Rafael Adinata, adalah aktor terkenal yang terjerat skandal memalukan dengan aktris pendatang baru.
Rafael terpaksa menikah dengan wanita biasa demi menyelamatkan reputasinya. Gita Larasati, seorang editor buku yang hidupnya sederhana. Dengan terpaksa menerima tawaran Rafael pernikahan kontrak dengan sang aktor demi melunasi hutang keluarga.
Sebuah pernikahan dimulai, tanpa cinta hanya sebatas hitam diatas putih.
Mampukah Rafael dan Gita menjalani pernikahan kontrak mereka yang penuh liku-liku? berpisah setelah masa kontrak habis, atau justru saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSYILA qirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Rahasia
Arjusena dan Gita masih berdiri di tengah keramaian. Arjusena bisa merasakan ketegangan Gita. Tangannya masih menggenggam lengan Gita erat. Seolah takut kalau Gita hilang dari hadapannya.
"Lepaskan saya pak!" Gita mendesis, tatapannya tajam menghujam manik mata Arjusena.
"Ini terlalu ramai Gita." hanya itu yang keluar dari mulut Arjusena.
Gita menghempaskan genggaman Arjusena kasar.
"Saya bisa menjaga diri saya sendiri." sahut Gita ketu, ia pergi melenggang tanpa melihat kebelakang. Arjusena berdiri termangu melihat Gita ditelan kerumunan lautan manusia.
Alunan musik rock milik 3doorsdown menyapa telinga Arjusena. Seolah menggambarkan isi hatinya saat ini.
I'm here without you, baby
But you're still on my lonely mind
I think about you, baby
And i dream about you all the time
***
Malam itu setelah kembali ke hotel Gita duduk di teras kamar. Matanya menyorot cahaya kekuningan lampu taman hotel. Sunyi, ditemani suara jangkrik dan gemericik air mancur.
Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin Surabaya. Utari belum ada tanda-tanda sampai hotel. Ponsel Gita kehabisan baterai, untung ada ojek yang mangkal daerah itu.
Ponsel yang Gita letakkan diatas meja itu berdering, dengan hati-hati ia mengangkat karena terhubung dengan kabel powerbank.
Satu pesan masuk dari Rafael.
Sudah makan?
Senyumnya mengembang saat membaca pesan itu, dengan cekatan jarinya mengetik balasan.
Sudah, kamu?
Tidak lama balasan muncul.
Sudah, jangan tidur terlalu malam. Besok pulangkan?
Gita tidak cepat membalas, ia berulang kali membacanya senyum masih mengembang malah semakin lebar. Gita menghela napas, tapi ia tidak ingin ke-pedean dengan perhatian Rafael. Karena kenyataannya mereka menikah karena kontrak semata.
Dari kejauhan wajah Utari yang sedang kusut berjalan menuju Gita.
"Lo dari mana aja sih?" tanya Utari sebal.
"Lo yang dari mana, malah ninggalin gue. Untung aja bisa sampe hotel lagi." sahut Gita tidak kalah sebal.
"Sumpah rame banget panas pula. Surabaya panasnya lebih ekstrim dari pada panasnya Jakarta." Ucap Utari sambil mengibaskan tangannya.
Gita mengangguk setuju "Masuk yuk, besok kita balik pagi." ajaknya pada Utari.
***
Pagi-pagi sekali, suara alarm ponsel Gita berbunyi. Diluar masih gelap, Gita menguap dan merenggangkan otot-otot lengannya yang terasa kaku. Ia bangkit dari tempat tidur merapikan rambut lalu berjalan ke kamar mandi.
Sementara itu Utari Masi bergelung di balik selimut.
" Utari bangun. Kita harus ke bandara satu jam lagi." ujar Gita yang baru keluar dari kamar mandi.
"Ya ampun Git ... lima menit lagi." rengek Utari dengan suara berat.
Gita mendengus.
"Kalo lima menit versi kamu bisa jadi tiga puluh menit."
Tak lama kemudian suara alarm kedua terdengar. Utari langsung duduk.
"Oke, aku mandi." Utari berusaha membuka matanya namun terasa sangat berat.
Gita tertawa kecil melihat kelakuan temannya itu.
Tiga jam perjalanan mampu membuat otot Gita terasa kaku, ia menyeret perlahan koper kecilnya menuju apartemen. Wajahnya sedikit berminyak terkena debu jalanan. Gita menekan kode pintu apartemen, bunyi kunci terbuka.
Gita mengerutkan kening, lampu apartemen menyala. Tidak biasanya Rafael berada di rumah jam segini.
Benar saja Rafael berdiri di depan kompor yang menyala. Bersyukur kali ini tidak seperti kapal pecah hanya ada satu panci di atas kompor. Wangi masakan menyapa indra Gita. seketika perutnya berbunyi.
"Kamu masak apa?" tanya Gita penasaran. Karena tercium bau kaldu dan rempah yang kuat.
Rafael menoleh, " Sop buntut. Ayo makan." ajak Rafael.
Gita berjalan ke arah Rafael. "Kamu masak sendiri?" tanya Gita heran.
"Iya lah, gimana? Uda jadi suami idaman kan?" Rafael menaik turunkan alisnya. Gita berdecak. Ia melirik keranjang sampah di samping Rafael. Sisa bungkus restoran langganan Rafael.
"Gak yakin sih." ejek Gita. Rafael pura-pura cemberut. Lucu pikir Gita.
"Gak ada jadwal hari ini?" tanya Gita, badannya bersandar pada kitchen set di samping Rafael
"Gak ada, lagi kosong." Rafael mematikan kompor lalu menoleh pada Gita. Terlihat wajah letih Gita, matanya sedikit sayu.
"Ayo makan, keliatannya kamu Uda kelaparan." ajak Rafael mengeluarkan nasi instan dari microwave.
"Aku kekamar dulu deh sekalian ganti baju. Bau pengharum mobil." Gita mencium bajunya sendiri. Rafael mengangguk setuju.
Gita meletakkan ransel dan kopernya di dekat lemari pakaian. Ia segera mengambil baju ganti lalu masuk kekamar mandi.
Gita keluar dengan rambut dicepol ke atas. Kaos big size biru dan celana training abu-abu. Rafael melihat penampilan Gita dan teringat saat mereka sekamar saat di Surabaya. Rafael mengedipkan mata, ketika bayangan Gita dengan baju tidur pink-nya masuk ke otaknya. Rafael memaksakan tersenyum pada Gita. Gita hanya menatap Rafael aneh.
"Kenapa liatin aku? Ada yang salah?" tanya Gita meneliti penampilannya siapa tahu ada noda di bajunya. Rafael yang ditegur Gita jadi gelagapan, jantungnya rasanya mau copot.
Diam-diam Gita juga memperhatikan Rafael, memperhatikan setiap geriknya, gestur tubuhnya, wajah tampannya yang di gilai hampir seluruh wanita Indonesia. Gita menyuap makanan ya lamat-lamat hingga Rafael sadar Gita sedang memperhatikannya.
"Kenapa ganteng ya, di liatin terus?" ujar Rafael kepedean. Gita hanya mencebik.
"Boleh nanya gak?" tanya Gita. Rafael mengangguk.
"Kenapa kamu pilih aku jadi istri kontrakmu dari jutaan wanita di dunia. Bisa aja kamu nikah sama Rachel?" Gita memelankan kalimat terakhir. Dulu Gita tidak peduli, entah sekarang hati dan pikirannya jadi penasaran.
Rafael menelan makanan dimulutnya sebelum menjawab.
"Andra yang pilih kamu." jawaban singkat yang membuat bahu Gita melorot. Ternyata Andra yang pilih. Batin Gita.
"Kenapa gak Rachel?" Rafael terdiam sebentar lalu menggeleng. "Aku ditolak dulu. Jadi ya..." Rafael mengangkat bahu.
Gita menggigit bibir, banyak yang ingin ia tanyakan. Tapi takut melanggar kontrak privasi mereka.
"Kamu masih suka sama Rachel?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Gita. Gita melihat reaksi Rafael.
"Hmmmm...." Rafael menimang. Lalu melirik Gita, Gita otomatis menegakkan duduknya.
"Kelihatannya gimana?" Rafael tersenyum menggoda. Seketika membuat Gita berdecak. Bukan jawaban yang ia inginkan.
"Ya mana aku tahu. Tapi bukan urusanku juga sih." Gita berusaha cuek padahal hatinya sudah berantakan.
"Bukan urusan tapi penasaran." Rafael lagi-lagi menggoda, sambil tersenyum miring.
"Kalau kamu? Ada hubungan apa sama si Arjusena?" Deg. Jantung Gita nyaris copot.
"Aku tahu kalian ada sesuatu." Mata Rafael menyipit, melihat ekspresi Gita
Gita mencoba biasa saja. "Kelihatannya gimana?" ucap Gita meniru kata-kata Rafael.
Lalu Gita beranjak dari duduknya sambil membawa piring kotor miliknya ke wastafel. Rafael tertawa sebal mendengar jawaban Gita.
Belum saatnya, batin Gita. Ia belum ada keberanian untuk menceritakan semuanya kepada seseorang bahkan keluarganya. Kilasan kejadian saat itu kembali lagi. Tatapan itu, kalimat itu, suara itu. Membuat keringat dingin Gita bercucuran. Ia mengelap pelipisnya dengan lengannya. Lalu cepat-cepat memasuki kamar.