bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.
Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. DOMBA BAKAR DAN LOGIKA YANG RETAK
Ibu Kota Aethelgard adalah kota yang dibangun di atas kepalsuan. Cahaya kristal mana yang menerangi jalanan utamanya begitu terang, namun bayang-bayang di gang-gang sempitnya jauh lebih pekat daripada di Ovelia.
Arka berjalan di tengah, jubah abu-abunya berkibar pelan tertiup angin malam yang dingin. Di belakangnya, Tiga Fajar dan dua Murid Bayangan berjalan dengan ritme yang sinkron. Sejak menginjakkan kaki di gerbang kota, Arka sudah merasakan setidaknya selusin mata-mata yang mengawasi mereka. Namun, ia terlalu malas untuk peduli.
"Guru, perutku sudah mulai protes," Jiro mengeluh sambil memegangi perutnya. "Semua restoran di jalan utama tadi terlihat seperti tempat di mana kita harus menggunakan sepuluh jenis garpu hanya untuk makan sepotong daging. Aku ingin makanan yang... normal."
Valen menatap barisan restoran mewah dengan rasa asing. Dahulu, ia akan bangga masuk ke sana. Namun sekarang, setelah seminggu makan masakan rumah sederhana di mansion Arka, ia merasa tempat-tempat itu terlalu "berisik" dengan aroma parfum bangsawan.
"Ikuti aku, Ada sebuah tempat di Distrik Ketiga. Gangnya sempit, tapi kakekku sering mengajakku ke sana secara rahasia saat aku masih kecil."
Kelompok itu mengikuti Seraphina menyelinap masuk ke dalam labirin gang sempit yang jauh dari lampu-lampu kristal utama. Di sana, aroma rempah yang tajam dan daging panggang menyambut mereka. Seraphina berhenti di sebuah kedai tua tanpa papan nama, hanya ada kepulan asap yang membawa aroma kebahagiaan murni.
"Tempat ini?" Jiro mengendus udara dengan semangat. "Seraphina, aku mulai menyukaimu. Baunya jauh lebih baik daripada parfum mahal di jalan utama tadi."
"Kedai Domba Bakar Pak Tua Garem," Seraphina tersenyum tipis. "Satu-satunya tempat di Ibu Kota yang tidak peduli kau bangsawan atau pengemis, asalkan kau punya koin dan nafsu makan."
Namun, langkah mereka terhenti di depan pintu kedai. Delapan pria berbadan besar dengan zirah kulit yang kasar menghalangi jalan. Mereka adalah preman bayaran, tentara bayaran kelas rendah yang biasanya disewa oleh rival politik untuk "menyambut" tamu yang tidak diinginkan.
"Valen? Seraphina?" Salah satu preman, seorang pria dengan bekas luka di mata kirinya, meludah ke tanah. "Keluarga Alaric benar-benar sudah jatuh miskin sampai mengirim anak-anak mereka makan di tempat sampah ini?"
Valen melangkah maju, namun tangan Arka menahan bahunya. Arka bahkan tidak menatap para preman itu; ia justru menatap langit malam dengan bosan.
"Latihan lapangan, lawan kita bukan seorang bangsawan" gumam Arka. "Jiro, Kael, Elara... berikan jalan untuk junior kalian. Valen, Seraphina... tunjukkan padaku bahwa latihan dengan Lyra bukan sekadar membuang waktu. Bereskan mereka dalam sepuluh detik. Jika ada noda darah yang mengenai piring di dalam, kalian tidak dapat jatah makan malam."
Mata Valen dan Seraphina berkilat. Bagi mereka, ini bukan sekadar preman; ini adalah penghinaan terhadap jalan baru yang mereka tempuh.
"Sepuluh detik terlalu lama, Guru," bisik Seraphina.
Dalam sekejap, keheningan menyelimuti gang itu. Tidak ada teriakan perang. Tidak ada mantra yang menggelegar. Seraphina bergerak seperti bayangan yang terlepas dari cahaya. Tombak kayunya menyodok titik saraf di leher preman pertama sebelum pria itu sempat mencabut pedangnya. Di sisi lain, Valen bergerak dengan efisiensi yang mengerikan. Ia tidak menebas; ia menggunakan gagang pedangnya untuk menghantam ulu hati lawan dengan presisi yang hanya bisa didapat dari latihan repetitif ribuan kali.
Tak! Bruk! Tak!
Tepat pada detik ketujuh, kedelapan pria itu sudah terkapar di tanah, pingsan tanpa sempat mengeluarkan suara. Jiro, Kael, dan Elara hanya menonton sambil bersedekap, memberikan tatapan menilai seolah sedang melihat pertunjukan sirkus yang kurang menantang.
"Bagus," Arka melangkah melewati tubuh-tubuh yang terkapar. "Masuk. Aku lapar."
...
Usai makan malam yang penuh dengan lemak domba dan tawa kasar, mereka menuju Kediaman Alaric. Mansion itu adalah simbol kekuasaan, pilar-pilar marmer setinggi sepuluh meter dan barisan ksatria penjaga yang berdiri kaku di setiap sudut.
Kepala pelayan Hans menyambut mereka di aula utama. Wajahnya pucat saat melihat Valen dan Seraphina pulang tanpa pengawalan resmi, melainkan bersama rombongan yang tampak seperti petualang liar.
"Tuan Muda, Nona... Tuan Alaric masih berada di perbatasan, namun beliau memberikan instruksi agar kalian beristirahat di sayap barat," Hans membungkuk, namun matanya terus mencuri pandang ke arah Arka.
"Kami butuh tempat latihan sebentar sebelum tidur," ucap Valen. "Tubuhku terasa kaku."
Kepala Pelayan Hans membawa mereka ke Ruang Latihan Utama, sebuah aula raksasa dengan lantai marmer yang diperkuat sihir dan barisan ksatria elit keluarga yang sedang melakukan latihan rutin. Para ksatria itu berhenti, menatap sinis ke arah rombongan Arka yang tampak santai.
"Tuan Muda Valen, Nona Seraphina," sapa Kapten Ksatria Alaric dengan nada meremehkan. "Ibu Kota bukan tempat untuk bermain petualang-petualangan. Mungkin kalian ingin melihat bagaimana ksatria sungguhan berlatih?"
Arka hanya menguap, lalu bersandar pada pilar marmer. "Jiro. Valen. Seraphina. Gunakan area tengah. Simulasi tempur tanpa suara. Jika aku mendengar suara dari pergerakan langkah dan senjata yang terlalu keras, kalian semua lari sepuluh putaran mengelilingi mansion ini besok pagi."
Hans dan para ksatria elit ternganga. Simulasi tempur tanpa suara? Itu adalah teknik tingkat tinggi yang bahkan sulit dilakukan oleh Jenderal Kerajaan.
Jiro melangkah ke tengah, pedang kayunya disandarkan di bahu. Di hadapannya, Valen dan Seraphina mengambil posisi. Tidak ada kuda-kuda kaku. Mereka berdiri tegak, namun keberadaan mereka seolah perlahan memudar dari pandangan.
"Mulai," ucap Arka lirih.
Dalam sekejap, aula itu berubah menjadi panggung kengerian bagi para penonton. Valen melesat, bukan dengan teriakan, melainkan dengan Void Step yang ia pelajari dari Lyra. Ia bergerak seperti asap yang tertiup angin. Di sisi lain, Seraphina memutar tombaknya dengan rotasi yang begitu halus hingga tidak menciptakan desiran angin sedikit pun.
Jiro menyeringai. Ia harus menggunakan tangan kirinya sekarang.
Tak. Tak.
Hanya ada suara ketukan kayu, seperti tetesan air di atas batu tanpa henti. Valen menyerang dari titik buta Jiro, namun Jiro berputar di atas satu kaki, membiarkan pedang kayu Valen lewat hanya seujung rambut dari lehernya. Di saat yang sama, tombak Seraphina meluncur seperti ular, mengincar pergelangan kaki Jiro.
"Luar biasa..." gumam Kapten Ksatria yang menonton. Ia tidak bisa mengikuti kecepatan mereka dengan matanya. "Mereka bertarung dalam kecepatan suara, tapi tidak ada kebisingan? Bagaimana mungkin?"
Pertarungan itu adalah sebuah simfoni yang elit. Valen dan Seraphina kini bergerak sebagai satu kesatuan. Saat Valen menekan dari depan dengan tebasan presisi, Seraphina menutup jalur pelarian Jiro. Jiro, yang biasanya mendominasi, kini mulai dipaksa berkeringat. Ia mengeluarkan teknik Flowing Void untuk menangkis serangan gabungan mereka, namun Valen berhasil membaca gerakannya, sebuah perkembangan yang mustahil terjadi dalam 7 haru lalu.
Di detik terakhir, Jiro melakukan tusukan ke arah dada Valen, sementara tombak Seraphina sudah berada di depan tenggorokan Jiro, dan pedang Valen tertahan di rusuk Jiro.
Mereka bertiga mematung. Sebuah posisi Seri (Draw) yang sempurna.
Keheningan di aula itu begitu pekat hingga suara napas Hans terdengar jelas. Para ksatria elit keluarga Alaric hanya bisa berdiri mematung dengan tangan gemetar di gagang pedang mereka. Mereka sadar, jika itu adalah pertarungan hidup mati, mereka semua sudah tewas sebelum sempat mencabut senjata.
"Cukup," Arka memutus keheningan. "Masih terlalu banyak gerakan tambahan. Valen, bahumu terlalu kaku di detik kelima. Seraphina, rotasi tombakmu telat sepersekian detik. Jiro... kau hampir saja dipermalukan oleh asistenmu sendiri."
Jiro menyeka keringat di dahinya, lalu tertawa kecil ke arah Valen dan Seraphina. "Hebat. Kalian benar-benar sudah tidak 'berisik' lagi."
Hans jatuh terduduk di kursi terdekat, wajahnya pucat pasi. Ia segera mengambil pena dan kertas, menuliskan laporan darurat untuk Alaric dengan tangan yang masih gemetar: "Tuan... Tuan Muda Valen dan Nona Seraphina bukan lagi ksatria. Mereka telah menjadi bayangan yang bahkan tidak bisa saya sentuh dengan pandangan mata."
Arka menguap panjang. "Hans, tunjukkan kamarku sekarang. Dan jika besok pagi ada yang berteriak-teriak di depan pintuku, aku tidak menjamin mansion ini masih akan berdiri tegak."
...
Larut malam, Valen berdiri di balkon sayap barat, menatap rembulan yang menggantung di atas Ibu Kota. Pakaian sutra yang ia kenakan sekarang terasa gatal dan tidak nyaman, jauh berbeda dengan kain kasar yang biasa ia pakai di penginapan Ovelia.
Langkah kaki halus terdengar di belakangnya. Jiro muncul, membawa sebotol jus buah yang ia curi dari dapur.
"Masih tidak bisa tidur, Tuan Muda?" goda Jiro.
Valen menghela napas, menumpukan lengannya di pagar marmer. "Jiro... tadi di gang itu, saat aku menjatuhkan preman-preman itu... aku merasa lebih hidup dari pada saat aku menerima medali emas di akademi."
Jiro meminum jusnya, lalu menyandarkan punggungnya di pagar. "Valen, di akademi kau diajarkan untuk menjadi kuat agar dipuji. Di tempat Guru Arka, kami diajarkan untuk menjadi kuat agar tidak mati konyol. Itu bedanya."
"Aku takut, Jiro," bisik Valen. "Aku takut jika suatu saat nanti aku harus kembali ke kehidupan palsu di mansion ini. Pujian orang-orang di sini terasa asin di telingaku sekarang."
Jiro tertawa kecil. "Asin? Mungkin itu keringatmu sendiri yang masuk ke telinga. Dengar, Valen... Guru Arka tidak peduli kau tidur di atas sutra atau di atas jerami. Yang dia peduli adalah apakah kau bisa tetap bergerak dalam diam. Selama kau ingat cara mengayunkan pedangmu tanpa 'berisik', kau akan selalu merasa hidup."
Valen menoleh, menatap Jiro yang terlihat sangat santai meski berada di jantung kekuasaan musuh. "Terima kasih, Jiro. Dan maaf... dulu aku benar-benar menganggapmu sampah."
...
Di ruang bawah tanah mansion, Hans sedang menulis surat dengan tangan yang sangat gemetar.
"Kepada Tuan Alaric," tulisnya. "Tuan Muda Valen dan Nona Seraphina telah kembali. Mereka tidak membawa sekutu... mereka membawa bencana. Anak-anak Anda telah menjadi monster yang bisa menghancurkan standar kerajaan dalam sekali serang. Dan pria bernama Arka itu... dia adalah badai yang sedang beristirahat. Mohon segera kembali, atau Ibu Kota ini akan berubah menjadi arena permainan mereka."
Di kamar paling pojok, Arka sudah terlelap dalam kegelapan total. Ia tidak peduli pada surat Hans, tidak peduli pada preman di gang, dan tidak peduli pada marmer yang retak. Baginya, satu-satunya yang penting adalah besok turnamen harus segera dimulai, agar ia bisa segera mengakhiri perjalanan 'berisik' ini.