NovelToon NovelToon
PESONA PERAWAT IBUKU

PESONA PERAWAT IBUKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:18.8k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...

"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Aula hotel itu dipenuhi suara tawa dan percakapan hangat. Musik lembut mengalun dari panggung kecil di sudut ruangan, sementara lampu kristal di langit-langit memantulkan cahaya ke seluruh ruangan.

Namun bagi Tama, suasana itu tiba-tiba terasa berubah.

“Tama?”

Wanita dengan gaun merah itu berhenti tepat di hadapannya. Senyumnya tipis, namun matanya menatap tajam.

“Sudah lama tidak bertemu.”

Tama menatapnya beberapa detik.

“Selena.”

Nama itu keluar datar dari bibirnya.

Dita yang berdiri di samping Tama langsung menunduk sedikit. Ia mengenali wajah wanita itu.

Selena.

Wanita yang dulu pernah datang ke kantor dengan wajah marah, menuduhnya mencuri uang dari meja Tama. Tuduhan yang akhirnya terbukti salah setelah rekaman CCTV diperiksa.

Namun kenangan memalukan itu masih jelas teringat.

Selena memindahkan pandangannya ke Dita.

“Kamu datang... dengan wanita ini?”

Nada suaranya halus, tetapi ada sesuatu yang tajam di dalamnya.

Dita langsung merasa tidak nyaman.

Ia mencoba tersenyum kecil.

“Saya hanya menemani Tuan Tama—”

“Menemani?” Selena memotong cepat.

Beberapa orang di sekitar mulai memperhatikan.

Selena menyilangkan tangan di depan dada.

“Lucu sekali. Dari yang dulu dituduh mencuri di kantormu... sekarang jadi pasangan datang ke reuni?”

Suasana di sekitar mereka langsung berubah tegang.

Dita langsung pucat.

“Bukan seperti itu, saya—”

Namun sebelum ia selesai bicara—

“Tutup mulutmu, Selena.”

Suara Tama tiba-tiba terdengar tegas.

Semua orang yang berdiri di dekat mereka terdiam.

Selena menatap Tama dengan alis terangkat.

“Apa?”

Tama menatapnya lurus.

“Kalau kamu tidak bisa bicara dengan sopan, lebih baik tidak bicara sama sekali.”

Selena terkekeh kecil.

“Kenapa? Aku hanya mengatakan fakta.”

“Fakta?”

Tama maju setengah langkah.

Matanya dingin.

“Fakta yang mana? Yang kamu buat sendiri?”

Beberapa teman lama Tama mulai mendekat, penasaran dengan keributan itu.

Selena mengangkat dagu.

“Dia pernah dituduh mencuri.”

Tama langsung menjawab tanpa ragu.

“Dan CCTV membuktikan dia tidak bersalah.”

Selena terdiam sesaat.

Namun ia masih tersenyum sinis.

“Lalu sekarang dia apa? Asistenmu? Atau lebih dari itu?”

Dita langsung menunduk semakin dalam.

Tangannya mulai gemetar.

Ia tidak menyangka malam ini akan berakhir seperti ini.

Namun tiba-tiba—

Tama meraih tangan Dita.

Gerakan itu membuat Dita terkejut.

Ia menoleh cepat.

Tama berdiri tegak di sampingnya.

“Dia datang bersamaku.”

Selena menyipitkan mata.

“Jadi?”

Tama menatapnya tajam.

“Kalau kamu tidak bisa menghormati wanita yang datang bersamaku... berarti kamu juga tidak menghormatiku.”

Suasana aula terasa membeku.

Beberapa orang bahkan saling pandang.

Selena jelas tidak menyangka Tama akan berbicara seperti itu.

“Aku hanya—”

“Aku tidak peduli.”

Nada suara Tama tetap tenang, tetapi jelas keras.

Ia menarik napas pendek.

“Selena, kita sudah selesai sejak lama. Jadi jangan buat keributan yang tidak perlu.”

Selena menggigit bibirnya.

Untuk pertama kalinya wajahnya terlihat tidak nyaman.

Tama kemudian menoleh pada Dita.

“Ayo.”

Dita masih bingung.

“Kita pulang?”

“Iya.”

“Tapi reuni—”

“Tidak penting.”

Tanpa menunggu lagi, Tama menggandeng Dita keluar dari aula.

Beberapa orang hanya bisa menatap mereka pergi.

Selena berdiri kaku di tempatnya.

---

Udara malam di luar hotel terasa lebih sejuk.

Lampu-lampu jalan memantul di aspal yang gelap.

Dita masih terlihat canggung saat mereka berjalan menuju mobil.

Begitu pintu mobil tertutup—

Ia langsung menunduk.

“Maaf, Tuan.”

Tama yang baru menyalakan mesin mobil menoleh.

“Untuk apa?”

“Saya membuat suasana reuni jadi tidak enak.”

Tama menghela napas kecil.

“Dita.”

“Iya?”

“Reuni itu memang membosankan.”

Dita terdiam.

Tama melanjutkan santai,

“Kalau bukan karena Mama menyuruhku datang, aku tidak akan datang.”

Dita akhirnya tersenyum sedikit.

“Benarkah?”

“Serius.”

Mobil mulai bergerak meninggalkan hotel.

Beberapa menit mereka hanya diam.

Kemudian Dita berkata pelan,

“Sekarang kita pulang?”

Tama melirik jam di dashboard.

“Baru jam sembilan.”

“Iya…”

“Kalau pulang sekarang Mama pasti tanya kenapa cepat sekali.”

Dita langsung membayangkan wajah Bu Diana yang cerewet.

Ia tertawa kecil.

“Iya juga.”

Tama membelokkan mobil ke jalan utama kota.

“Jadi kita mutar dulu.”

“Maksudnya… jalan-jalan?”

“Iya.”

Lampu kota berkelip indah di sepanjang jalan.

Angin malam masuk dari jendela mobil yang sedikit terbuka.

Beberapa menit kemudian Tama menghentikan mobil di depan kios kecil yang menjual makanan malam.

“Turun.”

Dita menoleh bingung.

“Kita makan?”

“Cuma camilan.”

Mereka berdiri di depan gerobak kecil yang menjual takoyaki dan minuman hangat.

Dita tersenyum kecil.

“Sudah lama saya tidak makan seperti ini.”

Tama mengangkat alis.

“Serius?”

“Dulu waktu kuliah sering.”

“Sekarang?”

“Sibuk kerja.”

Tama terkekeh.

“Kasihan sekali.”

Dita tertawa pelan.

Untuk pertama kalinya malam itu suasana terasa ringan.

Mereka duduk di bangku kecil pinggir trotoar.

Dita meniup takoyaki yang masih panas.

“Hati-hati,” kata Tama.

Dita menggigit sedikit—

“Ah! Panas!”

Tama langsung tertawa.

“Kubilang juga.”

Dita memukul pelan lengannya.

“Tuan!”

“Kenapa tidak dengar?”

Mereka tertawa kecil bersama.

Lampu jalan memantulkan cahaya hangat di wajah mereka.

Untuk beberapa saat, semua terasa sederhana.

Tenang.

Nyaman.

Namun tiba-tiba—

Ponsel Tama berdering.

Ia melihat layar.

Alisnya langsung berkerut.

“Rumah?”

Ia mengangkat telepon.

“Halo?”

Suara panik langsung terdengar dari seberang.

“Tuan! Cepat pulang!”

Tama langsung berdiri.

“Ada apa?!”

“Ibu Diana ...!”

Wajah Tama langsung pucat.

“Apa?!”

Dita yang mendengar itu langsung berdiri.

“Ada apa, Tuan?”

Tama sudah berjalan cepat ke mobil.

“Kita pulang.”

1
Lilis Yuanita
kok macet🤭🤭
Novi idrus
heemmm gk update lagi ya
Bundha Ningsih
lha....mn yg lain
Yensi Juniarti
mulai kepo bibit cabe rawit 🫣🫣🫣🤣
Evi Lusiana
dasar tam tam
Evi Lusiana
modul lo tam tam
Evi Lusiana
tdk ad yg bs di lihat,tp tau wrn merah muda
Evi Lusiana
suka tp malu² meong,gengsiny selangit
sunaryati jarum
Pasti si WC umum, mantan Tama.Ayo Dita jangan kalah dan mau dihina
sunaryati jarum
Nah kan sudah tersepona perawat mama
sunaryati jarum
Kan kan modus
sunaryati jarum
Aah Tama bohong tuh dia nggak rela kamu berduaan sama dokter Eros
Evi Lusiana
tama bodoh untung ibuny cerdas
Evi Lusiana
sebodoh itukah tama emng gk ada cctv
Lilis Yuanita
knpa gk up
RaDja
terima kasih
Cinta_manis: terima kasih bintang 5 nya kak🥰🙏
total 1 replies
Lilis Yuanita
lnjut
sunaryati jarum
Kerja sama Dokter Eros dan Bu Diana, totalitas untuk menguji hat Tama pada Dita
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Cinta_manis: makasih🙏 siap kucoba ya 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!