Tiga tahun sudah Lisa menikahi kakak iparnya tanpa ikatan cinta. Berbanding terbalik dengan Galih Almarhum suaminya yang begitu tampan, humoris dan begitu perhatian. Sikap Angga justru kebalikannya. Dia lelaki yang abai, tak banyak bicara dan kaku. Lisa bak menikah dengan robot. Tak ada yang menarik dalam pernikahan kedua lisa ini. Lisa hampir gila, hingga mengajukan perceraian pada mantan kakak iparnya itu. Angga menolak, lelaki itu berubah. Akankah Lisa tetap bertahan atau kembali meminta berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Angga memandikan Lisa dengan begitu lembut, tentu saja juga ikut mandi bersama. Meski Angga benar-benar menginginkan hal seperti semalam lagi, namun dia tahan sekuat mungkin karena kasihan melihat Lisa yang sudah tak sanggup berjalan.
Lisa hanya bisa pasrah sambil terus menutupi tubuh sensitifnya.
Keduanya mandi dalam diam, hanya tangan dan tubuh mereka yang mengeluarkan suara. Membuat bik Sumi mengira keduanya masih tidur pulas di dalam.
Bik Sumi akhirnya membuka pintu itu dari luar, tapi dia tidak berani membukanya takut melihat hal yang iya iya. Seperti perintah Bu Nada, Bik Sumi sudah mengganti pil kontrasepsi milik Lisa. Akhir-akhir ini mereka juga begitu aktif melakukan hubungan suami istri, pasti bulan depan Bu Nada akan segera mendapatkan kabar baik.
Selama ini Bu Nada memang curiga kenapa menantunya tidak juga di beri momongan, jadi Bu Nada meminta Bik Sumi untuk mencari tahu. Begitu menemukan pil kontrasepsi di laci Lisa. Bu Nada meminta dokter keluarganya untuk membuat Vitamin penyubur kandungan, Bu Nada juga sudah mengganti semua obat itu dari laci Lisa dengan bantuan Bik Sumi.
"Semoga Non Lisa cepat hamil" Gumam Bik Sumi, Bu Nada menjanjikan akan memberangkatkan dia ke tanah suci jika Lisa positif hamil nanti.
****
Lisa menatap jam di dinding, masih jam setengah tujuh, kakinya sudah agak mendingan setelah mandi tadi. Jadi dia bisa berjalan sendiri meski dengan sangat pelan.
Angga nampak sudah rapi, Lisa bahkan tidak tahu kalau ada baju Angga di dalam lemarinya.
"Sepertinya aku yang harus pindah kamar" Batin Lisa sambil mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
Angga mengambil dasi miliknya, dia ingin memakai dasi itu, namun saat melihat Lisa sudah selesai dengan rambutnya, Angga memilih mendekati Lisa.
"Pakaian"
"Biasanya juga sendiri" Tolak Lisa.
"Ini sebagai ucapan terima kasih, kamu tak ingin berterima kasih padaku?"
"Terima kasih? untuk apa?"
"Aku sudah membantu mu mandi tadi, jadi sekarang giliran kamu bantu aku, Cepat pakaikan!"
Angga melempar begitu saja dasinya ke arah Lisa.
Lisa tentu cemberut, dia tidak bisa berdiri juga ulah siapa coba? Tapi Pak CEO di depannya ini memang tak suka di bantah, jadi dari pada bertengkar pagi-pagi, lebih baik Lisa melakukan apa yang di minta Angga.
"Menunduk!" Angga tersenyum sambil sedikit membungkuk kak badannya, wajah mereka begitu dekat, Angga senang sekali bisa melihat wajah ini tiap pagi. Dulu ini hanya ada di angan-angan Angga, namun sekarang jadi kenyataan.
Di saat Lisa sibuk dengan Dasi Angga, Ponsel Lisa tiba-tiba berbunyi, Lisa meminta Angga mengangkat panggilan telfon itu.
Ponsel itu ada di nakas, tepat sebelah Angga berdiri, Angga melirik siapa yang menelepon istrinya sepagi ini. Begitu melihat nama Dion di layar, tangan Angga langsung mengepal.
"Tolong angkat Mas!" Pinta Lisa.
Angga terpaksa mengambil ponsel itu, dia me loudspeaker panggilan itu.
"Halo?"
"Pagi Lisa"
"Pagi pak Dion, ada apa ya pak? Kenapa pagi-pagi sudah menelfon? Ada yang penting?"
"Tidak. Tidak ada apa-apa, aku sudah di depan Minimarket yang kemarin, Apa boleh aku ke rumah mu? Kita berangkat ke kantor bersama"
Lisa melotot horor menatap Angga, Angga terlihat begitu marah dan kesal, bisa-bisanya Dion mengajak istrinya berangkat bersama.
"E e gimana ya Pak?" Lisa bicara agak canggung karena Angga terus menatapnya tak senang.
"Apa aku tunggu di sini saja?" ujar Dion yang tidak ingin di tolak.
'Ehem'
Angga langsung berdehem keras, sengaja agar Dion mendengarnya. Lisa melotot lebar menatap Angga, rasanya Lisa ingin menelan hidup-hidup suaminya ini.
Dion tentu bisa mendengar suara itu.
"Di rumah mu ada orang?" Tanya Dion penasaran. Lisa buru-buru menghidupkan kipas angin kecilnya. Mau bagaimana lagi? Nasi sudah terlanjur jadi bubur, jadi lebih baik dia berbohong saja.
"Aku sudah di jalan Pak, Maaf ya? Itu tadi suara penumpang masuk angin" Gumam Lisa sambil melirik tajam ke arah Angga.
Angga mencibir, dia tidak suka di katai sebagai orang yang sedang sakit.
Jadi dia sengaja memanggil nama Lisa dengan begitu keras.
"Lisa? Cepat pasangkan dasinya!"
Lisa langsung menutup sambungan telfonnya, dia benar-benar geram melihat tingkah kekanakan sang suami.
"Mas kenapa sih? Kenapa tadi teriak? Sengaja ya?" kesal Lisa.
"Tentu, Ada lelaki yang ingin mengajak istriku berangkat kerja bersama, tentu aku harus melakukan sesuatu"
"Dasar kekanakan"
Lisa menarik simpul dasi Angga dengan keras, hingga membuat lelaki itu setengah tercekik.
"Kau ingin jadi janda untuk kedua kali ha?" Bicara Angga sedikit meninggi, Lisa seperti sengaja ingin mencekik dirinya.
"Iya, makanya cepat setujui perceraian kita"
Lisa langsung keluar begitu saja dari kamarnya sambil menarik cepat tas kerja miliknya. Terlalu lama bersama Angga membuatnya seperti tidak bisa bernafas. Mereka hanya akan bertengkar lagi dan lagi.
"Itu tidak akan pernah terjadi"
***
"Lu kenapa Lis? Dua hari ini cara berjalan kamu aneh" Tegur tari.
Lisa baru saja duduk di kursi kerjanya, namun pertanyaan yang tak ingin dia dengar langsung keluar dari mulut sahabatnya ini.
"Gue habis ikut lari maraton, jadi begini" dusta Lisa. Namun tari bukanlah anak kecil, dia sudah sering melihat di drama-drama, perempuan yang berjalan aneh seperti Lisa pasti telah menghabiskan malam yang amat panas bersama laki-laki.
"Lu punya simpanan berondong ya? Atau sugar Daddy?" bisik Tari di telinga Lisa.
Lisa Langsung menyikut lengan Tari, gila saja, bagaimana bisa temannya tahu kalau dia memang kelelahan karena lelaki.
"Jangan bicara aneh-aneh deh, pagi ini ada rapat penting, jangan buat mood gue turun"
Bukannya berhenti Tari justru makin penasaran, dia makin menggoda Lisa yang selalu saja menutup hatinya untuk orang lain. Padahal Lisa masih cantik, masih muda juga. Dia pantas untuk mendapatkan cinta lagi.
"Siapa cowoknya? Ganteng nggak? Gue kenal nggak? Kasih tahu gue dong"
"Bicara apa sih lu tar, gue nggak punya simpanan"
"Gue nggak percaya, bicara dong Lis, gue penasaran banget,siapa cowok itu?"
Lisa menutup telinganya dengan headset, tak mau mendengar lagi ocehan sahabatnya. Namun matanya tertuju pada sosok lelaki yang tanpa sengaja mendengarkan obrolan mereka.
"Pak Dion?" gumam Lisa pelan. Dion nampak kecewa, dia bahkan berbalik kembali ke ruang kerjanya. Dia bahkan tak jadi memberikan sarapan spesial yang dia masak untuk Lisa.
Suara lelaki yang dia dengar dua kali saat menelfon Lisa sangat membuat Dion terganggu. Apalagi setelah mendengar obrolan dua sahabat itu, Dion yakin ada yang di sembunyikan Lisa.
"Apa aku terlambat lagi?"
Batin Dion , dadanya sesak mengingat suara lelaki yang meminta Lisa memasangkan dasi untuknya.
masih di fase sad ya men temen 🤭🙏
btw smg lisa n bik sum ga kenapa2
gws ya🙏
mungkin besok tidak up dulu 🙏🙏