Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: TEDUH DI LANTAI LIMA PULUH
Dekapan lengan Dafa di pinggang Nazya terasa begitu kokoh, seolah menjadi satu-satunya pembatas yang memisahkan wanita itu dari tatapan ratusan pasang mata yang masih terpaku di lobi. Dafa tidak membiarkan istrinya menjadi tontonan lebih lama lagi. Dengan gerakan yang tegas namun penuh kelembutan, ia membimbing langkah kaki Nazya yang masih agak lemas menuju lift khusus eksekutif yang terletak di sudut lobi.
Begitu pintu lift berdinding kaca itu tertutup rapat, menyisakan mereka berdua di dalam ruang kubus yang bergerak naik dengan cepat, keheningan yang pekat langsung menyergap. Nazya menyandarkan punggungnya pada dinding lift, napasnya masih menyisakan sisa-sisa sesak akibat histeria beberapa menit lalu. Map kulit cokelat di dadanya didekap begitu erat, seolah benda itu adalah tameng terakhirnya.
Dafa berdiri di sampingnya, tidak mencoba memeluk atau menyentuh Nazya lagi demi memberikan ruang bagi istrinya untuk menenangkan sistem sarafnya yang sempat terkejut. Sepasang mata elang Dafa menatap angka digital lantai lift yang terus bergerak naik, namun perhatian sepenuhnya tetap tertuju pada setiap hela napas Nazya yang masih memburu.
TING!
Pintu lift terbuka di lantai lima puluh, langsung menghadap ke arah koridor sunyi yang dilapisi karpet bulu tebal berwarna abu-abu gelap. Dafa melangkah keluar terlebih dahulu, lalu membukakan pintu ganda kayu jati besar yang menjadi gerbang menuju ruang kerja pribadinya.
"Masuk, Nazya," ucap Dafa lembut.
Nazya melangkah pelan, matanya menyapu ruangan yang begitu luas. Ruang kerja Dafa sangat megah, dengan gorden otomatis yang terbuka menampilkan pemandangan seluruh lanskap kota Jakarta dari ketinggian. Di sudut ruangan, terdapat selembar sofa kulit mewah berwarna hitam yang tampak sangat nyaman.
Dafa menutup pintu ruang kerjanya, menguncinya dari dalam agar tidak ada sekretaris atau staf mana pun yang berani mengganggu privasi mereka. Ia meletakkan jas hitamnya di sandaran kursi kerja, lalu berjalan mendekati sofa tempat Nazya kini duduk meringkuk dengan kepala tertunduk dalam.
Dafa duduk di ujung sofa yang sama, memberikan jarak sekitar satu jengkal. Ia merogoh sebuah botol air mineral hangat dari kulkas kecil di sudut meja, membukanya, lalu mengulurkannya ke hadapan Nazya. "Minum dulu. Tenangkan pikiranmu."
Nazya mendongak sedikit, menampilkan wajah cantiknya yang kini sembap dengan hidung yang memerah akibat menangis. Tangan kurusnya yang masih bergetar halus menerima botol tersebut. Setelah meneguk air hangat itu beberapa kali, ia meletakkannya di atas meja kaca di depan mereka.
"Mas Dafa..." suara Nazya keluar dalam bisikan parau yang teramat lirih. "Kenapa... kenapa Mas Dafa melakukan hal tadi di bawah?"
Dafa menaikkan satu alisnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata jernih istrinya. "Melakukan apa maksudmu?"
"Mengaku... mengakui Nazya sebagai istri Mas Dafa di depan semua karyawan," air mata Nazya kembali merebak, mengalir melewati pipinya yang pias. "Nazya... Nazya hanyalah janda miskin, Mas. Kaki Nazya bahkan belum sembuh total dari gips. Mengapa Mas Dafa tidak membiarkan satpam saja yang mengusir Rendy? Mengapa Mas harus mempertaruhkan nama baik dan harga diri Mas Dafa yang terhormat demi membela wanita pembawa sial seperti Nazya?"
Mendengar pertanyaan yang sarat akan rasa tidak percaya diri dan sisa trauma masa lalu itu, dada Dafa berdenyut perih. Sifat posesif dan dominannya sebagai seorang pria dewasa bergejolak hebat. Pria bajingan bernama Rendy itu benar-benar telah menanamkan racun pikiran yang begitu dalam ke dalam jiwa Nazya, membuat wanita ini merasa dirinya tidak berharga bahkan untuk dibela oleh suaminya sendiri.
Dafa menggeser duduknya, memangkas jarak di antara mereka. Dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh kehati-hatian, Dafa mengulurkan kedua tangan besarnya, membingkai wajah mungil Nazya dengan telapak tangannya yang hangat. Ia memaksa wajah sembap itu untuk mendongak, mengunci pandangan mereka agar Nazya bisa melihat ketulusan murni di matanya.
"Nazya, dengarkan aku baik-baik," ucap Dafa, setiap kata yang keluar dari bibir baritonnya ditekan dengan intonasi yang sangat dalam dan mengikat. "Di rumah ini, di kantor ini, dan di mana pun di dunia ini... kamu adalah istriku. Nazya Humaira Mahardika. Tidak ada satu pun hal di dalam dirimu yang memalukan bagiku."
Dafa mengusap sisa air mata di pipi Nazya menggunakan ibu jarinya dengan sangat lembut. "Pria bajingan di bawah tadi adalah masa lalumu yang sudah mati. Dia tidak punya hak lagi untuk menyentuh, membentak, atau membuatmu merasa kecil. Mulai hari ini, setiap air mata yang jatuh dari matamu karena orang lain adalah penghinaan bagi harga diriku sebagai suamimu. Aku tidak membela wanita asing, Nazya... aku sedang membela milikku yang paling berharga. Paham?"
Deg!
Jantung Nazya seolah berhenti berdetak mendengar untaian kalimat tegas yang keluar dari bibir Dafa. Kata 'milikku yang paling berharga' bergaung keras di dalam sanubarinya, meruntuhkan sebagian besar lapisan es trauma yang selama dua tahun ini membekukan hatinya. Nazya menatap mata elang Dafa yang begitu dalam, mencari apakah ada kebohongan atau kepalsuan di sana, namun yang ia temukan hanyalah binar perlindungan yang sangat kokoh, sekokoh dinding benteng yang tidak akan pernah runtuh oleh badai apa pun.
Nazya menundukkan kepalanya kembali, namun kali ini bukan karena takut, melainkan karena dadanya mendadak dipenuhi oleh rasa hangat yang membuncah hingga membuatnya sesak. Ia menyandarkan dahinya pada dada bidang Dafa yang dilapisi kemeja biru muda, membiarkan tangis ringannya pecah di sana sebagai bentuk pelepasan atas seluruh beban masa lalu yang selama ini mengikat lehernya.
Dafa tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat tulus dan menawan. Ia melingkarkan kedua lengan kokohnya di sekeliling tubuh ramping Nazya, mendekapnya erat dan membiarkan istrinya menumpahkan seluruh sisa kesedihannya di dalam kehangatan pelukannya di lantai paling atas gedung pencakar langit itu.
Satu jam berlalu dalam ketenangan. Tangis Nazya sudah sepenuhnya mereda, digantikan oleh kecanggungan manis yang menyelimuti atmosfer ruang kerja mewah tersebut. Nazya sudah duduk tegak kembali, sibuk merapikan beberapa helai rambutnya yang sedikit berantakan dengan pipi yang merona merah karena malu menyadari ia baru saja membasahi kemeja kerja suaminya dengan air mata.
Dafa berdiri dari sofa, berjalan menuju meja kerjanya untuk mengambil map dokumen cokelat yang tadi dibawa oleh Nazya. "Terima kasih sudah mengantarkan berkas ini, Nazya. Ini adalah kontrak penting yang harus kutandatangani sebelum jam makan siang."
Nazya mengangguk pelan, matanya melirik ke arah kemeja Dafa yang tampak sedikit basah di bagian dada. "Maaf... kemeja Mas Dafa jadi basah karena Nazya."
Dafa terkekeh rendah, suara tawanya yang maskulin terdengar sangat seksi di telinga Nazya. "Tidak apa-apa. Ini tanda kalau istriku mulai bergantung padaku."
Dafa kemudian berjalan menuju meja interkom di dekat pintunya, menekan satu tombol untuk menghubungkan suaranya ke meja sekretaris utama di luar. "Siska, batalkan semua jadwalku setelah jam makan siang ini. Aku akan pulang lebih awal."
"Baik, Pak Dafa," jawab suara sekretaris dari seberang mesin interkom dengan nada yang sangat formal dan penuh rasa hormat yang mendalam. Sekretaris itu pasti sudah mendengar berita heboh dari lobi bawah dan kini tahu bahwa wanita yang ada di dalam ruangan bosnya adalah sang nyonya besar Mahardika.
Dafa kembali menatap Nazya, merapikan lengan kemejanya yang digulung hingga siku. "Siang ini, kita tidak akan langsung pulang ke rumah. Aku mau mengajakmu dan ayahmu pergi ke suatu tempat yang tenang di pinggir kota untuk makan siang bersama, sekalian melatih kakimu berjalan di tempat yang berudara segar."
Nazya menyunggingkan senyum tipis yang sangat manis, perasaan cemasnya yang membara sejak subuh tadi kini telah sepenuhnya sirna, digantikan oleh rasa aman yang luar biasa. "Baik, Mas Dafa. Nazya menurut saja."
Namun, tepat ketika Dafa baru saja hendak meraih kunci mobilnya di atas meja, sebuah ketukan pintu yang tergesa-gesa kembali terdengar dari luar. Pintu ganda kayu jati itu diketuk dengan ritme yang tidak beraturan, menandakan ada situasi darurat yang mendesak.
Dafa mengkerutkan dahinya, matanya kembali berubah menjadi dingin dan tajam. Ia melangkah menuju pintu, membukanya sedikit, menampilkan sosok Mikael yang baru saja kembali dari area parkir bawah dengan napas yang sedikit terengah-engah dan wajah yang sangat tegang.
"Ada apa, Mikael? Bukankah sudah kubilang aku mau pulang awal?" tanya Dafa dengan nada suara yang menuntut penjelasan segera.
Mikael menundukkan kepalanya, lalu berbisik dengan suara yang sangat lirih namun masih bisa tertangkap oleh indra pendengaran Nazya yang duduk tidak jauh dari sana. "Maaf mengganggu waktu Anda, Pak Dafa... tapi di bawah, beberapa kerabat dekat dari keluarga besar mantan suami Ibu Nazya baru saja mendatangi area gerbang depan. Mereka mengamuk dan membawa beberapa oknum media hiburan, menuntut penjelasan atas pemecatan sepihak serta menuduh Ibu Nazya telah melakukan pencemaran nama baik menggunakan kekuasaan Anda."