NovelToon NovelToon
PEMURNIAN MUTLAK

PEMURNIAN MUTLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Action
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Takindomaru

Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Buah dari Kekacauan

Debu dan asap hitam masih mengepul di ufuk utara, seperti noda tinta di atas kanvas langit senja. Kota Qingyun gempar. Warga berbisik-bisik tentang kutukan Lembah Hitam, sementara para penjaga kota menutup gerbang utara dengan panik, takut akan sisa-sisa lebah atau monster yang mungkin lolos.

Di tengah kehebohan itu, Lin Fan duduk tenang di gubuknya. Pintu tertutup rapat, tirai jendela diturunkan. Di hadapannya, terhampar harta karun hasil curian dari kamar Yan Lie.

Ada tiga tumpukan Batu Spirit Tingkat Menengah—total sekitar lima puluh buah. Cahaya mereka berpendar lembut, memberikan aura kemakmuran yang jarang dilihat Lin Fan seumur hidupnya. Selain itu, ada gulungan manuskrip berjudul "Teknik Nafas Api Dasar" dan sebuah kotak kecil berisi lima pil Pemulih Luka Grade Tinggi.

Lin Yue duduk di sampingnya, matanya melebar tak percaya. "Ini... ini kekayaan yang bisa membeli setengah blok perumahan di distrik pedagang! Lin Fan, kita kaya!"

"Kita tidak kaya," koreksi Lin Fan dingin, matanya tetap tertuju pada Batu Spirit. "Kita hanya memiliki modal. Uang akan habis jika dibelanjakan untuk makanan atau pakaian. Tapi ini..." Ia mengambil satu Batu Spirit Tingkat Menengah. "...ini adalah bahan bakar untuk kekuatan."

Lin Yue menelan ludah. "Apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan menyerap semuanya," kata Lin Fan.

Lin Yue terkejut. "Semuanya? Sekaligus? Itu gila! Tubuhmu bisa meledak! Kultivator normal butuh berminggu-minggu untuk menyerap satu batu spirit tingkat menengah dengan aman!"

"Biasanya, ya," kata Lin Fan sambil tersenyum tipis. "Tapi aku bukan kultivator normal. Manik Giok di dalam Dantian-ku akan memurnikan energi kasar dari batu-batu ini menjadi esensi murni. Prosesnya akan cepat, tapi menyakitkan. Aku butuh kau berjaga di luar. Jika ada orang datang, ketuk pintu tiga kali. Jangan masuk, apapun yang terjadi."

Lin Yue ragu, melihat tekad di mata Lin Fan. Akhirnya, ia mengangguk. "Baiklah. Aku akan menjaga pintu. Hati-hati, Lin Fan."

Setelah Lin Yue keluar dan menutup pintu, Lin Fan segera duduk bersila di tengah ruangan. Ia menempatkan kelima puluh Batu Spirit Tingkat Menengah melingkar di sekelilingnya.

Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Dengan gerakan tangan yang cepat, ia memecahkan semua batu spirit tersebut sekaligus.

Crack! Crack! Crack!

Lima puluh batu hancur menjadi debu berkilau. Energi Qi yang terkandung di dalamnya meledak keluar, menciptakan pusaran angin kecil di dalam gubuk sempit itu. Udara menjadi padat dan berat, sulit untuk bernapas.

Lin Fan tidak membuang waktu. Ia membuka pori-pori seluruh tubuhnya dan menarik energi itu masuk.

Rushhh!

Energi kasar berwarna oranye kemerahan (karena elemen api dominan dari Clan Yan) menerobos masuk ke meridiannya. Rasanya seperti menelan bara api. Panas yang menyiksa menyebar ke setiap sel tubuhnya. Kulitnya memerah, urat-uratnya menonjol, dan keringat panas mengucur deras.

Rasa sakit itu luar biasa. Meridiannya terasa seperti akan robek. Otaknya berteriak meminta berhenti.

Tahan! batin Lin Fan. Aktifkan Manik Giok!

Di pusat Dantian-nya, cahaya putih bersih bersinar terang. Ia menarik energi kasar itu ke pusat pemurnian. Proses filtrasi terjadi dengan kecepatan gila. Kotoran dan ketidakstabilan elemen api disaring keluar sebagai uap hitam yang keluar dari kulitnya, sementara esensi Qi murni berwarna putih susu dialirkan ke seluruh tubuh.

Siklus itu berulang. Tarik, murnikan, simpan.

Satu jam berlalu. Dua jam. Tiga jam.

Tubuh Lin Fan bergetar hebat. Otot-ototnya menegang hingga batas maksimal. Tulang-tulangnya berderak saat mereka diperkuat oleh energi murni.

Ting!

Sebuah suara nyaring bergema di kepalanya. Penghalang Tahap Qi Level 4 runtuh.

Lin Fan tidak berhenti. Ia terus menyerap. Energi dari batu-batu spirit masih banyak tersisa.

Ting!

Level 5.

Keringatnya sudah berubah menjadi hitam pekat, lapisan kotoran terakhir dari tubuhnya yang selama ini menumpuk karena nutrisi buruk dan stres. Tubuhnya kini terasa ringan, kuat, dan penuh vitalitas. Kulitnya yang sebelumnya kusam kini memiliki kilau sehat, meskipun masih tertutup lumpur hitam.

Ting!

Level 6.

Lin Fan membuka matanya. Pupilnya bersinar sebentar sebelum kembali normal. Ia menghela napas panjang, mengeluarkan sisa udara kotor dari paru-parunya.

Ia berhasil. Dalam satu malam, ia meloncat dari Level 3 ke Level 6. Sebuah lompatan yang mustahil bagi genius mana pun di Benua Azure.

Ia berdiri, merasakan kekuatan baru di tubuhnya. Tinjunya kini memiliki daya hancur yang jauh lebih besar. Teknik Napas Besi-nya juga meningkat secara alami karena densitas Qi-nya yang lebih tinggi.

Namun, ia tahu ini baru permulaan. Level 6 masih jauh dari Yan Lie (Level 7+). Tapi sekarang, jarak itu sudah bisa dijembatani dengan strategi dan teknik yang tepat.

Lin Fan membersihkan tubuhnya dengan air sisa di ember, lalu mengenakan baju bersih yang ia siapkan sebelumnya. Ia mengumpulkan debu batu spirit yang tersisa—meski energinya habis, debunya bisa digunakan sebagai bahan dasar untuk membuat bom asap sederhana jika dicampur dengan bubuk kimia tertentu. Tidak ada yang boleh terbuang.

Pintu diketuk tiga kali.

Lin Fan membuka pintu. Lin Yue masuk, wajahnya pucat karena kelelahan menunggu. Saat ia melihat Lin Fan, matanya membelalak.

"Kau... kau terlihat berbeda," bisiknya. "Aura-mu... lebih stabil. Lebih kuat."

"Aku Level 6 sekarang," kata Lin Fan datar.

Lin Yue hampir jatuh duduk. "Level... enam? Dalam satu malam? Dari Level 3?" Ia memegang dahinya, seolah memastikan ia tidak sedang bermimpi. "Lin Fan, kau benar-benar monster."

"Aku hanya bertindak seefisien mungkin," jawab Lin Fan. "Sekarang, dengarkan. Kita punya masalah baru."

"Mmasalah apa?"

"Yan Lie akan kembali. Dia marah, dia malu, dan dia terluka. Dia tidak akan langsung menyerang kota karena Elder-nya pasti akan menahannya untuk mengobati luka dan melaporkan kegagalan ini ke Patriark Clan Yan. Tapi, dia akan mencari kambing hitam."

Lin Yue menggigit bibirnya. "Dia akan menuduh Clan Lin."

"Tepat. Dan siapa yang paling mudah disalahkan di Clan Lin? Bukan Kepala Klan. Bukan Elder. Tapi 'pelayan sampah' yang terakhir kali berbicara dengannya, atau sepupu yang dianggap gagal."

Lin Fan tersenyum dingin. "Lin Hu."

"Lin Hu?" Lin Yue bingung. "Mengapa Lin Hu?"

"Karena Lin Hu adalah wajah publik Clan Lin yang berinteraksi dengan Yan Lie. Dan karena Lin Hu bodoh. Yan Lie akan menekan Kepala Klan Lin untuk menyerahkan 'orang yang bertanggung jawab' atas insiden Lembah Hitam. Kepala Klan, demi menyelamatkan klan dari kemarahan Clan Yan, akan dengan senang hati mengorbankan Lin Hu atau menyalahkannya atas ketidakmampuan menjaga tamu."

Lin Yue ternganga. "Jadi... Lin Hu akan hancur?"

"Atau setidaknya, posisinya akan goyah," kata Lin Fan. "Dan saat posisinya goyah, itulah saatnya aku bergerak. Aku tidak perlu membunuh Lin Hu dengan tanganku sendiri. Aku hanya perlu memastikan dia jatuh ke dalam lubang yang sudah dia gali sendiri."

Tiba-tiba, suara lonceng darurat berbunyi dari arah Aula Utama Clan Lin. Dong! Dong! Dong!

Suara itu menandakan pertemuan darurat klan.

Lin Fan dan Lin Yue saling pandang.

"Pertunjukan dimulai," kata Lin Fan. "Ayo kita lihat bagaimana Lin Hu mencoba menyelamatkan dirinya sendiri."

Mereka berdua bergegas menuju Aula Utama. Saat mereka tiba, suasana di sana tegang sekali. Kepala Klan Lin Zhengtian duduk di tahtanya dengan wajah murung. Di sampingnya, berdiri seorang utusan dari Clan Yan—bukan Yan Lie, tapi salah satu Elder pengawal, Elder Huo, yang wajahnya masih hangus sebagian dan dipenuhi bekas sengatan lebah.

Di tengah aula, berlutut dengan wajah pucat pasi, adalah Lin Hu.

"...dan karena ketidakmampuan Tuan Muda Lin Hu dalam menjamu tamu kami, serta kegagalan intelijen klannya dalam menyediakan informasi yang akurat tentang Lembah Hitam, Clan Yan menuntut kompensasi!" suara Elder Huo menggema, penuh amarah. "Kami menuntut 10.000 Batu Spirit Rendah, atau penyerahan hak tambang besi di bukit utara selama sepuluh tahun!"

Anggota klan bergumam kaget. 10.000 Batu Spirit adalah jumlah yang sangat besar. Hak tambang besi adalah sumber pendapatan utama Clan Lin. Ini adalah tuntutan yang mematikan.

Lin Zhengtian menghela napas berat. "Elder Huo, ini adalah kesalahpahaman. Yan Lie pergi ke Lembah Hitam atas keinginannya sendiri, berdasarkan peta yang dia temukan..."

"Peta itu berasal dari wilayah kalian!" potong Elder Huo tajam. "Dan pelayan kalian, Lin Fan, terlihat mencurigakan! Kami ingin interrogasi dia!"

Semua mata tertuju pada Lin Fan yang baru saja masuk dan berdiri di barisan belakang pelayan.

Lin Hu, yang mendengar nama Lin Fan, langsung menunjuknya dengan jari gemetar. "Benar! Paman! Itu dia! Lin Fan! Dia selalu bertindak aneh! Mungkin dia yang memberikan peta palsu itu kepada Yan Lie! Dia ingin menghancurkan klan kita! Dia pengkhianat!"

Lin Fan tetap tenang. Ia melangkah maju, membungkuk hormat kepada Kepala Klan dan Elder Huo.

"Hamba hanya seorang pelayan, Yang Mulia," kata Lin Fan dengan suara jelas. "Hamba tidak pernah bertemu Tuan Muda Yan Lie secara pribadi selain untuk mengantarkan air. Hamba tidak tahu apa-apa tentang peta atau Lembah Hitam."

"Bohong!" teriak Lin Hu. "Aku melihatmu berbisik-bisik dengan seseorang malam itu! Kau pasti bekerja sama dengan musuh!"

Elder Huo menatap Lin Fan dengan curiga. "Anak muda, jika kau jujur, tunjukkan meridianmu. Kami akan memeriksa apakah kau menyimpan artefak pencuri atau teknik ilusi."

Ini adalah jebakan. Jika Lin Fan diperiksa, kekuatan Level 6-nya akan ketahuan. Seorang pelayan dengan Level 6 adalah anomali yang akan memicu investigasi mendalam. Manik Gioknya bisa terdeteksi.

Lin Fan berpikir cepat. Ia tidak bisa menolak pemeriksaan. Tapi ia bisa memanipulasi hasilnya.

Ia ingat pil Penyamaran Qi yang ia buat secara diam-diam menggunakan sisa bahan kimia Lin Yue minggu lalu. Pil itu belum diuji, tapi teorinya sederhana: menekan aliran Qi ke permukaan sehingga terlihat lebih lemah dari aslinya.

Dengan gerakan halus, Lin Fan memasukkan pil kecil ke dalam mulutnya dan menelannya tanpa terlihat. Pil itu bekerja instan, menciptakan lapisan kabut tipis di sekitar Dantian-nya.

"Izinkan hamba," kata Lin Fan.

Elder Huo mendekat, menempatkan tangannya di punggung Lin Fan. Ia mengalirkan Qi-nya untuk menyelidiki meridian Lin Fan.

Lin Fan menahan napasnya, membiarkan Qi-nya yang Level 6 tertekan oleh efek pil, sehingga hanya terasa seperti aliran Qi Level 2 yang kacau dan lemah—sesuai dengan citra sampahnya.

Elder Huo mengerutkan kening. "Meridiannya tersumbat parah. Energinya kacau. Dia bahkan tidak bisa membentuk fondasi yang stabil. Ini bukan karya master ilusi. Ini memang sampah."

Elder Huo menarik tangannya, tampak kecewa. "Dia tidak berguna. Bukan dia pelakunya."

Lin Hu panik. "Tapi Paman! Dia pasti..."

"Cukup, Lin Hu!" bentak Lin Zhengtian, suaranya lelah. "Elder Huo sudah berbicara. Lin Fan tidak terlibat. Namun, tuntutan Clan Yan harus dijawab."

Lin Zhengtian menatap Lin Hu dengan tatapan dingin. "Lin Hu, karena kau adalah tuan rumah yang gagal, dan karena kau tidak bisa mengendalikan situasi di penginapan, kau akan dihukum. Hak warismu sebagai calon kepala cabang dikurangi setengah. Dan kau akan bertanggung jawab membayar 5.000 Batu Spirit dari tabungan pribadimu sebagai permintaan maaf kepada Clan Yan."

Wajah Lin Hu menjadi abu-abu. 5.000 Batu Spirit? Itu hampir semua kekayaannya! Dia bangkrut!

"Sedangkan untuk sisa tuntutan..." Lin Zhengtian menatap Elder Huo. "Kami akan membayar 2.000 Batu Spirit tunai, dan menawarkan diskon 20% untuk semua transaksi dagang Clan Yan di kota ini selama satu tahun. Apakah ini dapat diterima?"

Elder Huo berpikir sejenak. Clannya juga menderita kerugian besar di Lembah Hitam. Mendapatkan kompensasi tunai dan keuntungan dagang jangka panjang lebih baik daripada perang terbuka yang tidak diinginkan saat ini.

"Diterima," kata Elder Huo singkat. "Tapi ingatkan pelayan-pelayanmu untuk menjaga mulut mereka. Jika aku mendengar gosip lagi tentang kehormatan Clan Yan, lain waktu, kami tidak akan bernegosiasi."

Dengan itu, Elder Huo berbalik dan pergi, diikuti oleh pengawalnya.

Aula menjadi hening. Lin Hu berlutut, menangis frustrasi. Karirnya hancur. Kekayaannya lenyap.

Lin Fan menunduk, menyembunyikan senyuman tipis di sudut bibirnya.

Langkah pertama selesai. Lin Hu telah dilumpuhkan secara finansial dan politis. Dan yang terbaik? Lin Fan tetap bersih. Tidak ada yang curiga padanya.

Saat para anggota klan mulai bubar, Lin Yue mendekati Lin Fan dari belakang, matanya berbinar kagum.

"Kau... kau melakukan itu dengan sengaja, kan? Membuat Lin Hu terlihat tidak kompeten di depan Elder Yan?" bisiknya.

Lin Fan tidak menjawab. Ia hanya menatap punggung Lin Hu yang gemetar.

"Permainan catur baru saja dimulai, Lin Yue," bisik Lin Fan. "Dan raja mereka sudah kehilangan bentengnya."

1
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
✅️
Daryus Effendi
masih lai bosan baca nya jarna mulai bab ini mulai bertele tele.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!