"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Kamu Calon Istriku
"Deana, pergi makan siang dengan Suster Ina, dari tadi kamu belum makan apa-apa, kan?" ujar Mommy Ellen.
Deana menoleh pada Mommy Ellen, "Nanti saja Nyonya."
Sebenarnya Deana sudah sangat tidak nyaman, tapi Lena masih memberatkan Deana untuk pergi. Lena masih nyaman dan ingin ditemani Deana.
"Suster Ina, belikan saja makan siang untuk semuanya. Ini uangnya." ucap Reno lalu membuka dompet dan mengambil beberapa lembar uang lalu memberikannya pada Suster Ina.
"Baik Tuan." Suster Ina menurut dan langsung bergegas pergi dari ruangan itu untuk mencari makanan.
"Reno, Daddy pergi dulu." ujar Tuan Samuel lalu mendekati Nyonya Ellen dan mencium keningnya.
"Daddy hati-hati, nanti ke sini lagi kan?" tanya Nyonya Ellen pada suaminya.
"Iya Mom, Daddy ingin menemui Jordi sebentar." ucapnya memberikan kejelasan.
Nyonya Ellen mengangguk. Ia tidak bertanya lebih lanjut karena Tuan Samuel sudah berjalan keluar dan menutup pintu kamarnya.
Tersisa Reno, Mommy Ellen dan Deana saja yang sedang menunggu Lena.
Lena masih fokus dengan acara kartun yang disiarkan di dalam TV LED di depannya itu. Begitu juga dengan Deana yang setia mengelus tangan kecil Lena dan menunggunya. Lena terbaring lemah di atas brankar dan menempelkan tubuhnya di tubuh Deana. Mereka berdua terlihat sangat dekat sekali.
"Lena harus istirahat." ucap Reno sambil melihat ke arah jam tangannya.
Deana mengangguk, "Len harus tidur siang, sudah ya nonton TV nya." ucap Deana lalu mencari keberadaan remot yang ia letakkan di sisi bantal Lena.
Lena tidak merengek, ia justru mengangguk dan menurut dengan ucapan Deana.
"Iya Kakak Cantik!" ucap Lena lalu membaringkan tubuhnya, memposisikannya miring dan memeluk tubuh Deana.
Reno mendengus tipis, putrinya lebih menurut ucapan perempuan yang baru dikenalnya satu hari daripada dengannya yang bertahun-tahun.
Deana bingung karena Reno menatapnya penuh tanda tanya, padahal Deana sendiri juga jauh lebih bingung kenapa Lena sangat nempel dan dekat sekali dengannya.
"Kakak Cantik tidur di atas sini sama Len! boleh kan Dad?" tanya Lena agar sang Daddy ikut membolehkannya.
"Ya." balas Reno mengangguk.
Sementara Mommy Ellen berdiri dan menyiapkan selimutnya, "Tidur di atas saja Deana dengan cucuku." ucap Mommy Ellen mempersilahkan.
Deana tidak bisa mengelak lagi, "Eum, Tuan Reno bisakah jangan menatapku terus, aku... ingin berbaring di sini." ucap Deana karena Reno menatapnya seolah tak mau melepaskannya.
Reno mendengus pelan, "Jangan GR, saya hanya melihat putri saya, bukan kamu."
"Reno... Duduklah di sofa." usir Mommy Ellen pada Reno.
Deana merasa dapat dukungan dari Mommy Ellen. Walaupun begitu, Deana masih ingat rasa sakit yang diberikan oleh Mommy Ellen untuknya.
"Oma, apa boleh Len panggil Kakak Cantik dengan sebutan Mommy? tapi Daddy...." lirik Len pada Reno.
"Kenapa dengan Daddy, Len?" tanya Reno menunjuk kepada dirinya sendiri.
"Kata Daddy, Mommy Len cuman Mommy Bella...." lanjut Lena pelan sekali.
Reno menghela napasnya berat, jika mendengar nama almarhumah istrinya, rasa sakit, hampa, sedih, bahagia, tercampur jadi satu.
"Iya." sahut Reno.
Lena menunduk sedih.
Deana serba bingung, "Len nggak boleh sedih, Len panggil Kakak saja ya, Kakak kan sudah jadi Kakaknya Len. Sudah ayo sekarang Kakak temani Len tidur." ucap Deana menengahi.
Mommy Ellen tidak bisa menjawab apapun, ia hanya diam di tempat.
Lena mengangguk dalam diam. Karena Deana sudah membaringkan diri di samping Lena, Lena kembali tersenyum dan langsung memeluk tubuh ramping Deana. Menenggelamkan seluruh wajahnya pada tubuh Deana.
"Jangan banyak bergerak, nanti impusnya bergeser, sini Kakak pegangi ya." Deana menarik lembut tangan kanan Lena dan menggenggamnya pelan.
Reno melihat semua perlakuan Deana dengan baik. Pantas saja cepat akrabnya, Deana saja memperlakukan putrinya seperti anaknya sendiri. Pikir Reno.
***
Mendengar kabar Lena masuk rumah sakit, Zavia bergegas pulang membawa anak-anaknya untuk menjenguk Lena.
Zavia bersama Noah dan kedua anaknya langsung menuju ruangan perawatan Lena.
Saat sudah sampai di sana, Lena sudah tertidur pulas seorang diri, dan yang lain sedang menikmati makan siangnya.
"Astagfirullah, bagaimana bisa terjadi dengan Lena." Zavia teriris melihat tubuh kecil Lena terpasang alat impus itu.
"Lah? Ini kamu...." Zavia mengingatnya, "Astaga kenapa bisa kamu ada di sini?" pekik Zavia menatap wajah Deana yang sedang makan di ujung sofa itu.
"Bun, jangan berisik." ujar Noah memperingatkan, "Aku bawa anak-anak keluar ya Bun, nanti kalau Lena sudah bangun, aku bawa anak-anak ke sini lagi." pamit Noah lalu menggiring kedua anaknya keluar.
Zavia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia masih menatap kebingungan.
"Zavia, dia... Deana." ucap Mommy Ellen.
Zavia semakin ternganga dibuatnya, ia mendekati Deana dan mengelus pundaknya, "Jadi... Ini calon istrimu, Dek?" tanya Zavia menatap Reno yang sedang mengunyah makanannya itu.
Suster Ina hampir tersedak mendengar penjelasannya, ia juga bingung tapi berusaha untuk mencocok-cocokkan dengan kejadian yang ada.
Reno mengangguk.
Zavia tersenyum manis, "Cocok! Kakak suka. Deana, kenalkan saya Zavia, Kakaknya Reno, semoga kamu suka ya dengan keluargaku."
Deana membalas anggukan sangat kaku, "Sa..saya, Deana, Mbak." ucapnya memperkenalkan diri.
Mommy Ellen menghela napasnya panjang, "Tapi dia perempuan murahan yang menjebak Adikmu di hotel, apa maksud tujuanmu seperti itu, Deana?" tanya Nyonya Ellen menatap Deana.
Deana yang ingin kembali memakan makananya langsung terdiam, ia melirik semuanya bergantian.
"Mom, ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya, kasihan Deana lagi makan. Sudah Reno katakan jika di sini Deana tidak salah, Reno yang salah." Reno angkat bicara dan menjelaskannya.
Deana menundukkan kepalanya pelan, hatinya sudah adem dan tenang kembali panas, "Maaf Nyonya. Saya bukan perempuan murahan, saya masih memiliki harga diri." balas Deana tegas lalu berdiri.
"Saya... izin pulang. Lena sudah tidur." Deana mencoba memberikan senyum terbaiknya. Makan siang pun sudah tidak berselera di mulutnya.
Deana melangkahkan kakinya keluar dengan cepat dari ruang perawatan Lena.
Reno mendengus pelan, "Mommy masih saja membahasnya, kasihan Deana jika harus difitnah terus-terusan seperti tadi."
"Apa sih maksudnya, Zav tidak mengerti kemana arah pembicaraan kalian." ujar Zavia.
"Daddy dan Mommy dari pagi merendahkan Deana, bahkan mereka menamparnya. Padahal Lena masih ingin dekat dengan Deana, bagaimana nanti kalau bangun Lena mencari Deana. Reno sudah lelah membujuknya." Reno menatap Mommy Ellen.
"Ah ya, Mommy lupa... Maafkan Mommy, Reno."
"Seharusnya Mommy meminta maaf pada Deana."
Zavia tercengang mendengar penjelasan dari Reno.
"Sudah... Sudah, jangan ribut. Kasihan anakmu." ucap Zavia.
"Mommy tidak sudi jika Deana menjadi menantu Mommy." ucap Nyonya Ellen bersedekap dada.
"Maksudnya... Kamu dan Deana sudah...??" tanya Zavia kebingungan.
Reno mengangguk, "Iya."
"Astaga, lalu pernikahannya?"
"Tetap dilaksanakan." balas Reno lalu keluar dari ruangannya dan mengejar Deana. Malam nanti ia akan membicarakan pernikahan kontraknya dengan Deana.
"Reno!" tegas Mommy Ellen.
"Mommy diamlah. Reno sudah dewasa, sudah tahu mana yang terbaik untuk Reno." balas Zavia.
"Zav, tolong Mommy."
Zavia mengangkat kedua bahunya acuh, "Mom, biarkan Reno mengurusi hidupnya sendiri."
"Lebih baik Reno menikah dengan Fiona."
"Mungkin Reno ingin menebus kesalahannya, Mom. Kenapa sih Mommy dan Daddy tidak mengiyakannya saja, Lena juga menyayangi Deana. Bukankah itu yang Daddy dan Mommy inginkan?"
Mommy Ellen mendengus kasar, "Tapi Deana bukan wanita baik-baik. Kalaupun hamil, pasti bukan anak kandung Reno."
Zavia meraup wajahnya kasar, "Mom... Kalau Reno mengambil jalan pernikahan, bukankah berarti Reno sendiri yang mengambil kewanita*an pertama Deana?"
Mommy Ellen membuang wajahnya kasar seolah tidak ingin lagi mendengar penjelasan dari putri sulungnya.
***
"Deana tunggu!" pekik Reno lalu berhasil menarik tangan Deana.
Deana menangis, Reno bahkan bisa melihat dengan jelas saat Deana menghapus air matanya.
"Saya mohon, demi Lena saja." ucap Reno lalu melepaskan tangan Deana.
"Saya akan mengirimkan uang sesuai jumlah yang kamu inginkan." lanjut Reno lagi agar Deana mau tetap di sana menemani putrinya.
"Jangan membuat aku terlihat benar-benar seperti wanita murahan, Tuan. Aku tidak butuh uang." balas Deana.
Reno mengangguk, "Kamu calon istriku, hari selasa kita melangsungkan pernikahan."
Deana menggeleng, tentu saja ia menolak, "Tidak perlu, untuk apa."
Reno memejamkan matanya pelan, "Saya takut... Kamu hamil anakku."
Deana menggeleng, "Tidak akan pernah."
"Memangnya kamu Tuhan?"
Deana mendengus kesal, kenapa Reno suka sekali membuatnya darah tinggi.
"Saya mohon kamu tetap di sini untuk menemani putriku."
Deana mengangguk, "Aku di kantin, kalau Lena mencariku, temui aku saja." balas Deana lalu melangkahkan kakinya.
Reno menghela napasnya lega karena Deana mudah dibujuk jika berkepentingan dengan putrinya.
...----------...
...Hai pembaca setia kesayanganku😍🤗❤ tolong dong dukungannya untuk Author agar bisa up lebih banyak lagi.... Pencet tombol like, beri hadiah dan jangan lupa beri komentar sesuka hati kalian❤️ salam hangat dari Author untuk kalian, semoga tetap suka dengan ceritanya😘🙏🏻...
...Saran dan masukkan; IG: @dddd_your...
...----------...