"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."
Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengulitan Harga Diri di Depan Publik
Keheningan di dalam area privat restoran Italia itu terasa begitu mencekam hingga suara tetesan air es yang jatuh dari ujung rambut Tyas ke atas lantai marmer terdengar sangat jelas.
Tik. Tik. Tik.
Teman-teman kuliah Tyas yang tadi sibuk memuji-muji, kini perlahan menggeser kursi mereka mundur, menjauhkan diri seolah-olah Tyas adalah pasien penyakit menular yang berbahaya.
Cindy bahkan terang-terangan menutup hidungnya dengan saputangan, menatap Tyas dengan pandangan penuh rasa jijik yang amat dalam.
"N-Nyonya Diana Baskoro...?" Tyas mendesis dengan bibir yang membiru akibat dinginnya air es dan rasa syok yang melumpuhkan syarafnya. Ia memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar hebat, sementara maskara hitamnya yang luntur membuat wajah cantiknya kini tampak seperti badut yang menyedihkan.
"A-Anda... Anda pasti salah paham... Saya di sini hanya bekerja sebagai asisten profesional Tuan Baskoro..."
"Asisten profesional?" Diana Baskoro mengulangi kata-kata itu dengan nada yang sangat meremehkan.
Brakk!
Diana melemparkan sebuah tas jinjing berisi tumpukan dokumen forensik keuangan tepat ke atas piring steak Rendra yang belum sempat termakan. Kuah daging yang kental terpercik, mengotori kemeja flanel mahal yang baru saja dipakai oleh Rendra.
"Buka mata kalian lebar-lebar, keluarga penipu!" suara Diana menggema kencang, sengaja dikeraskan agar terdengar oleh puluhan pengunjung restoran di luar sekat kaca yang kini sudah berdiri bergerombol sembari mengarahkan kamera ponsel mereka. "Ini adalah rincian mutasi rekening korporat Baskoro Group. Wanita jalang ini... menggunakan black card perusahaan keluarga saya untuk membiayai gaya hidup mewahnya! Belanja baju desainer Prancis, menyewa kosan elite, membeli gelang emas murni untuk ibunya yang tak tahu diri ini, bahkan... membelikan kemeja mahal yang kamu pakai itu, anak muda!"
Rendra menatap lembaran kertas yang basah karena kuah steak itu dengan mata melotot. Tangannya gemetar hebat. "K-kartu perusahaan...?" Ia menoleh patah-patah ke arah Tyas. "Tyas... bukankah kamu bilang ini semua adalah bonus resmi dari Tuan Baskoro untukmu?!"
Tyas tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menangis meraung-raung di atas kursinya, mencoba menutupi wajahnya yang hancur dari sorotan kamera ponsel pengunjung restoran.
Ibu Ratna yang ketakutan melihat taring sang nyonya besar, mencoba memberanikan diri berbicara dengan suara mencicit. "Nyonya... tolong jangan keterlaluan. Anak saya Tyas itu perempuan baik-baik... Tuan Baskoro yang mengejar-ngejar dia—"
"Tutup mulut tuamu, perempuan serakah!" bentak Diana Baskoro tanpa ampun, membuat Ibu Ratna langsung tersedak dan menciut di sudut kursi.
"Kamu mendidik anak perempuanmu untuk menjadi pemuas nafsu pria beristri demi menguras hartanya, kemudian kamu dengan bangga memamerkan emas hasil perzinahan itu di depan anak-anak kuliah ini?! Kalian satu keluarga benar-benar tidak punya urat malu!"
Diana kemudian mengalihkan tatapan matanya yang setajam elang ke arah Rendra. Senyuman dingin terukir di wajah matangnya. "Dan kamu... Rendra Wijaya. Narapidana kasus penipuan yang baru beberapa jam menghirup udara luar. Kamu begitu bangga berdiri di sini, menggebrak meja, dan mengancam akan memenjarakan aku menggunakan nama suamiku?"
Rendra menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sangat kering, seluruh keangkuhan yang ia bawa dari gerbang penjara tadi menguap tanpa sisa. "Nyonya Diana... saya... saya benar-benar tidak tahu kalau uang itu—"
"Kamu tahu apa yang paling menggelikan dari kalian semua?" Diana memotong kalimat Rendra dengan tawa rendah yang sangat menusuk batin.
"Kamu berpikir suamiku yang berkuasa itu yang mengusahakan penangguhan penahananmu siang ini, kan? Kamu pikir Tyas sudah berhasil membuat suamiku bertekuk lutut hingga bisa mengeluarkanmu dari penjara dalam waktu dua jam?"
Rendra tertegun. Jantungnya berdegup kencang dengan ritme yang menyakitkan. "B-bukan Tuan Baskoro...?"
"Suamiku saat ini sedang berlutut di ruang rapat dewan komisaris kantor pusat, menangis memohon ampun padaku agar aku tidak mencopot jabatannya dan tidak memenjarakannya atas kasus penggelapan dana abadi yayasan kanker!" kalimat Diana mendarat seperti hantaman gada besi di kepala Rendra.
"Jangankan mengeluarkan kamu dari penjara, menyelamatkan lehernya sendiri dari jeruji besi saja dia tidak mampu!"
Seluruh dunia Rendra seakan runtuh seketika. Kepalanya berputar hebat, rasa pening yang luar biasa menyerang kesadarannya. Jika bukan Baskoro... lalu siapa? Siapa yang memiliki uang miliaran rupiah dan kekuasaan untuk mengeluarkannya dari lapas siang ini?
Tepat pada saat itu, kerumunan pengunjung di depan pintu masuk restoran perlahan terbelah.
Sesosok wanita muda dengan langkah kaki yang begitu anggun dan berwibawa melangkah masuk ke dalam restoran. Ia mengenakan blazer formal berwarna merah marun yang elegan, dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Di sampingnya, berdiri Elang Danuarta yang tampak gagah dengan setelan jas hitam.
Wanita itu perlahan membuka kacamata hitamnya, menampilkan sepasang mata jernih yang memancarkan aura dingin yang sangat mematikan.
Rania.
"R-Rania...?" gumam Rendra dengan suara parau yang hampir habis. Matanya melebar sempurna, menatap mantan istrinya yang kini berdiri tegak di depannya bak seorang ratu yang sedang meninjau mangsanya.
Tyas dan Ibu Ratna juga langsung menghentikan tangisnya seketika, menatap kedatangan Rania dengan pandangan penuh rasa tidak percaya sekaligus ketakutan yang amat sangat.
Rania berjalan mendekat, berhenti tepat di sebelah Nyonya Diana Baskoro. Kedua wanita hebat itu saling melempar senyuman tipis penuh kemenangan, sebuah pemandangan yang menegaskan bahwa mereka berada di kubu yang sama.
"Terima kasih atas bantuan informasimu yang rapi, Rania," ucap Diana Baskoro sembari menepuk bahu Rania dengan hangat.
"Rumah tangga dan aset keluargaku terselamatkan dari parasit-parasit kelaparan ini berkat laporan forensik dari timmu."
"Sama-sama, Nyonya Diana. Sudah kewajiban saya untuk memastikan bahwa uang dana abadi anak-anak kanker tidak disalahgunakan oleh orang yang salah," jawab Rania dengan nada suara yang sangat tenang tetapi benar-benar menusuk ulu hati Tyas.
Rendra menjatuhkan dirinya dari kursi, berlutut di atas lantai marmer di bawah kaki Rania. Air matanya mengalir deras, membasahi kemeja flanel barunya. Keangkuhannya hancur total, menyisakan sesosok pria pecundang yang tidak lagi memiliki harga diri.
"Rania... Nia... jadi kamu? Kamu yang mengeluarkan Mas dari penjara siang ini?" ratap Rendra dengan suara gemetar, mencoba meraih ujung celana formal Rania namun langsung dihadang oleh langkah kaki tegap Elang Danuarta.
"Kenapa, Nia? Kenapa kamu membebaskan Mas kalau tujuannya hanya untuk membuat Mas melihat kehancuran Tyas dan Ibu? Mas mohon, Nia... tolong bicaralah pada Nyonya Diana... cabut laporannya... kasihan Tyas, dia dipermalukan satu Indonesia... Mas mohon, demi masa lalu kita, Nia..."
Rania menatap mantan suaminya yang sedang bersujud di lantai dengan pandangan yang benar-benar kosong. Tidak ada dendam yang meluap-luap, tidak ada amarah yang meledak, melainkan hanya ada rasa jijik dan dingin yang tak tersentuh.
Rania mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan, menatap lurus ke dalam manik mata Rendra yang bersimbah air mata penyesalan. Sebuah senyuman badas yang sangat menawan namun mematikan terukir sempurna di bibirnya.
"Masa lalu kita, Mas?" tanya Rania, setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar seperti vonis mati dari malaikat pencabut nyawa.
"Masa lalu yang mana? Apakah masa lalu ketika kamu dan ibumu mengusirku dari rumah saat aku keguguran? Atau masa lalu ketika adikmu ini tertawa bersama kalian, melarang mu mengantarkan aku ke rumah sakit saat Abid sedang bertaruh nyawa antara hidup dan mati?"
Rendra tersedak karena tangisnya sendiri, tubuhnya bergetar hebat di atas lantai. Ia tidak mampu mengeluarkan satu patah kata pun untuk membela diri.
"Dengar baik-baik, Rendra Wijaya," bisik Rania dengan penekanan yang mutlak. "Aku sengaja mengeluarkan mu dari penjara bukan karena aku masih memiliki perasaan padamu, dan jelas bukan karena belas kasihan. Aku membebaskan mu agar kamu memiliki tiket emas di barisan paling depan untuk menonton pertunjukan ini. Aku ingin kamu hidup di luar sini sebagai orang bebas... bebas untuk menyaksikan dengan mata kepalamu sendiri bagaimana satu per satu orang yang kamu sayangi dikuliti, dihujat, dijadikan sampah, dan dibusukkan oleh seluruh masyarakat Indonesia, tanpa kamu bisa melakukan apa pun untuk menolong mereka!"
Rania berdiri tegak kembali, kemudian menoleh ke arah dua petugas kepolisian berpakaian preman yang sejak tadi sudah menunggu di dekat pintu masuk restoran atas instruksi Nyonya Diana.
"Pak Polisi, silakan bawa tersangka Tyas Wijaya atas dakwaan pencucian uang dan keterlibatan sabotase siber korporasi," ucap Rania tegas.
"Tidak! Mas Rendra! Ibu! Tolong Tyas! Tyas gak mau dipenjara! Aaakhh!" jerit Tyas histeris saat kedua petugas kepolisian maju dan memasangkan borgol besi di kedua pergelangan tangannya yang basah. Ia diseret keluar dari restoran mewah itu di tengah jepretan kamera dan sorakan makian dari ratusan pengunjung mal yang menonton.
Ibu Ratna yang melihat anak perempuan kesayangannya dibawa polisi langsung berteriak histeris sebelum akhirnya matanya mendelik dan tubuh tuanya jatuh pingsan ke lantai restoran, membuat suasana semakin kacau.
Rania mengenakan kembali kacamata hitamnya dengan sangat anggun. Ia menatap Rendra yang masih menangis meraung-raung di lantai seperti anjing yang kehilangan tuannya.
"Selamat menikmati kebebasan palsu mu, Mas Rendra. Panggung penyesalan berdarah-darah untuk keluargamu... baru saja resmi dimulai," ucap Rania dingin sebelum berbalik dan melangkah pergi meninggalkan restoran bersama Elang Danuarta, meninggalkan kehancuran total yang tak akan pernah bisa diperbaiki lagi oleh keluarga Wijaya.
pst dapat cap pelakor😄🤭