NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Kontras Takdir
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.



Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.



Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.



Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.



Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.






Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.




Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Sidang Keluarga 2

“Sagara.”

Suara Anjani memotong.

Tegas.

Menghentikan semua yang belum sempat diucapkan.

“Apa penjelasanmu?”

"Benar." Sagara tidak menunggu. Tidak menjeda waktu. "Semua itu benar." Tanpa drama ia menegaskan jawaban.

Bisik kembali naik.

Namun hanya sekejap.

Tatap mata Sagara bergerak.

Menyapu satu per satu wajah keluarga Adinata.

Dan--hening kembali jatuh.

"Proyek Ariana, itu rahasia. Terjaga."

Tatapannya bergeser. berhenti pada Ravendra. "Luar biasa, PAMAN Ravendra bisa mendapatkan datanya, lengkap."

Senyum tipis Sagara muncul.

Singkat. Nyaris tak terbaca.

Namun cukup--untuk memberi tanda.

Ini bukan pujian.

Tatapannya belum sepenuhnya berganti dari Ravendra saat Sagara kembali membuka suara.

“Karena setahu saya…Data seperti itu tidak keluar dari AMC.”

Sunyi langsung berubah arah.

Bukan lagi ke Sagara.

Tapi ke Ravendra.

“Tidak bisa diakses sembarang orang.”

Jeda sesaat ia ambil.

“Apalagi sampai… lengkap.”

Tatapannya mengunci. Tenang.

Tapi menekan.

“Jadi saya penasaran. Anda mendapatkannya dari mana?”

Tidak ada nada tinggi.

Tidak ada emosi.

Tapi pertanyaan itu jatuh seperti tuduhan.

Beberapa orang mulai saling pandang.

Lebih gelisah sekarang.

Karena arah permainan berubah.

Ravendra tidak langsung menjawab.

Ia hanya tersenyum tipis.

Seolah pertanyaan itu sudah ia tunggu.

“Dari orang dalam.”

Jawabannya tenang. Tidak ada penekanan.

Tapi efeknya langsung terasa.

Beberapa wajah langsung berubah.

Kali ini bukan sekadar curiga.

Tapi waspada.

Sagara tidak bergerak.

Tatapannya tetap sama.

Tenang. Tak terbaca.

“Jangan terlalu percaya pada sistem yang kau banggakan itu, Sagara.”

Ravendra melangkah pelan.

Maju satu langkah saja.

“Karena kebocoran, selalu datang dari dalam.”

Ravendra tersenyum tipis, memiringkan kepalanya sedikit. "Jika kau membeli kesetiaan dengan nominal," ujarnya, masih dengan nada pelan tanpa penekanan.

"Ia akan berbalik jika bertemu jumlah yang lebih besar." Senyumnya kembali mengudara. Senyum orang yang menang.

Anjani akhirnya bergerak.

Tatapannya mengeras.

“siapa?"

Satu kata. Tegas.

Tidak memberi ruang untuk dibantah.

Ravendra tidak langsung menjawab.

Ia justru mengalihkan pandangannya.

Perlahan. Menyapu ruangan.

Menikmati ketegangan yang ia ciptakan.

"Ibu." Ravendra menatap Anjani dengan tersenyum. "Saya tidak bisa menyebutkannya sekarang." Tatapannya bergeser pada Sagara kembali.

"Ada hal yang lebih penting dari itu."

"Benar." Sagara angkat bicara. Tenang.

"Yang penting bukan siapa. Tapi apa motifnya." Tatapannya lurus ke depan, tak lagi hanya pada Ravendra.

"Itu yang harus kita bahas."

Anjani mengangguk.

"Lanjutkan."

"Motifnya hanya dua. Memuluskan, atau menggagalkan." Sagara menatap lurus Ravendra.

Ravendra diam. Senyumnya memudar.

"Paman punya data yang akurat." Sagara maju setengah langkah. "Ariana meninggal pada tanggal 13, pukul 23. Enam hari setelah prosedur. Dan itu, saya baru tau sekarang."

Ravendra tidak menyela.

Meski ia tahu serangan sudah berbalik arah.

"Harus diakui. Saya kalah cepat dari, Anda. PAMAN." Sagara kembali tersenyum tipis, singkat. "Data yang saya punya. Ariana keluar dari Adinata residence satu, malam sebelum ia mengalami kecelakaan."

Anjani yang biasanya selalu tenang. Kali ini ia langsung menatap Ravendra. Curiga.

"Beri saya alibi ..." Sagara tak melepaskan tatapan dari Ravendra. "...untuk mementahkan dugaan keterlibatan, Anda dalam kecelakaan Ariana."

Ravendra tertawa ringan. Santai.

"Aku? Terlibat?" Tawanya kian keras. Sesaat. "Ariana tidak sepenting itu, bagiku."

"Penting," potong Sagara cepat. "Kita sedang bicara motif, Paman." Jeda sesaat.

"Dan Ariana disiapkan sebagai ibu untuk pewaris saya."

"Pandu Adinata." Sagara menatap sepupunya yang duduk paling dekat dengan Ravendra, dan yang paling lantang menyuarakan dukungan untuk anak tiri Anjani itu. "Kamu pasti tahu, siapa yang paling diuntungkan, jika aku gagal memenuhi syarat punya seorang pewaris."

Sagara melempar umpan. Serangan tak terduga. Pandu bergerak gelisah. Tak mampu menjawab, juga tak bisa membantah.

Semua yang di sana tahu, yang paling diuntungkan jika Sagara gagal memenuhi syarat untuk duduk di kursi pimpinan, adalah Ravendra.

"Ini bukan pembahasan, Sagara." Ravendra akhirnya memotong. Lebih tegas. "Ini tuduhan."

"Silakan membela diri." Sagara menjawab langsung. "Jika tuduhan ini salah."

"Cerdik.”

Ravendra memuji.

Terdengar tulus.

“Caramu mengalihkan topik, Sangat menarik.”

“Anda yang membawa ini ke meja.”

Sagara menjawab.

Datar. Tanpa emosi.

“Jadi kita selesaikan. Satu persatu."

Hening turun cepat.

"Pastikan kau tidak terlibat, Ravendra." Suara Anjani memecah hening itu kemudian. "Aku inginkan hukuman berat untuk siapa pun yang terlibat dalam kematian Ariana."

"Saya dukung keputusan, Ibu," ucap Ravendra tegas.

Tak sampai satu detik, suara ketukan terdengar.

"Masuk!"

Pintu besar terbuka.

Seorang pria melangkah masuk.

Langkahnya terukur.

Berhenti beberapa jarak dari meja utama.

Menunduk hormat. Singkat.

Lalu pandangannya terangkat.

Langsung ke satu arah. Sagara.

“Tuan.”

Nada suaranya profesional dan terkendali.

“Data lengkap kecelakaan Ariana… sudah kami dapatkan.”

Sagara tidak langsung menjawab.

Tatapannya tetap pada pria itu.

“Baca.”

“Baik, Tuan.”

Ia membuka berkas di tangannya.

“Berdasarkan rekaman bengkel dan analisis forensik kendaraan--" Jeda sesaat

“Kecelakaan Ariana… bukan murni kecelakaan.”

Ruangan langsung menegang.

Namun tak ada yang berani bersuara.

“Ditemukan indikasi sabotase pada sistem pengereman.”

Ia membalik satu lembar.

“Selang rem utama dipotong dengan presisi.”

“Tekanan fluida diturunkan secara bertahap.”

“Sehingga kegagalan terjadi… saat kendaraan melaju dalam kecepatan tinggi.”

Sunyi yang lebih berat dari sebelumnya.

“Itu bukan kerusakan biasa.

Melainkan tindakan yang direncanakan.”

Tatapan beberapa orang mulai berubah.

Tegang, penuh kewaspadaan.

Sagara tetap diam.

Memberi ruang pada orang suruhannya itu untuk melanjutkan laporan.

“Pelaku diduga memiliki keahlian khusus.

Seorang profesional.”

“Dan--" laki-laki itu mengangkat pandangan. Bukan ke Sagara, tapi ke arah lain.

“berdasarkan penelusuran kami…”

Napasnya ditahan sesaat.

“…pelaku bekerja atas perintah seseorang.”

“Nama orang itu muncul dalam beberapa rekaman komunikasi. Bukti, foto. Sangat jelas."

"Siapa?" tanya Sagara.

“Johan petra."

Sunyi pecah. Tidak keras.

Tapi cukup untuk mengguncang.

Beberapa wajah langsung menoleh.

Ke arah Ravendra.

Sagara baru bergerak pelan.

Menoleh. Menatap Ravendra lurus.

“Orangmu.”

Satu kata. Datar. Tetap tanpa emosi.

Tapi cukup untuk menjatuhkan.

Ravendra terkekeh pelan. Singkat.

“Banyak orang bernama Johan.”

“Yang ini tidak.”

Sagara memotong cepat. Meletakkan berkas di atas meja. Terbuka. Hampir semua dapat melihat gambar-gambar yang terpampang di sana.

“Tangan kanan Anda. PAMAN."

Jeda. Pendek. Mematikan.

“Yang tidak pernah bergerak tanpa perintah.”

Ravendra tak bisa menyangkal. Bukti terlalu jelas mengarah.

"Ravendra." Suara Anjani menusuk.

"Jika benar dia." Ravendra bersuara tenang. Seakan fakta tak sedikitpun menggelisahkan. "Maka dia bertindak di luar kendali saya." Mudah ia berkelit, semudah membalikkan telapak tangan.

"Lalu?" Anjani menunggu.

"Sesuai peraturan, Ibu. Hukum dia seberat-beratnya." Keputusan ia buat. Cepat, tanpa perlu berpikir lebih dulu.

Semua kesalahan dilimpahkan ke orang kepercayaannya. Begitu saja.

"Sagara." Anjani melimpahkan perintah ke Sagara.

Sagara hanya memberi isyarat pada orang suruhannya. Lelaki itu mengangguk, dan pergi tanpa kata.

Ravendra selamat. Tapi ia kehilangan orang kepercayaannya. Tangan kanannya. Dan itu pukulan telak. Ibarat burung, kini satu sayapnya patah. Dan bagi Sagara, itu cukup.

1
Deuis Lina
Sagara mulai goyah karena perkataan safiya ada benarnya,
Ayuwidia
Mungkin dengan mendatangkan Shafiya, inilah cara Sagara mencari apa yang masih samar.
Ayuwidia
Betul sekali, Shafiya. Doa itu senjata, bahkan kedahsyatannya melebihi Sajam atau taktik. Tak ada yang tidak mungkin terjadi, jika Dia sudah berkehendak
Ayuwidia
Takdir yang membawa Shafiya ke dalam rengkuhan Sagara.

Alhamdulillah, final baca bab-bab yg tertinggal. Lanjut, Kak Naj. Sambil ngopi & nongkrong ☕
Ayuwidia
Di manapun, perebutan takhta itu mengerikan. Segala cara dihalalkan, bahkan bisa sampai saling melenyapkan.
Ayuwidia
Keputusan Ravendra yang terlalu terburu-buru saat ini, mungkin kelak akan menjadi bumerang, boom waktu yang akan meluluh lantakkan nya.

Keren, Kak Naj...
Ayuwidia
Bagussss, Sagara. Serang terus si Ravendra 😎
Ayuwidia
Nah, ini yang aku tunggu, Sagara 😍
Ayuwidia
Aku berharap, Sagara menampar Pandu dan Ravendra dengan ucapannya yang tenang, namun tajam menghujam.
Ayuwidia
Aku setuju dengan ucapan Raka. Jadi, jangan lagi bertengkar. Bicara dengan kata-kata yang adem, meski pasti sulit bagi Sagara yang kaku 😄
Ayuwidia
Aku berharap dan meyakini, janin yang dikandung Shafiya milik Sagara 😉
Deuis Lina
lanjut makin seru
Deuis Lina
lanjuut,,kenapa masih sepi padahal seru
Deuis Lina
lanjuut kak naj
Deuis Lina
sama2 kak mohon maaf lahir batin juga,,,
Deuis Lina
pasti tertukar ,,,
Afsa
apa mungkin suntikan sblm menikah/vaksin punya Shafiya tertukar dgn suntikan bayi tabungnya ya😃
Deuis Lina
nah kan itu benihnya Sagara d suntikan ke safiya
Deuis Lina
masih teka teki siapakah ayah bayi itu,,,
Ayuwidia
Nah ini, jangan2 benih Sagara justru disuntikan ke Shafiya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!