Kalandra Wiranata adalah seorang Petugas Pemadam Kebakaran yang bertugas di sebuah Kota kecil.
Kota tempat tinggalnya itu terletak cukup strategis karena tepat berada di tengah - tengah dari lima Kabupaten di Provinsi itu.
Karena tempatnya yang strategis, Timnya kerap kali di perbantukan di luar dari Kotanya.
Timnya, bukan hanya sekedar rekan kerja. Mereka sudah seperti keluarga kedua yang di miliki oleh Kalandra.
Karna sebuah kejadian, Kalandra pun di pertemukan dengan seorang wanita yang ternyata merupakan jodohnya.
Selain perjalanan karir dan cinta, ada sebuah rahasia yang akhirnya terungkap setelah selama ini selalu membuatnya penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Janji Muncak
"Beh! Parah sih, Kal. Gak taunya, pacarnya si Bidadari Universitas Negri. Pantes kok anteng banget." Celetuk Oji.
"Walaupun lagi sakit, pucet gitu, tapi kok bisa tetep cantik, ya." Imbuh Wildan.
Pletaak!
"Aduuh! Sakit, Kal!" Keluh Wildan saat Kalandra menjitak kepalanya dengan kuat.
"Gak usah bayangin pacar orang." Tegur Kalandra sambil menatap tajam Wildan yang duduk di sampingnya.
Oji dan driver mereka pun tertawa terbahak - bahak melihat Wildan yang masih saja mengusap - usap kepalanya.
"Serem banget sih, Kal. Cuma bilang gitu aja, kamu cemburu." Kata Wildan.
"Bukan cuma bilang, kamu pasti sambil bayangin wajah Nana juga, kan. Setelah itu, kamu bayangin yang enggak - enggak. Bayangin dia senyum ke kamu, terus menjalar kemana - mana." Sergah Kalandra.
"Lah! Tau banget." Gelak Wildan.
"Aku juga laki - laki." Sahut Kalandra sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil.
"Jangan - jangan, kamu udah pacaran sama dia waktu dia hilang di Gunung, ya." Tebak Oji.
"Enggak. Aku pacaran sama dia waktu naik Gunung S." Jawab Kalandra dengan jujur.
"Njir! Kamu naik Gunung S, cuma berdua aja, Kal?" Tanya Wildan yang kembali di jawab anggukan oleh Kalandra.
"Enak dong, Kal? Satu tenda bareng kan, pasti-" Wildan menghentikan kalimatnya saat Kalandra kembali menatapnya dengan tajam, seolah hendak memakannya.
"Jangan sembarangan ya, Wil. Aku bukan bajingan. Walaupun muncak berdua, kita juga gak ngapa - ngapain, selain pelukan dan gandengan di depan banyak orang." Jawab Kalandra yang membuat Wildan, Oji dan Driver mereka kembali tertawa.
"Lucu banget sih kamu, Kal! Dasar bucin!" Kata Oji yang merasa gemas dengan tingkah Kalandra.
"Ji, nanti setelah aku selesaikan laporan, aku mau langsung pulang. Tolong serahin laporannya ke Komandan, ya. Bilang aja ke Komandan, aku minta izin untuk beristirahat." Kata Kalandra.
"Siaap!" Jawab Oji
"Istirahat di Rumah Sakit ya, Kal? Bareng Mbak Nana?" Goda Wildan lagi.
"Iya, sambil peluk biar anget." Kata Kalandra yang sengaja meladeni ucapan Wildan karena kesal.
Sesampainya di Markas, Kalandra di sambut dengan rekan - rekannya yang tampak khawatir. Mereka langsung menyerbu Kalandra dan menanyakan kondisinya.
"Eh iya, Kal. Memang Raja itu, gak jagain kamu?" Tanya Oji saat sedang berganti pakaian bersama Kalandra.
"Entahlah, Ji. Aku juga gak tau." Jawab Kalandra.
Ingatannya pun kembali pada kejadian tadi. Ia benar - benar melihat bagaimana cara Raja itu melindunginya. Tapi, entah bagaimana bisa ada luka bakar di tengkuk dan bahunya.
Kalandra pun menghela nafas. Menepis pemikiran yang cukup mengganggunya.
"Masih mending cuma tengkuk aja yang luka. Kalau gak di jaga, pasti badanku dan anak perempuan itu sudah habis terbakar." Batin Kalandra yang merasa bersyukur.
"Kal, itu plasternya anti air, kok. Bisa di bawa mandi kata Perawatnya. Cuma lebih baik di lapisi plastik lagi, biar aman buat mandi." Kata Oji yang membawa sebuah kantung plastik dan sebuah selotip besar.
"Sini, aku bungkus." Kata Oji yang tanpa di minta langsung menutup luka Kalandra agar lebih aman untuk mandi.
"Makasih ya, Ji." Ucap Kalandra.
"Santai aja. Dulu waktu aku luka gini juga kamu yang ngurusin. Sampe kamu juga yang kasih salep tiap hari karena aku gak bisa ngolesnya sendiri." Jawab Oji yang membuat Kalandra tersenyum mengingat masa itu.
Setelah mandi, Kalandra segera menulis laporan. Ia tampak sedikit gelisah karena terpikirkan kondisi Naina di Rumah Sakit.
Ia pun mengerjakan Laporan sambil sesekali berbalas pesan dengan Naina hingga pekerjaannya jadi melambat.
"Gak bisa kayak gini." Kata Kalandra sambil geleng - geleng kepala. Ia pun kemudian melakukan panggilan vido dengan Naina.
"Assalamualaikum, Bang." Ucap Naina saat panggilan vidio mereka terhubung.
"Waalaikumsalam, Sayang." Jawab Kalandra.
"Ada apa, Bang? Bukannya lagi nulis laporan?" Tanya Naina dengan suara yang lirih.
"Iya, ini lagi nulis laporan." Jawab Kalandra.
"Abang cuma gak tenang aja. Makanya Abang vidio call kamu." Imbuhnya kemudian.
"Udah pindah ke ruang rawat, Na?" Tanya Kalandra.
"Udah, Bang."
"Nadi mana?" Tanya Kalandra lagi.
"Tidur tuh, di sofa."
Keduanya mengobrol sembari Kalandra menyelesaikan laporannya. Sesekali Naina terdiam, memandangi wajah tampan kekasihnya yang sedang bekerja.
Ada rasa khawatir di hatinya, terlebih setelah tau jika Kalandra mengalami musibah saat bekerja. Pekerjaan Kalandra, bukanlah hal sepele. Api yang berkobar besar itu, bisa melahap apa saja di depannya.
"Bang..."
"Hm.."
"Abang..."
"Iya, Sayang." Jawab Kalandra sembari mengalihkan sejenak pandangannya dari laptop ke arah Naina.
"Abang istirahat dulu aja di Markas. Belum tidur kan?" Kata Naina.
"Nanti Abang istirahat sambil temenin kamu aja." Jawab Kalandra.
"Kamu kalo ngantuk, tidur aja, Na. Tapi jangan di matiin telfonnya." Kata Kalandra.
"Aku gak ngantuk, Bang. Cuma lemes aja badannya." Jawab Naina.
"Nanti mau Abang bawain apa? Sebentar lagi Abang selesai." Tanya Kal.
"Gak usah bawa apa - apa, Bang. Aku lagi gak pingin makan." Jawab Naina.
"Mau manggis lagi, Na? Nanti Abang belikan satu peti." Ledek Kalandra yang membuat Naina tertawa.
"yasudah, ini Abang sudah selesai. Tiga puluh menit lagi, Abang sampai di sana." Kata Kalandra.
"Iya, Bang. Hati - hati di jalan ya, Bang." Jawab Naina sebelum panggilan vidio mereka terputus.
Setelah memberikan laporannya pada Oji, Kalandra bergegas menuju ke Rumah Sakit tempat Naina di rawat. Ia memacu motornya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan Kota yang masih sepi.
"Assalamualaikum." Ucap Kalandra.
"Waalaikumsalam." Jawab Naina dengan lirih.
"Nadi sudah sholat?" Tanya Kalandra yang di jawab gelengan oleh Naina.
"Susah banget di bangunin." Jawab Naina.
"Di... Nadi.. Bangun." Kalandra menggoyangkan tubuh Nadi.
"Ada apa, Bang?" Tanya Nadi.
"Bangun, sholat subuh dulu." Kata Kalandra.
"Iya, Bang." Lirih Nadi yang masih mengumpulkan kesadaran. Dengan langkah gontai, ia menuju ke kamar mandi, sebelum pergi ke mushola kecil yang ada di ujung koridor.
"Gimana? Masih mual?" Tanya Kalandra sambil memegang dahi Naina. Memeriksa, apakah gadis itu demam atau tidak.
"Masih kerasa mual, apa lagi kalau duduk." Jawab Naina.
"Abang kenapa gak istirahat dulu? Udah merah gitu matanya." Tanya Naina.
"Abang gak tenang, Na. Kepikiran kamu di sini." Jawab Kalandra.
"Maaf ya, Bang. Jadi bikin Abang khawatir." Kata Naina sambil meraih tangan Kalandra.
"Gak apa - apa, cepet sehat ya, Sayang. Nanti kalau sudah sehat, kita muncak ke Gunung R." Kata Kalandra.
"Serius, Bang? Abang ada waktu?" Tanya Naina dengan antusias.
"Iya, nanti kalau kamu udah sehat, Abang ambil jatah cuti." Jawab Kalandra.
"Lusa aku udah sehat kok, Bang." Kata Naina.
"Gak usah macam - macam ya, Na. Abang maunya muncak sambil menikmati suasana, bukan sambil mengurus orang sakit. Lagian kamu harus pulihin stamina dulu. Mendaki di Gunung R itu gak mudah." Omel Kalandra yang membuat Naina tertawa.
"Siap, Boss! Aku pasti segera pulih." Kata Naina dengan semangat.