Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Dunia hiburan memang penyelamat bagi mereka yang ingin bersembunyi. Badai spekulasi mengenai "Cucu Giovano" perlahan mulai kehilangan daya tariknya, digantikan oleh skandal panas seorang aktor papan atas yang tertangkap tangan menggunakan narkoba di sebuah kelab malam.
Perhatian netizen teralihkan dalam semalam, membiarkan Kevin dan Ashley kembali menghirup udara yang sedikit lebih tenang.
Walaupun intensitas manjanya sudah tidak separah minggu lalu, nafsu ngidam Ashley tetap berada di luar nalar. Pagi ini, ia meminta kerupuk udang yang dicelupkan ke dalam cokelat panas—sebuah kombinasi yang membuat perut Kevin mulas hanya dengan melihatnya. Namun, hari ini bukan hari untuk berdebat soal makanan, karena jadwal rutin pemeriksaan kehamilan ke klinik pribadi Dokter Irene sudah menanti.
Di dalam ruang periksa yang tenang, aroma antiseptik yang khas menyambut mereka. Ashley berbaring di atas ranjang periksa dengan wajah datar, sementara Irene mengoleskan gel dingin di perutnya yang mulai sedikit keras.
"Siap melihatnya?" tanya Irene sambil menggerakkan alat transduser.
Layar monitor hitam-putih itu menampilkan gumpalan kecil yang mulai membentuk siluet manusia. Tak lama kemudian, Irene menyalakan suara pada mesin tersebut.
Deg-deg, deg-deg, deg-deg...
Suara itu cepat, kuat, dan sangat nyata. Kevin, yang berdiri di samping ranjang sambil menggenggam tangan Ashley, mendadak kaku. Matanya melebar, dan tenggorokannya terasa tersumbat oleh gelombang emosi yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Suara itu—detak jantung kecil itu—adalah bukti nyata bahwa di dalam rahim istrinya, ada sebuah kehidupan yang merupakan separuh dari dirinya.
Sekejap saja, bayang-bayang He Cheng yang menghantuinya seminggu terakhir menguap begitu saja. Nama konglomerat China itu terasa tidak penting lagi. Mau seberapa hebat pun masa lalu Ashley, hanya Kevin yang memiliki masa depan ini.
"Itu... jantungnya?" bisik Kevin dengan suara bergetar.
"Iya, sangat sehat dan kuat," jawab Irene tersenyum.
Ashley melirik Kevin. Ia melihat binar mata suaminya yang penuh haru, dan entah kenapa, ada rasa hangat yang menjalar di dada Ashley. Ia tidak menangis se-emosional Kevin, tapi ia meremas tangan Kevin sedikit lebih erat sebagai jawaban.
"Kondisinya bagus," ujar Irene setelah pemeriksaan selesai. Ia beralih ke meja kerjanya dan mulai menuliskan resep. "Tapi, Ash, kau harus lebih disiplin. Aku ingin kau rutin meminum vitamin ini dan susu khusus kehamilan dua kali sehari. Nutrisimu sedikit rendah karena kau terlalu banyak bekerja."
Ashley langsung mengernyitkan dahi. Raut wajahnya berubah kesal. "Susu hamil? Kau bercanda? Itu sangat merepotkan. Aku tidak mungkin membawa botol susu atau kotak susu besar ke ruang rapat direksi. Itu akan merusak citraku."
"Pilih citramu atau kesehatan pewaris Giotech ini?" Irene bertanya balik dengan nada menantang yang hanya berani ia lakukan pada Ashley.
Ashley mendengus kasar. Ia benci sesuatu yang menghambat mobilitasnya. Namun, ia melirik perutnya sendiri, lalu menatap Kevin yang masih tampak terhipnotis oleh suara detak jantung tadi. Ashley tahu, bayi ini bukan sekadar anak; dia adalah kunci kemenangannya untuk menduduki kursi nomor satu di Giotech Corp secara permanen.
"Baiklah, akan kuminum. Tapi pastikan rasanya tidak menjijikkan," gumam Ashley ketus.
Sore harinya, sebuah kejutan besar tiba di depan gerbang mansion. Mobil limusin hitam yang sangat dikenal Kevin berhenti, dan turunlah Andrew Giovano. Ini adalah kunjungan pertama Andrew ke rumah Ashley sejak mereka menikah.
Suasana ruang tamu mendadak menjadi sangat formal. Ashley masih berada di ruang kerjanya, menyisakan Kevin sendirian untuk menyambut sang mertua. Kevin duduk dengan punggung tegak di depan Andrew, merasa seperti sedang diinterogasi oleh seorang raja.
"Jadi... kau masih rajin kuliah?" tanya Andrew, memecah keheningan yang canggung.
"Masih, Tuan. Semester ini cukup padat," jawab Kevin sopan.
Andrew menatap Kevin dengan mata tuanya yang tajam namun tidak lagi sedingin dulu. Sejak tahu akan punya cucu, aura Andrew jauh lebih melunak. "Jangan panggil aku Tuan di sini. Panggil Ayah. Kau sudah memberikan berita terbaik dalam sepuluh tahun terakhir hidupku."
Kevin tersenyum kikuk. "Baik... Ayah."
Andrew mengangguk puas. Ia kemudian berdiri dan menepuk bahu Kevin—sebuah gestur yang membuat Kevin kaget. "Ayo ikut aku. Aku membawa peralatan di bagasi. Kita pergi memancing ke danau di belakang mansionmu ini. Ada banyak hal yang ingin kubicarakan antarpria."
Kevin tertegun. Memancing? Dengan Andrew Giovano? Ashley, yang baru saja keluar dari ruang kerjanya, terdiam di balkon tangga melihat pemandangan langka itu. Ia melihat ayahnya yang otoriter kini justru tampak akrab dengan suaminya yang "hanya mahasiswa".
"Jangan buat dia lelah, Ayah," seru Ashley dari atas.
Andrew tertawa keras, suara yang sudah lama tidak terdengar. "Aku hanya meminjam suamimu sebentar, Ash! Jangan cemburu!"
Di tepi danau yang tenang, sambil menunggu kail ditarik ikan, Andrew menatap riak air. "Kevin, kau tahu... dunia ini akan menjadi sangat bising bagi anak kalian nanti. Pastikan kau menjadi pelindung yang lebih kuat dari yang terlihat. Karena di keluarga ini, hanya mereka yang memiliki 'taring' yang bisa bertahan."
Kevin menelan ludah. Ia tahu Andrew tidak sedang bicara soal memancing. Ini adalah peringatan tentang badai yang sesungguhnya di Giotech, dan Kevin sadar, hidupnya yang santai memang benar-benar sudah berakhir.