NovelToon NovelToon
Long Hand

Long Hand

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kaelits

Iago Verbal tiba di Citywon, ibu kota Cirland, dengan niat sederhana: mencari pekerjaan dan memulai hidup baru. Namun, kota megah yang awalnya menjanjikan ketenangan itu justru menyimpan bayang-bayang masa lalunya yang hilang.

Secara bertahap, kilasan ingatan yang terpecah-pecah kembali menghantuinya, diikuti kehadiran orang-orang misterius yang mengaku mengenalnya, termasuk putri kerajaan yang penuh curiga dan organisasi bawah tanah yang mengerikan.

Iago pun terseret dalam pusaran konspirasi dan kekerasan, memaksanya menyadari satu
kebenaran yang mengerikan: identitas aslinya bukanlah pemuda desa yang polos, dan kedatangannya ke kota ini mungkin bukanlah sebuah kebetulan, melainkan tahap terakhir dari rencana gelap yang bahkan ia sendiri sudah lupa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dimulai

Gelap. Itulah satu-satunya kata yang muncul di benak Iago. Kegelapan murni, tanpa dimensi, tanpa batas, tanpa awal dan tanpa akhir. Suasana di sekitarnya sunyi dan hampa. Bahkan, dia tidak bisa memastikan apakah dirinya sedang berdiri, duduk, atau melayang-layang tanpa tujuan. Secara naluriah, dia mulai bergerak, melangkah ke dalam ketiadaan, sementara tangannya meraba-raba di depan tubuhnya, hanya menemukan udara dingin dan kosong yang tak memberikan perlawanan.

"Di mana ini?" gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.

Ruang ini begitu aneh. Bahkan kata "ruang" terasa tidak tepat untuk menggambarkannya. Ini lebih seperti mimpi. Saat kakinya melangkah, terdengar suara basah, seperti menginjak genangan air yang dangkal. Tapi saat dia melihat ke bawah, hanya ada kegelapan yang menggenang, menelan segala bentuk dan bayangan tanpa meninggalkan jejak.

Dia terus berjalan, terus meraba-raba, tanpa pernah melihat apa pun selain kegelapan yang tak berubah. Detik bergulir menjadi menit. Menit bergulir tanpa makna. Rasa frustrasi mulai membakar dadanya.

Apa kau kesal, Iago?

Suara itu muncul lagi. Halus sekaligus mengerikan. Berasal dari mana-mana dan tidak dari mana-mana.

Iago menghentikan langkahnya. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan dengan cepat, matanya yang tajam menyipit berusaha menembus kegelapan, mencari wujud dari suara itu. "Di mana ini? Apa yang sebenarnya terjadi?"

Keheningan kembali menyergap, lebih berat dari sebelumnya. Lalu, tiba-tiba, suara itu tertawa. Bukan tawa kecil atau terkekeh, melainkan gelak keras yang menggema di dalam ketiadaan.

HAHAHAHA!!!

Iago berdiri diam. Menunggu. Tubuhnya tegang.

"Hahaha, kau benar-benar tak tahu di mana ini? Sungguh lucu. Baiklah, akan kuberitahu," suara itu berhenti sejenak. "Kau sedang berada di dalam dirimu sendiri, Iago. Di pusat terdalam dari kegelapan yang kau bawa sejak lahir, yang kau pelihara selama ini."

"Aku sedang tak ingin bermain teka-teki macam ini. Lepaskan aku dari sini, sekarang."

Lepaskan? Oh, tidak, tidak, tidak, tidak. Suara itu terdengar sangat menghibur. Kau berada di sini karena kau sendiri. Sadar atau tidak, kau yang memilih jalan ini. Apa kau sudah lupa pemicunya? Gambaran jubah putih suci itu? Lambang Gereja yang kau lihat?

"Entahlah. Aku tidak ingat." Iago mengangkat tangannya dengan gerakan berat, mencari dan menekan pelipisnya. "Aku... merasa aneh. Rasanya... hampa. Tapi anehnya... juga nyaman."

Kau benar-benar mendekati inti dari segalanya, Iago. Bagus sekali. Kau mulai mengerti.

"Inti dari apa? Kebenaran macam apa yang kau maksud?"

Suara itu tertawa lagi, kali ini lebih pelan. Ah, lupakan itu dulu. Perasaan yang kau rasakan itu... sangat nyaman, kan? Seperti tidak ada beban sedikit pun di pundak. Tidak ada tanggung jawab yang harus dipikul. Tidak ada kenangan menyakitkan yang terus menghantui. Apa kau menginginkannya, Iago? Untuk tinggal di sini selamanya?

Iago terdiam untuk waktu yang lama. Tangannya turun dari pelipis dan menempel di dadanya, merasakan detak jantungnya yang stabil. "Aku tak tahu," gumamnya. "Tapi... sepertinya aku membutuhkannya. Ketenangan seperti ini."

Kalau begitu, tinggallah di sini selamanya. Biarkan aku yang mengurus semua sisanya, Iago. Kau bisa beristirahat dengan tenang, tanpa perlu memikirkan apa pun.

"Apa maksudmu sebenarnya? Siapa kau ini?"

Sudah kukatakan berkali-kali, aku bagian dari dirimu. Tapi... Suara itu menurunkan volumenya. Siapa yang tahu? Mungkin aku adalah versi dirimu yang lebih lebih baik. Yang tak pernah ragu. Yang tak punya hati yang mudah terluka. Bagaimana, Iago? Maukah kau melepaskan semuanya kepadaku?

Pria itu tidak langsung menjawab. Dia hanya berdiri di tengah kegelapan yang tak berujung. Perlahan, kepalanya tertunduk lesu. Rambut hitamnya yang berantakan jatuh menutupi pandangannya, meski kegelapan sudah menutupinya terlebih dahulu.

"Entah kenapa," ucap Iago akhirnya, hampir tak terdengar, "aku merasa seperti akan kehilangan harta karun."

Harta karun? Sejak kapan kau punya harta karun, Iago? Itu semua hanyalah ilusi. Beban yang memberatkan. Rantai yang mengikatmu.

"Tidak. Kau salah."

Huh? Apa-apaan kau ini?

"Ini bukan ilusi."

Tiba-tiba, seperti percikan api yang jatuh di tengah genangan minyak, sebuah ingatan membakar habis kesadarannya yang mulai redup.

Sebuah rumah kecil yang hangat di tengah salju. Aroma sup yang mengepul dari dapur sederhana. Tawa ceria seorang anak laki-laki yang menggelegar di ruang tamu sempit. Tatapan mata seorang gadis berambut merah yang awalnya penuh curiga, lalu perlahan berubah menjadi kehangatan.

Tangannya yang semula lemas kini mengepal erat di samping tubuhnya. "Kakak beradik itu... mereka bukan ilusi. Perasaan saat bersama mereka... itu semua nyata."

Cih... Sejak kapan kita menjadi sentimental seperti ini? Lembek. Sungguh memuakkan.

"Aku..." Iago mengangkat kepalanya. Meski dalam kegelapan total yang tak tertembus, seolah-olah ada titik fokus yang menyala di matanya sekarang. "Aku tidak akan tinggal di sini."

Lalu, seketika itu juga, dunia gelap itu berubah secara dramatis.

Angin menerjangnya dengan kekuatan yang luar biasa. Tubuhnya yang ringkih terlempar, berputar-putar tanpa kendali di dalam pusaran kekuatan tak terlihat yang mengamuk. Dia melayang, terombang-ambing, kehilangan semua orientasi ruang dan waktu. Suara angin menderu memekakkan telinga, menenggelamkan segalanya, termasuk bisikan suara itu.

"Apa ini...?" teriak Iago berusaha mengatasi deru, tapi suaranya langsung lenyap, diterpa dan dihancurkan oleh kekuatan yang jauh lebih besar.

Kalau begitu, bisakah kau menanggung semuanya? Suara itu kembali terdengar sekilas, nyaris tak terdengar. Karena sedikit lagi... kau akan mencapai kebenaran yang sesungguhnya. Dan percayalah, itu mungkin jauh lebih menyakitkan daripada kegelapan ini.

"Kenapa.... Kenapa kau tidak memberitahu sekarang juga?!" teriak Iago, berusaha sekuat tenaga melawan arus yang terus menerpanya tanpa ampun.

Keheningan yang panjang adalah satu-satunya jawaban. Suara itu benar-benar menghilang kali ini, ditelan dan dimusnahkan oleh badai yang semakin menjadi-jadi.

Selama beberapa menit atau jam, atau mungkin hanya detik, Iago buta dan tuli, hanya menjadi mainan tidak berdaya dari kekuatan tak kasat mata yang mengamuk.

Lalu, tiba-tiba, tanpa peringatan, sebuah cahaya muncul.

Bukan cahaya besar yang menyilaukan, melainkan sebuah titik kecil yang bersinar di kejauhan. Iago, dengan sisa-sisa tenaga dan keinginan yang masih tersisa, mengulurkan tangannya dengan susah payah. Jari-jarinya yang gemetar meraih ke arah cahaya itu, seolah-olah bisa meraih dan memegangnya erat-erat. Cahaya itu semakin mendekat, atau mungkin dia sendiri yang tertarik ke dalamnya.

"Di mana... ini?" gumam Iago, suaranya serak dan parau.

Pandangannya kabur, buram, lalu perlahan-lahan mulai fokus. Dia berbaring telentang di atas permukaan yang keras namun terasa dingin, dingin yang berbeda dari salju. Di atasnya, langit-langit yang sangat tinggi menjulang, dihiasi dengan lukisan-lukisan fresko yang rumit dan megah.

Gambar-gambar itu menceritakan kisah-kisah yang tidak dia kenal sama sekali: para pahlawan perkasa yang mengangkat pedang berkilau melawan monster-monster mengerikan, sosok-sosok bersayap yang menurunkan berkah dari ketinggian, matahari yang memancarkan sinar ke setiap sudut dunia. Dinding-dindingnya berwarna putih pualam yang halus dan licin.

Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui deretan jendela kaca patri yang panjang, menciptakan pelangi-pelangi kecil di lantai marmer. Di luar, suara burung-burung berkicau dengan merdunya.

Dia mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk bangkit, mendorong tubuhnya yang lemas dengan lengan yang gemetar hingga bisa duduk tegak di ranjang. Ranjang tempatnya berbaring keras dan sederhana, hanya dilapisi oleh kasur tipis berisi jerami dan sehelai selimut kasar berwarna abu-abu. Tapi cahaya matahari yang jatuh di kulitnya terasa begitu hangat dan menenangkan.

Tok, Tok, Tok...

Suara ketukan di pintu kayu berat itu tiba-tiba memecah kekhusyukannya, mengembalikannya ke realitas.

Sebelum dia sempat menjawab, pintu itu perlahan terbuka dengan suara berderit pelan. Seorang pria tua berdiri di ambang pintu. Ia menatap Iago dengan tatapan yang tampak tenang dan damai.

"Oh, maafkan saya, Nak," ucap pria tua itu. Sebuah senyum tipis menghiasi bibirnya. "Saya pikir Anda masih belum sadarkan diri."

"Tidak apa-apa, terima kasih."

Setelah jawaban singkat itu menggantung di udara kamar yang sunyi, pria tua itu melangkah masuk. Rambutnya putih, tertata rapi dengan belahan sempurna di tengah, jatuh dengan lembut hingga menyentuh bahu jubahnya.

Jubahnya sendiri terlihat sederhana, terbuat dari kain kasar berwarna abu-abu pucat dan berdesir pelan di lantai saat dia berjalan.

"Ngomong-ngomong, saya seorang biarawan tua di tempat ini," ucapnya, berhenti tepat di samping ranjang, menatap Iago dari atas. "Dan Anda... siapa sebenarnya, Nak? Yang Mulia Lyrian bilang kalau Anda pingsan di depannya."

"Aku... hanya seorang pemuda biasa."

"Begitu. Salam kenal, Nak. Saya senang Anda sudah sadar."

"Ya, terima kasih."

Sang biarawan kemudian dengan hati-hati meletakkan sebuah cangkir tanah liat sederhana namun indah di atas meja kecil di samping ranjang, nyaris tanpa suara.

Meja itu sendiri menarik perhatian Iago. Bukan terbuat dari kayu biasa, melainkan dari sejenis batu pualam putih yang semi-transparan, dipoles hingga halus dan memendam cahaya lemah dari dalam. Kakinya yang ramping dan melengkung diukir dengan pola lingkaran-lingkaran yang semakin mengecil ke bawah.

"Bagaimana perasaan Anda?" tanya biarawan tua itu, masih berdiri di tempatnya, senyumnya tidak berubah sedikit pun.

"Lumayan."

Suasana hening sejenak. Sang biarawan tidak pergi. Dia hanya berdiri di sana, matanya yang berwarna abu-abu pucat itu menatap Iago, memindai setiap inci wajahnya.

"Kenapa? Kenapa Bapak menatap saya seperti itu?" tanya Iago akhirnya.

"Tidak, tidak ada apa-apa, Nak," jawab pria tua itu cepat, senyumnya sedikit melebar. "Hanya saja... wajahmu terlihat seperti telah melalui banyak penderitaan."

"Mungkin itu hanya perasaan Bapak."

Biarawan tua itu lagi-lagi hanya diam seribu bahasa sambil tersenyum dengan cara yang sama. Lalu, tiba-tiba, dia tertawa pelan. "Ya, mungkin Anda benar, Nak. Tapi alangkah baiknya jika Anda tersenyum sedikit. Wajah tampan Anda akan sia-sia." Dia berhenti sejenak, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Suaranya turun menjadi hampir bisikan. "Meskipun... Anda dulu juga jarang tersenyum, kan?"

Seketika itu juga, alis Iago berkerut dalam. Matanya yang sayu menyipit, menatap langsung ke dalam mata biarawan tua itu. "Apa sebenarnya maksud Bapak?"

"Bukan apa-apa, Nak," ucap pria tua itu dengan cepat, menarik kembali tubuhnya ke posisi semula, senyumnya masih terpampang di wajahnya. "Saya hanya bercanda. Mencoba mencairkan suasana yang terlalu tegang ini. Maaf jika saya menyinggung."

"Bercanda?"

Dua pasang mata itu saling mengunci dalam diam. Udara di ruangan yang sempit itu seakan-akan mengental secara fisik, menekan gendang telinga hingga terasa sakit. Tak ada lagi suara burung berkicau dari luar. Hanya ketegangan yang tumbuh dengan cepat.

Lalu, tiba-tiba, sang biarawan tua tertawa lagi. Suara itu pecah dengan paksa, memecah ketegangan. "Ayolah, Nak," ucapnya di sela-sela tawa. "Jangan terlalu serius seperti itu. Saya hanya ingin menguji kesabaran Anda. Sebagai seorang pemuda yang ditemukan pingsan di jalan, Anda cukup menarik."

Iago tetap diam membatu. Tatapannya yang tajam tidak bergeser sedikit pun dari wajah pria tua itu.

"Oh, tenanglah, tidak usah khawatir," kata biarawan itu, mengangkat kedua tangannya dengan gerakan menenangkan, telapak tangan terbuka. "Anda pasti haus setelah sekian lama tidak sadarkan diri. Mau minum?" Dia meraih cangkir tanah liat dari meja.

Iago menatap cangkir itu dengan saksama. Di dalamnya air bening. "Tidak, terima kasih."

"Baiklah, tidak masalah." Biarawan itu meletakkan cangkir kembali ke meja. "Lebih baik Anda beristirahat lagi sekarang. Tubuh dan pikiran Anda butuh waktu untuk memulihkan diri."

"Di mana yang lain?" tanya Iago tiba-tiba. "Yang Mulia Lyrian... atau siapa pun yang membawaku ke sini, di mana mereka sekarang?"

"Mereka semua sedang sibuk bersiap-siap," jawab biarawan tua itu, sudah berbalik dan melangkah perlahan menuju pintu.

"Bersiap? Untuk acara?"

"Ya, benar," ucapnya, berhenti tepat di ambang pintu, masih membelakangi Iago. "Sebentar lagi akan ada upacara penyambutan. Seorang prajurit baru akan resmi bergabung dengan barisan suci Cahaya. Hebat, bukan?" Dia menoleh sedikit. "Saya pribadi merasa anak muda itu sangat menarik."

Mendengar penjelasan itu, jantung Iago tiba-tiba berdetak lebih kencang, memompa darah lebih deras. Mulutnya sedikit terbuka tanpa suara. "Boleh... boleh saya tahu siapa nama prajurit baru itu?"

Pertanyaan itu membuat sang biarawan tua benar-benar berhenti total. Punggungnya yang tegak dan kaku menghadap Iago selama beberapa detik. "Ah, jadi Anda penasaran juga, rupanya." Perlahan, dia berbalik sepenuhnya menghadap Iago. "Dia sering memakai topeng kelinci putih dan jubah cokelat."

Mata Iago membelalak. Ingatannya tersambar oleh kilatan cahaya yang menyilaukan. Otto. Dia baru ingat bahwa ia yang memerintahkannya.

"Siapa... nama pria itu?"

"Namanya?" Biarawan tua itu memiringkan kepalanya ke samping. "Hmm... kalau tidak salah, saat upacara perkenalan kemarin dia memperkenalkan dirinya sebagai Steve. Ya, Steve."

Nama itu menggantung berat di udara dingin antara mereka. Sebuah tonggak keberhasilan sekaligus sebuah bahaya yang begitu nyata dan mengancam.

1
kenzi moretti
saya senang karena membaca novel ini sebagai bacaan pertama di platform ini. novel ini sangat bagus. kalian mau baca novel dari segi apa? plot? character? worldbuilding? action? gaya bahasa yang bagus? semuanya ada di sini.

tapi karena di pf ini didominasi sama novel kultivasi atau fantim, novel ini jadi sepi. sayang sekali, padahal novel ini punya potensi besar.

novel ini saya kasih rating 9/10 lah. paling masalahnya itu pacing di 5 bab pertama. itu cukup lambat dan mungkin para pembaca ada yang langsung gak betah dan kabur.

tapi percayalah, kalau kalian sanggup membaca 5 bab pertama, kalian pasti akan ketagihan.
Kaelits: okay, kenzi. aku lg banyak tugas sekolah. cuma novel ini gak bakal nge gantung kok.
total 3 replies
kenzi moretti
wahh gak expectt...
kenzi moretti
bab ini gelap bgt. tapi bab ini akhirnya memberikan flashback keluarga iago. adegan di pegunungan yang muncul di bab 2 pun dilanjutkan. keren thor👍
Kaelits: makasihh
total 1 replies
kenzi moretti
siapa ini?? salah satu penasihat gereja cahaya kahh? hmm...
kenzi moretti
apakah klo iago menerimanya maka dirinya yang sekarang akan lenyap dan digantikan iago lama?🤔
rinn
pantas aja ayahnya stella gak kelihatan dari awal
rinn
gacorr otto🔥
rinn
gilaa plot twist-nyaaa
rinn
sumpah gelap bgt ceritanya thor/Cry/
rinn
kasian juga eliana
rinn
akhirnya mereka bertemu kembali🔥
rinn
hmm, apakah pria tua ini synel?
rinn
nyesek bgt baca bab ini/Sob/
rinn
huhuu/Cry/
rinn
aww gentle man bgt otto😍
rinn
ahahaha kasian otto
rinn
wah licik bgt gereja cahaya
kenzi moretti
🥶
kenzi moretti
kejam kali bab ini thor😢
kenzi moretti
astaga😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!