NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Simpanan

Aku Bukan Wanita Simpanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa1999

Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Kartu Platinum

Aluna menangis terisak-isak hingga wajahnya memerah.

Kobaran emosi di mata Gavin yang semula meluap-luap, kini seketika lenyap tanpa bekas. Ia menghela napas pasrah. Tidak ada pilihan lain; ia sendiri yang membuat pasangannya menangis, maka ia pula yang harus menenangkannya.

"Sudah, jangan menangis lagi." Gavin menarik kursi kayu di hadapan Aluna lalu duduk. Jari-jarinya bergerak dengan lembut menyeka air mata yang membasahi sudut mata Aluna.

"Kamu... kamu baru saja membentakku," protes Aluna di sela tangisnya.

"Iya, aku yang salah. Maafkan aku."

Melihat sikap Gavin yang melunak dan meminta maaf secara tulus, Aluna juga ingin segera menyudahi ketegangan ini agar rahasia panggilannya dengan Shena tidak dibahas lebih jauh. Ia menuruti situasi dan menyahut seadanya, "Baiklah, aku memaafkanmu. Aku ingin tidur sekarang."

Aluna bersiap bangkit berdiri untuk menuju ke ranjang. Namun, Gavin tidak berniat membiarkannya lolos begitu saja. Hanya dengan satu tarikan ringan pada lengannya, tubuh Aluna langsung limbung dan jatuh tepat di dalam dekapan Gavin.

Aluna bisa merasakan aura mengintimidasi dari tubuh Gavin. Ia berusaha berontak untuk melepaskan diri, tetapi Gavin dengan mudah mengunci pinggang rampingnya. Gavin menatapnya dengan tajam lalu bertanya, "Mengapa kamu menyembunyikan kabar bahwa Ayahmu sedang kritis di rumah sakit dan membutuhkan biaya pengobatan yang sangat besar?"

Aluna tersentak. "Bagaimana... bagaimana kamu bisa tahu?"

Ia menatap Gavin dengan pandangan bingung sekaligus cemas. Masalah ini baru saja terjadi beberapa jam lalu dan pihak keluarganya sengaja menutup rapat informasi tentang ayahnya. Bagaimana mungkin Gavin bisa mengetahuinya dengan begitu cepat?

"Bukankah hubungan kita sudah sejauh ini?" Suara Gavin mendadak berubah berat dan serak. Ia menurunkan pandangannya, lalu mengarahkan jarinya untuk menyentuh permukaan perut Aluna yang mulai membuncit. "Anak kita bahkan sudah berkembang di dalam rahimmu. Tapi sampai detik ini, kamu sama sekali belum bisa menaruh kepercayaan kepadaku."

Mendapat rentetan pertanyaan intim tersebut, jantung Aluna berdegup kencang secara tidak teratur dan pernapasannya mulai memburu. "Bukan... bukan begitu maksudku."

"Lalu apa yang sebenarnya ada di dalam pikiranmu? Katakan sejujurnya padaku."

"Aku... aku hanya tidak ingin terus-menerus merepotkanmu," jawab Aluna, mencoba mencari alasan rasional.

"Merepotkan, katamu?" Gavin mengeluarkan suara yang penuh dengan rasa jengkel. Tanpa sadar, cengkeraman tangannya pada pinggang Aluna semakin mengerat.

Aluna meringis menahan perih pada perut dan pinggangnya, lalu menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Ekspresi Aluna yang tampak menahan diri itu justru membuat Gavin salah paham. Pria itu mengira Aluna sedang terpaksa bersabar dan merasa muak menghadapinya. Detik itu juga, seluruh amarah Gavin yang sejak tadi diredam langsung meledak kembali.

Tanpa memedulikan penolakan, Gavin mengangkat tubuh Aluna dan memindahkannya dengan paksa ke atas meja kerja, mengunci pergerakan gadis itu di antara tubuhnya. Sorot matanya terlihat dingin, memancarkan dominasi.

"Lepaskan aku! Apa yang mau kamu lakukan, Gavin?!" Aluna mulai ketakutan setengah mati. Ia menanggalkan seluruh topeng kepatuhannya dan mulai berteriak histeris sambil melawan untuk membebaskan diri.

"Menurutmu, apa yang harus kulakukan pada wanita pembangkang sepertimu?"

Sembari berucap demikian, jari tangan Gavin bergerak kasar mulai membuka kancing kemeja yang dikenakan Aluna; kancing pertama, lalu kancing kedua terlepas.

"Kamu bajingan!" Tubuh Aluna bergetar hebat karena panik.

"Benar, aku memang bajingan." Gavin menyunggingkan senyum tipis. Ujung jari telunjuknya bergerak lambat, menelusuri bibir ranum Aluna yang gemetar ketakutan.

Melihat jarak wajah Gavin yang semakin mengikis dan bersiap menciumnya secara paksa, Aluna berteriak lantang dengan sisa keberaniannya, "Gavin, hentikan! Aku sedang hamil!"

Prang!

Mendengar kalimat itu, Gavin melayangkan tangannya ke samping dan membanting gelas kaca yang berada di atas meja hingga menghantam lantai marmer. Gelas itu hancur berkeping-keping, menciptakan suara dentuman yang sangat nyaring.

Seketika, seluruh pergerakan dan suara di dalam kamar tersebut berhenti total. Aluna mengatur napasnya yang memburu dengan dada naik-turun, matanya terus mengawasi setiap pergerakan Gavin dengan waspada.

Gavin perlahan menjauhkan tubuhnya, melepaskan cengkeramannya dari pinggang Aluna, lalu berdiri tegak dengan raut wajah yang sangat muram. Ia menatap Aluna lurus-lurus. "Kali ini aku melepaskanmu."

Aluna segera menurunkan tubuhnya dari atas meja kerja sambil memeluk perutnya sendiri. Dengan air mata yang terus mengalir, ia cepat-cepat membenarkan posisi pakaiannya dan mengancingkan kembali kemejanya yang sempat terbuka.

Menyaksikan ekspresi ketakutan di wajah Aluna, sorot mata Gavin meredup dan sekelebat rasa bersalah melintas di benaknya. Ia menurunkan pandangan, menatap kedua telapak tangannya sendiri dengan pikiran yang kalut. Aku... aku telah menyakitinya lagi.

"Aluna, aku..."

Gavin berniat mengucapkan kata maaf, namun ego dan amarahnya kembali bergejolak saat teringat bagaimana Aluna lebih memilih mencari pinjaman uang ke sana kemari daripada harus berbicara langsung kepadanya. Rasa kesal yang menumpuk di dadanya butuh pelampiasan, namun ia tidak ingin membuat Aluna semakin trauma.

Menahan seluruh emosi negatifnya dengan paksa, Gavin berbalik langkah secara tergesa-gesa, lalu membanting pintu kamar dengan sangat keras saat meninggalkan ruangan.

Brak!

Suara deburan pintu yang menutup itu membuat tubuh Aluna tersentak. suaranya terdengar semakin pilu di dalam kamar yang kini kosong. "Kamu benar-benar pria sakit jiwa... Gavin, aku pasti akan pergi meninggalkanmu."

Malam ini, Aluna mengalami kelelahan fisik dan mental. Ia berbaring di atas ranjang dengan kondisi mata yang sembap, hingga akhirnya tertidur karena merasa lelah setelah menangis.

Keesokan paginya.

Cahaya matahari pagi menerobos masuk melewati celah gorden, menyinari seluruh sudut kamar tidur. Aluna membuka matanya dengan perlahan, tubuhnya masih terasa lemas.

Saat ia bangkit dan membungkuk untuk mengambil ponsel di atas meja nakas, pandangannya tidak sengaja menangkap keberadaan sebuah kartu debit hitam dengan ukiran motif mawar emas di atasnya.

Ternyata dia sempat kembali ke kamar ini tadi malam, batin Aluna.

Gadis itu meraih dan menggenggam kartu hitam tersebut dengan perasaan yang sangat bimbang. Ia tahu betul apa maksud Gavin meninggalkan kartu itu di sana; seluruh dana darurat yang ia butuhkan untuk biaya operasi ayahnya sudah tersedia di dalam sana.

"Gavin... bagaimana sebenarnya aku harus bersikap di hadapanmu?" gumam Aluna dengan pandangan kosong. Pikirannya mendadak terasa Kacau. Di satu sisi, Gavin terkadang bisa bersikap sangat royal dan peduli padanya, namun di sisi lain, sifat posesif dan kepemilikan pria itu sering kali membuatnya merasa tercekik dan kehilangan udara untuk bernapas.

Di tengah lamunannya, ponsel di genggamannya bergetar. Layar menampilkan nama Rendra. Aluna menduga terjadi penurunan kondisi medis di rumah sakit dan segera menggeser tombol jawab dengan panik. "Kak Rendra? Bagaimana keadaan Ayah?"

"Kondisi Ayah memburuk pagi ini, Aluna. Kakak mau tanya, apa kamu sudah berhasil mendapatkan uang dari Gavin?" Suara Rendra terdengar serak dan sangat panik di seberang telepon.

Jantung Aluna berdebar semakin kencang. Ia melirik kartu hitam di tangannya, lalu buru-buru menyahut, "Iya, Kak. Gavin sudah memberikan sebuah kartu hitam untuk biaya pengobatan."

"Kalau begitu, kamu segera bersiap dan langsung datang ke rumah sakit untuk menyelesaikan administrasi pembayaran. Kakak akan segera menemui dokter spesialis untuk mengatur jadwal operasinya sekarang."

"Baik, Kak. Aku akan segera ke sana."

Mengingat situasi ini menyangkut keselamatan nyawa ayahnya, kepala pelayan mansion yang sudah diinstruksikan oleh Gavin sejak awal tidak berani menunda waktu sedikit pun. Begitu Aluna melangkah turun ke lantai dasar, kepala pelayan bersama sopir pribadi sudah stand-by di depan pintu utama untuk mengantarkan Aluna menuju rumah sakit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!