NovelToon NovelToon
Aku Bukan Anak Tiri

Aku Bukan Anak Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Romansa / Misteri
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Rosanda_27

Kasih Permata Sari—
gadis yang lahir tidak sempurna, dengan satu kaki yang tak berfungsi.

Sejak kecil, ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari ibunya, Rani, yang menganggapnya sebagai aib keluarga. Satu-satunya tempat Kasih bersandar hanyalah ayahnya, Raka—hingga sebuah malam mengubah segalanya.

Kecelakaan itu merenggut nyawa Raka.
Dan sejak saat itu, Kasih tumbuh bukan dengan cinta—melainkan trauma.

Kini, di balik sosoknya yang tenang dan kuat, tersembunyi rahasia besar.
Ia bukan sekadar siswi berprestasi—
Kasih adalah pemilik perusahaan besar… tanpa seorang pun mengetahuinya.

Kehidupannya mulai berubah saat dua orang masuk ke dunianya.

Edghan—yang perlahan mendekat, mencoba memahami dua sisi Kasih yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
Dan Zevan—seseorang dari masa lalu yang kembali, membawa kebenaran yang selama ini tersembunyi.

Kebenaran tentang keluarganya.
Tentang kecelakaan itu.
Dan tentang dirinya sendiri.

Di balik kebenaran yang perlahan terungkap—
siapa yang sebenarnya paling mengenal Kasih?

Dan di antara dua pilihan yang datang bersamaan—

siapa yang akan berhasil mendapatkan hatinya…
sebelum semuanya terlambat? 🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosanda_27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tujuh tahun kemudian

Tujuh tahun berlalu, tetapi tidak semua luka ikut hilang bersama waktu.

Raisa tumbuh menjadi gadis yang ceria, lincah, dan selalu mendapatkan perhatian penuh. Sementara itu, Kasih tumbuh dengan tongkat yang tak pernah lepas dari genggamannya. Tongkat itu bukan sekadar alat bantu berjalan—ia adalah saksi bisu perjuangan kecilnya setiap hari.

Siang itu, bel sekolah berbunyi nyaring. Anak-anak berlarian keluar gerbang, disambut pelukan hangat orang tua mereka. Tawa dan panggilan riang memenuhi udara.

Di antara kerumunan, Raisa berlari paling cepat.

“Mamaaa!” serunya ceria.

Rani tersenyum lembut dari balik kemudi, membuka pintu untuknya. “Hati-hati, Nak.”

Tak jauh di belakang, Kasih berjalan tergesa semampunya. Tongkatnya mengetuk trotoar dengan bunyi berulang—tok… tok… tok… Napasnya terengah, namun ia tetap memanggil.

“Mah… mama… tunggu Kasih…”

Wajah kecilnya penuh harap. Ia melihat mobil itu. Mobil yang begitu ia kenal.

Rani sempat melirik lewat kaca spion. Pandangan mereka hampir bertemu—hanya sepersekian detik. Lalu Rani mengalihkan wajahnya.

Mesin mobil menyala.

Perlahan mobil itu bergerak.

Kasih terdiam, lalu panik.

“Mama… tunggu…”

Ia mencoba mempercepat langkah, hampir setengah berlari dengan tongkatnya. Namun tongkat itu tersangkut di celah trotoar. Tubuh kecilnya kehilangan keseimbangan.

Bruk.

Ia jatuh. Lututnya tergores. Tongkatnya terlempar. Anak-anak di sekitarnya satu per satu pergi bersama orang tua mereka. Tak ada yang memperhatikan.

Air mata mengalir deras.

“Mama kenapa ninggalin Kasih…” bisiknya lirih, suaranya pecah oleh tangis.

Mas Anto, satpam sekolah, segera menghampirinya. Dengan wajah cemas ia membantu Kasih duduk dan mengambilkan tongkatnya.

“Neng Kasih, sakit ya jatuhnya?”

Kasih menggeleng pelan. “Kasih… ditinggal mamah…”

Mas Anto terdiam, menahan iba. “Udah, jangan nangis. Nanti pulangnya sama Mamang aja. Mamang anter sampai rumah.”

“Beneran, Mang?” tanya Kasih dengan mata sembab.

“Iya neng mamang yang akan mengantar neng pulang kerumah . Ucap mang Anto 

Matahari sudah tinggi ketika ia tiba di rumah. Lututnya perih, hatinya lebih perih lagi. Ia membuka pintu perlahan.

Rani sudah berdiri di ruang tamu. Raisa di sampingnya, menatap dingin.

Tanpa aba-aba, Rani menarik telinga Kasih keras.

“Kamu ke mana saja? Kenapa baru sampai sekarang?!” bentaknya tajam.

“Mah… sakit, Mah…” Kasih meringis, berusaha melepaskan diri.

Air mata kembali menggenang.

Raisa tersenyum tipis. “Mungkin keluyuran lagi, Mah. Siapa tahu main dulu biar dikasihani…”

“T-tidak, Mah…” Kasih menggeleng kuat. “Motor Mang Anto mogok. Kasih nunggu beliau benerin. Kasih tidak bohong…”

Tubuhnya gemetar. Lelah, takut, dan sedih bercampur menjadi satu.

Rani melepaskannya dengan kasar lalu berbalik pergi. Raisa ikut mengekor, sempat melirik dengan tatapan yang menyisakan luka.

Rumah kembali hening.

Kasih menyentuh telinganya yang memerah. Lalu ia berjalan tertatih menyusuri lorong.

Tok… tok… tok…

Suara tongkatnya menggema pelan.

Saat melewati ruang makan, ia mendengar suara Rani yang lembut—berbeda sekali dari tadi.

“Raisa capek ya, Nak?”

Tawa kecil terdengar.

Langkah Kasih makin berat. Ia mempercepat semampunya menuju kamar kecil di ujung lorong. Begitu pintu tertutup, pertahanannya runtuh.

Tasnya jatuh ke lantai. Ia duduk di tepi ranjang, bahunya terguncang.

“Mah… kenapa Kasih selalu salah…” bisiknya.

Tak ada jawaban.

Hanya dinding kamar yang setia menjadi saksi.

Di luar, suara tawa masih terdengar hangat.

Di dalam kamar kecil itu, seorang anak perempuan kembali belajar bagaimana caranya menahan sakit—dan tetap berdiri—meski tak pernah benar-benar dipeluk oleh kasih yang seharusnya menjadi miliknya.

1
Mitha Aj
puas bngt liat raisa kesal
Mazree Gati
tuh kan gara2 bertopeng jadi pembohong kaya authorrr,,,terutama pada dr nita
Mazree Gati
baju klo bahunya kebuka jadi sangat mahal ya
Mazree Gati
kenapa pake topeng bikin bertele tele, ,,skip,,,nunggu endingnya aja,end,,,
Rosanda_27: Sabar kak, ini masih awal, ceritanya enggak bakalan seru kalo masih di awal identitasnya terungkap.
total 1 replies
Mazree Gati
nengok sebentar,, najong kata gitu aja di ulang ulang,,oon
Mazree Gati
baru baca bab ini uda ga respek,, kasih terlalu lemah, ,end,,,
Ssl Mda
suka bgt sm kasihhh 🤭🤭
Lysia Novianna
kasian wehh😐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!