Kevin Sanjaya lulus dengan gelar dokter tapi diremehkan.bahkan di anggap tidak berguna karena keahlian yg di pelajarinya sudah ketinggalan zaman, dan tak berguna di dunia medis pada era Moderen! Tak di sangka, karena keberuntungan, dia mendapatkan Jantung meteorid dan buku kitab medis surgawi yang di tinggalkan kakekNya sebagai warisan keluarga. Dengan mempelajari buku kitab medis surgawi dan di topang dengan jantung meteorid, kekuatan medis dan tingkat beladiriNya melampaui imajinasinya. Sehingga dia bisa merubah nasibNya menjadi dokter medis hebat dengan keahlian pertarungan yg tak terkalahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenjiro Dominic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Cara PDKT yang Payah
Rizal adalah orang yang berpandangan jauh ke depan. Sebagai generasi kedua orang kaya, menurutnya wanita biasa tidak pantas untuk dirinya. Setelah bersusah payah melakukan berbagai penyelidikan, akhirnya ia menemukan tempat tinggal gadis tercantik di kelasnya, Nagita Setiawan. Dengan penuh semangat, ia segera datang ke sana.
Ia yakin bahwa dengan latar belakang keluarga dan statusnya, gadis itu pasti akan dengan patuh naik ke ranjangnya. Memikirkan hal itu membuat hati Rizal dipenuhi gairah.
Namun, suasana hati baiknya langsung rusak gara-gara bocah miskin yang berdiri di depannya.
Rizal mengamati Kevin dengan saksama. Ia mendapati bahwa usia pemuda itu tidak jauh berbeda darinya. Kevin mengenakan kaus lengan pendek berwarna kuning yang warnanya sudah memudar entah karena telah dicuci berapa kali. Di bawahnya, ia mengenakan celana panjang santai hitam dan sepasang sandal jepit pria. Penampilannya benar-benar seperti buruh bangunan yang baru keluar dari lokasi proyek.
Menyebutnya bocah miskin saja sudah termasuk pujian.
Rizal tidak tahan melihat pemandangan yang mengganggu mata seperti itu, sehingga tanpa sadar sudut bibirnya menampilkan senyum meremehkan.
Melihat orang di depannya, Kevin mengangkat alisnya.
Gaya rambut itu, warnanya itu...
Kevin tiba-tiba teringat pada ayam jago besar yang pernah dipeliharanya saat kecil.
“Tadi kau bicara denganku?” tanya Kevin dengan polos sambil menunjuk hidungnya sendiri.
Melihat Kevin berpura-pura bodoh, Rizal langsung naik pitam.
“Hei, bocah miskin! Minggir dari hadapanku! Kau menghalangi jalanku, tidak lihat? Tahu tidak berapa harga mobilku? Tujuh ratus juta! Kalau mobilku rusak gara-gara kau, apa kau mampu membayar biaya perbaikannya?”
Tatapan Kevin langsung menjadi dingin.
“Sekarang juga minta maaf padaku. Cepat.”
Kakek Kevin pernah berkata bahwa meskipun seseorang miskin, ia tetap harus memiliki harga diri dan rasa hormat terhadap dirinya sendiri.
Orang boleh kaya dan pamer sesuka hati, tetapi tidak berhak menghina orang lain.
Mendengar itu, Rizal malah tertawa karena marah.
Ia turun dari mobil, mengambil tongkat bisbol, lalu menyandarkannya di bahunya sambil menatap Kevin dari atas ke bawah.
“Bocah, kau tahu sedang bicara dengan siapa?”
Kevin menggeleng.
“Tidak tahu. Kau mungkin manusia, mungkin juga anjing. Tapi menurutku kau bukan manusia. Apa pun dirimu, minta maaflah. Sebaiknya sebelum aku benar-benar marah.”
“Kau bilang aku anjing? Kau cari mati!”
Tatapan Rizal menjadi tajam.
Ia bahkan hampir mengayunkan tongkat bisbol itu ke kepala Kevin. Jika pukulan itu mengenai sasaran dengan keras, kepala Kevin pasti akan mengalami cedera serius.
“Berhenti!”
Tepat saat itu, sebuah suara lembut terdengar.
Kevin menoleh.
Ia melihat Nagita berlari ke arah mereka.
Gadis itu mengenakan atasan panjang putih bermotif bunga, celana jins ketat, dan sepasang sandal rumah berbulu warna merah muda. Ia berlari sambil sedikit terengah-engah.
Rizal langsung terpaku.
Tongkat bisbol di tangannya turun begitu saja.
Matanya menatap Nagita yang berlari mendekat, dan air liurnya hampir menetes.
Nagita memiliki wajah mungil yang manis. Saat berlari, dadanya bergoyang naik turun.
Melihat pemandangan itu, jantung Rizal ikut berdebar.
“Memang pantas jadi wanita yang kusukai. Tak perlu bicara soal yang lain. Hanya dengan sepasang payudara itu saja, aku bisa bermain selama sepuluh tahun!”
Rizal bergumam dengan wajah tergila-gila sambil menyeka sudut mulutnya.
Mendengar ucapan itu, Kevin langsung merasa jijik.
Sialan.
Orang ini bukan hanya generasi kedua orang kaya, tetapi juga generasi kedua orang kaya yang sama sekali tidak punya kualitas.
Semua pikiran kotornya bahkan diucapkan terang-terangan tanpa rasa malu.
Namun karena Nagita sudah datang, Kevin menahan rasa muaknya.
Karena Kevin akan datang hari ini, Nagita bangun lebih awal dari biasanya.
Sebenarnya ia tidak memiliki perasaan khusus terhadap Kevin.
Ia hanya merasa bahwa Kevin adalah orang yang jujur dan tampaknya cukup kuat dalam bertarung, sehingga ia mengundangnya untuk menjadi pengawal.
Tentu saja, ini hanyalah rumah kontrakan yang ia sewa bersama beberapa gadis lain.
Karena kejadian semalam, mereka membutuhkan seseorang yang jujur seperti Kevin untuk melindungi mereka.
Namun Nagita terus menunggu.
Dari kiri ke kanan, dari kanan ke kiri.
Sudah pukul 09.15 pagi, tetapi Kevin masih belum muncul.
Karena itu ia turun ke bawah untuk melihat.
Siapa sangka, yang dilihatnya justru Kevin dan Rizal yang hampir berkelahi.
Karena jaraknya cukup jauh, Nagita tidak mendengar apa yang baru saja diucapkan Rizal.
Saat ini, seluruh perhatiannya tertuju pada Kevin.
Dengan nada sedikit menyalahkan, ia berkata,
“Kevin, kita sudah janji jam sembilan. Lihat, kau terlambat lima belas menit!”
“Eh...”
Kevin tersenyum canggung.
“Tadi jalanan macet.”
‘Kevin, dasar bodoh. Tidak bisakah kau berpakaian sedikit lebih layak? Kalau orang lain melihatmu seperti ini, mereka pasti mengira seleraku buruk!’
Melihat pakaian Kevin yang lusuh, Nagita diam-diam merasa kesal.
Bahkan penampilannya hari ini lebih buruk daripada kemarin.
Melihat Nagita tampak akrab dengan bocah miskin itu, Rizal langsung merasa tidak nyaman.
Rasanya seperti barang miliknya direbut orang.
Perasaan itu membuatnya sangat kesal.
Meskipun ia memandang rendah Kevin, di depan Nagita ia tetap harus menunjukkan sikap seorang pria terhormat.
Bagaimanapun juga, ia harus meninggalkan kesan baik di hati gadis cantik ini.
“Batuk... batuk...”
Rizal berdeham pelan.
Ia merapikan rambutnya yang menyerupai jengger ayam, lalu memperlihatkan senyum yang menurutnya menawan.
“Nagita, aku Rizal Pernama. Kurasa kau mengenalku.”
Mendengar suara itu, Nagita akhirnya menoleh ke arahnya.
“Rizal...?”
Ia tampak bingung.
“Kita akrab? Kenapa kau mencariku? Kalau ada urusan, langsung saja katakan. Aku harus pulang.”
Ia memang pernah mendengar nama Rizal Pernama.
Pemuda itu juga mahasiswa baru di Universitas Nusantara, hanya saja berbeda jurusan dengannya.
Memang benar Rizal adalah anak orang kaya, tetapi itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Karena itu, ia sama sekali tidak tertarik mengobrol dengannya.
Melihat Nagita tidak bereaksi apa-apa setelah mendengar namanya, Rizal merasa heran.
Apa mungkin gadis cantik ini benar-benar tidak mengenalnya?
Memikirkan hal itu, ia tersenyum dan berkata,
“Nona cantik, aku Rizal Pernama, putra pemilik Grup Properti Pernama, .”
“Sejak pertama kali melihatmu di kampus, aku langsung tertarik oleh senyummu. Menurutku, kau adalah bidadari dalam mimpiku.”
“Nagita, apakah kau punya waktu untuk makan bersama denganku?”
Sambil berbicara, Rizal dengan santai menggoyangkan kunci BMW di tangannya, berusaha menunjukkan pesona dan statusnya.
Pada saat itu, Kevin tidak bisa menahan tawa.
“Hahaha! Tidak bisa, aku benar-benar mau mati karena tertawa!”
“Serius, kau pasti terlalu banyak membaca novel romantis.”
“Ya ampun, cara PDKT sepayah ini...”
udah berapa bab nih jari gak lepas2? 😇🤭