NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Fitnah yang Menyakitkan

Sejak kunjungan keluarga Aldo dan kedatangan Karina, suasana di rumah besar itu terasa sedikit berbeda. Meskipun Aldo tetap bersikap hangat dan melindungi Naura, gadis itu tidak bisa menghilangkan rasa tidak nyaman yang menyelimuti hatinya. Ia sadar bahwa Karina tidak akan berhenti begitu saja, dan firasat buruknya terbukti benar hanya beberapa hari kemudian.

Suatu pagi, saat Aldo sedang bersiap berangkat ke kantor, ia mendengar suara keras dari arah dapur. Begitu mendekat, ia melihat asisten rumah tangga bagian keuangan berdiri dengan wajah cemas, sementara Naura terlihat bingung dan pucat pasi.

"Ada apa ini?" tanya Aldo dengan nada tegas.

Asisten itu segera menyerahkan sebuah amplop berisi uang tunai dan sebuah buku catatan. "Tuan Aldo, saya menemukan ini tersembunyi di bawah kasur kamar Naura. Jumlahnya cukup besar, dan ada catatan yang seolah mencatat pengeluaran yang tidak wajar. Saya khawatir..."

Aldo mengernyitkan dahi, lalu menatap Naura. "Benarkah ini milikmu?"

Naura menggeleng cepat, matanya terbelalak kaget. "Tidak, Aldo! Saya tidak pernah melihat uang ini sebelumnya! Saya tidak tahu bagaimana bisa ada di kamar saya!"

"Benarkah? Tapi ini ditemukan di tempatmu. Dan lihat catatan ini—seolah-olah ada transaksi yang tidak tercatat dari kebutuhan rumah tangga," potong asisten itu.

Aldo mengambil amplop itu dan memeriksanya dengan teliti. Ia mengenali kertas catatan itu, namun ada sesuatu yang terasa janggal. Ia mengenal karakter Naura—selama bekerja, gadis itu tidak pernah mengambil barang sekecil apa pun yang bukan haknya, bahkan selalu mengembalikan uang kembalian hingga ke rupiah terakhir.

"Saya percaya padamu," kata Aldo tiba-tiba, membuat Naura tertegun. Ia menoleh ke asistennya. "Periksa rekaman CCTV di area lorong dan kamar pembantu selama tiga hari terakhir. Saya ingin tahu siapa yang memasukkan barang ini."

Asisten itu segera pergi untuk memeriksa rekaman. Sementara itu, Naura merasa terharu sekaligus sedih. "Terima kasih sudah percaya. Tapi saya takut... kalau nanti rekamannya tidak jelas, apa yang akan orang lain pikirkan tentang saya?"

Aldo mengusap lembut kepala Naura. "Jangan khawatir. Kebenaran akan terungkap. Dan selama saya ada di sini, tidak ada yang bisa menuduhmu tanpa bukti yang jelas."

Namun, sebelum hasil pemeriksaan keluar, berita tentang "pencurian" itu sudah menyebar. Ibu Aldo mendengar kabar itu dan segera datang bersama Karina, dengan wajah penuh kemarahan dan kepuasan.

"Aldo! Lihatlah! Sudah saya katakan! Gadis ini tidak bisa dipercaya! Dia datang ke sini hanya untuk mengambil keuntungan!" bentak Ibu Aldo begitu masuk.

Karina tersenyum licik, lalu menatap Naura dengan pandangan merendahkan. "Memang tidak heran. Latar belakangnya yang tidak jelas, pasti sudah terbiasa mengambil barang orang lain. Lebih baik dia diusir saja sebelum mengambil lebih banyak lagi."

"Saya tidak mencuri! Uang itu bukan milik saya!" bantah Naura dengan suara bergetar, namun tidak ada yang mau mendengarnya.

"Kamu masih berani membela diri? Bukti sudah ada di tangan! Keluarlah dari rumah ini dan jangan pernah kembali!" perintah Ibu Aldo dengan tegas.

"Tidak! Tidak ada yang akan mengusirnya sebelum semuanya jelas!" tegur Aldo dengan suara keras yang membuat semua orang terdiam. "Saya sudah memerintahkan untuk memeriksa rekaman CCTV. Kita tunggu hasilnya."

Beberapa saat kemudian, asisten itu kembali dengan wajah terkejut. "Tuan Aldo... rekaman CCTV di area itu ternyata rusak. Seseorang telah memutuskan kabelnya dan menghapus rekaman selama dua hari terakhir."

Wajah Ibu Aldo semakin marah. "Lihat! Ini pasti rencananya! Dia tahu akan ketahuan, jadi dia merusak buktinya! Aldo, kalau kamu tidak mau mengusirnya, saya yang akan memanggil polisi!"

Naura merasa dunianya runtuh. Tanpa bukti yang jelas, semua tuduhan itu terasa nyata. Ia menunduk, air matanya jatuh perlahan. "Kalau begitu... saya akan pergi. Saya tidak mau menjadi sumber pertengkaran di sini. Terima kasih atas kebaikanmu selama ini, Aldo."

Ia berbalik untuk mengambil barang-barangnya, namun tiba-tiba tangan Aldo menahan lengannya. "Kamu tidak perlu pergi. Saya tahu kamu tidak bersalah. Dan saya akan membuktikannya."

Lalu, Aldo menoleh ke arah Karina yang terlihat sedikit gelisah. "Karina, kamu datang ke rumah ini dua hari yang lalu, bukan? Apakah kamu melihat sesuatu yang mencurigakan?"

Karina terkejut, lalu segera menjawab dengan nada tenang, "Tidak... saya hanya berkunjung sebentar saja. Saya tidak tahu apa-apa."

Aldo tersenyum tipis, namun matanya tetap tajam. "Benarkah? Tapi saya punya bukti lain. Kabel CCTV yang diputus itu memiliki bekas potongan pisau khusus yang hanya dijual di toko alat tulis langganan keluarga kita. Dan ada saksi yang melihat seseorang yang mirip denganmu berada di area belakang rumah malam itu."

Wajah Karina memucat. Ia tidak menyangka Aldo akan memeriksa sedetail itu. "Itu... itu tidak benar! Kamu hanya berusaha melindungi gadis ini!"

"Saya juga memeriksa sidik jari di amplop dan buku catatan itu. Tidak ada sidik jari Naura, tapi ada sidik jari orang lain—yang ternyata cocok dengan milikmu," lanjut Aldo tegas, sambil menunjukkan laporan singkat dari tim penyelidikannya.

Karina tertegun, tidak bisa berbicara apa-apa. Rencananya untuk memfitnah Naura ternyata gagal total. Ibu Aldo yang melihat bukti itu segera menyadari kesalahannya. "Karina... apakah ini benar? Kamu yang melakukannya?"

Karina akhirnya mengakui semuanya dengan suara terbata-bata. Ia merasa cemburu karena ditolak dan melihat Aldo lebih memilih Naura, sehingga ia berencana membuang gadis itu dengan cara memfitnahnya mencuri.

"Saya minta maaf... saya hanya tidak terima dia yang tidak pantas bisa mendapatkan perhatianmu," ucap Karina sambil menunduk malu.

Aldo menghela napas panjang. "Kamu telah melakukan hal yang tidak terpuji. Saya akan memberitahu ayahmu tentang hal ini. Sekarang, pergilah dan jangan pernah datang lagi ke sini."

Karina pergi dengan wajah penuh rasa malu. Ibu Aldo menatap Naura dengan perasaan bersalah. "Nak... saya minta maaf. Saya menuduhmu tanpa bukti. Bisakah kamu memaafkan saya?"

Naura mengangguk lembut. "Tidak apa-apa, Bu. Saya mengerti kekhawatiran Ibu."

Sejak kejadian itu, pandangan keluarga Aldo perlahan berubah. Mereka mulai melihat ketulusan Naura dan menyadari bahwa gadis itu tidak seperti yang mereka bayangkan. Namun, perjalanan mereka belum sepenuhnya mulus. Masih ada pandangan dari lingkungan sosial Aldo yang mempertanyakan hubungan mereka.

Suatu hari, saat Aldo harus menghadiri acara amal besar, ia memutuskan untuk membawa Naura bersamanya. Ia ingin memperkenalkan gadis itu secara resmi kepada semua orang. Meskipun awalnya ragu, Naura setuju karena ia ingin mendukung Aldo.

Di acara itu, banyak orang memandang mereka dengan pandangan aneh dan berbisik-bisik. "Siapa wanita itu? Apakah dia pembantu di rumah Aldo?" "Dia terlihat sederhana sekali, tidak pantas berdiri di sampingnya."

Naura merasa tidak nyaman dan ingin mundur, namun Aldo menggenggam tangannya erat, memberikan kekuatan. "Jangan pedulikan mereka. Kamu ada di sini sebagai pendamping saya, dan itu sudah cukup."

Aldo memperkenalkan Naura dengan bangga kepada semua orang, menjelaskan bahwa gadis itu adalah orang yang sangat berharga baginya. Seiring waktu, ketulusan dan kepribadian Naura yang lembut membuat banyak orang perlahan menghargainya, meski masih ada yang memandang rendah.

Malam itu, dalam perjalanan pulang, Naura menatap Aldo dengan perasaan yang semakin dalam. "Terima kasih sudah berjuang untuk saya. Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan tanpa kamu."

Aldo menoleh, menatap matanya dalam-dalam. "Kita berjuang bersama. Dan saya tidak akan pernah melepaskanmu, apa pun yang terjadi."

Di dalam hati keduanya, keyakinan semakin kuat. Mereka siap menghadapi apa pun yang datang, asalkan mereka saling mendukung. Namun, mereka tidak tahu bahwa rintangan lain sedang menanti—sebuah rahasia masa lalu yang akan menguji kekuatan cinta mereka.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!