NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Tekanan Suami

Thalia tidak pernah menyukai ruangan yang terlalu ramai.

Bukan karena ia tidak bisa bersosialisasi. Dulu, sebelum menikah dengan Rendra, ia bahkan cukup mahir berbicara di tengah banyak orang. Ia bisa berdiskusi tentang pekerjaan, menanggapi candaan, atau membangun percakapan yang membuat orang merasa nyaman.

Namun sejak menikah, semuanya berubah.

Rendra selalu berdiri di sampingnya seperti pengarah panggung. Senyum seperti apa yang harus ia perlihatkan. Jawaban seperti apa yang boleh keluar dari mulutnya. Bahkan kapan ia harus diam. Semua Rendra yang mengaturnya.

Malam ini pun sama.

Sedikit perbedaannya adalah, ada sepasang mata yang membuat semua topeng itu terasa semakin berat saat dipakai.

Arkana Dirgantara.

Thalia mencoba tidak menoleh ke arah pria itu. Setelah pertemuan singkat tadi, Rendra membawanya berkeliling lagi. Mengenalkannya pada beberapa rekan kerja, investor, dan istri-istri pejabat perusahaan. Thalia tersenyum. Menjawab seperlunya. Mengangguk saat harus mengangguk. Tertawa kecil ketika orang lain tertawa.

Namun sepanjang itu pula, ia merasakan tatapan Arkana sesekali jatuh kepadanya.

Bukan terus-menerus. Juga bukan secara terang-terangan. Tapi, justru karena itulah yang lebih mengganggu.

Tatapan itu datang di sela percakapan. Saat Thalia meraih gelas minuman. Saat Rendra terlalu erat menggenggam pinggangnya. Saat ia menahan napas karena komentar halus suaminya terdengar seperti pujian, padahal berisi perintah. Seolah Arkana memperhatikan bagian-bagian kecil yang orang lain lewatkan.

“Kamu melamun lagi.”

Suara Rendra membuat kesadaran Thalia kembali ke ruangan itu, membuyarkan lamunan yang sempat datang.

Mereka sedang berdiri di dekat meja tinggi berlapis kain putih. Di sekeliling mereka, beberapa tamu berbincang santai. Rendra baru saja selesai membicarakan proposal dengan seorang manajer senior, tapi tampaknya sebagian perhatiannya tetap tertuju kepada Thalia.

“Aku hanya lelah,” jawab Thalia.

“Ini baru satu jam,” sahut Rendra.

“Tumitku sakit,” keluh Thalia.

Rendra melirik heels yang dikenakan Thalia, kemudian tersenyum tipis.

“Kamu sendiri yang memilih sepatu itu.”

Thalia menoleh ke arah suaminya perlahan. “Benarkah?”

Senyum Rendra lenyap. Mereka berdua tahu, bukan Thalia yang memilih. Rendra yang meletakkan heels itu di depan meja riasnya sore tadi dan berkata, “Pakai yang ini agar kakimu terlihat lebih jenjang.”

Namun tentu saja, Rendra tidak akan mengakui itu di tengah acara seperti ini.

Ia mendekat sedikit, wajahnya tetap tersenyum untuk orang lain, tangannya pun tak melepaskan pinggang istrinya, tapi suaranya turun menjadi bisikan tajam.

“Jangan mulai, Lia.”

Thalia menatap gelas di tangannya. “Aku tidak mulai apa-apa.”

“Kamu berubah sejak bicara dengan Pak Arkana.”

Jantung Thalia berdetak sedikit lebih cepat. Ia mengangkat wajah. “Aku tidak berubah.”

Rendra tertawa pelan, tawa sumbang yang justru terasa menusuk di hati Thalia. “Kamu kira aku tidak lihat caramu menatap dia?”

Thalia hampir tersedak oleh napasnya sendiri. “Aku menatap dia seperti aku menatap orang lain.”

“Tidak.” Rendra mendekatkan bibirnya ke telinga Thalia. Dari luar, mereka tampak seperti pasangan mesra. “Kamu menatap dia seperti perempuan bodoh yang baru pertama kali dilihat pria berkuasa.”

Wajah Thalia memucat, entah bagaimana amarahnya mulai terpancing.

“Rendra.”

“Apa?” Rendra tersenyum sambil mengangguk kepada seseorang yang lewat. Setelah orang itu menjauh, suaranya kembali rendah. “Aku hanya mengingatkan. Jangan sampai kamu mempermalukan aku.”

Thalia menggenggam gagang gelas lebih erat. “Aku tidak pernah mempermalukanmu.”

“Kalau begitu bersikaplah seperti istriku," ucap Rendra dingin.

Thalia menelan rasa sesak yang naik ke tenggorokan. Ia ingin pergi ke toilet. Ingin membasuh wajah. Ingin menarik napas tanpa wangi parfum mahal, tanpa musik lembut, tanpa tangan Rendra yang seperti rantai tak terlihat di pinggangnya.

Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, seorang pria mendekati mereka.

“Rendra.”

Ekspresi Rendra berubah sekejap. Senyumnya kembali penuh. Bahunya tegak, dan nada suaranya ramah.

“Pak Baskara. Senang bertemu Bapak,” sapa Rendra.

Pria bernama Baskara itu tertawa. Tubuhnya agak gemuk, wajahnya ramah, dan matanya tertuju kepada Thalia tanpa diminta.

“Istrimu?”

Rendra menarik pinggang Thalia lebih dekat. “Benar, Pak. Thalia.”

Thalia tersenyum, memberikan anggukan sopan. “Selamat malam, Pak.”

“Cantik sekali.” Baskara tersenyum lebar. “Pantas saja Rendra jarang ikut makan malam setelah jam kantor. Ternyata ada yang menunggu di rumah.”

Rendra tertawa.

Thalia turut tersenyum kecil, meski dadanya terasa kosong.

“Beruntung sekali kamu, Ren,” lanjut Baskara. “Istri cantik, penurut, tidak banyak menuntut. Zaman sekarang susah mencari yang seperti ini.”

Thalia membeku.

Rendra menepuk pelan pinggang Thalia. “Saya memang beruntung, Pak.”

Baskara tertawa lagi. “Jaga baik-baik. Jangan sampai diambil orang.”

Kalimat itu dilontarkan sebagai candaan. Namun anehnya, Rendra tidak tertawa secepat sebelumnya.

Thalia merasakan jari-jari suaminya mengeras di pinggangnya. Seperti ditarik oleh naluri yang tidak ia pahami, Thalia menoleh ke arah bukan wajah suaminya.

Arkana berdiri beberapa meter dari mereka. Pria sedang memegang gelas, berbicara dengan seorang wanita berambut pendek. Namun tatapannya pada Thalia. Jelas, tajam, dan dingin. Seolah Arkana mendengar semua percakapan di sekitar Thalia. Sesaat kemudian, Thalia memalingkan wajah.

“Thalia.”

Rendra memanggil dengan suara rendah.

Thalia menoleh. “Apa?”

“Kamu menatap dia lagi,” ucap Rendra.

Thalia menghembuskan napas lelah. “Aku hanya melihat ke arah ruangan.”

“Ruangan yang kebetulan berisi Pak Arkana?” tuduh Rendra.

Thalia menggertakkan gigi pelan. “Kamu yang memperkenalkan aku kepadanya.”

“Dan kamu sepertinya terlalu menikmatinya," sambut Rendra tanpa jeda.

Ucapan itu menusuk lebih dalam dari yang seharusnya. Thalia menatap Rendra. Ia ingin bertanya apakah suaminya sadar betapa kotornya tuduhan itu. Ia ingin bertanya bagaimana mungkin Rendra yang mendorongnya hadir, memintanya bersikap manis, lalu sekarang menuduhnya menikmati perhatian pria lain.

Tapi jawabannya sudah jelas. Bagi Rendra, apa pun yang dilakukan Thalia akan selalu salah jika tidak menguntungkan pria itu.

“Permisi,” ucap Thalia akhirnya.

Rendra mengerutkan dahi. “Mau ke mana?”

“Toilet,” jawab Thalia.

“Aku antar,” tawar Rendra.

“Tidak perlu,” tolak Thalia.

“Thalia.”

Thalia menatap suaminya dengan senyum tipis yang dipaksakan. “Aku hanya ke toilet, Ren. Bukan melarikan diri.”

Rendra diam.

Untuk sesaat, Thalia melihat kemarahan kecil berkelebat di mata suaminya. Tapi karena ada banyak orang di sekitar mereka, Rendra tidak bisa menahannya terlalu kentara.

Akhirnya pria itu menurunkan tangan dari pinggang istrinya. “Jangan lama.”

Thalia tidak menjawab. Ia berjalan menjauh, melewati kelompok tamu, melewati pelayan yang membawa nampan minuman, melewati musik lembut yang terdengar semakin jauh.

Begitu sampai di koridor menuju toilet, Thalia menarik napas panjang. Udara di sana terasa lebih bersih.

Ia tidak langsung masuk ke toilet. Sebaliknya, ia berhenti di dekat jendela panjang yang menghadap ke taman hotel. Di luar, lampu taman menyala kekuningan. Air mancur kecil bergerak pelan di tengah halaman, menciptakan suara samar yang menenangkan.

Thalia meletakkan satu tangan di dada.

“Tenang,” bisiknya pada diri sendiri. “Ini hanya satu malam.”

Satu malam. Tapi, berapa banyak malam seperti ini yang sudah ia lalui?

Berapa kali ia harus berdiri di samping Rendra sambil menelan dirinya sendiri sedikit demi sedikit?

Dulu, Rendra tidak seperti ini.

Atau mungkin dulu Thalia yang terlalu jatuh cinta untuk melihat tanda-tandanya.

Awal pernikahan mereka begitu manis. Rendra perhatian, sabar, pandai membuat Thalia merasa menjadi pusat dunianya. Pria itu mengirim bunga, menunggu di depan kantor, mengucapkan hal-hal yang membuat Thalia percaya bahwa ia dicintai dengan benar.

Lalu perlahan, cinta itu berubah menjadi arahan.

Pakai ini.

Jangan bicara begitu.

Kamu terlalu keras kepala.

Aku lebih tahu.

Kamu istriku.

Dan sekarang, Thalia bahkan tidak yakin kapan terakhir kali Rendra memandangnya sebagai manusia, bukan sebagai pelengkap hidup Rendra.

Ia menutup mata sebentar, berusaha menahan semuanya seperti biasanya, mengenyahkan semua pikiran buruk yang datang ke kepalanya, membisikkan satu kalimat andalannya: semua akan baik-baik saja.

“Tumitmu benar-benar sakit?”

Suara rendah itu membuat Thalia membuka mata. Di pantulan kaca jendela, ia melihat seseorang berdiri beberapa langkah di belakangnya yang membuat tubuhnya menegang sebelum ia berbalik cepat.

. . . .

. . . .

To be continued...

1
Dewi Payang
Langsung tersindir😄
Dewi Payang
Mulai gombal🤭🤭
Dewi Payang
Sama Arkana bisa ngomong gitu, tapi sama Rendra kalah terus🤭
Zenun
juga ada obat penenang nya, yaitu Arkana
Zenun
daku kejar kak
Zenun
jan lupa kasih obat mencret
Patrick Khan
deg deg kan bacanya..😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq deg2an loh, kirain mau hiatus ini novel. trauma aq tuh
〈⎳ FT. Zira: 🙈🙈 kebanyakan karya hiatus yak🤭
total 1 replies
mery harwati
Tuan? Arkana kah itu? Atw Saka? Karena Arkana tipe orang yang bergerak di belakang layar 🤔
〈⎳ FT. Zira: hayoo siapa🤭
total 1 replies
Dewi Payang
Blencek si Rendra......
Dewi Payang
Rwndra selingkih sama Clara?
W I 2 K
makin keren Thor ceritanya....., puas mataku dimanjakan karyamu... 😍😍😍
〈⎳ FT. Zira: terima kasih banyak kaka🥰
total 1 replies
Zhu Yun💫
Padahal emaknya Thalia memberikan dukungan penuh, mungkin Thalianya saja yang tidak pernah mau terbuka. Dalam kasus yang lebih berat, sudah banyak tuntutan dari pihak suami dan keluarga suami, ditambah keluarga sendiri tidak memberikan dukungan... disini kewarasan benar-benar sangat diuji, belum lagi cemoohan dari lingkungan sekitar.... 🤧🤧🤧 eh malah curhat ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Lebih tepatnya tekanan batin ya, Thal...
MamDeyh
Lanjuuuutttt😁
MamDeyh
Lanjutt kak
Endah Puji Lestari
😍
Zhu Yun💫
Lanjut yuk lanjut /Determined//Determined//Determined/
Zhu Yun💫
Nanti kalau sudah cerai dari Rendra, jangan langsung mau sama Arkana ya, Thal 🤭🤭🤭 Biar si Ar punya gebrakan dulu 🤧🤧🤧
Zhu Yun💫
Semakin kesini aku malah lebih kepincut dengan sosok Rendra... meskipun dia licik, jahat dan endingnya sudah pasti tidak enak buat Rendra... tapi dia lebih banyak gebrakannya 🤭🤭💃💃💃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!