Ketika banyak wanita yang membuangku sistem Harem ku aktiv dan siap untuk membuat mereka yang membuangku menyesal.. !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karensi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Suasana di lobi kampus perlahan-lahan mulai mencair setelah ketegangan drama harem tadi pagi berhasil diredam dengan sangat sempurna. Bella dan Clara akhirnya pamit untuk masuk ke kelas mereka masing-masing karena jam perkuliahan sudah hampir dimulai. Sebelum pergi, keduanya sempat memberikan tatapan manja yang sangat manis, membuat beberapa mahasiswa jomblo di sekitar koridor menatap gue dengan pandangan mata yang penuh dengan rasa iri dengki yang amat sangat mendalam.
Gue baru saja berniat untuk berjalan menuju area kantin untuk sekadar menikmati segelas es kopi susu saat Bu Diana mendadak berbalik badan menatap gue dengan senyuman yang sangat misterius namun penuh dengan daya pikat wanita matang yang luar biasa seksi.
"Raka, kamu ikut Ibu sekarang ke gedung laboratorium terpadu fakultas kedokteran di lantai tiga ya. Ada beberapa berkas riset ilmiah penting yang perlu Ibu tunjukkan dan diskusikan secara pribadi dengan kamu terkait proyek semester ini," ucap Bu Diana dengan nada suara yang sengaja dibuat agak formal agar tidak memicu kecurigaan mahasiswa lain yang sedang berlalu lalang di koridor.
Gue menatap wajah cantiknya yang anggun, lalu beralih menatap layar hologram sistem yang mendadak muncul memberikan notifikasi deteksi situasi dengan warna merah muda yang sangat menggoda.
"Misi Harian Terdeteksi. Ikuti target Bu Diana menuju laboratorium kosong fakultas kedokteran sore ini. Berikan waktu berduaan yang intim dan manjakan ego target sebagai wanita dewasa yang ingin dihargai. Hadiah Penyelesaian: Keahlian Deteksi Suasana Hati Level Dua, Tambahan Saldo Uang Tunai Lima Puluh Juta Rupiah, dan Poin Sistem bertambah Dua Ratus Poin. Hukuman Jika Gagal: Poin kasih sayang Bu Diana akan turun sebesar Sepuluh Persen karena merasa diabaikan oleh Tuan Rumah."
Gue tersenyum sangat tipis membaca isi misi harian yang beneran sangat menyenangkan ini. Tanpa ada perintah misi dari sistem pun, gue jelas tidak akan pernah menolak ajakan manis dari dosen tercantik sekampus ini untuk menghabiskan waktu berduaan saja di tempat sepi.
"Baik, Bu Diana. Saya akan ikuti Ibu dari belakang," jawab gue dengan nada suara bariton yang sangat patuh namun memancarkan tatapan mata yang penuh arti langsung ke dalam manik mata indahnya.
Kami berdua berjalan beriringan menyusuri koridor kampus menuju gedung fakultas kedokteran yang letaknya agak sedikit terpisah di bagian belakang kompleks universitas. Sore ini suasana di sekitar gedung laboratorium terpadu tampak cukup sepi karena sebagian besar mahasiswa kedokteran sedang melakukan praktik lapangan di rumah sakit pusat kota.
Bu Diana mengeluarkan sebuah kartu akses digital dari dalam tas kulit mahalnya, lalu menempelkannya ke panel pintu ruangan laboratorium anatomi nomor empat yang berada di pojok paling ujung koridor lantai tiga.
Pip
Pintu besi tebal itu terbuka perlahan, memperlihatkan sebuah ruangan laboratorium yang sangat luas, bersih, dingin karena pendingin ruangan yang menyala aktif, dan dipenuhi oleh berbagai peralatan medis canggih serta beberapa manekin anatomi tubuh manusia di sudut ruangan. Aroma antiseptik yang khas langsung menyengat rongga hidung gue begitu kami berdua melangkah masuk ke dalam.
Bu Diana langsung mengunci pintu besi tersebut rapat-rapat dari dalam, memutar grendel kuncinya dua kali hingga terdengar suara klik yang sangat jelas di keheningan ruangan sepi ini. Dia kemudian meletakkan tasnya di atas meja praktikum panjang berbahan stainless steel, lalu berbalik badan menatap gue sambil melepaskan kacamata bacanya dengan gerakan yang sangat lambat dan sensual.
"Bu Diana, katanya tadi ada berkas riset penting yang mau Ibu tunjukkan ke saya. Di mana berkasnya sekarang, Bu?" tanya gue dengan senyuman paling menggoda sambil melangkah maju mendekati posisinya berdiri.
Bu Diana tertawa kecil, suara tawa renyahnya terdengar sangat merdu sekali di dalam ruangan laboratorium yang sunyi ini. Dia berjalan mendekati tubuh tegap gue, memperkecil jarak di antara kami berdua hingga aroma wangi parfum mawar mewahnya yang sangat sensual langsung tercium kuat mengusik iman gue.
"Raka, kamu itu beneran cerdas atau pura-pura polos sih? Kamu beneran percaya kalau Ibu mengajak kamu ke laboratorium kosong yang sepi ini cuma buat membaca lembaran kertas riset yang membosankan itu, hm?" bisik Bu Diana dengan nada suara yang sangat manja dan serak, sepasang mata indahnya menatap lurus ke dalam bola mata gue dengan pandangan penuh gairah asmara wanita dewasa yang sedang rindu berat.
Gue menghentikan langkah kaki gue tepat beberapa sentimeter di depan tubuh moleknya. Dengan menggunakan kekuatan Fisik Level Dua, gue bisa merasakan detak jantung Bu Diana yang berdegup sangat kencang dan cepat menahan ket ketakutan sekaligus kegembiraan yang luar biasa besar karena nekat melakukan aksi berani ini di lingkungan kampus.
"Oh, jadi Ibu Diana yang terhormat ini sedang menggunakan wewenangnya sebagai dosen untuk menculik mahasiswa tampannya ke tempat sepi seperti ini ya?" balas gue dengan nada suara rendah yang sangat seksi, langsung mencengkeram lembut pinggang rampingnya menggunakan kedua tangan kekar gue.
Tubuh Bu Diana mendadak menjadi agak kaku namun lemas seketika saat merasakan sentuhan hangat dan dominan dari tangan gue di pinggangnya. Dia tidak menolak sama sekali, kedua tangan indahnya justru perlahan naik mengalung mesra di leher tegap gue, mendongakkan wajah cantiknya yang sudah merona merah padam luar biasa indah.
"Ibu beneran cemburu sekali melihat kamu dikelilingi oleh cewek-cewek muda seperti Bella dan Clara tadi pagi di depan gerbang, Raka. Ibu merasa sangat tersisih karena status Ibu sebagai dosen yang harus selalu menjaga jarak di depan umum. Ibu juga ingin ego Ibu dimanja oleh pria sehebat kamu, Raka. Malam ini, Ibu cuma mau kamu menjadi milik Ibu seutuhnya tanpa ada gangguan dari siapa pun di ruangan ini," aku Bu Diana dengan sangat jujur dan tulus, seluruh dinding pertahanan gengsinya sebagai dosen langsung runtuh lebur tak berbekas di depan pesona kharisma dewa gue.
Gue mengaktifkan Keahlian Manipulasi Pikiran Level Dua secara halus dipadukan dengan Aura Intimidasi Raja Level Satu untuk memancarkan gelombang kenyamanan dan gairah maskulin yang sangat kuat mengikat jiwanya. Gue menarik tubuh sintalnya hingga menempel erat di dada bidang gue, membuat Bu Diana refleks mendesah pelan merasakan kehangatan yang luar biasa nyaman dari tubuh tegap gue.
"Lu tenang saja, Diana. Di dalam ruangan ini, gue bukan lagi mahasiswa bimbingan lu, dan lu bukan lagi dosen gue. Di sini, gue adalah pria dominan yang akan mengabulkan semua keinginan terbesar di dalam hati lu," ucap gue dengan nada suara bariton yang sangat dalam penuh otoritas pria sejati sebelum akhirnya gue menundukkan kepala dan menyatukan bibir kami dalam sebuah kecupan yang sangat panas, dalam, dan penuh dengan luapan rasa cinta yang membara di atas meja praktikum laboratorium sepi malam itu.
Layar hologram keemasan milik sistem langsung muncul terang benderang di depan pandangan mata gue memberikan pengumuman kemenangan yang sangat luar biasa manis sekali.
"Misi Harian Selesai Sempurna! Target Bu Diana berhasil dipuaskan egonya secara emosional dan fisik di dalam laboratorium sepi. Poin kasih sayang Bu Diana meroket tajam dari Delapan Puluh Delapan Persen melonjak mantap menembus angka Sembilan Puluh Lima Persen! Mencairkan hadiah baru Keahlian Deteksi Suasana Hati Level Dua, Tambahan Saldo Uang Tunai Lima Puluh Juta Rupiah sukses masuk rekening, dan Poin Sistem bertambah Dua Ratus Poin. Total Poin Sistem Tuan Rumah saat ini adalah Tiga Ribu Poin!"
Gue tersenyum sangat lebar di dalam hati membaca pengumuman kesuksesan mutlak tersebut. Kerajaan harem gue beneran semakin berjalan kokoh dan tak terkalahkan, memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke atas meja laboratorium kedokteran di bawah kendali penuh kharisma dewa gue.