Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Nyawa
Proses itu dimulai saat matahari Caracas naik tepat di atas kepala, memanggang atap seng rumah Miguel. Helen duduk di hulu tempat tidur, memeluk kepala Ario di dadanya dan menekan bahu suaminya dengan seluruh berat badannya.
"Ario, dengarkan suaraku... kau kuat... kau harus bertahan demi kita," bisik Helen di telinga Ario.
Begitu pisau bedah Elena menyentuh kulit Ario, sebuah jeritan tertahan keluar dari tenggorokan pria itu. Tubuh Ario mengejang hebat. Otot-otot lehernya menegang seperti kabel baja. Helen merasakan tangan Ario mencengkeram pahanya dengan sangat kuat, kukunya menembus kain celana Helen hingga berdarah, namun Helen tidak melepaskannya.
Darah mulai mengalir ke lantai semen. Elena bekerja dengan kecepatan luar biasa di bawah cahaya lampu baterai yang dipegangi Miguel. Suasana di dalam gubuk itu terasa seperti di dalam neraka; panas, pengap, dan dipenuhi aroma amis darah yang menyengat.
Setiap kali Elena merogoh ke dalam jaringan daging Ario untuk mencari peluru timah itu, Ario mengerang—sebuah suara yang tidak akan pernah Helen lupakan seumur hidupnya. Suara seorang pria yang sedang dirobek jiwanya.
"Sedikit lagi..." gumam Elena, peluh bercucuran dari dahinya.
Ting.
Sebuah bunyi logam jatuh ke dalam nampan kecil. Peluru itu berhasil dikeluarkan.
Ario seketika lemas. Kepalanya terkulai di dada Helen. Napasnya sangat tipis, seolah nyawanya baru saja ikut tercabut bersama timah panas itu. Elena segera menjahit luka itu dengan benang kasar, membungkusnya dengan kain bersih yang telah direbus.
****
Dua jam kemudian, Dokter Elena mengemasi peralatannya. Ia menatap Helen dengan tatapan iba. "Dia selamat dari prosedur ini. Tapi dia butuh antibiotik. Tanpa itu, demam akan datang dan sisa pekerjaanku akan sia-sia."
"Di mana saya bisa mendapatkannya?" tanya Helen, tangannya masih gemetar.
Elena menghela napas. "Di pasar gelap. Harganya sangat mahal. Atau Anda harus menunggu keajaiban."
Setelah dokter itu pergi, Helen terduduk di samping ranjang Ario. Miguel memberikan segelas air dan sepotong arepa (roti jagung) keras untuk Helen. Helen menolak makanan itu; perutnya terlalu mual oleh aroma darah dan kecemasan.
Ia menatap Ario yang kini terlelap dalam tidur yang menyakitkan. Wajah suaminya yang biasanya kaku dan penuh rahasia kini tampak rapuh. Di rumah kecil di Caracas ini, segala kemewahan, dendam, dan strategi perusahaan terasa begitu jauh dan tak berarti.
Helen meraih tas kecilnya yang tersisa. Di dalamnya ada kalung emas peninggalan ibunya—satu-satunya harta yang belum sempat dirampas oleh Beatrix.
Ia menatap Miguel yang sedang duduk di ambang pintu, menghisap rokok lintingan. Helen mendekati pria tua itu dan menunjukkan kalungnya.
"Tolong," bisik Helen, menunjuk ke arah kalung lalu ke arah Ario. "Antibiotik. Obat."
Miguel menatap kalung itu, lalu menatap Helen. Ia tahu nilai kalung itu di pasar gelap Caracas bisa memberi makan keluarganya selama satu tahun. Namun ia juga melihat cinta yang membara di mata wanita asing ini—jenis cinta yang melampaui bahasa dan batas negara.
Miguel mengangguk khidmat. Ia mengambil kalung itu dan berjanji akan kembali sebelum matahari terbenam.
****
Di Jakarta, Beatrix van Amgard sedang berdiri di balkon kantornya yang megah, memandangi kemacetan Jakarta yang abadi. Ia baru saja menerima laporan bahwa perahu nelayan yang membawa Ario ditemukan terdampar di La Guaira, kosong.
"Venezuela," gumam Beatrix, sebuah senyum sinis tersungging di bibirnya. "Tempat yang sempurna untuk mati. Di sana, nyawa manusia lebih murah daripada seliter bensin."
Bambang masuk dengan tablet di tangannya. "Nyonya, tim kita di Caracas sudah mulai bergerak. Mereka sedang menyisir klinik-klinik ilegal dan lingkungan barrio. Jika mereka masih hidup, mereka pasti mencari bantuan medis."
"Jangan hanya dicari, Bambang," desis Beatrix, ia memutar tubuhnya, matanya berkilat jahat. "Sogok polisi setempat. Berikan mereka foto Ario. Katakan dia adalah gembong narkoba internasional. Aku ingin rakyat Venezuela sendiri yang mencabik-cabik mereka sebelum tim kita sampai."
Beatrix berjalan menuju meja kerjanya, mengambil sebuah dokumen legal. Ia baru saja menyelesaikan proses likuidasi aset terakhir keluarga Kusuma. Secara teknis, Helen Kusuma kini tidak memiliki sepeser pun uang di bank mana pun di dunia.
"Menderita pulalah di sana, Helen," bisik Beatrix. "Mati dalam kemiskinan di tanah asing adalah hukuman yang jauh lebih indah daripada peluru di kepala."
****
Malam jatuh di Caracas. Miguel kembali dengan sebuah botol kecil berisi pil antibiotik dan beberapa ampul vitamin. Ia juga membawa kabar buruk: polisi mulai berkeliling di bawah lereng bukit, menunjukkan foto seorang pria yang sangat mirip dengan Ario.
Helen memberikan dosis pertama obat itu pada Ario, menghancurkan pilnya dan mencampurnya dengan air untuk diminumkan perlahan.
Ario membuka matanya sedikit. Ia melihat Helen, wajahnya yang cantik kini kotor oleh debu dan darah, namun matanya memancarkan kekuatan yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Helen..." suara Ario hampir tak terdengar.
"Ssh... jangan bicara," Helen mengusap rambut Ario. "Kita aman di sini. Untuk sementara."
Ario memegang tangan Helen dengan lemah. Di tengah kepungan kemiskinan Caracas, di dalam gubuk yang nyaris runtuh, dan di bawah ancaman pemburu bayaran Beatrix, sebuah perasaan baru mulai bersemi di antara mereka. Bukan lagi sekadar mitra karena terpaksa, tapi dua jiwa yang telah dibaptis oleh penderitaan yang sama.
"Kita akan kembali, Ario," bisik Helen, menatap bintang-bintang di sela lubang atap seng. "Dan kali ini, akulah yang akan memastikan Beatrix merasakan apa yang kita rasakan sekarang."
Perjalanan mereka di Caracas baru saja dimulai, dan di negeri yang sedang hancur ini, mereka akan belajar bahwa satu-satunya hal yang lebih kuat dari dendam adalah keinginan untuk bertahan hidup bersama.
****
Cahaya matahari Caracas yang garang mulai merayap masuk melalui celah-celah dinding kayu gubuk Miguel, menciptakan garis-garis debu yang menari di udara yang pengap. Di atas ranjang kayu yang reot, Ario Diangga membuka matanya perlahan. Langit-langit seng yang berkarat adalah hal pertama yang ia lihat. Rasa sakit di bahunya tak lagi menghujam seperti pisau yang diputar-putar, melainkan berubah menjadi denyutan tumpul yang konstan—tanda bahwa demam maut yang sempat membakarnya mulai surut.
Ia menolehkan kepala dengan kaku. Di sana, duduk di atas lantai semen yang dingin, Helen Kusuma tertidur dengan kepala bersandar di tepi ranjang. Wajahnya yang dulu selalu bersih dan bersinar kini kusam oleh debu, matanya sembab, dan ada bekas noda darah yang sudah mengering di lengan bajunya.
Tangan Ario yang bebas bergerak gemetar, mencoba menyentuh rambut Helen yang berantakan. Sentuhan itu sangat ringan, namun cukup untuk membuat Helen tersentak bangun.
"Ario?" Helen langsung tegak, matanya yang lelah seketika membelalak penuh harapan. "Kau sudah sadar? Kau bisa mendengarku?"
Ario hanya bisa mengangguk lemah, tenggorokannya terasa seperti padang pasir yang kering. "Air..." bisiknya parau.
Dengan sigap, Helen mengambil cangkir plastik berisi air bersih yang telah disiapkan Miguel. Ia membantu Ario minum sedikit demi sedikit, menyangga kepala suaminya dengan kelembutan yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Air itu terasa seperti nektar kehidupan bagi Ario.