Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Lorong gedung DKV yang biasanya artistik kini terasa seperti labirin kematian bagi Kaizar. Suara langkah kakinya yang menghantam lantai beton bergema, memburu waktu yang kian menipis. Titik merah di ponselnya berhenti tepat di depan sebuah pintu besi tua yang terkunci rapat dari luar.
"Vara! Zivara!" teriak Kaizar sembari menggedor pintu itu.
Hening. Tidak ada jawaban dari dalam. Hanya kesunyian yang mencekam yang membuat jantung Kaizar seolah berhenti berdetak.
Ia mundur beberapa langkah, memposisikan bahunya dengan kokoh. Masa bodoh dengan rasa sakit. Masa bodoh dengan logika. Yang ada di pikirannya hanyalah wajah pucat Zivara.
Dobrakan pertama. Gagal. Pintu besi itu hanya bergetar pelan, sementara rasa panas mulai menjalar di bahu kanan Kaizar.
Dobrakan kedua. Kayu di pinggiran kusen mulai retak. Kaizar tidak peduli jika tulang bahunya harus bergeser sore ini.
Dobrakan ketiga. BRAK!
Engsel pintu itu menyerah. Pintu terbuka lebar, menyingkap kegelapan pengap yang berbau debu dan cat lama. Di sana, di atas lantai yang dingin, tubuh kecil Zivara tergeletak tak berdaya. Napasnya pendek-pendek, wajahnya yang seputih porselen kini tampak membiru.
"Zivara!"
Kaizar menerjang masuk, menjatuhkan lututnya ke lantai tanpa mempedulikan luka gesek yang timbul. Ia merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Dingin. Tubuh Zivara terasa sangat dingin.
Pada detik itu, topeng keangkuhan Kaizar hancur lebat. Ia mendekap kepala Zivara di dadanya, membiarkan air mata yang selama ini ia tahan tumpah membasahi kening gadis itu. Kekayaan Ravindra, takhta perusahaan, dan harga diri yang ia agungkan selama ini mendadak tidak ada harganya. Ketakutan terbesarnya bukan lagi soal bangkrut atau kehilangan warisan, melainkan kehilangan gadis ini untuk kedua kalinya—kehilangan kesempatan untuk menebus dosa-dosanya di masa lalu.
"Jangan lagi... kumohon jangan tinggalkan aku lagi," bisiknya dengan suara pecah.
Tanpa membuang waktu, ia mengangkat tubuh Zivara dalam gendongan bridal style. Ia berlari melewati lorong, mengabaikan tatapan beberapa mahasiswa yang masih ada di sana, dan segera memacu mobilnya menuju rumah sakit terdekat dengan kecepatan yang melampaui batas kewarasan.
Lampu koridor rumah sakit berpendar pucat. Kaizar duduk di kursi tunggu dengan kemeja yang sudah berantakan dan bahu yang mulai membiru. Pikirannya kosong, hanya terfokus pada pintu ruang darurat yang masih tertutup rapat.
Suara langkah kaki yang terburu-buru memecah keheningan koridor. Bunda Dila dan Ayah Kevin—orang tua Kaizar—datang dengan wajah penuh kecemasan yang luar biasa.
"Kaizar! Apa yang terjadi? Di mana Zivara?" tanya Bunda Dila dengan suara gemetar, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
Kaizar berdiri, meskipun kakinya terasa lemas. Ia menundukkan kepala, tidak berani menatap langsung mata orang tua yang begitu mempercayainya.
"Bunda... Ayah... Maafkan Kaizar. Aku menemukan Vara terkunci di gudang studio. Dia... dia sudah pingsan saat aku berhasil mendobrak pintunya."
Ayah Kevin mencengkeram bahu Kaizar, menuntut penjelasan lebih. "Terkunci? Bagaimana mungkin gudang itu terkunci dari luar kalau bukan karena disengaja? Siapa yang melakukan ini pada Zivara, Kai?"
Kaizar terdiam. Rasa bersalah menghantamnya lebih keras daripada pintu besi tadi. Ia tahu siapa yang kemungkinan besar berada di balik ini. Ia tahu egonya di masa lalu secara tidak langsung telah menuntun Zivara ke ambang maut ini.
"Aku akan mencari tahu pelakunya, Ayah. Aku berjanji," ucap Kaizar dengan nada rendah yang sarat akan amarah tertahan. "Siapa pun yang menyentuh Zivara, mereka tidak akan pernah bisa tidur dengan tenang mulai malam ini."
Di dalam hatinya, Kaizar bersumpah. Jika di kehidupan pertama ia adalah alasan Zivara menangis, maka di kehidupan ini, ia akan menjadi alasan mengapa musuh-musuh Zivara gemetar ketakutan.
**
Layar ponsel itu redup, meninggalkan pantulan wajah Luna yang sepucat kertas di kaca apartemennya yang dingin. Pesan dari Adrian bukan sekadar gertakan; itu adalah vonis mati bagi reputasinya.
"Keparat kamu, Adrian!" geram Luna.
Jantungnya berpacu. Tangannya bergetar hebat saat menyambar kunci mobil. Ia tidak punya pilihan. Jika rekaman itu sampai ke tangan Kaizar, segalanya akan musnah. Cintanya, ambisinya, dan masa depannya bersama pewaris Ravindra itu akan hangus tak bersisa.
Tiga puluh menit kemudian, Luna berdiri di depan pintu apartemen Adrian. Ia menarik napas dalam, mencoba memulihkan sisa-sisa harga dirinya yang terkoyak. Begitu pintu terbuka, aroma parfum maskulin yang tajam menyengat indranya—aroma yang dulu pernah ia puja, namun kini terasa mencekik.
Adrian berdiri di sana, menyambutnya dengan seringai yang tidak pernah mencapai mata. Tanpa peringatan, pria itu menarik pinggang Luna, memaksanya masuk ke dalam dekapan posesif. Kecupan kasar mendarat di bibir Luna, membungkam segala protes yang hendak keluar.
"Lepaskan! Adrian, hentikan!" Luna meronta, mendorong dada bidang Adrian dengan sisa tenaganya.
Adrian terkekeh, suara tawa yang terdengar dingin di telinga Luna. Ia tidak peduli pada penolakan itu. Dengan gerakan dominan, ia menggiring Luna menuju sofa kulit berwarna gelap, lalu melemparkan sebuah tablet ke pangkuan wanita itu.
Layar tablet menyala. Luna membelalak. Di sana, terekam dengan jelas pertemuan rahasianya dengan orang suruhan di parkiran remang-remang. Tidak hanya itu, video beralih pada rekaman dari sudut tersembunyi di studio DKV; Adrian ternyata ada di sana, merekam aksi anak buah Luna tanpa niat sedikit pun untuk menolong Zivara.
"Bagaimana jika video ini sampai ke ponsel Kaizar?" bisik Adrian, suaranya terdengar seperti desis ular. "Apa kamu pikir dia akan menatapmu dengan cinta lagi? Atau justru dia sendiri yang akan menyeretmu ke balik jeruji besi?"
Wajah Luna pias. Ia mencoba merampas tablet itu, namun Adrian dengan cepat menjauhkannya, menikmati setiap detik keputusasaan yang terpancar dari mata mantan kekasihnya itu.
"Apa maumu, Adrian?! Katakan!" teriak Luna frustrasi.
Adrian mencondongkan tubuh, menatap Luna dengan sorot mata yang penuh kegelapan. Ia berbisik tepat di telinga Luna, membiarkan napas panasnya menggelitik kulit wanita itu.
"Kamu lebih tahu apa yang kuinginkan, Luna. Aku ingin kamu kembali menjadi milikku. Seluruhnya. Tanpa ada bayang-bayang Kaizar lagi".
Luna tertegun. Ia terjebak di antara dua singa; satu yang ia cintai dengan obsesi, dan satu lagi yang memegang kendali atas kehancurannya.
Sementara itu, di rumah sakit, Zivara mulai membuka matanya. Ia menatap langit-langit putih yang asing, sementara memorinya ditarik paksa ke sebuah kenangan yang seharusnya belum terjadi.
Zivara mencoba duduk, mengabaikan rasa pening yang menghantam kepalanya. Di samping ranjang, Kaizar tertidur dengan tangan masih menggenggam jemari Zivara erat—seolah takut gadis itu akan menghilang jika ia melepaskannya sedikit saja.
Zivara menatap wajah Kaizar yang tampak lelah. Sebuah kilasan memori muncul; sebuah kecelakaan besar di tengah hujan Bandung, di mana Kaizar berdiri di depan makamnya dengan wajah penuh penyesalan.
"Kaizar... kenapa di ingatanku kamu menangis di pemakamanku?"
Mendengar suara itu, Kaizar terjaga. Matanya membelalak melihat Zivara sudah sadar.
***
🤣🤣🤣