatu seperti luka di sana.
Meilina menatapnya lama. “Kamu bahkan tidak menyangkal kalau dia penting bagimu.”
Langit tidak menjawab.
“Langit Wicaksana yang kukenal tidak pernah membela perempuan mana pun,” lanjut Meilina.
“Dulu mungkin tidak.”
Meilina tersenyum tipis. “Jadi sekarang dia spesial?”
Langit menatapnya dingin. “Aku tidak datang ke sini untuk membicarakan perasaanku.”
“Lalu?”
“Aku datang untuk memperingatkanmu.”
Meilina mengangkat alis. “Peringatan apa?”
Langit berkata pelan, “Kalau kamu menyentuh hidupnya lagi… aku tidak akan tinggal diam.”
“Kamu sungguh berubah, Langit. Aku seperti tidak mengenalmu.” Meilina menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Bahkan ketika keluargamu menjodohkanmu denganku, kamu hanya diam.”
Langit berkata pelan namun tegas, “Karena dulu tidak ada orang yang perlu kulindungi. Kamu tahu aku tidak pernah bercanda tentang ini.”
“Kamu tahu aku menyukaimu sejak lama.”
Langit tidak menjawab.
Meilina menghela napas. “Sejak pertama kali keluarga kita mulai bekerja sama.” Ia tersenyum pahit. “Dan kamu bahkan tidak pernah menyadarinya.”
Langit tetap diam.
Akhirnya Meilina berdiri dari kursinya. “Baiklah.”
Langit mengangkat alis. “Apa maksudmu?”
Meilina mengambil tasnya. “Aku tidak akan datang lagi ke rumah perempuan itu.”
Langit menatapnya curiga. “Benar?”
Meilina tersenyum kecil. “Tentu saja.”
Ia berjalan beberapa langkah sebelum berhenti. Namun sebelum pergi, ia menoleh kembali. “Tapi Langit…”
“Apa?”
“Kamu seharusnya tahu satu hal.” Tatapannya berubah dingin lagi. “Aku tidak pernah menyerah pada sesuatu yang kuinginkan.”
Langit tidak menanggapinya.
Meilina akhirnya pergi.
🥀🥀🥀🥀🥀
Malam itu Meilina pulang ke rumahnya dengan pikiran yang kacau. Rumah besar keluarga Arvantara terlihat megah.
Ayahnya sedang duduk di ruang kerja ketika ia masuk. “Sudah pulang?”
“Iya, Ayah.”
Pria itu menatap putrinya. “Kamu terlihat tidak baik.”
Meilina langsung duduk di kursi seberangnya. “Ayah masih ingin melanjutkan kerja sama dengan keluarga Wicaksana?”
Ayahnya mengangkat alis. “Tentu saja. Proyek asuransi itu sangat besar.”
Meilina menatapnya serius. “Kalau begitu lanjutkan.”
“Tapi bukankah Langit menolak pertunangan itu?”
Meilina menghela napas. “Pertunangan tidak penting.”
“Lalu?”
Meilina mencondongkan tubuhnya ke depan. “Aku punya syarat.”
Ayahnya menunggu.
“Kalau kerja sama itu diteruskan…” Meilina berhenti sebentar. “Langit harus menjadi Direktur Utama Wicaksana Insurance.”
Ayahnya terlihat terkejut. “Bukankah posisi itu sekarang dipegang Zaka?”
“Iya.”
“Kenapa kamu menginginkan Langit di posisi itu?”
Meilina tersenyum tipis. “Karena dia orang yang paling mampu menjalankan perusahaan itu.”
Ayahnya menggeleng. “Itu bukan jawaban sebenarnya.”
Meilina tidak langsung menjawab. Ia menatap meja kerja ayahnya. “Kalau Langit menjadi direktur utama… dia tidak akan bisa pergi ke mana-mana.”
Ayahnya mengerutkan kening. “Maksudmu?”
“Tanggung jawab sebesar itu akan mengikatnya di perusahaan.” Ia tersenyum perlahan. “Dan kalau aku menjadi direktur operasional…”
Ayahnya menghela napas. “Kamu akan selalu berada di dekatnya.”
“Dan.. Aku bisa memastikan perempuan itu tidak akan bertahan lama.”
Ayahnya menghela napas. “Kamu benar-benar keras kepala.”
Meilina menatapnya. “Ayah tahu aku tidak pernah menyerah.”
Pria itu akhirnya tersenyum kecil. “Baiklah.”
Meilina mengangkat alis.
“Ayah akan mempertimbangkannya.”
Namun saat Meilina keluar dari ruang kerja itu, senyum kecil muncul di wajahnya. Sebuah rencana mulai terbentuk di kepalanya.
🥀🥀🥀🥀🥀
Di apartemennya malam itu, Langit berdiri di depan jendela besar. Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Zaka. Langit membuka pesan itu.
“Arvantara Group menghubungi Ayahmu. Mereka ingin melanjutkan proyek asuransi.”
Langit membaca pesan itu beberapa detik.
Pesan berikutnya muncul.
“Dan mereka meminta kamu yang memimpin proyeknya.”
Langit menatap layar ponselnya lama.
Entah kenapa, ia merasa langkah Meilina tidak akan berhenti sampai di situ.
Sementara jauh di rumah kecil itu, Ishani sama sekali tidak tahu bahwa hidupnya baru saja menjadi bagian dari permainan yang jauh lebih besar.
biar ishani gak ngerasa cuma jadi beban
tapi kalo cuma karena kasihan dan tanggung jawab sama biru, mending gausah dinikahin
kasih nafkah aja tiap bulan
kalo gak nyaman harusnya nolak aja
bukan kewajiban kamu kok
emang dia udah mau jadi suami dan ayah untuk ishani sama anaknya
mereka sama2 masih anak2
kalian yg dewasa yg harusnya jaga mereka
Ini hanya mimpi sih ya...
Sebenarnya, kalau Langit ga jatuh cinta sama Ishani, kayak yang ga adil sih buat dia. kayak yang ga punya kehidupan sendiri. 🥲