NovelToon NovelToon
Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Duda / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.

Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.

Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.

Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

Tangannya otomatis merapikan selimut Habibi sampai menutupi dada mungilnya. Gerakan yang begitu alami. Begitu terbiasa.

Sampai Umi Salma memperhatikannya diam-diam. “Panjenengan telaten sekali,” ucap beliau pelan.

Amira langsung menunduk malu. “Saya cuma takut dia kedinginan.”

Umi Salma tersenyum tipis. “Tidak semua perempuan punya kesabaran seperti itu.”

Amira tidak menjawab. Karena sesungguhnya setiap kali mengurus Habibi, hatinya justru terasa campur aduk. Ada hangat yang tumbuh perlahan. Tetapi juga ada luka yang terus teringat. Sebab setiap kali menggendong bayi itu ia membayangkan seharusnya anaknya sendiri yang ada di pelukan itu.

“Sudah sarapan?” tanya Umi Salma tiba-tiba.

Amira menggeleng kecil. “Belum, Umi.”

“Nanti makan dulu.” Nada suara beliau kembali seperti ibu yang sedang mengurus anak sendiri. “Ibu menyusui tidak boleh telat makan.”

Amira mengangguk patuh. Tak lama kemudian Tiur masuk membawa nampan sarapan. Bubur ayam kampung, telur rebus, kurma, susu hangat, dan jus buah. Amira langsung merasa tidak enak melihat porsinya. “Banyak sekali…”

Tiur malah tersenyum kecil. “Ini belum banyak, Bu.”

Umi Salma ikut tersenyum samar. “Kalau ASI Habibi mau lancar, panjenengan harus sehat.”

Amira akhirnya duduk di meja kecil dekat jendela untuk makan.

Sementara Umi Salma berdiri mendekati baby box, memandang cucunya lama. “Kadang saya masih tidak percaya Alya sudah tidak ada,” gumam beliau pelan.

Amira menghentikan gerakan sendoknya.

“Rumah ini mendadak sunyi sekali.”

Nada suara itu membuat hati Amira ikut berat. Karena ia memahami perasaan kehilangan itu. Sangat memahami.

“Dulu setiap pagi Alya pasti ke kamar saya dulu.” Umi Salma tersenyum kecil mengenang. “Cuma untuk cerita Habibi bergerak atau mual lagi.” Tatapan beliau melembut. “Dia perempuan ceria.”

Amira diam mendengarkan. “Dan sekarang…” Umi Salma menghela napas pelan. “Yang tertinggal hanya anaknya.” Suasana mendadak hening lagi. Namun kali ini tidak terlalu canggung. Justru terasa seperti dua perempuan yang sama-sama sedang belajar berdamai dengan takdir.

Umi Salma masih berdiri di dekat baby box ketika suara langkah di luar perlahan menjauh lagi. Beliau memastikan Habibi tetap tidur nyenyak sebelum kembali duduk. Sementara Amira melanjutkan sarapannya pelan-pelan.

“Dulu Alya sering bilang…” Umi Salma tersenyum kecil sendiri, “Usman itu sebenarnya keras kepala.”

Amira mendongak sedikit.

“Kalau sudah suka sesuatu dari dulu, susah berubah.” Nada suara beliau terdengar lebih ringan sekarang, seperti sedang mengenang masa lalu. “Alya itu masih saudara jauh kami sebenarnya.”

Amira diam mendengarkan.

“Dari jalur keluarga ibu saya.” Umi Salma mengambil napas pendek. “Rumah mereka di kampung Mlati.”

Sendok di tangan Amira langsung berhenti. Mlati? Ia refleks mendongak. “Kampung Mlati, Umi?”

“Iya.” Umi Salma mengangguk pelan. “Panjenengan tahu?”

Amira terlihat sedikit tertegun. “Itu… kampung saya dulu.”

Kini giliran Umi Salma yang tampak terkejut kecil. “Serius?”

Amira mengangguk pelan. “Saya lahir di sana sebelum pindah ikut orang tua.”

Dadanya tiba-tiba terasa aneh. Karena nama kampung itu membawa begitu banyak kenangan lama. Sawah-sawah luas. Jalan kecil penuh pohon bambu. Mushala tua dekat rumah mbahnya. Dan suara anak-anak mengaji setiap sore.

Umi Salma tersenyum samar. “Dunia memang sempit.”

Amira ikut tersenyum kecil meski pikirannya masih tertinggal di masa lalu.

“Usman dari kecil senang sekali kalau diajak ke Mlati,” lanjut Umi Salma. “Padahal rumah kerabat dekat kami di kota. Kalau liburan pesantren, dia pasti minta diantar ke sana.”

“Kenapa, Umi?”

“Mungkin karena suasananya.” Umi Salma tertawa kecil. “Di sana lebih tenang. Banyak kebun, sungai dan orang-orangnya masih dekat satu sama lain.”

Amira perlahan mengangguk. Memang begitu kampung Mlati dulu.

“Waktu kecil,” lanjut beliau lagi, “Usman sering ikut main dengan anak-anak keluarga sana.” Tatapan Umi Salma mulai menerawang. “Alya juga salah satunya.”

Amira diam mendengarkan.

“Bedanya Usman anaknya pendiam.” Nada suara beliau mulai mengandung geli tipis. “Kalau Alya justru cerewet sekali.”

Untuk pertama kalinya Amira bisa membayangkan Kyai Usman kecil. Bocah pendiam yang tumbuh jadi lelaki setenang sekarang.

“Awalnya kami bahkan tidak menyangka mereka berjodoh.” Umi Salma tersenyum samar. “Karena Usman terlalu lama di luar negeri. Setelah pulang dari Madinah baru mereka dekat lagi.”

Amira menunduk pelan. Entah kenapa mendengar semua itu membuat sosok Usman terasa lebih manusiawi. Bukan hanya kyai muda yang dingin dan dihormati semua orang. Tetapi juga lelaki yang pernah punya masa kecil, punya tempat favorit, dan kehilangan perempuan yang dicintainya.

“Kalau nanti ada pengajian keluarga di Mlati, ikut saja sekalian,” ujar Umi Salma sambil tersenyum lembut. “Hitung-hitung melepas rindu kampung halaman.”

Amira yang tadi sedang menata sendok perlahan berhenti bergerak. Senyumnya memudar tipis. Beberapa detik ia hanya diam. Lalu pelan-pelan menggeleng. “Terima kasih, Umi…” suaranya halus sekali. “Tapi saya rasa tidak.”

Umi Salma sedikit heran. “Kenapa?”

Amira menunduk, jemarinya saling menggenggam pelan di atas meja. “Saya sudah lama tidak ke sana.”

“Justru itu,” ujar Umi Salma lembut. “Kadang pulang ke tempat lama bisa membuat hati lebih ringan.”

Amira tersenyum kecil. Namun senyum itu terasa dipaksakan. “Bukan karena tidak rindu.” Tatapannya jatuh ke lantai. “Saya cuma…” ia berhenti sebentar, seolah sedang memilih kata yang aman. “Sudah janji pada diri sendiri untuk tidak menginjakkan kaki ke sana lagi.”

Ruangan mendadak sedikit sunyi. Umi Salma memperhatikan wajah Amira yang tiba-tiba berubah muram. Beliau cukup peka untuk menyadari ada sesuatu yang tidak ingin dibicarakan lebih jauh. Karena itu beliau tidak mendesak. “Hm…” Umi Salma hanya mengangguk pelan. “Kalau memang begitu, tidak apa-apa.”

Amira langsung merasa tidak enak. “Maaf, Umi.”

“Tidak perlu minta maaf.” Nada suara beliau tetap lembut. “Setiap orang punya kenangan yang ingin disimpan dari jauh.”

Kalimat itu membuat Amira diam. Karena memang bukan kampungnya yang ia benci. Justru sebaliknya. Terlalu banyak kenangan di sana. Terlalu banyak hal yang ingin ia lupakan. Dan salah satunya membuatnya bersumpah tidak akan pernah kembali lagi ke Mlati.

***

Usia Habibi genap tujuh hari. Pagi itu ndalem terlihat lebih sibuk dari biasanya. Beberapa khadimat mondar-mandir menyiapkan perlengkapan bayi, sementara mobil keluarga sudah terparkir di halaman depan.

Hari ini Habibi akan dibawa ke kampung mendiang ibunya. Pengajian tujuh harian Alya akan diadakan di sana. Amira tidak ikut.

Sejak awal ia memang sudah menyampaikan pada Umi Salma kalau dirinya cukup menyiapkan ASIP untuk kebutuhan Habibi selama perjalanan dan di sana nanti. Lagipula ia tidak ingin kembali ke Mlati. Meski hanya sekadar lewat.

“Ini yang terakhir, Tiur,” ujar Amira sambil menyerahkan botol ASIP yang baru selesai diberi label tanggal.

Tiur menerimanya hati-hati lalu memasukkan ke dalam cooler bag. “MasyaAllah banyak sekali, Bu.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!