NovelToon NovelToon
Celestia Online

Celestia Online

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Aksi / Epik Petualangan / Action
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: alicea0v

Seorang gadis terbangun di tengah rimbunnya hutan benua Vlagria tanpa ingatan bagaimana ia bisa sampai disana. Ini adalah dunia Celestia Online, sebuah MMORPG megah yang menjanjikan petualangan tanpa batas. Namun, bagi Alice, petualangan itu berubah menjadi teka-teki mematikan. Bisakah Alice pulang ke dunia nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alicea0v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARC 1-Lahirnya Sang Dewi

Rombongan Arthur turun perlahan dari kereta dengan sangat canggung. Di belakang mereka, para ksatria segera menyusul, menambatkan kuda-kuda mereka pada pagar kayu rumah warga dengan gerakan yang teratur. Mereka berkumpul di depan Alice yang masih berdiri mematung di gerbang desa.

"Alice... Kami.. Telah selesai melaksanakan rencana kita." ucap Arthur sembari menegakkan postur tubuhnya. Ia menatap lurus ke arah alun-alun desa yang mulai padat oleh manusia, menghindari kontak mata langsung dengan Alice.

"Woaah..." mata Xena berbinar-binar menatap kumpulan persembahan di alun-alun, dan tentunya.. Anggur.

"Xena.." panggil Alice dengan nada suara yang begitu dingin.

"A.. Alice?" Xena menoleh dengan gerakan kaku.

Alice tersenyum cantik, sebuah lengkungan bibir yang sebenarnya menyimpan kekesalan mendalam.

Ia tidak pernah menyangka rencananya untuk menyebarkan ajaran dewi akan berubah menjadi kekacauan yang tak terkendali seperti ini. Dalam bayangannya, sosok dewi yang ia ciptakan hanyalah untuk membuat orang-orang berdoa di rumah masing-masing dan menjadi sumber informasi rahasia tentang cara "pulang ke dunianya", bukan malah memicu migrasi besar-besaran yang ribut ini.

"Coba jelaskan, apa maksud dari semua ini? Kenapa saat aku bangun tidur, sudah ada kuil? Warga Desa sebelah kenapa kesini? Terlebih lagi lihat ini!" Alice menoleh ke arah patung dewi yang baru saja dipahat.

Patung itu menampilkan sosok dewi dengan balutan kain minimalis yang sangat jauh berbeda dari baju support sopan milik Alice. Posenya tampak berdiri anggun dengan kedua tangan terbuka seolah menampung berkah dari langit, dan yang paling aneh adalah detail di pundak sang dewi, ada sosok bayi bersayap yang terbang sembari menyiramkan anggur dari botol ke bahunya.

"Pfft..." Arthur refleks menutup mulutnya dengan satu tangan, menahan tawa yang nyaris meledak.

Tapi, ia segera terdiam membeku dan membuang muka saat merasakan tatapan tajam Alice yang menusuk indra penglihatannya.

Alice kemudian mengalihkan pandangannya, menatap anggota rombongan itu satu per satu.

"Pekerjaan kalian begitu memuaskan, aku tahu kalian melakukannya demi aku, tapi bisakah kalian, mengontrol situasinya sedikit?" ucap Alice sembari menahan emosi, meski wajahnya tetap tersenyum.

"Alice, kami hanya mengikuti perintahmu." bantah Albertio dengan nada datar dan tenang.

"Oh ya? Tentu saja.. Tapi kapan aku pernah minta di buatkan kuil dan patung?" balas Alice dengan senyum dipaksakan.

Albertio hanya terdiam, memilih untuk tidak menyulut api lebih jauh. Ia memberikan tatapan tajam kepada Xena, karena ia tahu betul siapa dalang di balik ide-ide eksentrik tersebut, Xena justru maju dengan wajah polos yang memelas.

"Alice.. Apa aku tidak boleh membantumu menguasai kerajaan ini? Aku melalukan ini, supaya dapat angg.. Maksudku supaya agamanya cepat menyebar... Hiks.. Sniff..." ucap Xena merengek manja, matanya mulai berkaca-kaca.

Alice hanya menatapnya dengan pandangan bingung.

"Anak ini... Aku kesal, tapi.. Mau memarahinya kasihan juga..." Pikir Alice penuh pertimbangan.

"Yah.. Ini tidak sepenuhnya salah Xena sih, perintahku memang tidak terlalu detail." Pikirnya lagi.

Ia kemudian menghela napas panjang, mencoba menenangkan gejolak amarah yang tertahan di dadanya.

"Hmmm.. Haaah...

Baiklah, aku memaafkan kalian, tapi tolonglah bertanggung jawab." keluh Alice sembari memejamkan mata dengan raut wajah yang tampak sangat lelah.

Saat ia membuka mata kembali, pandangannya tertuju pada kerumunan warga yang sudah duduk melingkar di Alun-alun Desa Tura.

​Di sana, pemandangan terlihat sangat teratur. Di sisi kiri, warga Desa Tura duduk membentuk formasi setengah lingkaran, sementara di sisi kanan, warga Desa Vhalha menempati posisi serupa. Mereka duduk dalam keheningan, seolah-olah sedang menunggu ceramah akbar dari sang dewi agung.

Fredrick, yang sejak tadi menyimak percakapan mereka, akhirnya angkat bicara sembari membungkuk hormat.

"Dewi, apa ada alasan khusus sehingga anda begitu marah? Apa tidak boleh membangun kuil dan patung dari Dewi?" Tanya Fredrick penuh rasa hormat.

"Ah, kamu siapa ya?" Alice bertanya balik dengan polosnya, membuat ekspresi wajah Fredrick menegang seketika.

"Dia adalah bawahanku Alice, dia bisa dipercaya, sudah 5 tahun aku melatihnya di Silph." Potong Arthur tenang.

Mendengar pengakuan dari Arthur, Fredrick langsung membusungkan dadanya dan menegakkan posturnya mantap.

"Hap..!! Saya adalah wakil kapten Arthur, semenjak kapten menghilang, saya yang menggantikan posisinya!" Balas Fredrick tegas.

Arthur menepuk bahu Fredrick pelan.

"Aku bangga padamu, Fredrick! Kau bawahan yang selalu ingin belajar." ucap Arthur dengan nada bangga, Yang seketika mengukir senyuman tersembunyi di wajah Fredrick.

"Rupanya ada juga yang mau mengikuti orang sepertimu ya, Arthur?" sindir Albertio dengan nada santai. Arthur segera menoleh ke arahnya.

"Diam kau! Kau pikir aku ini orang seperti apa?" Balas Arthur memprotes.

"Sudah-sudah, hentikan pertikaian kalian." Alice menengahi perdebatan aneh tersebut.

kemudian menatap Fredrick dengan pandangan yang lebih tenang.

"Fredrick, aku tidak marah, dan juga bukannya tidak boleh membangun kuil dan patung untukku. tapi, dengarkan aku dulu." jawab Alice tenang.

Fredrick mempertajam indra pendengaran, mencoba menyerap informasi yang akan di berikan oleh sosok Dewi di hadapannya.

Alice kembali melanjutkan ucapannya.

"aku ingin membawa kedamaian bagi dunia ini, (aku cuma mau bertahan hidup)" Alice menjelaskan sembari membatin, menatap Fredrick dengan mata yang tampak tulus.

"Menciptakan dunia yang lebih baik lagi bagi semua orang, (agar aku bisa mencari cara untuk pulang dengan tenang)" ucapnya lagi dengan anggun.

"Dan aku punya cara tersendiri Fredrick, (aku tidak mau kalian menambah masalah) maka dari itu.. Jangan lakukan sesuatu yang tidak aku perintahkan, mengerti?(jangan bikin masalah dulu sebelum aku siap, kalau tidak aku bisa mati!!!)" Alice menegaskan pesannya, meski arti dari setiap kata-katanya sangat kontras terhadap apa yang di dengar kesatria di hadapannya itu.

"Cara... Tersendiri..." gumam Fredrick dengan mata terbelalak, dan langsung berlutut dengan satu kaki di tanah, diikuti oleh 9 kesatria lainnya yang juga ikut berlutut serempak.

Trak.. Tak.. Tak..

Suara logam zirah yang beradu dengan bumi bergema di keheningan sore itu. Tubuh Fredrick dan pasukannya tampak sedikit gemetar.

"Betapa... Cerdasnya..." gumam Fredrick sembari merunduk, tidak berani menatap Alice.

Mata Alice ikut terbelalak sedikit karena terkejut, namun dengan cepat ia berhasil menguasai diri.

"EEEH?" Alice menjerit di dalam hati, walaupun wajahnya terlihat tetap tenang melihat Fredrick yang berlutut.

Arthur dan Albertio hanya menyaksikan kejadian itu dalam diam, sementara Xena tampak sama sekali tidak peduli dan asyik meminum anggur di tangannya dengan wajah yang sangat puas.

"Aaaah... Betapa cerdasnya pemikiran sang dewi.. Benar... Dewi adalah sosok agung dan bijaksana melampaui segalanya! Pemikiran dan taktik militer anda bukanlah sesuatu yang bisa di mengerti dari orang biasa seperti kami!" ucap Fredrick gemetar dengan kekaguman meledak-ledak.

Seketika gumamannya disambut oleh prajurit lain di belakang.

"Hebat.. Dewi memang maha agung."

"Sosok yang mampu melihat masa depan!!"

"Apa beliau sedang menilai dosa dari dunia ini?"

Sebutir keringat mengalir di kening Alice, meski ia tetap mempertahankan ekspresi mulianya. Tidak ingin membuat orang-orang ini terlihat lebih 'bodoh'.

"Umm.. Itu.." Alice menjulurkan tangannya hendak menyentuh bahu Fredrick yang sedang berlutut, tapi gerakannya terhenti saat Fredrick mendongak tiba-tiba dengan mata yang dipenuhi pemujaan luar biasa, membuat Alice sedikit terkejut.

"Dewi, saya tidak akan pernah mempertanyakan pemikiran Dewi Alice lagi, tapi, jika Dewi membutuhkan bantuan apapun, katakan saja pada saya!" ucap Fredrick dengan pandangan kagum berlebihan.

"SERAHKAN PADA KAMI!!! DEWI!!! teriak para prajurit di belakang Fredrick secara serempak. Suara menggelegar itu menarik perhatian seluruh warga di alun-alun.

Warga desa Tura dan Vhalha mulai berteriak dan berbisik disaat bersamaan.

"HIDUP DEWI ALICE!!!

"PASUKAN MILITER SAJA MENGERTI!!"

"KITA TIDAK SALAH MEMILIH DEWI!!

"Ini tidak masuk akal."

"Kita belum lihat berkahnya."

"Yakin dia benar-benar Dewi?"

Suara-suara itu memaksa Alice untuk memenuhi ekspektasi mereka, Alice memejamkan mata sejenak. Di tengah tatapan pemujaan dan keraguan itu, ia berpikir keras.

"Baiklah, jika memang ini konsekuensi yang harus ku ambil untuk pulang ke duniaku, maka biarlah begitu." batin alice memantapkan tekadnya.

"Xena," panggil alice dengan nada mendadak berwibawa. Membuat gadis yang sedang asyik minum anggur itu menoleh ke arahnya.

"A.. Ap.."

Belum sempat Xena menjawab Alice kembali berucap

"Sebagai utusan Dewi, tolong bersihkan kekacauan ini, ikut aku ke Alun-alun." Alice berbalik menuju alun-alun desa, berjalan dengan tenang.

Xena melirik ke arah Alice yang kian menjauh, sementara Arthur dan Albertio saling pandang, terkejut melihat perubahan sikap Alice. Mereka semua mengikuti gadis berambut merah muda itu ke tengah alun-alun Desa.

Tap.. Tap.. Tap..

Langkah kaki Alice menggema di Desa Tura, membelah kerumunan warga yang berlutut, sebagian menatap penuh pemujaan, separuh lagi masih ragu. Begitu sampai di tengah alun-alun, ia memutar tubuhnya, menaikkan dagunya sedikit, dan duduk di sebuah kursi megah yang telah disiapkan oleh warga Desa Tura.

​Xena dan Arthur berdiri sigap di sisi kiri Alice, sementara Violet dan Albertio berjaga di sisi kanannya. Mereka berdiri bagaikan pilar-pilar kokoh yang menjaga kemuliaan sang dewi. Fredrick dan pasukan pun ikut bergabung, berlutut di antara kerumunan warga.

"Xena, tolong sampaikan pidatonya?" perintah Alice mantap.

"Alice.. Sebaiknya.. " Arthur mencoba mencegah, namun Xena sudah lebih dulu membuka suara.

"Para pengikut Dewi, Terima kasih sudah berkumpul di Desa ini. Ada berita besar untuk kalian semua!!" seru Xena dengan lantang.

"Berita?" pikir Alice, ia merasa ada yang aneh. Tapi sedikit penasaran dan membiarkan Xena melanjutkan pidatonya.

Warga mulai berbisik, kebingungan dengan pengumuman tersebut. Xena lalu mengangkat tongkatnya ke atas langit, setinggi-tingginya.

"Ibu Dewi kita yang agung, adalah ibunda dari Dewa ATHOOOS!!!" teriak Xena lantang sambil menembakkan proyektil sihir ke langit. Membuat semua mata yang melihat terbelalak.

Ssisiiiiiuuu... Duaaar...

Sihir itu merekah di langit sore dengan indah, menambah kesan mistis di alun-alun desa tersebut.

Alice hanya diam, dia tahu bahwa Xena melakukan ini semua demi membangun narasi ibu dewa yang ia katakan saat makan malam tempo hari.

Warga Tura, dan prajurit Fredrick bersorak seketika, sementara warga Vhalha masih terbelah menjadi dua kubu, sebagian percaya, separuh lagi masih enggan menerima.

"WOOOOH... HIDUP DEWI!!"

"Ibunda Dewa Athos? Pantas saja..

"Oh ibunda yang maha agung.."

Suara pemujaan di sisi kanan sangat kontras dengan keheningan penuh tanya di sisi kiri.

"Dewi!!" potong seorang warga Vhalha tiba-tiba memberanikan diri untuk bersuara, membuat suasana seketika senyap.

"Jika engkau benar-benar seorang Dewi? Berikan kami buktinya!"

"BENAR MANA BUKTINYA?!"

"ISTRIKU MENUNGGU DI RUMAH, DAN PERSEMBAHAN SUDAH KAMI BERIKAN!"

Teriakan warga Desa Vhalha menggema, membuat penduduk Desa Tura menatap mereka dengan rahang yang mengeras penuh amarah.

"Kurang ajar!!! Beraninya kau mempertanyakan keagungan Dewi?"

"Usir mereka dari sini!!!

"Dasar tidak punya malu!!!"

Keributan pun pecah, kedua kubu saling meneriaki satu sama lain, sementara beberapa orang yang masih berpikiran jernih mencoba melerai.

"Kalian mencoba menyentuh patung Dewi, lalu sekarang mempertanyakan keagungannya? Kalian harus pergi dari sini!!" teriak kepala Desa Tura, Morri, dengan emosi meledak-ledak.

"Kami butuh pembuktian!!"

"Ya... Hidup sedang susah!! Jangan memperbodoh kami!!"

"Kalian pikir cari koin gampang apa?"

Teriakan penduduk Desa Vhalha kembali menyala.

"Cukup!" ucap Alice tenang sembari mengangkat satu tangannya ke udara. Seketika, pertikaian massa itu terhenti total.

Semua orang menatap Dewi dengan penuh perhatian, Alice perlahan berdiri dari kursinya, maju satu langkah ke depan.

"Jadi, warga Desa Vhalha kemari ingin meminta berkah?" tanya Alice menatap kerumunan dengan tenang.

"Be... benar Dewi... Keluarga kami banyak yang sakit, hasil panen memburuk.. Kami meminta pertolongan anda.." ucap mumu, kepala Desa Vhalha sembari bersujud.

Semua mata kini tertuju pada Alice yang berdiri diantara mereka.

"Status." bisik Alice, sebuah layar sihir yang hanya bisa dilihat olehnya muncul di hadapan wajahnya.

[Status]

Nama: Alice

Hp: 3.000

Mp: 1.000

Alice menyipitkan matanya, sebuah kebiasaan umum saat dirinya berpikir keras.

"Apa yang harus kulakukan? Menggunakan sihir Tingkat rendah hanya butuh puluhan mana, tapi warga disini sangat banyak. Aku akan kehabisan mana dalam sekejap untuk memulihkan mereka satu per satu." pikir Alice penuh pertimbangan.

"Satu-satunya cara adalah menggunakan sihir Divine, kekuatan ini membutuhkan 300 mana, artinya. Aku hanya bisa menggunakannya 3 kali dalam sehari." batinnya lagi sambil menyapu layar status di depan matanya.

Layar status itu menghilang, Alice menatap kerumunan warga yang kini menunggunya dengan campuran emosi yang dalam. Selain warga Tura dan pasukan Fredrick yang sudah fanatik, warga Vhalha tampak masih menyimpan keraguan yang besar.

"Jika aku bisa mendapat kepercayaan mereka, mereka bisa menjadi mata dan telingaku dimana-mana, kejam sih.. Tapi ini demi bertahan hidup, dan pulang!"

"Baiklah!" ucap alice tenang,

"Aku akan memberkahi kalian semua."

Alice lalu mengangkat tangannya kedepan, tangan kirinya menggenggam kalung dewi yang telah menyatu pada kulit dadanya seperti daging. Ia mulai mengumpulkan mana, dan mulai merapal mantra.

Kumpulan mana putih menyelimuti tubuh Alice perlahan-lahan.

Ziiiiinnng....!!!!

​"Wahai kekuatan yang menghangatkan jiwa dan raga, pertolongan suci bagi mereka yang kesulitan..." bisik Alice, suaranya menggema di udara seolah diperkuat oleh sihir.

"Berkatilah mereka dengan kesehatan yang melampaui batas..."

​Hening

​"[Divine Magic: Grace of the Goddess]"

​Partikel cahaya turun perlahan dari langit bagaikan salju suci. Seketika cahaya itu menyentuh setiap orang di desa tersebut. Warga Desa Tura yang kelelahan karena membangun kuil mendadak merasa bugar kembali. Begitu pula dengan warga Desa Vhalha dan pasukan Fredrick yang baru saja menempuh perjalanan jauh, rasa letih mereka sirna, wajah mereka menjadi cerah, dan tubuh mereka terasa jauh lebih sehat dari sebelumnya.

Tubuh mumu, kepala desa Vhalha, bergetar hebat.

"Oooh... Ini... Ini......" Ia menatap tangannya yang kini terasa lebih bertenaga dengan mata terbelalak.

kapten Fredrick pun ternganga, merasakan kehangatan menjalar di seluruh tubuhnya.

"Sungguh... perasaan ini... bahkan Dewa Athos belum pernah memberikan kami perasaan seperti ini!" mata Fredrick terbelalak melihat kerumunan warga yang terdiam membeku.

"Oh betapa pengasihnya..."

"Dewi... Dia benar-benar seorang Dewi..."

"DEWIIIIII!!!!

" WOOOOOOOOH!!!! "

"AKU MERASA LEBIH KUAT!!!!"

Sorak sorai memecah keheningan Di Desa Tura, menyatukan suara dari kedua desa tersebut, bahkan sekompi prajurit pun ikut menjadi pengikut setia sang dewi Alice.

Allice menatap kerumunan itu dengan senyum tulus, meskipun niat aslinya hanya ingin pulang ke dunianya. Ia merasa ada sebuah kehangatan di dalam dadanya.

Sementara itu, jauh dari kedamaian Desa Tura, tepatnya di jantung ibu kota Eltra Celestia, terdengar langkah kaki yang ritmis di dalam sebuah perpustakaan rahasia milik petinggi katedral.

Tap... Tap.. Tap..

Langkah kaki Franscov, Leon, dan Guinevere menggema di ruangan yang dipenuhi tumpukan buku. Mereka berjalan mendekat ke arah seorang pria tua berjubah putih yang sedang membelakangi mereka.

Langkah kaki itu berhenti. Franscov yang tadinya di tuntun Guinevere, kini menatap punggung Lusputh yang sedang membaca kitab sucinya.

"Kenapa kau memanggilku kesini, tuan lusputh?" Tanya Duke Franscov tenang.

Apa yang sebenarnya terjadi? Alice bahkan sama sekali belum mengenali orang-orang ini, dan apakah perjalanannya untuk menemukan jalan pulang akan tetap berlangsung damai?

1
T28J
buset, kebablasan bah, jauh banget 20 meter 🤣
alicea0v: Eh, Kejauhan kah🤭🤭🤭 gomenasaai..
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
aku akan selalu mendukungmu/Rose/
Manusia Ikan 🫪
TUH SUDAH AKU DUGA DARI AWAL CHAPTER 🤣
Manusia Ikan 🫪: insting ku ini cukup kuat loh/Doge/
tidak ada yang kebetulan untuk nama author dan MC yang sama... kecuali keduanya saling terhubung🥴
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
inilah tantangannya :v
Manusia Ikan 🫪
semangat ya, aku juga gitu T_T
cape😅
alicea0v: makasih bg 🤣 semangat atta halilintar.
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
Hai sayang☺
Manusia Ikan 🫪
is is iiis :v
Manusia Ikan 🫪: iyaa, cantik kok kayak authornya🌹
total 6 replies
Manusia Ikan 🫪
wow bisa ganti POV gitu ya dari sudut pandang ketiga ke pertama... menarik manrik... 🥴
Manusia Ikan 🫪
ooh bagus bagus, aku bakal copy skill ini untuk ceritaku selanjutnya😜
Manusia Ikan 🫪: iya iyaaa :v
total 4 replies
Manusia Ikan 🫪
baru juga aku selesai nulis pertempuran di reruntuhan kuno juga, sama sama di ganggu oleh debu yang bikin sedak sama sakit mata😹 malah ketemu bab ini di sini, kebetulan macam apa ini. 😹
Manusia Ikan 🫪
segala ada lubang 😹
Manusia Ikan 🫪: iyaaah, maap baru hadir :v
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
uweeek daging orc🥴
Manusia Ikan 🫪
temaram artinya apa?
Manusia Ikan 🫪: oalaaah :v
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
agak kejam juga aturannya😹
alicea0v: kan dunianya jadi real gitu🤭
total 1 replies
T28J
cantik. juga si Hestia /Drool/
alicea0v: Ehehe... 🤭 apa ceritanya udah bagus kak? apa yang kurang?
total 1 replies
T28J
kasih bunga untuk 3 jam nya /Rose/
alicea0v: Terima kasih /Drool/
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
bahaya, bisa meninggal oleh tersedak kalau kayak gitu🥴
alicea0v: Roti bantal bang.. gak kesedak kok.. 😄
total 1 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
T28J
/Sob/ gak jadi sedih deh gue🤣
alicea0v: Wah makasih banyak kakak, kalau ada kritik yang membangun jangan segan-segan ya.. 🙏🙏😍😍
total 3 replies
T28J
/Sob//Sob//Sob//Sob/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!