Celina Andreas dijuluki sebagai bawang merah begitu tergila-gila dengan seorang pria sehingga berbagai cara ia lakukan buat menaklukkan hati sang pria incarannya. Meskipun pria itu mencintai adik tirinya.
Berhasilkah Celina menjadi istrinya atau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 26
Kepulangan Celina membuat para pelayan terheran-heran karena Celina mengatakan kepada mereka bahwa akan kembali setelah melahirkan. Tetapi, mereka tak berani menanyakan alasannya takut Azka mengetahuinya.
Di dalam kamar yang sangat dirindukan Celina, ia duduk disisi ranjang. Dia memikirkan cara untuk menjauhi Azka lagi. Dia siap berpisah dengan calon ayah anaknya itu dan membongkar alasan pernikahan mereka.
"Celina, aku membawa makanan kesukaanmu. Aku sengaja meminta pelayan menyiapkannya saat kita dalam perjalanan!" Azka meletakkan nampan diatas nakas.
"Kau tidak perlu repot-repot perhatian seperti ini kepadaku."
"Aku tidak merasa disulitkan," ucap Azka tersenyum.
"Terima kasih. Aku akan memakannya. Kau bisa keluar dari kamar ini," kata Celina dengan suara rendah.
"Baiklah, selamat menikmati makanannya!" ucap Azka kemudian pamit keluar kamar.
"Ingat, jangan mudah luluh. Kau harus berpisah darinya. Pernikahan kalian terpaksa buat membantunya lepas dari Elma. Jangan jatuh cinta padanya!" batin Celina berjanji.
Selang 30 menit kemudian ketika Celina menikmati makanan yang disajikan suaminya, ponselnya berdering. Ia pun segera menjawab panggilan telepon itu, "Halo!"
"Dia tidak menyakitimu, 'kan?" terdengar suara pria cemas dari ujung telepon.
"Tidak. Kau jangan khawatir!" kata Celina tersenyum dibalik ponselnya.
"Jika dia berani menyakitimu, beritahu aku biar aku memberikannya sedikit pelajaran!"
"Kau tenang saja, aku bisa mengatasinya!" kata Celina.
"Jaga dirimu dan calon bayimu baik-baik, aku tidak mau dia menyakiti kalian!"
"Iya, aku akan menjaga diri dan calon anakku. Jangan sering menelepon aku selama di rumah. Nanti dia curiga dan sulit melepaskan aku!" kata Celina lagi.
Panggilan keduanya pun berakhir.
"Bagaimana caranya biar Azka marah dan membenciku saat pertama kali aku memaksanya menikah?" batin Celina sembari menyantap makanannya.
***
Keesokan paginya, Azka sudah menunggu Celina di ruang makan. Pria itu tersenyum kala Celina muncul dan duduk dihadapannya.
"Bagaimana tidurmu malam ini?" tanya Azka berbasa-basi.
"Seperti biasa, sangat nyenyak!" jawab Celina.
"Apa selama bersembunyi selera makanmu semakin menjadi?" tanya Azka yang melihat perubahan tubuh istrinya sangat berbeda.
"Ya, aku sangat tenang dan damai berada di sana makanya selera makan aku sangat banyak," jawab Celina lagi.
"Apa temanmu itu selalu menemanimu di sana?" tanya Azka kembali.
"Tidak. Kami kemarin hanya kebetulan bertemu," jawab Celina berbohong. Padahal, Aldi sengaja terbang pulang karena mendengar kabar Celina hendak berpisah dengan Azka dan dirinya memilih hidup sendirian buat mencari ketenangan.
"Oh, begitu," ucap Azka.
"Apa kau sudah mulai bekerja lagi?" tanya Azka.
"Ya," jawab Celina.
"Aku akan mengantarmu!" Azka menawarkan diri.
"Tidak usah, biar aku diantar sopir," Celina menolak tawaran suaminya.
"Kenapa? Bukankah biasanya para istri senang diantar suaminya?" tanya Azka sembari menatap Celina curiga.
"Kau nanti terlambat ke kantor kalau mengantarkan aku. Apalagi Mama Andin bilang, sudah seminggu kau tidak masuk ke kantor karena mencari aku!" jawab Celina beralasan.
"Ya, memang selama satu minggu ini aku tidak bekerja. Aku benar-benar khawatir dan cemas, kau tidak memberitahu aku mengenai keberadaanmu. Tapi, aku senang kau sudah kembali di rumah ini!" kata Azka.
"Lain kali aku akan memberitahumu. Maaf, kemarin aku sangat kesal sehingga aku tak sempat berpikir ulang," Celina lagi-lagi beralasan.
"Tidak apa-apa, aku maklum dengan kekesalanmu itu!" kata Azka.
-
Siang harinya, Azka menikmati makan di sebuah restoran bersama rekan kerjanya. Dia ingin mengajak Celina, tetapi istrinya itu menolak dengan alasan banyak pekerjaan.
Selesai menyantap makan siang, Azka yang hendak meninggalkan restoran bertemu dengan Elma yang seorang diri.
"Hai, kita bertemu lagi di sini. Apa kabar?" tanya Elma berbasa-basi.
"Aku baik. Kau dengan siapa ke sini?" tanya Azka karena melihat Elma sendirian.
"Aku menunggu suamiku," jawab Elma.
"Oh," ucap Azka singkat.
"Apa Kak Celina sudah ditemui?" tanya Elma sebab seminggu lalu Azka sempat menanyakan diri kakak sambungnya itu kepadanya melalui pesan singkat.
"Sudah," jawab Azka.
"Syukurlah kalau begitu!" kata Elma tersenyum.
"Aku duluan, ya!" pamit Azka.
"Ya, silahkan!" kata Elma lagi.
Azka pun menyusul rekan kerjanya yang terlebih dulu sudah berada di parkiran restoran.
Perjalanan menuju kantor, mata Azka menangkap mobil milik Celina terparkir di sebuah restoran. Azka yang tak menyetir mencoba menyakinkan dirinya bahwa dilihatnya adalah benar.
Pandangannya lalu tertuju ke arah restoran, namun jarak pandang yang sangat jauh ia tak dapat melihat keberadaan istrinya. Ia kemudian mencoba mengirimkan pesan singkat kepada istrinya dan menanyakan keberadaan wanita itu.
Celina membalas jika dirinya masih di kantor. Azka tak percaya, ia ingin melakukan panggilan video tetapi sadar jika satu mobil dengan temannya. Ia tak mau mereka mendengar perdebatan antara dirinya dan Celina.
-
Sore harinya, Azka sengaja pulang lebih cepat biar dapat menjemput Celina. Ia juga telah mengirimkan pesan kepada istrinya itu dan tentunya Celina menolak dijemput. Azka tetap memaksakan diri menjemput.
Belum sampai di kantor istrinya, lagi-lagi Azka melihat mobil milik Celina. Mereka berpapasan di jalan. Tetapi, karena mobil yang dikendarai Azka berbeda dari biasanya Celina tak mengetahuinya.
Azka lantas memutar haluan kendaraannya, ia mengikuti mobil Celina. Ia sempat kehilangan jejak karena terhalang beberapa mobil didepannya. Meskipun begitu, ia tetap melaju dan mengejarnya.
Senyum merekah di bibirnya, ketika Azka berhasil menemukan mobil Celina terparkir di salah satu kafe.
Azka bergegas turun dan masuk ke kafe, mengedarkan pandangannya mencari Celina. Tangannya terkepal ketika melihat Aldi menyentuh rambut Celina dan menyelipkannya di balik telinga.
Azka segera mendekati keduanya dan berkata, "Oh, jadi ini alasanmu menolak aku jemput!"
Celina dan Aldi mendongakkan kepalanya. Keduanya tampak terkejut.
"Apa kau tidak sadar sudah menikah, hah??" bentak Azka.
"Jangan membentaknya!!" tegur Aldi karena tak senang.
"Memangnya kenapa? Apa hakmu?" Dia istriku!!" Azka bicara lantang menatap Aldi dengan emosi.
"Azka, cukup!!" tegur Celina seraya menoleh sekilas ke arah kanan kirinya.
"Kau juga!!" pandangan Azka berpindah kepada istrinya. "Apa kau tidak punya rasa malu jalan dengan pria lain??"
"Kami tidak punya hubungan, kami juga lagi menunggu temanku yang lain!" Celina memberikan alasan sebab dia memang sedang menunggu Yura dan keluarganya. Mereka ingin mengobrol santai di kafe ini.
"Kenapa kau tidak memberitahuku? Dan mengapa kau tidak mengajakku juga? Bukankah aku ini suamimu?" cecar Azka yang penuh emosi.
"Karena aku-----" Celina tampak kebingungan menjelaskannya.
"Karena kau tidak mau perselingkuhanmu diketahui suamimu!!" tuding Azka.
"Aku tidak selingkuh!!" Celina tegas membantah.
"Aku melihatmu dia menyentuh rambutmu dan kau membiarkannya!!" kata Azka.
"Dia hanya menyingkirkan serangga kecil di rambutku!" ucap Celina jujur sebab kenyataannya begitu.
"Alasan saja!!" Azka tak terima.
"Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi, aku tak suka kau menuduhku berselingkuh!!" kesal Celina.
"Kenapa aku tidak boleh menuduhmu? Kau bisa menuduh aku berselingkuh dengan Elma. Tapi, aku tidak boleh menyatakan itu? Apa kau takut nama baikmu hancur dan orang tuaku menjadi membencimu? Kau sungguh egois, Celina!!" Azka bicara berteriak di depan wajah istrinya.
Aldi yang tak senang Azka memarahi Celina di depan umum, lantas mendorong tubuh Azka secara kasar dan hampir membuat tubuh suaminya Celina itu hampir terjatuh, "Jangan memperlakukan dia seperti itu!!" bentaknya.
Azka yang sangat kesal dan marah lantas melayangkan pukulan di wajahnya Aldi. Sontak membuat Celina menjerit.
"Azka, cukup. Hentikan!!" Celina menarik bahu Azka secara kuat ke belakang.
"Kau marah selingkuhanmu terluka!!" tuding Azka penuh amarah.
"Jaga mulutmu itu!!" sentak Celina.
Azka hendak memberikan pukulan lagi ke wajahnya Aldi namun Celina dengan cepat menahan tangan suaminya.
Azka yang kesal lengan tangannya dipegang Celina lantas dihempaskannya secara kasar dan membuat tubuh Celina terjatuh dengan posisi terduduk.
"Auww!!" pekik Celina memegang perutnya yang terasa sakit.
"Celina!!" teriak Yura dari kejauhan, wanita itu berlari menghampiri sahabatnya.
Aldi yang melihat Celina terjatuh lantas mendekat, "Celina, kau tidak apa-apa 'kan?" terlihat raut khawatir di wajahnya.
Azka terdiam ketika melihat darah mengalir dari sela-sela bagian bawah tubuh istrinya.
Aldi gegas membopong tubuh Celina dan membawanya menuju mobil. Ia tak peduli dengan Azka yang masih mematung.
Yura yang kesal lantas melayangkan tamparan ke wajah Azka dan berkata, "Jika terjadi sesuatu kepada Celina dan bayinya. Aku akan menuntutmu!!"
"Sayang, sudahlah. Ayo kita susul Celina ke rumah sakit!" Delon memegang lengan dan menariknya menjauh dari Azka.
Azka memegang pipinya dan berkata lirih, "Bayinya??"