Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.
Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.
Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.
Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.
Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:
Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?
- Believe in magic -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Sendok yang Mendekat
Suasana restoran masih tenang, lampu gantung memancarkan cahaya keemasan yang lembut di atas meja makan. Denting halus peralatan makan terdengar seperti irama pelan yang teratur. Laura Roberts duduk dengan punggung tegak, namun tangannya masih terlihat kaku saat memegang garpu dan pisau.
Ia sudah mencoba meniru cara makan Nyonya Quenza sebelumnya, tapi tetap saja… gerakannya terasa tidak alami. Setiap potongan makanan terlihat seperti ujian, setiap gerakan terasa diawasi, dan itu membuatnya semakin tidak nyaman.
Martin, yang sejak tadi memperhatikan, akhirnya menghela napas panjang. Wajahnya jelas menunjukkan rasa jengkel yang sudah ia tahan cukup lama.
“Berhenti,” ucapnya tiba-tiba.
Laura menatapnya, bingung. “Apa?”
Martin menggeleng pelan, lalu mengambil alih piring Laura tanpa banyak bicara. “Kamu makan seperti sedang belajar pertama kali. Kaku, lambat, dan membuatku ikut lelah melihatnya.”
Laura mengerutkan dahi, sedikit tersinggung. “Aku sudah berusaha—”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Martin sudah memotong makanan di piring itu dengan rapi. Gerakannya cepat dan terlatih, berbeda jauh dengan Laura yang masih canggung.
Lalu… tanpa peringatan, Martin mengangkat sendok dan mengarahkannya ke Laura.
“Buka mulut.”
Laura langsung membeku.
Matanya melebar, tubuhnya kaku. Ia menatap sendok itu seolah itu adalah sesuatu yang aneh.
Suasana di meja mendadak sunyi.
Nyonya Quenza juga terdiam, matanya membesar sedikit melihat tindakan anaknya yang tidak biasa itu.
Laura masih tidak bergerak.
“Apa lagi sekarang?” tanya Martin, nada suaranya mulai tidak sabar. “Kamu mau makan atau tidak?”
Laura menelan ludah. Ia belum pernah… disuapi seperti ini. Di dunia sebelumnya, ia selalu melakukan semuanya sendiri. Mandiri, cepat, dan tanpa bantuan siapa pun.
Perasaan ini… asing.
“Kenapa… kamu melakukan ini?” tanyanya pelan.
Martin mengangkat alis. “Karena kalau menunggu kamu makan sendiri, makanan ini bisa dingin duluan.”
Nyonya Quenza menutup mulutnya, menahan senyum kecil. Ia tidak menyangka Martin akan melakukan hal seperti ini.
Laura masih ragu, tapi perlahan ia membuka mulutnya.
Sendok itu masuk dengan hati-hati.
Dan saat makanan itu menyentuh lidahnya, bukan rasanya yang membuatnya terdiam… tapi perasaan aneh yang muncul di dalam dirinya.
Hangat.
Aneh.
Dan… tidak ia mengerti.
Ia menatap Martin tanpa sadar.
Martin tidak terlihat canggung sama sekali. Ia hanya fokus memotong makanan berikutnya, seolah hal ini adalah sesuatu yang biasa.
“Jangan melamun. Habiskan,” katanya datar.
Laura tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, ia merasa seperti seseorang yang… diperhatikan.
Bukan sebagai penyihir.
Bukan sebagai seseorang yang harus kuat.
Tapi… sebagai manusia yang boleh lemah.
Ia menunduk sedikit, membiarkan Martin menyuapinya lagi.
Nyonya Quenza akhirnya tersenyum hangat melihat pemandangan itu. “Kalian ini… benar-benar pasangan yang unik.”
Martin mendengus pelan. “Jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin melihat dia makan seperti itu lagi.”
Laura mencebik kecil, tapi tidak membalas. Anehnya, kali ini ia tidak merasa tersinggung.
Waktu makan pun berlalu dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Setelah beberapa saat, suasana kembali tenang. Piring-piring mulai kosong, dan pelayan datang mengganti dengan minuman hangat.
Nyonya Quenza lalu menatap Laura dengan lembut, seolah baru mengingat sesuatu.
“Oh iya, Laura,” katanya santai. “Besok mama kamu dan papa kamu datang.”
Laura langsung berhenti bergerak.
Tangannya yang memegang gelas sedikit bergetar.
“Orang… tuaku?” ulangnya pelan.
Nyonya Quenza mengangguk. “Iya. Mereka bilang ingin menjengukmu. Wajar saja, kamu sempat sakit. Mereka pasti khawatir.”
Laura terdiam.
Pikirannya mendadak kosong.
Orang tua?
Ia tidak punya jawaban untuk itu. Ia tidak punya kenangan. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap.
Ia menatap ke bawah, mencoba menyusun pikirannya yang mulai kacau.
“Kenapa?” tanya Martin, memperhatikan perubahan ekspresinya. “Kamu tidak senang?”
Laura menggeleng cepat. “Bukan begitu… aku hanya…”
Ia terdiam lagi.
Bagaimana ia harus menjelaskan? Ia bahkan tidak tahu siapa orang-orang itu. Bagaimana mereka berbicara, bagaimana hubungan mereka dengan Laura yang asli.
Ia merasa seperti seseorang yang akan memasuki ujian tanpa persiapan.
“Masih bingung karena amnesia?” tanya Martin lagi, nadanya sedikit lebih lembut dari biasanya.
Laura mengangguk pelan. “Aku… tidak ingat apa-apa tentang mereka.”
Nyonya Quenza tersenyum menenangkan. “Tidak apa-apa, sayang. Pelan-pelan saja. Mereka orang tuamu, mereka pasti mengerti.”
Laura mengangkat wajahnya, menatap wanita itu. Ada kehangatan di sana, kepercayaan yang tulus.
Namun justru itu yang membuatnya semakin gugup.
Ia takut.
Takut tidak bisa menjadi “Laura” yang seharusnya.
Takut membuat kesalahan.
Dan yang paling menakutkan…
Takut rahasianya terbongkar.
Martin menatapnya beberapa detik, lalu berkata singkat, “Jangan terlalu dipikirkan. Hadapi saja besok.”
Laura menatapnya kembali. Kali ini, ia tidak melihat kekesalan di sana. Hanya ketegasan.
Ia menarik napas panjang.
“Baik,” jawabnya pelan.
Malam itu berakhir dengan perasaan yang berbeda dari sebelumnya.
Bukan lagi tentang kebingungan menghadapi dunia manusia.
Tapi tentang sesuatu yang lebih besar—
Menghadapi masa lalu yang bahkan bukan miliknya.
Dan untuk pertama kalinya sejak menjadi manusia, Laura merasa…
Bahwa tantangan terbesarnya bukan dunia ini.
Melainkan peran yang harus ia jalani di dalamnya.