Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.
Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.
“Aku pensiun.”
Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.
Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.
Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.
Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:
Membuka sebuah restoran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 – Nama Besar, Reaksi Datar
Hari perlahan bergeser menuju petang.
Cahaya matahari yang tadinya hangat kini mulai meredup, menyisakan semburat jingga yang menyelinap masuk melalui jendela restoran. Suasana yang sebelumnya ramai kini mulai lengang.
Satu per satu pelanggan telah pergi.
Meja-meja kosong.
Kursi-kursi ditata kembali.
Dan akhirnya—
Pelanggan terakhir keluar.
Pintu tertutup.
Namun—
Masih ada satu meja yang belum beranjak.
Di pojok ruangan.
Tiga orang itu.
Duduk tenang.
Seolah waktu tidak berlaku bagi mereka.
Di atas meja mereka—
Mangkuk dan piring kosong menumpuk.
Bukan satu atau dua.
Melainkan… banyak.
Sangat banyak.
Lu Qiang yang berdiri tak jauh dari sana hanya bisa menatap dengan ekspresi aneh.
Ia mendekat ke Zhao dan berbisik pelan.
“Tuan…”
Zhao melirik.
“Ada apa?”
Lu Qiang menunjuk halus ke arah meja itu.
“Apa ada yang salah dengan otak mereka?”
“…?”
“Setelah makan sebanyak itu… kenapa mereka tidak pergi juga?”
Zhao menatap ke arah meja pojok.
Lalu mengangkat bahu santai.
“Entahlah.”
Ia menyilangkan tangan.
“Mungkin perut mereka terlalu berat untuk diangkat.”
“…!”
Lu Qiang langsung menahan napas.
Beberapa mantan bandit di belakangnya juga ikut menahan tawa.
Bibir mereka bergetar.
Hampir pecah.
Namun mereka berusaha menahan.
Di sisi lain—
Yueling keluar dari dapur sambil mengelap tangannya yang masih sedikit basah.
Ia melirik ke arah meja itu.
Lalu ke Zhao.
“Sayang… bukankah kita seharusnya mengingatkan mereka kalau kita akan tutup?”
Zhao mengangguk.
“Benar juga.”
Ia melangkah maju.
“Baiklah, aku yang akan bicara.”
Langkahnya santai.
Namun setiap langkah terasa jelas di ruangan yang kini hampir kosong itu.
Ia berhenti di depan meja mereka.
“Apakah makanan di sini sesuai dengan selera kalian, pelanggan?”
Nada suaranya tenang.
Sopan.
Namun tidak berlebihan.
Pria tua itu tertawa kecil.
“‘Sesuai’?” ulangnya. “Ini… luar biasa.”
Ia menggeleng pelan.
“Siapa sangka… ada restoran sehebat ini di kota yang terlupakan seperti ini.”
Zhao tersenyum tipis.
“Anda terlalu memuji.”
Pria tua itu perlahan berdiri.
Gerakannya tenang.
Namun matanya menatap Zhao dengan lebih dalam.
“Bolehkah aku tahu…” katanya pelan, “…apa rahasia membuat makanan seenak ini?”
Zhao terkekeh ringan.
“Rahasia?”
Ia menggeleng.
“Tidak ada yang namanya rahasia.”
Ia menunjuk ke dapur.
“Aku hanya menambahkan berbagai rempah.”
Jawabannya sederhana.
Namun—
Pria tua itu justru mengangguk.
“Begitu ya…”
Ia tersenyum tipis.
“Jadi itu yang membuat semuanya… penuh cita rasa.”
Ia melirik sekeliling restoran.
Sunyi.
Sederhana.
Lalu kembali menatap Zhao.
“Bukankah sayang…” katanya perlahan, “…jika makanan selezat ini terus berada di kota kecil seperti ini?”
Zhao mengangkat satu alis.
“Oh?”
“Apa maksudmu?”
Pria tua itu menyatukan kedua tangannya di belakang punggung.
“Bukankah lebih baik…” lanjutnya, “…anda membuka restoran di kota besar?”
Ia melangkah satu langkah.
“Tempat dengan keuntungan lebih besar. Pengaruh lebih luas.”
Matanya menyipit.
“Sungguh rugi rasanya… jika makanan seperti ini tidak berkembang lebih jauh.”
Sunyi.
Kalimat itu menggantung di udara.
Namun—
Zhao tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap pria tua itu.
Dalam.
Tenang.
Beberapa detik berlalu.
Lalu—
Ia menghela napas panjang.
Dan—
Menggeleng.
Pelan.
Namun jelas.
“…?”
Ekspresi wanita di samping pria tua itu langsung berubah.
Tersinggung.
“Apa maksudmu—”
Namun Zhao lebih dulu berbicara.
“Saya memaklumi.”
Nada suaranya santai.
Namun ada sesuatu di dalamnya.
“Karena Anda masih awam soal bisnis.”
Ia berhenti sejenak.
Lalu menambahkan dengan santai—
“Atau… sudah tua?”
BUK!
Meja bergetar.
Wanita itu menggebrak keras.
“Jaga ucapanmu!”
Aura marah langsung terpancar.
“Apakah kau tidak tahu kalau kami—”
“Wang Yihan!”
Suara pria tua itu tiba-tiba memotong.
Keras.
Tegas.
“Tutupi mulutmu!”
Ruangan langsung sunyi.
Wang Yihan tersentak.
Tubuhnya menegang.
Namun akhirnya…
Ia menunduk.
Diam.
Pria muda di sampingnya langsung maju sedikit.
Berusaha meredakan suasana.
Sementara itu—
Zhao hanya melirik sekilas.
Lalu berkata santai.
“Sepertinya… kau tidak mendidik cucumu dengan baik? Dan nona, tolong jangan memukul meja lagi, itu mahal.”
Wang Yihan menggertakkan giginya.
Ia ingin membalas.
Namun—
Tatapan kakeknya menghentikannya.
Ia menelan kembali kata-katanya.
Pria tua itu lalu menangkupkan kedua tangannya.
“Maafkan… atas sikap kasar cucuku.”
Nada suaranya tulus.
“Dia terlalu dimanjakan.”
Zhao mengibaskan tangannya.
“Tidak masalah.”
Ia tersenyum tipis.
“Anak muda memang sering mengalami fase pemberontakan.”
Pria tua itu ikut tersenyum.
Namun—
Detik berikutnya—
Senyum Zhao menghilang.
Nada suaranya berubah.
Lebih rendah.
“Namun…”
Tatapannya menajam.
“…dilihat dari penampilan kalian… sepertinya kalian bukan pengembara biasa, ya?”
…!
Ketiga orang itu langsung tertegun.
Udara berubah.
Seperti sesuatu yang tak terlihat mulai menekan.
Zhao melanjutkan.
“Kalian rela menunggu sampai sekarang.”
Ia menyilangkan tangan.
“Pasti ada hal penting yang ingin dibicarakan.”
Tatapannya lurus ke pria tua itu.
“Jadi…”
Nada suaranya datar.
“…apa yang sebenarnya kau inginkan?”
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Detik itu—
Atmosfer berubah drastis.
Lu Qiang dan para mantan bandit di belakang Zhao langsung bergerak.
Pelan.
Namun pasti.
Mereka mengepung.
Senjata mulai ditarik.
Kilatan logam terlihat.
Wang Yihan dan pria muda itu langsung bersiaga.
Aura mereka meningkat.
Tipis.
Namun terasa.
Pria tua itu berkeringat tipis.
Namun—
Ia tetap tenang.
Beberapa detik kemudian—
Ia menghela napas.
Lalu—
Melepas topi jeraminya.
Wajah tuanya kini terlihat jelas.
Tatapannya dalam.
“Maafkan kekasaran kami, tuan.”
Ia menangkupkan tangan.
“Kami tidak bermaksud jahat.”
Ia melirik sekeliling.
“Sudah sewajarnya jika kami berhati-hati… saat berada di wilayah musuh, bukan?”
Zhao mengangkat tangannya.
Memberi isyarat.
Lu Qiang dan yang lain berhenti.
Namun tetap waspada.
Zhao menatap pria tua itu.
“Kalian… dari fraksi ortodoks?”
Pria tua itu mengangguk.
“Benar.”
Ia menarik napas.
“Mungkin ini terlambat…”
Ia sedikit membungkuk.
“Namaku Wang Jianhong.”
Nada suaranya tenang.
“Seorang tetua dari Klan Wang… salah satu klan besar di benua pusat.”
Wang Yihan langsung melepas topinya juga.
Dagunya terangkat sedikit.
“Wang Yihan.”
Nada suaranya tegas.
“Nona ketiga Klan Wang.”
Pria muda itu ikut maju.
Lebih sopan.
“Wang Zhenyu.”
Ia menangkupkan tangan.
“Putra suci terpilih.”
Suasana hening.
Mereka bertiga menatap Zhao.
Menunggu reaksi.
Wang Yihan bahkan menyunggingkan senyum miring.
Heh…
Sudah kuduga…
Dia pasti akan terkejut.
Bagaimanapun… dia hanya orang rendahan.
Setelah ini… dia pasti akan berlutut dan menjilat nama klan kami.
Namun—
Yang terjadi…
Tidak sesuai harapan.
Zhao hanya berdiri.
Diam.
Wajahnya datar.
Tanpa perubahan.
Tanpa kekaguman.
Tanpa rasa takut.
Ia mengangguk kecil.
“Oh?”
Nada suaranya santai.
“Klan Wang?”
Ia menguap kecil.
“Okelah.”
…
…?
…?!
Suasana langsung membeku.
Canggung.
Sangat canggung.
Wang Yihan berkedip.
Sekali.
Dua kali.
“…apa?”
Wang Zhenyu juga tertegun.
Sementara Wang Jianhong—
Untuk pertama kalinya—
Ekspresinya benar-benar berubah.
Karena reaksi itu…
Bukan sekadar tidak takut.
Melainkan—
Benar-benar… tidak peduli.