sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GARIS DUA
Pagi di Jakarta Selatan menyambut kepulangan Kira dengan hujan rintik yang membawa aroma tanah basah—aroma yang selalu ia rindukan selama di Singapura. Di ruang makan rumah baru mereka, suasana terasa jauh lebih hidup. Tidak ada lagi keheningan yang menyesakkan; yang ada hanyalah suara denting sudip yang beradu dengan wajan dan tawa kecil Arlan yang sedang berusaha menggoreng telur mata sapi tanpa merusak kuningnya.
"Lan, itu apinya kegedean! Nanti pinggirannya gosong," teriak Kira dari meja makan sambil sibuk membuka laptopnya untuk mengecek email dari Vanguard.
"Tenang, Ra. Ini teknik arsitektur. Kita butuh struktur yang kaku di luar tapi lembut di dalam," balas Arlan sok tahu, meski wajahnya tampak tegang menghadapi percikan minyak.
Kira tertawa, menutup laptopnya, dan menghampiri suaminya. Ia memeluk Arlan dari belakang, menyandarkan pipinya di punggung kokoh pria itu. "Makasih ya, sudah mau jadi koki dadakan pagi ini."
Arlan mematikan kompor, berbalik, dan mengecup kening Kira. "Apapun buat istriku yang baru pulang dari negeri Singa. Tapi jujur, Ra... aku kangen banget lihat kamu pakai daster begini daripada pakai setelan kerja formal."
"Ih, modus!" Kira mencubit pinggang Arlan, membuat pria itu mengaduh jenaka.
Mereka duduk sarapan dengan tenang, namun Arlan menyadari sesuatu yang aneh. Kira yang biasanya sangat lahap jika dibuatkan telur mata sapi dan roti panggang, pagi ini hanya mengaduk-aduk makanannya. Wajahnya sedikit pucat.
"Ra? Kamu nggak suka telurnya? Apa terlalu asin?" tanya Arlan cemas.
Kira menggeleng, mencoba tersenyum. "Enggak kok, Lan. Enak. Cuma... perutku rasanya agak kembung. Mungkin karena semalam kita makan sate padang terlalu banyak setelah aku turun dari pesawat."
"Atau mungkin kamu kecapekan karena perjalanan? Kamu baru sampai kemarin sore, langsung bongkar koper. Kamu harus istirahat, Ra. Hari ini jangan buka laptop dulu," ucap Arlan dengan nada protektif.
"Iya, Tuan Arsitek. Cerewetnya kumat lagi deh."
Siang harinya, Arlan harus pergi ke kantor kementerian untuk koordinasi awal proyek pusat riset energi hijau. Kira ditinggal sendirian di rumah. Ia berniat untuk tidur siang, namun rasa mual yang tiba-tiba menyerang membuatnya berlari ke kamar mandi.
"Huek..."
Kira terduduk di lantai kamar mandi yang dingin, memijat tengkuknya. Pikirannya melayang. Ia menghitung siklus bulanannya di kalender ponsel. Matanya membelalak.
"Telat dua minggu?" bisiknya tidak percaya.
Selama di Singapura, ia begitu sibuk dengan audit desain dan lembur hingga ia benar-benar lupa memperhatikan jadwal alaminya. Ia mengira stres dan kelelahanlah yang membuat siklusnya berantakan.
Dengan tangan gemetar, ia merogoh laci meja riasnya. Ia masih menyimpan satu kotak tes kehamilan yang pernah ia beli iseng saat mereka baru menikah dulu.
Menunggu tiga menit rasanya lebih lama daripada menunggu Arlan selama sebelas tahun. Kira berjalan mondar-mandir di kamar mandi, jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Saat ia akhirnya memberanikan diri melihat alat kecil itu, dua garis merah tegas menatapnya balik.
Kira terduduk lemas di tepi bak mandi. Air mata haru dan takut bercampur menjadi satu. "Lan... kita bakal punya 'proyek' baru," isaknya pelan sambil tersenyum.
Sore hari, Arlan pulang dengan wajah lesu. Birokrasi di kantor pemerintahan rupanya lebih rumit daripada membangun gedung pencakar langit. Ia meletakkan tas kerjanya di sofa dan mencari sosok Kira.
"Ra? Kamu di mana? Aku butuh kopi pahit dan pelukan manis," seru Arlan sambil melonggarkan dasinya.
Tidak ada jawaban. Arlan berjalan menuju studio kecil Kira di lantai bawah. Ia menemukan Kira sedang duduk di meja gambarnya, namun anehnya, tidak ada denah atau sketsa di sana. Kira hanya menatap sebuah kotak kecil berwarna biru di atas meja.
"Ra? Kamu kenapa? Sakitnya makin parah?" Arlan mendekat dengan cemas, meletakkan tangannya di dahi Kira. "Nggak panas kok. Kita ke dokter ya?"
Kira menoleh, matanya berkaca-kaca. Ia meraih tangan Arlan dan menuntunnya untuk duduk di kursi di sampingnya. "Lan, aku punya kabar soal proyek baru kita."
Arlan mengernyit. "Proyek baru? Vanguard kasih kerjaan tambahan lagi? Ra, kita kan sudah sepakat kamu fokus di Jakarta dulu bulan ini."
"Bukan proyek dari Singapura, Lan," Kira mengambil alat tes kehamilan itu dari dalam kotak dan memberikannya pada Arlan. "Ini proyek jangka panjang. Pengerjaannya sembilan bulan, dan perawatannya seumur hidup."
Arlan menatap benda di tangannya. Ia diam selama sepuluh detik. Dua puluh detik.
"Ini... ini beneran, Ra?" suara Arlan pecah, hampir seperti bisikan.
Kira mengangguk sambil terisak bahagia. "Dua garis, Lan. Aku hamil."
Arlan seketika berlutut di depan kursi Kira, memeluk perut istrinya dengan sangat hati-hati, seolah-olah Kira terbuat dari kristal yang paling rapuh di dunia. Ia membenamkan wajahnya di sana, dan Kira bisa merasakan kausnya basah oleh air mata Arlan.
"Makasih, Ra... makasih banyak," ucap Arlan parau. "Sebelas tahun aku nunggu kamu jadi istriku, dan sekarang... aku bakal jadi ayah?"
"Iya, Lan. Kamu bakal jadi ayah paling cerewet sedunia," goda Kira sambil mengusap rambut Arlan.
Arlan mendongak, matanya merah karena haru namun binar bahagianya tidak bisa disembunyikan. "Ra, mulai besok, nggak ada lagi angkat-angkat koper. Nggak ada lagi lembur sampai pagi. Aku bakal pasang sensor di setiap sudut rumah ini biar kamu nggak kepentok!"
Kira tertawa lepas. "Tuh kan, mulai deh jiwa arsitek protektifnya keluar!"
Malam itu, mereka memutuskan untuk memberikan kejutan kepada orang tua mereka. Mereka mengundang Bu Rahmi dan Ibu Lastri untuk makan malam di rumah.
"Ada apa sih, Lan? Tumben banget panggil Ibu malam-malam begini? Mana wajah kamu sumringah banget lagi," tanya Bu Rahmi saat mereka duduk di ruang makan.
Ibu Lastri juga tampak penasaran. "Kira juga, kelihatannya segar banget hari ini. Padahal baru pulang dari Singapura kemarin."
Arlan melirik Kira, memberi kode. Kira kemudian mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang berisi foto hasil cetakan USG singkat yang ia lakukan di klinik dekat rumah sore tadi sebelum Arlan pulang.
"Ini ada draf desain terbaru buat rumah kita, Bu. Arlan bilang butuh persetujuan nenek-neneknya," ucap Kira sambil menyodorkan amplop itu ke tengah meja.
Ibu Lastri membukanya duluan, diikuti Bu Rahmi yang penasaran. Saat mereka melihat gambar hitam putih kecil dengan titik mungil di tengahnya, suasana meja makan mendadak pecah oleh jeritan bahagia.
"Ya Allah! Cucu Ibu!" seru Bu Rahmi sambil langsung memeluk Kira.
Ibu Lastri menyeka air matanya dengan ujung hijabnya. "Kira... Arlan... selamat ya. Akhirnya doa Ibu setiap malam dikabulkan."
"Tapi Lan," Bu Rahmi tiba-tiba melepaskan pelukannya dan menatap Arlan tajam. "Kamu jangan kasih Kira capek-capek! Proyek pemerintah kamu itu bisa nunggu, tapi cucu Ibu nggak boleh terganggu!"
Arlan mengangkat tangan, tanda menyerah. "Iya, Bu. Tadi Arlan sudah bilang, Kira bakal Arlan kurung di rumah kalau perlu."
"Ih, jangan lebay!" protes Kira.
Malam itu, rumah baru mereka dipenuhi dengan obrolan tentang masa depan. Tentang kamar bayi yang harus didesain, tentang nama-nama yang mulai mereka susun, hingga perdebatan jenaka tentang apakah si bayi nanti harus jadi arsitek seperti ayahnya atau desainer interior seperti ibunya.
"Pokoknya, dia harus punya selera warna yang bagus kayak Kira," ucap Ibu Lastri.
"Tapi strukturnya harus kuat dan logis kayak Arlan!" timpal Bu Rahmi.
Arlan merangkul bahu Kira, menatap istrinya dengan penuh syukur. "Apapun nanti jadinya, yang penting dia tahu kalau dia lahir dari dua orang sahabat yang butuh sebelas tahun buat sadar kalau mereka saling cinta."
Setelah kedua ibu mereka pulang, Arlan dan Kira duduk di balkon, menatap langit Jakarta. Angin malam berhembus pelan, namun mereka merasa hangat dalam pelukan satu sama lain.
"Lan," panggil Kira.
"Ya?"
"Tadi aku sempat kepikiran sesuatu."
"Apa itu?"
Kira menatap Arlan dengan serius. "Gimana dengan proyek pemerintah kamu? Tiga tahun ke depan kamu bakal sibuk banget. Dan aku... aku mungkin nggak bisa bantu banyak karena harus fokus sama kehamilan ini."
Arlan menggenggam tangan Kira, mencium jemarinya satu per satu. "Ra, dengerin aku. Proyek itu memang besar. Tapi proyek yang ada di perut kamu ini jauh lebih besar buat aku. Aku sudah bicara sama timku tadi lewat pesan singkat. Aku akan delegasikan lebih banyak tugas lapangan ke manajer proyek yang baru. Aku akan lebih banyak kerja dari rumah."
"Tapi Lan, itu proyek strategis nasional. Kamu nggak takut reputasi kamu turun?"
"Reputasi bisa dibangun lagi, Ra. Tapi momen pertama kali anak kita nendang di perut kamu, atau momen saat dia lahir nanti, itu nggak bisa diulang. Aku nggak mau jadi arsitek hebat yang bangun gedung tinggi tapi nggak ada di rumah saat anaknya butuh ayahnya."
Kira tersenyum haru. "Makasih ya, Lan. Kamu bener-benar berubah jadi laki-laki yang sangat dewasa."
"Efek punya istri sehebat kamu, Ra."
Tiba-tiba, ponsel Arlan berdering. Ada pesan masuk. Arlan membukanya dan mendesah pendek.
"Siapa? Maura?" tanya Kira, sedikit waspada.
"Bukan. Maura benar-benar sudah 'lenyap' dari radar kita. Ini dari Mr. Henderson di Singapura. Dia kasih ucapan selamat. Rupanya dia tahu dari manajer kantorku."
"Terus dia bilang apa?"
"Dia bilang, 'Selamat atas proyek kolaborasi terbesarmu. Kalau anak itu lahir, pastikan dia punya selera desain Vanguard.' Dan dia kirim kado berupa kursi bayi desainer kelas dunia yang bakal sampai besok," Arlan tertawa kecil.
Kira ikut tertawa. "Wah, belum lahir saja sudah punya barang mewah!"
Malam semakin larut. Arlan membimbing Kira masuk ke dalam kamar. Saat Kira sudah berbaring, Arlan duduk di tepi tempat tidur, mengusap perut Kira yang masih rata dengan sangat lembut.
"Halo, Kecil," bisik Arlan ke arah perut Kira. "Ini Ayah. Ayah yang bakal bangunkan istana paling aman buat kamu. Kamu jangan nakal-nakal ya di dalam, jangan bikin Bunda mual terus. Kita bakal jadi tim yang hebat, oke?"
Kira merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sebelas tahun persahabatan mereka telah melewati banyak fase—dari sahabat yang saling curhat, musuh saat berdebat soal desain, pasangan yang berjuang demi restu, hingga kini menjadi calon orang tua.
"Lan," bisik Kira saat kantuk mulai menyerang.
"Ya, Sayang?"
"Kalau nanti dia sudah besar, kita harus ceritakan soal sate padang, soal payung hitam, dan soal kopi pahit kamu ya?"
Arlan tersenyum, mengecup kening Kira dan mematikan lampu tidur. "Iya, Ra. Kita ceritakan semuanya. Biar dia tahu kalau cinta yang paling kuat adalah cinta yang dibangun di atas pondasi persahabatan yang tulus."
Malam itu, di bawah atap rumah yang mereka bangun dengan cinta, Arlan dan Kira tertidur dengan damai. Mereka tidak lagi hanya memikirkan tentang garis, beton, atau warna kain. Mereka kini sedang merancang sebuah kehidupan—proyek paling indah yang pernah mereka kerjakan bersama.
Bab 25 ditutup dengan ketenangan yang sempurna. Sebelas tahun mereka mencari arti rumah, dan kini, rumah itu bukan lagi sekadar bangunan, tapi nyawa baru yang mulai berdetak di dalam diri Kira.