Dunia ini kejam, tak ada kebahagiaan yang kekal, ujian selalu datang, maka jangan jadi orang yang lemah.
Di tengah hutan terpencil terdapat tempat pelatihan pembunuh bayaran, suatu organisasi dunia gelap yang dibentuk oleh bos mafia besar asia yaitu Bos Jamal.
disanalah tempat tinggal seorang pemuda bernama Bayu yang telah ditinggalkan orang tuanya sejak masih berumur sepuluh tahun. kini 12 belas tahun telah berlalu namun bayangan tragedi kematian kedua orang tuanya masih terngiang dikepalanya.
Ditempat pelatihan pembunuh bayaran ini lah ia dilatih oleh sang paman menjadi mesin pembunuh yang jenius untuk membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya.
kehidupannya mulai berubah saat ia mengenal seorang gadis yang bernama Anita, sosok dosen cantik yang dapat menyentuh hatinya.
ideologinya sedikit demi sedikit mulai berbeda, tentang asmara, balas dendam, maupun apa yang telah diwariskan, semua memiliki batu sandungan yang harus diterjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pena pedang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengunci mangsa.
Siang telah berganti sore...
Ruang gedung LPPM telah berkumpul banyak orang.
Para tim peneliti dan ketua LPPM duduk di kursi rapat.
Tak luput juga pak Karim sebagai peneliti juga berada disana, yang baru-baru ini telah mengumumkan keberhasilannya dalam program pengembangan kecerdasan buatan.
"Aku sangat senang mengetahui kabar baik ini... Akhirnya kita berhasil juga", kata ketua LPPM, raut wajahnya tersirat begitu sangat puas.
"Tok...tok...tok" suara ketuk pintu terdengar dua orang berdiri di tengah pintu yang sudah terbuka.
Anita dan Bayu sedang berdiri di sana.
"Permisi, maaf kami terlambat", kata Anita.
"Silahkan duduk," jawab ketua.
Anita dan Bayu duduk mengisi meja rapat yang masih kosong.
"Terimakasih sebelumnya atas semua kerja keras kalian selama ini, dan seperti apa yang di ajukan saudara bapak Karim sebelumnya, kami dengan bangga bahwa keberhasilan riset ini telah tertulis atas nama saudara bapak Karim yang mampu mengembangkan sendiri kecerdasan buatan", kata ketua itu, jelas dan sangat berwibawa.
"Saya keberatan" kata Anita menatap tajam.
Para peneliti dan Anggota tim maupun setaf menoleh kearah Anita.
"Apa yang membuat anda keberatan?" Tanya ketua itu.
Anita mengambil napas pelan lalu berkata dengan lantang, "Kita sudah menjalani riset selama bertahun-tahun, setiap data pengembangan dan setiap rumus kita kumpulkan secara bertahap, namun dalam data penemuan yang diajukan saudara bapak Karim ini memiliki kejanggalan".
"Jangan bicara sembarangan jika anda tak mampu, itu sangat membuktikan bahwa kenyataannya riset anda berkali-kali gagal" sela pak Karim sambil menunjuk Anita.
Anita mengangkat sudut bibirnya, tatapannya tajam namun tak membalas omongan pak Karim.
"Tolong harap tenang," lanjut ketua LPPM melerai dan tatapannya kembali tertuju pada Anita, "jadi menurut anda keberhasilan ini tidak melalui prosedur?" Katanya.
Anita kembali terdiam untuk sesaat.
Udara dalam ruangan semakin terasa berat, para peneliti dan para staf saling memandang satu sama lain, ada juga yang bernegosiasi sambil berbisik.
"Apakah Anda tahu, keberhasilan menjadi hal yang paling utama dalam pengembangan ini" lanjut ketua itu.
"Kami tahu itu, karena ada kejanggalan itu, apakah tidak terasa aneh, jika sebagai peneliti tiba-tiba berhasil dengan perbedaan data yang semula ia berikan di awal, bukankah data itu perbedaannya sangat jauh." Jelas Anita.
"Apa Anda mencurigai saya?" Teriak pak Karim kembali memotong menunjuk kearah Anita, lalu melirik sinis kearah Bayu.
Ketua LPPM terdiam dalam waktu yang lama.
Suara detak jam dinding terasa keras, pelan dan penuh ritme, seolah ruangan berjalan lambat dan terasa semakin berat menekan dalam setiap hembusan napas.
"Ibu Anita, menuduh tanpa bukti, setiap tuduhan ada konsekuensinya, tolong saudara pertimbangkan" kata ketua itu jatuh memecah ketenangan dalam ruang rapat, seperti ketenangan air yang tiba-tiba kejatuhan batu besar, hingga menciptakan riak yang bergejolak.
Gejolak itu terasa disetiap hati dan pikiran. Walau dalam ruangan itu pada kenyataannya sepi, dan di meja rapat itu banyak para ahli yang berkumpul hanya bisa saling memandang dan menoleh satu sama lain.
Anita menghembuskan napas dari mulutnya, dadanya terasa semakin berat, "Baik," tangan kanannya memperkenalkan kearah Bayu, "ini saudara Bayu yang saya sebutkan sebelumnya, sebagai asisten penelitian, selanjutnya biar saudara Bayu yang akan menjelaskan" kata Anita tegas.
Tatapan ketua LPPM berubah menajam dan sedikit menyipit melihat kearah Bayu.
"Hahaha.... Jangan sembarangan, mana bisa seorang murid bisa menjelaskan tentang ini" potong pak Karim lagi, namun di bawah meja terlihat jelas ia mengepalkan tangan dengan keras.
"Iya benar" jawab yang lain saling bersahutan tak percaya.
Anita menatap ke bawah, kali ini ia mulai putus asa, tak ada lagi yang bisa ia jelaskan, jika dilanjutkan akan semakin menambah kekonyolannya dan hawatir memperkeruh keadaan.
"Dia mencontek penelitian yang saya buat" ucap Bayu ringan dan datar.
"Jangan sembarangan, apakah ketua akan percaya dengan bualanmu itu, sungguh konyol" teriak pak Karim semakin geram.
Dalam ruang rapat semakin ribut.
"Ini sudah keterlaluan" kata yang lain.
"Saudara ini bicara sembarangan tanpa bukti yang jelas", sahut yang lain lagi.
"Jika sampai bicara tanpa bukti, mahasiswa ini harus dikeluarkan", kata yang lain lagi.
Dalam ruangan dari yang semula tenang kini menjadi ribut.
Ketua LPPM mencoba menilai situasi, menyapu pandangannya kesemua arah.
Bayu hanya menggelengkan kepala.
"Apakah saudara punya bukti?" Tanya ketua LPPM.
Bayu langsung tersenyum, kemudian berdiri dari tempat duduknya berjalan menuju meja ketua.
Menyerahkan video hasil rekaman cctv yang sempat ia retas sebelum ia menjelaskan rumus dan penjelasan di papan tulis yang kini telah tersimpan di dalam leptopnya.
"Braaak...!!!", tiba-tiba ketua LPPM menggebrak meja.
"Apakah saudara Karim bisa menjelaskan tentang ini", kata ketua sambil memutar layar laptop kearah pak Karim, yang mempertontonkan sebuah rekaman video Bayu menjelaskan tentang pengembangan program kecerdasan buatan.
"Gak mungkin.... Gak mungkin," kata pak Karim pelan, tak pernah ia berfikir akan terjadi seperti ini.
"Sangat disayangkan, maaf Anda kami pecat dan kami blacklist dalam program ini, silahkan anda keluar" kata ketua LPPM dengan tatapan tajam kearah pak Karim.
Wajah pak Karim berubah pucat, ia berdiri dari tempat duduknya mengemasi semua barangnya dan keluar dari ruang rapat tanpa berbicara maupun membantah, hanya melangkah dengan menundukkan muka.
"Terimakasih atas kerjasamanya.... Saudara Bayu" kata ketua sambil menjulurkan tangan.
Bayu menyambut itu, menjabat tangan ketua LPPM, "sama-sama" ucapnya sambil tersenyum.
...........
Malam kembali datang.
Bayu duduk santai di sofa ruang tengah, laptop berada di pangkuannya, sedang kedua matanya menatap kearah layar.
Menyatukan semua bukti merangkum menjadi satu, hari ini telah masuk kedalam riset penelitian, hanya sehari itu dia sudah mengumpulkan bukti korupsi yang sangat jelas, dana yang digelembungkan secara sengaja, dana yang tanpa bukti pengeluaran yang jelas, hanya sebuah data namun tak ada kelanjutan yang nyata di lapangan.
Semua itu berakhir dan mengarah dalam satu nama, Bapak rektor gonjales.
Akhirnya Bayu menutup leptopnya lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa dan menutup kedua matanya, "mangsa sudah terkunci, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menerkam" gumamnya pelan.
...........
"Gimana, murid sepesialmu itu, apa berhasil masuk grup riset?" tanya Vivi pada Anita.
"Berhasil, meskipun sebelumnya ada sedikit masalah", jawab Anita.
"Sepertinya hari-harimu sangat berat, gimana kalau kita pergi keluar",
"Boleh juga... Oh.. iya, aku akan mengajak sahabatku juga", kata Anita bersemangat menelepon para sahabatnya.
.........
gemerlap tampu kota jakarta dimalam hari semakin menunjukkan nafasnya.
kehidupan malam yang tanpa berhenti beraktivitas sebagai salasatu simbol kehidupan metropolitan kota jakarta.
Jalan raya yang ramai, tak perduli siang maupun malam, suara tawa yang mengisi kehidupan malam sebagian orang merasa hidup memang untuk dijalani dengan cara bersenang-senang, mengistirahatkan pikiran dari semua aktivitas siang yang sangat melelahkan.
Bayu menatap tajam kedepan, kedua tangannya memegang kemudi mobil sportnya. "waktunya beraksi" katanya pelan.