Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Badai di Ruang VIP
Atmosfer di dalam Ruang VIP 3 seketika membeku. Detak jarum jam dinding seolah berhenti berputar di bawah tekanan aura intimidasi yang dipancarkan oleh Adrian Dirgantara. Langkah kakinya saat memasuki ruangan terdengar berat, seolah membawa gemuruh badai yang siap meratakan apa saja di hadapannya.
Arsen mendengus sinis. Perlahan, ia melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan Renata, lalu mengangkat kedua tangannya ke udara dengan gestur menyerah yang dibuat-buat. Seringai licik tidak sedikit pun lepas dari wajah tampannya.
"Wow, tenanglah sepupuku," ucap Arsen dengan nada suara yang sengaja digenitkan. "Aku tidak sedang menyentuh barang milikmu secara ilegal. Aku hanya sedang menginterogasi... ah, maksudku, berkenalan lebih jauh dengan wanita malam yang sangat menarik ini."
Renata langsung menarik tangannya kembali. Pergelangan tangannya tampak memerah akibat cengkeraman Arsen yang terlampau kuat. Tubuhnya bergetar hebat—bukan karena takut pada Arsen melainkan karena syok melihat kehadiran Adrian di tempat ini.
‘Bagaimana bisa Adrian ada di sini? Bukankah dia seharusnya berada di luar kota?’ batin Renata dalam kepanikan yang mendalam. Ia segera membetulkan posisi topeng renda hitamnya berusaha menyembunyikan wajahnya yang kini basah oleh air mata kemarahan.
Adrian tidak memedulikan ucapan Arsen. Mata elangnya beralih menatap Renata yang duduk gemetar di sudut sofa dengan gaun malam merah marun yang mengekspos bahu indahnya. Tatapan Adrian berkilat penuh amarah yang tertahan, kecewa, sekaligus tuntutan akan penjelasan yang tidak bisa ditunda lagi.
"Keluar," perintah Adrian dingin, matanya kembali tertuju pada Arsen.
Arsen terkekeh pelan. Ia merapikan jas abu-abunya lalu berjalan mendekati pintu tempat Adrian berdiri. Saat jarak mereka hanya tersisa satu langkah Arsen berbisik di samping telinga Adrian dengan nada mengejek, "selera belajarmu dalam memilih istri kontrak ternyata sangat ekstrem Adrian. Berhati-hatilah dengan kupu-kupu malam. Sayap mereka mungkin terlihat indah tapi mereka membawa racun yang bisa menghancurkan takhtamu."
Tanpa menunggu balasan, Arsen melangkah keluar dari ruangan bersama dua pengawalnya menutup pintu yang kini sudah rusak itu dengan kasar dari luar.
Kini, keheningan yang jauh lebih mencekam merayap di dalam ruangan VIP.
Adrian berjalan mendekati meja marmer, setiap langkahnya membuat Renata merasa dunianya perlahan runtuh. Pria itu mencengkeram tepi meja mencondongkan tubuhnya ke depan demi mengunci pandangan Renata yang terus menunduk.
"Buka topengmu, Renata," suara bariton Adrian terdengar sangat rendah bergetar menahan amarah yang siap meledak kapan saja.
Renata tetap bergeming. Tangannya yang dingin meremas ujung gaunnya dengan kuat. "Tuan Adrian, saya... saya bisa jelaskan—"
"Aku bilang buka topengmu!" bentak Adrian. Suaranya yang menggelegar membuat Renata tersentak hebat.
Dengan perlahan dan tangan yang gemetar, Renata melepas tali renda hitam di balik kepalanya. Begitu topeng itu terlepas wajah asli Renata terekspos sepenuhnya di bawah pendar lampu neon ungu yang remang. Matanya yang indah tampak sembap merona merah akibat sisa air mata yang belum mengering.
Adrian terdiam sesaat, melihat wajah Renata dalam kondisi seperti ini memicu rasa asing yang aneh di dalam dadanya campuran antara rasa ingin melindungi dan rasa dikhianati yang sangat besar.
"Jadi... kebohonganmu di ruang kerjaku tempo hari tentang 'merindukan perpustakaan' adalah omong kosong?" tanya Adrian dengan tawa hambar yang terdengar sangat menyakitkan. "Dan alasan pergi ke makam kakakmu... ternyata kamu ke sini? Menjadi hostess malam lagi di tempat kotor ini?"
Adrian mencengkeram dagu Renata memaksa gadis itu untuk menatap langsung ke dalam matanya yang berkilat kecewa. "Aku menyewamu, membayar seluruh hutangmu dan memberimu tempat tinggal mewah karena aku pikir kamu adalah wanita polos yang bisa kupercaya untuk menyimpan rahasia kontrak ini! Tapi ternyata... kamu tidak lebih dari seorang penipu ulung yang menjajakan tubuhmu di malam hari!"
"Saya tidak pernah menjajakan tubuh saya!" sela Renata dengan nada suara yang meninggi membalas tatapan Adrian dengan keberanian yang mendadak bangkit dari rasa sakitnya. Ia menyentak dagunya agar terlepas dari cengkeraman Adrian.
"Uang Anda memang bisa membeli status pernikahan saya di atas kertas, Tuan Adrian! Tapi uang Anda tidak berhak menghina harga diri saya! Saya bekerja di sini sebelum bertemu dengan Anda dan saya tidak pernah membiarkan satu pun pria menyentuh saya lebih dari batas wajar!" lanjut Renata, napasnya terengah-engah dengan dada yang naik turun menahan emosi.
Adrian mendengus remeh. "Lalu apa yang kamu lakukan berdua saja dengan Arsen di ruangan tertutup ini? Jika aku tidak datang, apa yang akan terjadi padamu? Kamu tahu siapa Arsen? Dia serigala yang akan memakan wanita sepertimu hidup-hidup!"
"Saya tahu siapa Arsen!" air mata Renata kembali meluncur bebas membasahi pipinya. Kali ini, suaranya terdengar begitu parau dan penuh penderitaan yang mendalam. "Saya tahu dia serigala! Saya tahu dia iblis! Justru karena itu saya ada di sini malam ini, Adrian!"
Adrian mengernyitkan keningnya, melihat ada sesuatu yang ganjil dari histeria Renata. "Apa maksudmu?"
Renata berdiri dari sofanya mengikis jarak di antara mereka hingga dadanya hampir bersentuhan dengan dada tegap Adrian. Ia menatap Adrian dengan tatapan mata yang penuh luka, dendam dan keputusasaan yang sudah ia pendam selama satu tahun ini.
"Kakak perempuan saya... Maya... tewas mengenaskan satu tahun lalu," ucap Renata, suaranya bergetar hebat. "Polisi menutup kasusnya dan mengatakan dia bunuh diri karena depresi. Tapi itu semua bohong! Kakak saya disiksa dan dihancurkan jiwanya oleh salah satu petinggi Dirgantara Group di dalam kamar VIP bar ini! dan malam ini, saya mendapatkan konfirmasi bahwa pelakunya... adalah sepupumu sendiri, Arsen Dirgantara!"
Kata-kata Renata menghantam kesadaran Adrian seperti petir di siang bolong. Sang CEO dingin itu terpaku di tempatnya berdiri, matanya melebar karena terkejut.
"Aku masuk ke rumahmu melalui jalur pernikahan kontrak ini bukan karena mengincar hartamu yang melimpah, Adrian," bisik Renata lirih tubuhnya perlahan lemas hingga ia harus berpegangan pada tepi meja untuk tetap berdiri tegak. "Aku masuk ke sana... untuk mencari bukti. Aku ingin menyeret Arsen ke neraka demi membalaskan dendam kakak ku. Itu adalah satu-satunya alasan mengapa aku setuju menjadi istri kontrakmu."
Adrian menatap Renata dalam keheningan yang panjang. Semua potongan teka-teki yang membingungkannya selama ini seolah terjatuh di tempat yang tepat. Kemampuan bahasa Jepang Renata yang luar biasa, ketenangannya yang aneh di depan kakek Albert dan tatapan matanya yang penuh kabut kebencian saat makan malam keluarga besar semuanya karena wanita ini sedang mengobarkan perang balas dendam di dalam rumahnya sendiri.
Namun, di atas segalanya ada satu fakta besar yang kini menghantam ego Adrian, wanita yang selama ini ia cari-cari setelah pertemuan pertama mereka di bar, sang "Papillon" yang misterius ternyata adalah Renata yang selama ini tinggal satu atap dengannya dalam balutan sweter longgar dan kacamata tebal.
"Kamu... benar-benar wanita yang sangat gila, Renata," bisik Adrian, suaranya kini melunak kehilangan sebagian besar kemarahannya namun berganti dengan nada bahaya yang baru.
Adrian melangkah maju merengkuh pinggang ramping Renata dengan satu tangan yang kuat, menarik tubuh gadis itu hingga menempel erat pada tubuhnya. Ia menunduk, menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Renata yang masih basah oleh air mata.
"Kamu memanfaatkan aku sebagai jembatan untuk membalas dendam pada Arsen," desis Adrian, membuat jarak di antara wajah mereka tersisa beberapa sentimeter saja. "Kamu telah melanggar aturan utama kontrak kita, kamu berbohong dan menyimpan rahasia besar dariku."
Renata memejamkan matanya, pasrah jika malam ini Adrian akan membatalkan kontrak mereka dan mengusirnya. "Jika Anda ingin mengusir saya sekarang... silakan, Tuan Adrian. Saya tidak akan membela diri lagi."
Namun, di luar dugaan Renata, Adrian justru mempererat pelukannya di pinggang gadis itu. Sebuah seringai tipis yang dingin namun sarat akan intrik berbahaya muncul di sudut bibir sang CEO.
"Mengusirmu?" Adrian tertawa kecil, suara tawa yang membuat jantung Renata berdegup aneh. "Tidak. Perjalananmu sudah terlanjur terlalu jauh, Renata. Dan kebetulan sekali... musuh dari musuhku adalah temanku. Arsen juga adalah duri di dalam dagingku yang ingin kusingkirkan dari Dirgantara Group."
Adrian mengangkat tangan kanannya jemarinya yang hangat perlahan menghapus sisa air mata di pipi Renata dengan kelembutan yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya.
"Kontrak kita berubah mulai malam ini, Nona Pustakawati," bisik Adrian dengan nada suara yang penuh otoritas mutlak. "Kamu tidak boleh bergerak sendirian lagi di bawah lampu remang bar ini. Mulai besok kita akan bekerja sama, aku akan memberimu akses untuk menghancurkan Arsen dan sebagai gantinya... kamu harus menjadi istriku yang sesungguhnya di depan seluruh dunia. Bagaimana? Apakah kamu berani memperpanjang permainan berbahaya ini bersamaku, Renata?"
Renata membuka matanya, menatap langsung ke dalam manik mata elang Adrian yang kini memancarkan kilat sekutu yang mematikan. Di bawah lampu neon ungu Ruang VIP 3, sebuah aliansi baru yang jauh lebih berbahaya di atas kertas pernikahan kontrak baru saja resmi terbentuk.