"Kultivasi energiku memang kembali jadi kecoa, tapi dengan fisik dewa ini... jika ada master yang mencoba meninjuku, tangannya sendiri yang akan patah menjadi tebu!"
Seratus tahun disiksa dan dibuang ke kolam darah Gunung Ming akibat konspirasi kejam di masa lalunya, Lin Ling akhirnya berhasil bangkit. Melalui ritual terlarang yang membakar habis basis kultivasi Nascent Soul-nya, ia melebur esensi Ular Purba Mahayana dan Kristal Dao Agung untuk menciptakan sebilah wadah kedewaan baru.
Namun, takdir bercanda dengannya. Tubuh barunya menjelma menjadi monster dengan kekuatan fisik murni ranah Mahayana Lapisan 1, tetapi dantian spiritualnya kosong melompati segala bentuk Qi. Karena bakatnya terkunci di Akar Spiritual Kelas Menengah, Lin Ling terpaksa harus merangkak kembali dari dasar bumi—ranah Body Tempering lapisan pertama.
Trauma masa lalu? Dendam yang meledak-ledak? Tidak ada waktu untuk itu! Lin Ling yang baru telah menjelma menjadi sosok Immortal yang bebas, konyol, super santai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Dao Sejati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis di Atas Salju
Matahari pagi terbit dengan pendar yang redup, terhalang oleh lapisan kabut kelabu yang menggantung rendah di atas atap-atap jerami desa. Hawa dingin sisa semalam masih terasa menggigit, membekukan permukaan tanah berlumpur menjadi lapisan es tipis yang licin.
Di halaman tanah luas dekat batas timur desa, suasana justru tampak riuh oleh suara tawa anak-anak.
PLAK!
"Hahaha! Lihat, batuku tepat berada di tengah garis! Aku menang lagi!" suara cempreng Er Gou memecah kesunyian pagi. Anak laki-laki berbadan gempal itu melompat-lompat kegirangan hingga ingus di hidungnya hampir jatuh, memicu sorak-sorai kesal dari teman-temannya.
Mereka sedang memainkan permainan batu yang sama seperti beberapa hari lalu. Di atas permukaan tanah yang tertutup salju tipis, sebuah pola garis silang berbentuk persegi telah digambar menggunakan ranting pohon. Setiap anak memegang sebutir batu sungai yang bulat dan halus, mencoba melemparkannya agar berhenti tepat di titik koordinat terdalam tanpa keluar dari garis pembatas.
Bagi anak-anak fana ini, permainan sederhana ini adalah sumber kebahagiaan terbesar mereka di tengah musim dingin yang menjemukan.
Tidak jauh dari kerumunan itu, Lin Ling berdiri diam di bawah bayangan sebuah pohon tua yang meranggas.
Jubah merah tuanya yang penuh tambalan tampak kontras dengan latar belakang salju yang putih bersih, sementara sepasang tangan mungilnya disembunyikan di balik lengan baju untuk menghalau rasa kebas yang mulai merayap di ujung jarinya.
Manik mata hitam Lin Ling bergerak dengan ritme yang sangat teratur, mengamati lintasan setiap batu yang dilemparkan oleh anak-anak desa tersebut.
Di mata orang awam, itu hanyalah lemparan asal-asalan anak kecil. Namun di dalam otak taktis Lin Ling, setiap lemparan itu langsung terjemah menjadi kalkulasi matematis yang presisi: sudut kemiringan tangan, kekuatan dorongan otot, pengaruh embusan angin musim dingin, hingga koefisien gesek permukaan batu terhadap lapisan es di atas tanah.
Dia tidak sedang ingin bermain. Dia hanya sedang melatih kembali ketajaman analisis indranya setelah sekian lama meridian tubuhnya lumpuh.
Anak perempuan kecil yang mengenakan syal rajut usang—yang sempat menyapa Lin Ling beberapa hari lalu—mendadak menyadari kehadiran sosok berbaju merah tua itu. Dia memisahkan diri dari kerumunan, berjalan mendekat dengan langkah kecil yang berbunyi berdecit di atas salju.
"Hei, Anak Dingin," panggil anak perempuan itu polos, menjulurkan tangannya yang memerah akibat dingin, memperlihatkan tiga butir batu sungai berwarna abu-abu di telapak tangannya. "Kau hanya berdiri di sana seperti patung es sejak tadi. Apakah kau benar-benar tidak mau mencoba? Ini, aku pinjamkan batuku."
Lin Ling menurunkan pandangannya, menatap tiga butir batu biasa di tangan anak perempuan itu, lalu kembali menatap wajah polos di depannya. Tidak ada riak emosi di wajah pucat Lin Ling."Aku tidak tertarik," jawab Lin Ling pendek, suaranya terdengar datar dan terasing.
"Ah, kau membosankan sekali!" anak perempuan itu mengerucutkan bibirnya kesal. "Padahal Er Gou sudah sombong sekali karena menang terus. Jika kau bisa mengalahkannya, dia pasti akan menangis dan memberikan jatah ubi bakarnya nanti siang!"
Tepat saat anak perempuan itu masih mencoba membujuk, suara langkah kaki yang berat dan teratur mendadak terdengar dari arah jalur utama pemukiman.
KREK... KREK... KREK...
Suara sepatu bot kulit yang menginjak lapisan es tipis itu terdengar sangat konstan, memancarkan aura tekanan yang membuat atmosfer di sekitar halaman tanah itu seketika mendingin secara tidak wajar.
Anak-anak desa yang semula tertawa riuh mendadak menghentikan aktivitas mereka. Satu per satu dari mereka menoleh, dan begitu melihat siapa yang datang, wajah-wajah polos itu langsung memucat oleh rasa takut yang mendalam. Mereka buru-buru memungut batu masing-masing dan mundur teratur, bersembunyi di balik pagar kayu atau punggung rumah warga.
Lin Ling tidak bergerak dari posisinya di bawah pohon tua. Namun, sepasang manik mata hitamnya langsung menyempit tajam.
Dari balik kabut tipis pagi, sesosok pemuda berpakaian sutra biru tua yang mewah melangkah perlahan memasuki area halaman timur. Jubahnya yang bersih tanpa noda sedikit pun tampak sangat tidak selaras dengan lingkungan fana miskin yang kumal di sekitarnya. Rambut hitamnya yang panjang diikat rapi dengan jepit giok putih yang memancarkan pendar energi spiritual samar.
Itu adalah Tuan Muda Kedua dari Klan Huang, Huang Shi.
Di belakangnya, dua pengawal pribadi bertubuh tegap dengan pedang panjang menggantung di pinggang mengikuti dengan langkah konstan, sepasang mata mereka menyapu sekeliling dengan tatapan meremehkan yang pekat.
Huang Shi tidak melirik ke arah anak-anak desa yang ketakutan. Sepasang mata kuningnya yang tajam sejak awal telah terkunci lurus pada satu-satunya sosok yang tetap berdiri tegap di bawah pohon tua—bocah berbaju merah tua dengan rambut putih yang unik.
Jarak di antara keduanya perlahan terkikis hingga menyisakan sepuluh langkah.
Aura intimidasi mental dari seorang kultivator Tahap Kondensasi Qi yang memancar dari tubuh Huang Shi terasa menekan udara di sekitar, membuat manusia fana biasa di dalam rumah-rumah terdekat bahkan kesulitan untuk sekadar bernapas dengan lega.
Namun, di depan tekanan laten tersebut, Lin Ling justru melangkah maju satu langkah dari bayangan pohon. Wajah pucatnya tetap setenang air di dalam sumur mati, tidak memperlihatkan tanda-tanda ketundukan ataupun kepanikan fana yang sewajarnya.
Garis tak terlihat di atas salju pagi ini tidak lagi hanya memisahkan batu-batu permainan anak desa, melainkan menjadi pembatas dingin antara seorang penguasa wilayah dan seonggok jiwa taktis yang sedang menyembunyikan taringnya di balik tubuh seorang bocah.