Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
BAB 10: KEBohongan KECIL YANG MENUMPUK
"Kebohongan besar tidak pernah lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari ribuan kebohongan kecil yang dibiarkan menumpuk, sampai akhirnya menjadi gunung yang menelan segalanya."
Pagi itu, langit Jakarta terlihat kelabu, seolah turut meratapi kekacauan yang bersarang di dalam hati Arka. Ia duduk di meja makan, menatap punggung Elena yang sibuk bergerak ke sana kemari mempersiapkan keberangkatannya. Koper besar berwarna hitam sudah tertutup rapat di sudut ruangan, berisi pakaian dan barang-barang yang katanya untuk keperluan proyek tiga hari ke depan.
Namun di mata Arka, koper itu bukan sekadar tas perjalanan. Di dalamnya tersimpan identitas lain, masa lalu kelam, dan rencana-rencana yang mengancam nyawa. Semua yang ia baca semalam di ponsel hitam itu masih berputar di kepalanya, membayangi setiap gerak-gerik istrinya.
Semalam, saat berbaring di samping Elena yang berpura-pura tidur, Arka menyusun ulang ingatannya dua tahun ke belakang. Ia mulai menarik satu per satu benang merah dari kejadian-kejadian yang dulu ia anggap sepele, hal-hal kecil yang dulu ia maafkan atau ia abaikan karena rasa cintanya yang besar. Dan saat benang-benang itu ditarik bersamaan... terbentuklah jaring kebohongan yang begitu rapat, sampai-sampai Arka tak sadar dirinya sudah terperangkap di tengahnya sejak lama.
"Mas, tolong ambilin jaketku di lemari ya? Yang warna krem itu," panggil Elena dari ambang pintu kamar mandi. Ia sedang merapikan riasannya, wajahnya segar dan cerah, tak ada satu pun jejak ketegangan atau tangisan semalam.
Arka bangkit berdiri perlahan. "Nggih, Le. Yang biasa kamu pakai ke pesta itu ya?" tanyanya sambil berjalan menuju lemari besar di ruang tengah.
"Iya, itu aja. Dingin lho katanya di Bandung," jawab Elena santai.
Saat Arka membuka lemari dan tangannya menyentuh bahan jaket krem itu, ingatannya melayang ke kejadian satu tahun lalu. Kejadian kecil yang saat itu dianggapnya lucu, tapi sekarang rasanya seperti tamparan keras.
Satu tahun lalu. Mereka diundang ke pesta pernikahan teman Arka.
"Le, pakai baju merah yang cantik itu ya. Aku suka banget kalau kamu pakai warna itu," pinta Arka waktu itu.
Wajah Elena yang biasanya ceria langsung berubah pucat. Ia menggeleng cepat, hampir ketakutan. "Nggak mau ah, Mas. Aku nggak suka merah. Merah itu... norak, panas, nggak cocok sama kulitku."
Arka saat itu tertawa pelan. "Ah, masa sih? Padahal pas kita pertama kali ketemu di pameran seni, kamu pakai gaun merah marun lho. Cantik banget, sampai aku nggak bisa kedip lihatnya."
Waktu itu, Elena terdiam sepersekian detik. Matanya berputar sejenak, lalu ia tertawa renyah sambil memukul pelan lengan Arka. "Ya ampun, Mas ini ingatannya udah mulai jelek ya? Itu warna merah bata, bukan merah merun. Lagian itu kan dulu, sekarang selera aku udah berubah dong. Kan aku udah jadi istri orang, harus lebih sopan penampilannya."
Arka percaya begitu saja. Ia pikir memang selera wanita bisa berubah. Tapi sekarang, mengingat kembali pesan-pesan di ponsel hitam itu... Claire. Elena Wijaya adalah identitas yang dibuat. Apakah Elena Wijaya memang tidak suka merah, tapi Claire Nathania justru sangat menyukainya? Dan saat Arka menyebut warna itu, Elena panik karena hampir salah peran?
"Mas? Kok melamun lagi sih?" suara Elena menyadarkan Arka dari lamunan pahitnya. Wanita itu sudah berdiri tepat di sampingnya, meraih jaket dari tangan suaminya. Matanya menatap tajam, menyelidiki.
"Eh... nggak apa-apa, Le. Cuma mikirin lagi... piye ya, rasanya baru kemarin kita nikah, eh sekarang kamu udah sering banget pergi-pergi," jawab Arka berusaha tersenyum. Ia harus pandai berakting sekarang. Ia harus sama pandainya dengan Elena.
Elena tersenyum miring, lalu mengancingkan kemejanya rapi. "Duh, Mas ini ya. Cuma tiga hari doang kok. Bukan selamanya. Nanti pas pulang, aku bawain oleh-oleh kesukaan Mas ya. Peuyeum sama kolengkapi, kan?"
Kalimat itu terasa seperti pisau yang ditusukkan perlahan ke dada Arka.
Peuyeum sama kolengkapi.
Arka ingat betul. Enam bulan yang lalu, Elena pernah berkata dengan sangat yakin bahwa ia tidak suka makanan itu. Bahkan ia sempat bilang, "Duh, Mas, makanan itu apa sih? Kelihatannya aneh, nggak pernah aku makan seumur hidup di Surabaya."
Tapi tiga bulan yang lalu, tiba-tiba Elena bilang ia sangat menyukainya, katanya baru saja diajarkan teman kantor.
Dulu Arka pikir itu hal biasa. Sekarang ia tahu: Dulu Elena Wijaya memang tidak tahu apa itu peuyeum. Tapi Claire Nathania yang sering bolak-balik ke Bandung, sangat tahu dan sangat menyukainya.
Satu kebohongan kecil. Lalu ditambah kebohongan lain. Dan lagi, dan lagi. Sampai Arka bingung mana yang asli dan mana yang palsu.
"Mas?" panggil Elena lagi, sedikit cemas melihat Arka diam saja. "Kok mukanya pucat? Sakit ya?"
Arka menggeleng pelan, lalu mengangkat tangan menyentuh wajah istrinya dengan gerakan yang seolah penuh kasih sayang, padahal di dalam hatinya ia sedang menahan rasa gemetar yang hebat.
"Enggak kok, Le. Cuma... aku ingat waktu awal-awal kita nikah. Kamu pernah bilang nggak suka kopi hitam. Terus sekarang malah tiap pagi harus ada. Kamu bilang nggak bisa naik motor, eh sekarang kalau ada urusan dekat malah sering boncengan sama teman kantor. Kamu bilang nggak punya saudara selain Bude di Surabaya, eh semalam aku denger kamu ngomong sama seseorang, sebut nama Sarah..."
Arka mengucapkan kalimat-kalimat itu perlahan, satu per satu, matanya menatap lekat-lekat manik mata Elena, menunggu reaksinya.
Wajah Elena berubah drastis. Rona merah di pipinya hilang seketika, digantikan warna putih pasi yang mengerikan. Tangannya yang sedang merapikan rambut berhenti bergetar di udara. Kilatan panik melintas cepat di matanya, sebelum ia berhasil menyembunyikannya kembali di balik senyum kaku.
"Yaelah, Mas... hal-hal kayak gitu kan wajar berubah," jawabnya cepat, nadanya sedikit meninggi, pertahanan dirinya mulai bangkit. "Selera makan bisa berubah, keberanian bisa berubah. Lagian Sarah itu... itu kan anak keponakan jauh. Aku kan jarang ketemu, jadi lupa mau cerita ke Mas. Kecil banget masalahnya kok dibesar-besarin."
"Kecil ya, Le?" Arka menurunkan tangannya perlahan. "Semuanya kecil? Waktu kamu bilang kamu lulusan desain interior ITS, tapi aku pernah lihat kamu bingung pas baca denah bangunan sederhana. Kecil? Waktu kamu bilang kamu nggak bisa bahasa Sunda, tapi kemarin aku denger kamu ngomong 'punten' sama 'atuh' pas ngomong di telepon. Kecil?"
Elena mundur selangkah. Kakinya menyentuh koper hitam besar di belakangnya. Ia terperangkap di antara dinding dan pertanyaan-pertanyaan suaminya yang mulai menusuk ke tulang. Mulutnya terbuka ingin bicara, tapi tak ada suara yang keluar. Wajahnya kini terlihat jelas ketakutan.
Arka mendekat selangkah, suaranya turun menjadi bisikan dingin.
"Kebohongan kecil, Le. Itu yang kamu bilang. Tapi kalau dikumpulin... semuanya jadi bukti kalau wanita yang aku nikahi itu... bukan wanita yang aku kenal. Kamu nggak cuma nyembunyiin masa lalu. Kamu nyembunyiin siapa diri kamu yang sebenarnya."
Suasana hening seketika. Hanya terdengar suara napas mereka berdua yang saling bersaing. Di mata Elena, air mata mulai menggenang, tapi kali ini Arka tahu itu bukan akting belaka. Itu ketakutan yang nyata.
"Mas... Mas mulai ngomong apa sih?" suaranya bergetar, tangan kirinya mencengkeram lengan jaketnya kuat-kuat. "Aku Elena. Istri Mas. Satu-satunya wanita yang ada di sini. Kenapa... kenapa Mas bikin semuanya jadi menakutkan kayak gini?"
Ia berusaha melewati Arka, ingin segera pergi, ingin segera menjauh dari pertanyaan-pertanyaan itu. "Aku harus berangkat. Supir udah nunggu di bawah. Masih banyak urusan."
Arka tidak menahannya. Ia membiarkan Elena berjalan cepat menuju pintu depan, koper berat itu ditariknya dengan tangan yang gemetar. Tapi sebelum wanita itu melangkah keluar, Arka berbicara lagi, kalimat yang langsung diambil dari isi pesan yang tidak terkirim semalam—kalimat yang hanya dia dan Elena yang tahu.
"Hati-hati di Bandung ya, Le. Di sana... Elena Wijaya nggak ada. Di sana, cuma ada Claire Nathania."
Langkah kaki Elena terhenti total.
Tubuhnya kaku seperti patung. Punggungnya bergetar hebat. Selama beberapa detik yang mencekam, ia diam tak bergerak, seolah dunia runtuh di bawah kakinya. Ia tidak menoleh, tidak berani menoleh.
Pintu depan terbuka, lalu tertutup keras.
Arka berdiri sendirian di ruang tamu yang mendadak terasa begitu luas dan kosong. Ia tahu sekarang. Ia sudah menekan tombol yang tepat. Elena tahu Arka sudah tahu. Permainan sembunyi-sembunyi sudah berakhir. Mulai detik ini, mereka tidak lagi berpura-pura tidak tahu.
Di lantai, tepat di dekat ambang pintu tempat Elena berdiri tadi, tergeletak selembar kartu nama kecil yang terjatuh dari saku jaketnya saat ia terkejut.
Arka berjalan mendekat, membungkuk, dan mengambilnya.
Di atas kertas putih itu, tercetak tulisan elegan dengan tinta hitam:
ADRIAN MAHESA
Konsultan Manajemen – Bandung
Di balik nama itu, ada kekuasaan yang mengatur segalanya.
Dan di sudut bawah, ada tulisan tangan kecil yang ia kenal betul—tulisan Elena, atau Claire—dengan gaya tulisan yang huruf 'a'-nya melengkung ke bawah.
"Datanglah sendiri, atau semuanya berakhir di sini."
Arka meremas kartu nama itu di tangannya. Rasa curiga yang dulu tumbuh pelan kini telah berubah menjadi tekad baja. Kebohongan-kebohongan kecil itu sudah menumpuk menjadi gunung, dan sekarang saatnya ia mendaki gunung itu, sampai ke puncak di mana kebenaran yang paling mengerikan sedang menunggunya.
Tiga jam lagi, ia akan menyusul ke Bandung.
Dan kali ini, ia tidak akan lagi menjadi suami yang diam di rumah.
— BERSAMBUNG.......