Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.
Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.
Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.
୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebakaran Hotel
...୨ৎ──── C A V E L L ────જ⁀➴...
Dengan mengenakan celana cargo hitam, kemeja lengan panjang, jaket, dan sepatu bot, aku memasang Glock di punggung saat keluar dari suite.
Saat aku menuruni tangga menuju lantai pertama, HPku mulai berdering tanpa henti.
Aku mengeluarkan HP dari saku. Kerutan gelap muncul di dahiku saat aku menjawab.
"Apa?"
"Hotel kita kebakaran!" teriak Laron, suara sirene terdengar di latar belakang.
Amarah meledak di dadaku. Jari-jariku mencengkeram HP itu.
"Sial," gumamku. "Aku sedang menuju ke sana."
"Vloo!" Suara aku menggema di seluruh hall depan.
Dia berlari keluar dari ruang tamu Mama.
"Ada apa?"
"Hotel kita kebakaran," aku menyampaikan pesannya sambil berjalan menuju pintu kaca.
Saat aku keluar ke balkon, aku berkata pelan, "Kita harus terbang."
"Baik."
Dia berlari mendahului aku untuk menyalakan helikopter.
Saat aku masuk, aku menoleh ke arah rumah dan melihat Cherry berdiri di balkon.
Dia hanya memakai jubah mandi, dan udara di luar sangat dingin.
Aku langsung mengeluarkan HP, tapi aku gak ingat nomor yang dipakai Cherry untuk menelepon aku minggu lalu. Jadi aku mengirim pesan ke Riffe.
"Tarik Cherry dari balkon. Dia gak boleh keluar dalam udara dingin sampai dia punya pakaian yang lebih hangat."
Helikopter mulai terangkat, dan aku terus menatapnya.
Dia menoleh ke belakang, dan aku melihat Riffe menariknya masuk ke dalam kamar sebelum menutup pintu.
Saat Vloo memutar helikopter menuju SCBD, aku memasukkan HP kembali ke saku.
Selama penerbangan, rasa dingin mengalir di pembuluh darahku. Titik lemah yang Cherry ukir di hatiku kembali mengeras.
Dua puluh menit kemudian, Vloo mendaratkan kami di helipad dan aku langsung mendorong pintu.
"Tunggu aku," katanya sambil mematikan mesin.
Gak sabar untuk sampai ke hotel, aku memerintah, "Cepat!"
"Ini helikopter, bukan mobil, sialan!" gumamnya.
Aku mengatupkan rahang.
Saat dia menyusulku, aku sudah siap membunuh seseorang.
Kami naik lift menuju basement lalu berlari ke SUV.
Aku duduk di kursi penumpang sementara Vloo masuk ke kursi pengemudi.
Saat dia menyalakan mesin, dia berkata, "Aku harap kerusakan hotelnya gak terlalu parah."
"Hmm," gerutuku.
Jalanan sangat padat. Saat kami mendekati area hotel dan aku melihat gumpalan asap hitam di langit, amarah bergetar di seluruh tubuhku.
Aku akan membunuh siapa pun yang bertanggung jawab atas kebakaran ini.
Jalan sudah ditutup, jadi Vloo harus parkir dua blok dari sana.
Aku turun dari SUV dan memasukkan tangan ke bawah jaket. Jari-jari aku melingkari gagang Glock saat kami berjalan menuju hotel.
Vloo tegang di sampingku dan kami berdua terus memperhatikan sekitar. Dia berjalan di sisi luar, antara aku dan jalan.
Saat kami berbelok di sudut, kami melihat truk pemadam kebakaran dan mobil polisi.
"Benar-benar kacau," geramku sambil melihat api menjilat jendela-jendela hotel.
"Tuhan!"
"Bos!"
Aku mendengar Laron berteriak. Dia berlari ke arah kami dengan Torra tepat di belakangnya.
Saat mereka mendekat, aku bertanya, "Gimana ini bisa terjadi?"
"Aku belum tahu," jawab Laron.
Torra berdiri di belakangku, melindungi punggungku.
Mataku kembali ke hotel yang terbakar, dan aku melihat berbulan-bulan kerja keras dan uang dalam jumlah besar berubah menjadi asap.
"Pergilah ke klub, bos. aku akan tetap di sini dan membereskan semuanya," kata Laron. "Terlalu berbahaya buat Kamu berdiri di sini terbuka seperti ini."
Dia benar.
Aku mengangguk lalu memerintah, "Bayar siapa pun yang perlu dibayar. aku mau kontrol penuh atas situasi ini."
"Aku akan mengurus semuanya," janjinya.
Aku berbalik. Saat kami kembali ke SUV, Torra ikut bersama kami untuk perlindungan tambahan.
Saat kami kembali ke dalam SUV lapis baja, Vloo bertanya, "Kamu pikir ini kebakaran dengan disengaja?"
"Kita gak akan tahu sampai inspeksi selesai," jawabku dengan nada kasar penuh amarah.
Kalau ini memang pembakaran, berarti seseorang sedang menyerangku.
Kemungkinan besar Maliki, karena aku mengirim orang untuk menghancurkan keluarganya setelah para bajingan itu membawa Eva.
Sial.
Aku mengeluarkan HP dan langsung menelepon Riffe.
Baru berdering sekali dia sudah menjawab. "Bos?"
"Batalkan rencana belanja para wanita. Aku gak mau mereka keluar rumah sama sekali!"
"Baik."
"Minta bibi Keii menghubungi personal shoppernya untuk membawa pakaian hangat untuk Cherry."
"Akan aku lakukan."
"Jaga para wanitaku tetap aman," perintahku.
"Dengan nyawaku, Tuan Rose."
Aku menutup telepon dan menatap HP itu sebentar sebelum menelepon nomor terakhir yang pernah dipakai Maliki untuk meneleponku.
Aku gak terkejut saat mendengar nomor itu sudah gak aktif.
Saat kami sampai di klub, aku langsung masuk dan menuju ruang pribadiku.
Aku memberi isyarat pada Vloo untuk menuangkan segelas wiski.
Aku menekan nomor Noel.
Saat dia menjawab, aku berkata pelan,
"Aku mau semua orang yang tersedia turun ke jalan. Bunuh semua pengedar narkoba yang kalian temukan. Jangan sisakan satu nyawa pun!"
"Semua?" dia memastikan lagi. "Bukan cuma orang-orang Maliki?"
"Semuanya!" kataku.
Bahkan kalau Maliki gak berada di balik kebakaran hotel, aku sudah bosan menunggu Farris menemukan bajingan itu.
Aku akan mulai dari bawah. Cepat atau lambat, seseorang akan membawaku langsung ke Maliki.
Vloo menyerahkan gelas ke aku. Aku mengambilnya dan langsung menenggak wiski itu sampai habis.
Minggu terakhir benar-benar melelahkan. Satu masalah datang setelah masalah lain, membuat amarah di dadaku mencapai titik didih.
Noel dan anak buahnya diserang dan aku kehilangan enam prajurit terbaikku. Pengiriman alkohol untuk klub dibajak, dan senator yang selama ini ada di kantongku ditemukan mengambang di Muara Pluit.
Saat HPku berdering, suasana hati aku sudah sangat buruk.
"Apa?" bentakku.
"Mereka bilang api mulai dari lantai empat. Itu sengaja dibakar, bos," kata Laron, akhirnya memberi kabar yang aku tunggu.
Amarah yang gak terkendali mengalir seperti lava panas di tubuhku saat aku bergumam, "Jadi kita memang sedang diserang. Pasang semua orang dalam siaga penuh."
"Baik. aku sedang menuju klub," katanya.
Aku menutup telepon dan langsung menelepon Farris. "Maliki terakhir terlihat di timur," jawabnya.
"Aku mau bajingan itu ditemukan, Farris," perintahku dengan suara rendah dan mematikan. "Berhenti main-main."
Dia pasti tahu kesabaran aku hampir habis, karena kali ini dia gak mencoba bercanda.
"Tunggu sebentar," katanya. "Lokasi Maliki baru aja ditemukan."
"Kirim ke aku."
"Oke."
"Hati-hati di luar sana," gumamku. "Maliki sedang menyerang."
"Syukurlah Eva ada di penthouse aku," katanya sambil menghela napas.
Aku menutup telepon. Begitu data tentang Maliki masuk, aku langsung meneruskannya ke Vloo.
"Aku baru kirim pesan," kataku. "Suruh anak-anak bawa bajingan itu ke aku."
"Siap," jawabnya, langsung mulai bekerja.
Aku memulai panggilan video grup dengan para bos lain di Marunda. Saat semuanya sudah masuk, aku berkata, "Maliki sedang menyerang. Dia bakar hotel baru aku dan membunuh enam anak buah aku. Kalian harus waspada, aku bakal menyelesaikan masalah ini."
"Tuhan," gumam Remy. "Ada yang bisa aku bantu?"
"Siaga aja. Begitu Farris menemukan di mana bajingan itu bersembunyi, kita akan menyerang."
"Oke."
Saat panggilan berakhir, aku harus menahan diri supaya gak melempar HP sialan itu.
"Kita akan menemukan Maliki," kata Vloo. "Dia gak bisa bersembunyi selamanya."
"Dia harus ditemukan," jawabku.
Vloo menuangkan minuman lagi untukku. Saat aku meneguk wiski, pikiranku kembali ke Cherry.
Tiba-tiba Laron masuk berlari ke ruangan dan menarik perhatianku kembali ke pekerjaan.