Pernah gak sih kamu lagi enak enaknya tidur, eh bangun bangun malah pindah dunia. Ini adalah kisah seorang pemuda yang baru saja lulus dari masa SMAnya, dia berusia 18 tahun, namanya Ethan Lucifer.
Dia anak yang hidup sederhana bersama orang tuanya, Ayahnya bekerja di bengkel, Ibunya bekerja di warung kecil depan rumah mereka. Alias warung mereka sendiri, warungnya berupa warung makanan.
Ethan kadang akan membantu orang tuanya berjualan, dia juga memiliki adik perempuan yang saat ini baru duduk di kelas satu SMP, dan adik laki laki yang baru masuk SD tahun ini. Keluarga mereka beranggotakan 5 orang, dan selalu harmonis.
Pesan Author: Mungkin sebagian akan berbeda dari awal alur, tapi semoga tetap bisa menikmatinya, karena di karya ini terdapat bantuan dari Ai, mohon dimaklumi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ILikeAll9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C020: Syuting Fake Best Friend & Cover Lagu Oleh Alex
...Selamat Baca...
Pagi, pukul 08.00 WAZ
Tanggal: 29 April
Lokasi: Lokasi Syuting Drama "Fake Best Friend"
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu untuk memulai proses syuting drama bertema persahabatan berjudul "Fake Best Friend".
Ethan Lucifer kembali bertindak sebagai manajer yang mendampingi Daniel Hart secara langsung.
Cuaca pagi ini terlihat mendung dan sedikit kelabu, seolah menyambut nuansa cerita yang emosional dan menyedihkan yang akan mereka bawakan.
Lokasi syuting berada di sebuah gedung sekolah bergaya klasik yang memiliki suasana tenang namun sedikit melankolis.
Sesampainya di sana, mereka disambut oleh tim produksi dan juga Sutradara Rian, serta salah satu aktor utama yang kebetulan hadir untuk memberikan dukungan, yaitu Bastian, aktor senior yang sangat dihormati di industri ini.
"Selamat pagi, Tuan Ethan. Selamat pagi, Daniel," sapa Bastian dengan wajah ramah namun berwibawa.
"Selamat pagi," sapa Ethan juga, sambil menganggukkan kepala.
"Selamat pagi, Tuan Bastian. Selamat pagi, Tuan Sutradara," jawab Daniel dengan sopan sambil membungkukkan badan sedikit, sebagai tanda hormat.
"Saya sudah mendengar banyak hal tentangmu dari Tuan Kim. Katanya bakat aktingmu luar biasa," ujar Bastian sambil menatap Daniel lekat.
"Saya sangat berharap kita bisa bekerja sama dengan baik dan saling mendukung demi hasil yang maksimal."
Daniel tersenyum lebar, matanya berbinar penuh rasa hormat. "Tentu saja, Tuan Bastian. Saya sangat berterima kasih atas kesempatan ini."
"Saya akan berusaha memberikan penampilan terbaik saya dan belajar banyak dari Bapak."
"Bagus, semangat ya," jawab Bastian tersenyum.
Proses Syuting pun dimulai, Daniel yang sudah selesai di rias dan di pakaikan kostum. Ia membungkuk pada para Aktor cilik senior, yang akan bekerja sama dengan Daniel.
"Mohon kerja samanya, Senior..." katanya dengan membungkuk, aktor cilik berusia 15 tahun itu hanya menjawab dengan ramah dan mengangguk.
Kemudian semua kru dan pemain sudah siap di posisi masing-masing. Sutradara memberikan aba-aba, dan kamera mulai berputar.
ADEGAN 1: MASA INDAH YANG TERPENDAM
Suasana berubah menjadi ceria. Daniel yang memerankan Azriel terlihat berlari kecil mengejar sahabatnya. Wajahnya berseri-seri, penuh dengan tawa dan kebahagiaan masa kecil.
"Hei, tunggu aku! Kita akan selalu bersama kan?" ucapnya dengan nada ceria dan penuh keyakinan, seolah persahabatan mereka tidak akan pernah putus selamanya.
Gerakan dan ekspresinya sangat natural, seolah dia benar-benar sedang bermain dengan sahabat sejatinya.
"CUT! Bagus! Sangat hidup! Pertahankan ekspresi itu!" seru Sutradara Rian puas.
ADEGAN 2: JARAK YANG MULAI TERBENTANG
Sekarang suasana berubah drastis. Cahaya lampu diatur sedikit lebih redup.
Di adegan ini, tokoh utama mulai berjalan menjauh menuju kelompok teman-teman barunya yang lebih populer.
Daniel berdiri agak jauh di belakang, tangannya terangkat sedikit seolah ingin memanggil namun ragu.
Wajahnya mulai menampakkan kesedihan dan kebingungan. Matanya berkaca-kaca menatap punggung sahabatnya yang mulai melupakan dirinya.
"Tunggu... kau mau pergi dengan mereka? Lalu bagaimana dengan aku?"
Suaranya pelan, bergetar, penuh dengan ketidakpastian dan rasa takut ditinggalkan.
Adegan ini berhasil membuat beberapa kru wanita yang melihat di belakang monitor ikut merasa terharu dan iba.
ADEGAN 3: PENGHIANATAN DAN KEKECEWAAN
Ini adalah adegan paling berat dan krusial.
Daniel mencoba mendekat untuk memanggil sahabatnya, namun malah dihadang dan didorong kasar oleh aktor yang berperan sebagai teman baru yang jahat. Kata-kata hinaan terlontar, membuat kepala Daniel tertunduk lesu.
Namun, yang paling menyakitkan adalah ketika dia mendongak dan menatap lurus ke arah sahabatnya sendiri yang hanya berdiri diam memandanginya tanpa berbuat apa-apa.
Air mata mulai jatuh membasahi pipinya. Suaranya pecah menahan tangis dan sakit hati. Tangannya membuat posisi yang sangat menyakitkan.
Satu tangan berkepal di dekat kepalanya, satu tangan lainnya berkepal dengan meletakkannya di pipi, dengan air mata yang ia jatuhkan seolah tangisannya tak tertahankan.
"Kenapa... kenapa kau berubah menjadi seperti ini?"
"Apa salahku?" Itu adalah kata tambahan yang tidak di sengaja tapi tetap menyambung dengan alur yang di tetapkan, dan gerakan tak terduga itu juga membuatnya mendapatkan rasa iba oleh para staff di belakang monitor.
Kalimat itu diucapkan dengan penuh emosi, penuh kekecewaan mendalam, dan keputusasaan. Suasana di lokasi syuting menjadi hening total.
Bahkan aktor utamanya pun sempat terkejut oleh tindakan dan kata tambahan buatan dari Daniel, ekpresinya mulai goyah dan sangat cocok untuk ekpresi tokoh utama yang bingung apakah dia memilih jalan yang salah.
Semua orang terpukau dengan kemampuan Daniel dalam mengeluarkan aura sedih yang begitu kuat.
"CUT!!! SEMPURNA!!!" teriak Sutradara Rian dengan nada tinggi.
Seketika itu juga tepuk tangan kerumun dari seluruh kru dan pemain peran yang ada di sana. "Serius ini baru proyek kedua mu?" Tanya aktor cilik itu, yang memerankan masa kecil tokoh utama pria.
Dia mencengkram lembut bahu Daniel sambil bertanya tak percaya, namun Daniel mengangguk menunjukkan itu adalah proyek keduanya.
"Luar biasa sekali! Kau benar benar memukau! Auranya pun membuat seseorang sedih dan merasa menyesal! Jujur aku bahkan hampir goyah dari aktingku sendiri! Kamu luar biasa!" Kata aktor itu dengan semangat tinggi, membuat Daniel menjadi merasa berguna.
Bastian yang menyaksikan dari samping pun menganggukkan kepala takjub. Bahkan sebagai penonton pun Bastian bisa merasakan, rasa sakit dan kekecewaan yang mendalam dari peran Azriel.
"Luar biasa, Daniel. Kau berhasil membawakan karakter Azriel dengan sangat sempurna. Aku yakin penonton akan menangis melihat adegan ini nanti," puji Bastian tulus.
Daniel menghela napas panjang lalu tersenyum lega sambil mengusap sisa air matanya. "Terima kasih banyak atas bimbingannya semua."
Syuting pun resmi selesai dengan hasil yang jauh melebihi ekspektasi.
***
Siang Hari besoknya
Pukul 13.00 WAZ
Tanggal: 30 April
Lokasi: Studio Rekaman Utama Lucifer Entertainment
Setelah urusan syuting Daniel selesai dengan sempurna kemarin, giliran Alexander Wright yang mendapatkan giliran fokus pengembangan bakat.
Ethan membawa Alex masuk ke dalam ruang rekaman yang kedap suara. Hari ini adalah awal dari sesi rekaman yang sangat penting.
Lagu yang akan mereka garap/cover adalah lagu berjudul "Rise Up", sebuah lagu legendaris ciptaan dari penyanyi hebat bernama Stella Maris. Untungnya urusan hak cipta telah selesai berminggu minggu lalu.
"Alex, kau sudah tahu tugasmu bukan?" tanya Ethan melalui sistem interkom dari ruang kontrol.
"Lagu ini membutuhkan kekuatan vokal, kontrol napas yang baik, dan perasaan yang sangat dalam. Ini tentang perjuangan dan kebangkitan."
"Aku tahu, Kak Ethan! Aku mengerti sepenuhnya," jawab Alex dengan penuh semangat. Ia mengenakan headphone besar, matanya terlihat fokus menatap lirik di depannya.
Proses rekaman berjalan lancar, tenang dan tidak terburu buru. Alex melakukannya dengan baik, dan berhasil menyanyikan lagu 'Rise Up' hingga tanggal 2 Mei.
Rekaman itu tidak hanya tidak dilakukan secara terburu-buru. Proses ini berlangsung intens selama 3 hari penuh, mulai tanggal 30 April hingga 2 Mei, lambat tapi penuh perasaan.
Ethan sangat teliti dan tidak mau kompromi soal kualitas.
"Belum cocok, Alex. Coba bagian verse awalnya lebih lembut dulu, lalu bangkit perlahan di bagian chorus. Kita butuh dramanya," arah Ethan.
"Oke, mengerti! Mari coba lagi," jawab Alex tak kenal lelah.
Berulang kali Alex menyanyikan bait demi bait. Kadang nadanya kurang cocok, kadang emosinya belum keluar maksimal, atau kadang teknis vokalnya belum stabil.
Namun, dengan kesabaran dan kerja keras, perlahan tapi pasti mereka menemukan kuncinya.
Hingga pada percobaan terakhir di sore hari tanggal 2 Mei, Alex berhasil menemukan warna suaranya yang paling pas.
Saat bagian high note dan lirik "Rise Up..." dinyanyikan, suaranya keluar dengan sangat jernih, kuat, stabil, dan penuh dengan semangat yang membara. Itu adalah versi yang sempurna.
"ITULAH DIA! SUARA ITU!" seru Ethan sambil bertepuk tangan keras dari ruangan kontrol.
"Sempurna, Alex! Kau berhasil melampaui ekspektasi ku. Itu adalah take terbaik!"
Wajah Alex berseri-seri, kelelahan selama tiga hari terbayar lunas sudah. "Benarkah, Kak Ethan? Aku sangat senang mendengarnya!"
"Benar sekali. Lagu ini akan menjadi pembuka jalan yang hebat untukmu," jawab Ethan bangga.
Segera setelah rekaman vokal selesai, file audio mentah diserahkan secara langsung kepada Noah.
"Noah, bahan bakunya sudah siap. Tugas selanjutnya kuserahkan padamu sepenuhnya," kata Ethan sambil menepuk bahu kreator perusahaannya itu.
"Lakukan mixing, mastering, dan tambahkan aransemen sekreatif mungkin. Buat lagu ini terdengar mahal dan profesional."
Noah menyeringai percaya diri sambil memainkan jari-jarinya di atas keyboard komputernya. "Tenang saja, Bos! Serahkan pada ahli. Dalam waktu singkat aku akan buat ini menjadi karya yang luar biasa!"
***
MALAM HARI
Pukul 20.00 WAZ
Tanggal: 2 Mei
Segala urusan administrasi, jadwal syuting, hingga proses rekaman sudah beres ditangani dengan rapi oleh tim yang solid.
Sekarang, seluruh perhatian perusahaan tertuju pada satu acara besar yang akan dimulai besok pagi. Koper-koper sudah ditata rapi, pakaian dan perlengkapan sudah disiapkan.
Ethan berdiri di depan cermin besar di ruangannya, merapikan jasnya sedikit. Besok dia tidak hanya datang sebagai bos, tapi sebagai Investor Resmi.
Di ruang tunggu, Alfian Vale sudah duduk dengan rapi. Tingginya yang mencapai 178 cm membuatnya terlihat sangat menonjol meski usianya masih sangat muda.
Wajahnya terlihat sedikit gugup namun matanya berbinar penuh antusiasme.
"Sudah siap semua barangnya?" tanya Ethan pada tim yang akan bertugas menemaninya sebentar bersama Alfian, lalu juga menatap penjaga perusahaan selama kepergiannya, yaitu Leonard dan Levian.
"Sudah sepenuhnya, Kak Ethan. Kau fokus saja ke sana, urusan di sini kami yang tangani," jawab Levian dengan yakin.
"Baik. Kita berangkat besok pagi. Tujuannya: Shine The Star!"
Perjalanan menuju panggung nasional pun segera dimulai, membawa harapan baru untuk nama Lucifer Entertainment.