NovelToon NovelToon
PUTRI TERKUTUK DAN KESATRIANYA

PUTRI TERKUTUK DAN KESATRIANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Tiga tahun setelah perang besar melawan Abyss, dunia tak pernah benar-benar pulih.

Retakan neraka muncul di berbagai penjuru benua, memuntahkan monster, iblis, dan roh-roh jahat yang merasuki manusia.

Rowan Desmond, kesatria terkuat dari Kerajaan Aurelius telah menghabiskan tiga tahun memburu petaka yang tak kunjung berakhir.

Sampai suatu malam Rowan menangkap seorang pencuri bernama Cecilia Landon yang mencuri relik kuno milik kerajaan. Namun Cecilia menyimpan kemampuan besar, dimana ia dapat melihat roh, mendengar bisikan arwah, dan memurnikan kegelapan yang sangat dibutuhkan oleh Rowan.

Rowan akhirnya membuat sebuah perjanjian; Ia akan membantu Cecilia mengumpulkan relik-relik yang diburunya. Sebagai gantinya, Cecilia harus membantu Rowan menghadapi roh-roh yang mengancam seluruh benua.

Namun semakin jauh perjalanan mereka, semakin banyak rahasia yang terkuak, tentang Cecilia yang ternyata terkutuk.

Akankah mereka mampu menyelamatkan dunia atau justru kehilangan satu sama lain

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24. SUARA DI ALAM KEMATIAN

Langit Alam Arwah bergolak.

Awan hitam berputar seperti pusaran raksasa yang hendak menelan seluruh dunia. Tanah kelabu yang dipenuhi tangan-tangan mayat terus bergetar, memunculkan retakan-retakan panjang yang mengeluarkan kabut hitam dari dalamnya.

Cecilia berdiri membeku, tubuhnya gemetar.

Di depannya, Sang Penjaga Alam Arwah menundukkan kepala perlahan. Puluhan mata yang memenuhi wajah, leher, dada, dan lengannya terbuka serempak.

Tatapan mereka tertuju tepat pada Cecilia. Seolah tidak ada tempat lagi untuk bersembunyi untuk gadis itu.

Jantung Cecilia berdetak begitu keras hingga terasa menyakitkan.

Sang Penjaga Alam Arwah menggerakkan kepalanya sedikit. Suara tulang bergesekan terdengar mengerikan.

Lalu ...

Seluruh mata pada tubuh makhluk itu membelalak.

"Jiwa hidup ...."

Suara itu mengguncang udara.

"... penyusup."

Tanah di bawah kaki Cecilia meledak.

BOOOOM!

Cecilia menjerit, tubuhnya bergerak secara refleks untuk melompat ke samping. Sesaat kemudian cakar raksasa menghantam tempat Cecilia berdiri sebelumnya.

Tanah hancur. Retakan besar menjalar ke segala arah akibat serangan barusan. Debu dan roh-roh kecil beterbangan.

"Astaga!" Cecilia langsung berlari.

Ia bahkan tidak sempat berpikir. Nalurinya berteriak satu hal; Lari! Lari sekarang juga! Lari sejauh mungkin dari penjaga itu!

Di belakang Cecilia terdengar raungan mengerikan.

RAAAAAAAAHHHHH!

Suara itu membuat seluruh Alam Arwah bergetar.

Cecilia berlari sekuat tenaga. Rambut pirang platinum miliknya berkibar. Gaun yang dikenakannya robek di beberapa bagian akibat perjalanan panjang di dunia kematian itu. Namun ia tidak peduli. Ia hanya memikirkan satu tujuan; Gerbang Arwah.

Cecilia harus kembali sekarang juga, kalau tidak ia akan mati. Atau mungkin sesuatu yang jauh lebih buruk.

Di belakangnya terdengar dentuman.

BUM!

BUM!

BUM!

Setiap langkah Sang Penjaga Alam Arwah terdengar seperti gempa.

Cecilia melirik ke belakang dan langsung menyesal.

Penjaga sedang mengejar Cecilia. Kepalanya yang menjulang bergerak jauh lebih cepat dari pada ukuran tubuhnya.

Puluhan tangan hitam muncul dari punggung Penjaga. Masing-masing bergerak seperti laba-laba raksasa.

"Kenapa dia cepat sekali?!" Cecilia hampir menangis karena takut sekarang.

Penjaga bukan sesuatu yang bisa Cecilia lawan. Sosok itu sama purbanya dengan para Dewa, sudah ada ketika alam kematian tercipta.

Cecilia memaksa dirinya berlari lebih cepat. Kabut kelabu menampar wajahnya tanpa ampun. Napasnya mulai memburu.

Namun akhirnya, ia melihat sesuatu.

Jauh di depan, sebuah cahaya terlihat. Hal yang tersembunyi dalam kabut karena raungan sang penjaga tadi.

Gerbang Arwah, pintu keluar dari tempat ini ada di depan sana.

Mata Cecilia membelalak. "Itu dia!"

Harapan memenuhi dada sang gadis.

Sedikit lagi.

Ia hanya perlu mencapai gerbang itu.

Sedikit lagi.

Sedikit-

Tiba-tiba tanah di depannya meledak. Puluhan tangan mayat muncul dari dalam tanah. Lalu puluhan lagi. Lalu ratusan.

Mereka merangkak keluar seperti cacing-cacing busuk.

Cecilia langsung menghentikan langkahnya.

"Apa?!"

Para roh mulai berdiri. Mata mereka kosong dengan tubuh yang membusuk. Namun jumlah mereka begitu banyak hingga menutupi jalan menuju gerbang.

"Menjauh kalian!" Cecilia berteriak mencoba membuat pelindung namun gagal karena kekurangan energi.

Cecilia memutuskan mencoba berlari melewati celah di antara para roh.

Namun para roh bergerak dan mereka menghalangi. Mengepung. Mengurung. Membentuk dinding hidup untuk Cecilia.

Tidak.

Di belakang sang gadis langkah Sang Penjaga Alam Arwah semakin dekat.

BUM!

BUM!

BUM!

Tanah terus bergetar.

Keringat dingin mengalir di wajah Cecilia. Tidak ada waktu lagi. Ia harus menerobos sekarang!

Cecilia berlari ke depan. Salah satu roh langsung menerjang namun Cecilia mampu menghindar.

Roh kedua mencoba menangkapnya. Cecilia mendorong makhluk itu hingga jatuh.

Namun ketika sang gadis hampir berhasil melewati mereka, sesuatu mencengkeram pergelangan kakinya.

Cecilia membelalak. Ia melihat tangan pucat keluar dari tanah.

Lalu tangan kedua.

Ketiga.

Keempat.

Kelima.

Puluhan tangan.

Mereka mencengkeram kedua kaki Cecilia.

"Kyaaa!" Tubuh Cecilia kehilangan keseimbangan.

BRAK!

Ia terjatuh dengan keras. Dagu dan telapak tangannya menghantam tanah. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya.

Belum sempat ia bangun lebih banyak tangan muncul.

Mereka meraih rambut Cecilia.

Lengannya.

Pinggangnya.

Gaunnya.

Semua bagian tubuhnya.

"Tidak!" Cecilia berusaha meronta.

Namun jumlah mereka terlalu banyak Puluhan roh mulai mengerumuninya. Kemudian puluhan lagi dan terus bertambah.

Tubuh Cecilia perlahan tenggelam di bawah kerumunan roh.

Mereka memanjat diri Cecilia.

Menahan lengannya dan kakinya.

Menekan bahunya.

Membuat Cecilia tidak bisa bergerak.

Napas Cecilia mulai tersengal.

"Tolong ...." Ia mencoba berteriak. Namun suara itu nyaris tidak keluar.

Lalu sesuatu muncul dari belakang gadis itu.

Sebuah tangan besar. Jauh lebih besar dari pada tangan manusia. Tangan itu membekap mulut Cecilia dan setengah wajah Cecilia.

BRUK!

Kepala Cecilia terdorong ke belakang. Mata Cecilia membelalak.

"Mmph!" Cecilia mencoba menjerit. Namun suara itu tertahan.

Cengkeraman itu begitu kuat, seolah hendak meremukkan tulang rahang Cecilia.

Air mata mulai menggenang di mata Cecilia. Ia tidak bisa bergerak. Tidak bisa berteriak apalagi melarikan diri.

Cecilia terperangkap.

Benar-benar terperangkap tanpa bisa berbuat apa-apa.

Kemudian suasana menjadi lebih buruk.

Kabut hitam di kejauhan terbelah, kemudian sosok besar merangkak keluar. Tubuhnya dipenuhi wajah-wajah manusia. Masing-masing wajah menangis. Menjerit. Meratap.

Roh jahat berkepala banyak. Makhluk yang sebelumnya mengejar sang Permaisuri. Kini telah datang membawa satu lagi ketakutan untuk Cecilia saat ini.

Puluhan wajah pada tubuhnya memandang Cecilia penuh kebencian, kemarahan, dan rasa lapar. Suara-suara mengerikan keluar dari mulut mereka secara bersamaan.

"Manusia...."

"Pencuri ...."

"Penyusup ...."

"Kembalikan ...."

"Kembalikan ...."

"Kembalikan ...."

Cecilia merasakan seluruh tubuhnya membeku.

Makhluk itu mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Semakin dekat.

Semakin dekat.

Sampai akhirnya wajah-wajah mengerikan itu berada tepat di hadapan Cecilia. Mulut mereka terbuka lebar dan menampakkan gigi-gigi hitam. Mereka hendak menerkam Cecilia.

Namun tiba-tiba ...

BUM!

Sebuah bayangan besar turun dari langit.

Tanah meledak, kabut tersapu, roh-roh berhamburan.

Makhluk berkepala banyak itu membeku.

Cecilia juga membelalak, karena yang baru saja mendarat adalah Sang Penjaga Alam Arwah.

Makhluk raksasa itu berdiri di antara Cecilia dan roh jahat tersebut.

Untuk sesaat tidak ada yang bergerak. Lalu salah satu wajah pada roh berkepala banyak berteriak.

"Dia Penjaga!"

"Dia milikku!"

"Manusia itu milikku!"

Puluhan wajah lain ikut menjerit.

Namun Sang Penjaga Alam Arwah perlahan menundukkan kepala. Puluhan matanya menatap makhluk itu.

Lalu ia mengangkat satu kaki dan menginjak roh jahat berkepala banyak itu.

BRAAAAKKK!

Tanah hancur. Roh berkepala banyak itu bahkan tidak sempat menjerit. Tubuhnya remuk lalu meledak menjadi kabut hitam. Puluhan wajah yang memenuhi tubuhnya berteriak putus asa.

Kemudian roh jahat itu lenyap. Musnah begitu saja.

Cecilia membeku. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

Rob jahat yang begitu menakutkan dan kuat itu dihancurkan hanya dengan satu injakan seolah bukan apa-apa.

Namun rasa lega itu hanya bertahan sesaat, karena Sang Penjaga Alam Arwah perlahan menoleh ke arahnya. Dan suara mengerikan itu kembali terdengar.

"Kenapa ...."

Satu mata terbuka.

"Lagi ...."

Mata kedua terbuka.

"Dan lagi...."

Mata ketiga.

Keempat.

Kelima.

Puluhan mata.

"Begitu banyak penyusup ...."

Suara itu menggema ke seluruh penjuru Alam Arwah.

"KENAPA BANYAK SEKALI PENYUSUP DI TANAHKU?!"

Langit bergetar, kabut berputar, roh-roh menjerit kesakitan.

Lalu Sang Penjaga meraung luar biasa dahsyat.

"RAAAAAAAHHHHHHHHH! HANCURKAN!"

Raungan kedua.

"HANCURKAN!"

Raungan ketiga.

"HANCURKAN PENYUSUP!"

Seketika seluruh roh di sekitar Cecilia mengamuk, mereka mencengkeram sang gadis lebih keras.

Lebih banyak tangan muncul dari tanah, mereka memanjat tubuh sang gadis. Menahan dirinya seperti rantai hidup.

Cecilia merasakan rasa sakit di seluruh tubuhnya.

Ia mencoba bergerak.

Tidak bisa.

Ia mencoba berteriak.

Tidak bisa.

Tangan besar yang membekap wajahnya semakin menekan. Pandangan Cecilia mulai kabur. Napasnya semakin sulit.

Roh-roh terus menumpuk.

Menumpuk.

Dan menumpuk.

Seolah hendak menguburnya hidup-hidup.

"Mmgh!" Air mata mengalir dari sudut mata Cecilia.

Apakah semuanya berakhir di sini?

Apakah ia akan mati?

Apakah ia tidak akan pernah kembali?

Apakah ia gagal menyelamatkan Permaisuri?

Saat keputusasaan mulai memenuhi hatinya, terdengar suara. Sangat jauh dan samar.

Cing!

Cecilia membeku.

Apa itu? pikir sang gadis.

Cing!

Suara itu terdengar lagi, suara lonceng.

Seseorang sedang membunyikan lonceng di Alam Arwah? Mustahil.

Namun Cecilia benar-benar mendengarnya.

CING!

CING!

CING!

Suara itu semakin jelas.

Semakin dekat.

Semakin keras.

Roh-roh yang mencengkeram Cecilia tiba-tiba berhenti bergerak. Beberapa bahkan menoleh seolah mereka juga mendengarnya.

Sang Penjaga Alam Arwah mengangkat kepalanya. Puluhan mata bergerak mencari sumber suara.

CING!

CING!

CING!

Dentang lonceng kini menggema ke seluruh alam arwah. Kabut mulai berguncang seta angin dingin berembus.

Lalu Cecilia melihat cahaya.

Sebuah api biru kecil, namun sangat terang. Api itu bergerak perlahan di antara kabut.

Mendekat.

Mendekat.

Mendekat.

Cecilia memaksa matanya yang hampir tertutup untuk melihat. Dan ia melihat sebuah lentera tua dengan nyala api biru yang tidak wajar.

Di belakang lentera itu ada seseorang. Sosok berjubah panjang. Wajahnya tertutup bayangan.

Namun entah kenapa keberadaannya membuat seluruh roh membeku. Bahkan Sang Penjaga Alam Arwah tidak langsung menyerang.

Dentang lonceng kembali terdengar.

CING!

CING!

CING!

Sosok itu berhenti beberapa langkah di depan Cecilia, lalu mengangkat lentera birunya.

Api biru menyala semakin terang.

Cecilia tidak bisa mendengar dengan jelas, namun ia yakin sosok itu sedang berbicara. Bukan kepada Cecilia, melainkan kepada Sang Penjaga Alam Arwah.

Suara mereka terdengar seperti gema jauh.

Tidak jelas.

Tidak dapat dipahami.

Namun percakapan itu berlangsung.

Sang Penjaga Alam Arwah menggeram, namun sosok pembawa lentera tetap diam.

Tetap berdiri memegang lonceng dan lentera biru.

Cecilia berusaha melihat lebih jelas. Namun cengkeraman pada wajahnya semakin kuat. Pandangannya mulai tertutup.

Kabur.

Gelap.

Cecilia hanya bisa melihat cahaya biru yang bergoyang perlahan. Seperti bintang kecil di tengah malam.

Lalu seseorang berteriak.

"Cecilia?!"

Suara itu terdengar jauh. Sangat jauh.

"Cecilia?!"

Teriakan kedua terdengar lebih jelas.

"Cecilia?!"

Suara itu penuh kepanikan dan kecemasan. Seolah seseorang sedang mencarinya dan menariknya kembali ke suatu tempat.

"Cecilia?!"

Air mata mengalir di wajah gadis itu. Entah kenapa suara itu terasa sangat hangat, akrab, dan menenangkan.

Tubuhnya yang lemah perlahan berhenti melawan. Kelopak matanya terasa berat.

Lonceng masih berdentang, api biru masih menyala.

Suara itu masih memanggil namanya.

Lalu seseorang berbicara. Dekat sekali dengan suara lembut dan tenang. Seolah berada tepat di samping telinganya.

"Ayo kita kembali, Tuan Putri."

Cecilia membeku.

Suara itu begitu asing. Namun pada saat yang sama entah kenapa terasa sangat familiar, seolah ia pernah mendengarnya. Dahulu sekali.

Kelopak mata Cecilia perlahan menutup, cahaya biru memudar.

Dentang lonceng semakin jauh.

Suara-suara roh menghilang.

Raungan Sang Penjaga Alam Arwah lenyap seketika.

Dan hal terakhir yang Cecilia dengar sebelum kesadarannya benar-benar tenggelam adalah suara lembut itu sekali lagi.

"Ayo pulang, Tuan Putri."

Lalu kegelapan menelan Cecilia sepenuhnya.

1
Septi Wijaya
so emosional tp lega
Hary Nengsih
lega dh gak merasa bersalah lg
Eli Rahma
semangat Lowan..
Wenty Lucia Wardhani
aku terharu sekali😭😭😭
Nisfu Romadhon
/Sob//Sob//Sob/mengandung 🧅🧅🧅ihh k Othor,,,
Archiemorarty: Selanjutnya lebih banyak bawang 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
mengsedih /Cry/Rowan yang kuat ya
Nisfu Romadhon
ishh,,, ikut ngerasain nyesek nya Rowan,,, rindu sedih dan kecewa pada dirinya sendiri,,,hiks/Sweat/
Archiemorarty: Apalagi meninggal karena salah komando si Rowan 😭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
aisshh,,, akhir bab mengandung bawang 🧅🧅🧅hiks,,, Rowan teringat paman Colton sang Guru /Sob//Sob//Sob/
Archiemorarty: Nanti bakal lebih banyak bawang 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
hih,,, dasar curang,,,g berani ngadepin Cecil sendirian mesti minta bantuan monster-monster lainnya buat pengalih perhatian,,, Cecil aku mendukungmu,,,kamu pasti bisa 💪💪💪
Archiemorarty: biasa lah yah, pengecut mah gitu 🤭
total 1 replies
Hary Nengsih
lanjut
Archiemorarty: Siap kakak 🥰
total 1 replies
Nisfu Romadhon
aishh,,, musuh kembali datang
Nisfu Romadhon
aihh aihh,,,baru sadar udah dapat kissing aja Cecil,,, dasar Lowan mengambil kesempitan dalam kesempatan,,, ehh /Chuckle/
Archiemorarty: Abang Lowan emang suka gitu 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
g sadar bacanya sambil nahan nafas,,,huft,,,baru dihela nafas nya kalo bab nya selesai 🤦🫣
Archiemorarty: Napas kak napas 🤣
total 1 replies
Nisfu Romadhon
Rowan kah yang memanggil?
serius,,, seperti nonton film kolosal,,, KEREN k Othor,,, lopiyu muachh /Kiss/
Archiemorarty: Hahaha...kolosal nggak tuh 🤣
total 1 replies
Nisfu Romadhon
aduh,,,aduh,,, gimana ini gimana ini,,,/Gosh//Gosh//Gosh/menghilanglah Cecil,,,🫣🫣🫣
Nisfu Romadhon
aihh,,, merinding guys,,,/Panic//Panic//Panic/
Nisfu Romadhon
aisshh,,,gegara kesibi duta,,,aku telat tegang nya /Facepalm/
Siti Nurjanah
oh berati arwah yg ngikutin rowan itu paman colton mungkin
Archiemorarty: Bisa jadi 🤭
total 1 replies
Hary Nengsih
kaya nya ia
Eli Rahma
apa cecil dirasuki roh nya paman colton..hingga dia bisa menghadapi monster....cecil kan pernah melihat satu roh yg selalu mengikuti Rowan....iyaaa..pasti itu rohnya paman colton..iyaa kan thor??😆
Nisfu Romadhon: iya tuh✌️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!