Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.
Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Marah
Pagi harinya Nayra tidak bicara sepatah katapun sebagi aksi marahnya pada putranya, bahkan biasanya ia akan membangunkan anak itu dengan cara menepuk pelan pipi sang anak lalu membuka semua gorden, maka pagi ini Nayra hanya mengetuk pintunya saja.
Tak peduli kalau tindakannya itu akan membuat Rayyan terlambat pergi sekolah, tapi menurut Nayra itu semua belum ada apa-apanya di bandingkan dengan yang di lakukan putranya di depan tetangga baru mereka.
Nayra malu dengan tindakan Rayyan seperti menyepelekannya, tapi dengan mudahnya menurut dengan orang lain. Padahal Nayra ibu yang melahirkannya, tapi Rayyan malah mempermalukannya.
Tapi yang tidak di sangka-sangka anak itu keluar dari kamar lima belas menit kemudian dengan seragam sekolah, lalu bergabung dengannya di meja makan. Selama sarapan Rayyan sepeti biasa banyak bicara, tapi tak satupun yang di tanggapi Nayra yang berharap anak itu mengerti kemarahannya.
Akhirnya Rayyan diam sampai beberapa saat kemudian putra lebih dulu selesai sarapan. jika biasanya Rayyan langsung masuk kamar untuk bersiap-siap, maka pagi ini mendekati di wastafel. "Cuci piring mah gampang, biar Rayyan yang cu–"
"Jangan nambah kerjaan deh, nanti yang ada baju sekolahmu basah! Mendingan ke kamar, cepat siap-siap biar kita bisa cepat pergi ke sekolah!" Titah Nayra masih di meja makan sambil menatap putranya datar serta tanpa memanggil dirinya Mama, sengaja agar anak itu sadar akan kesalahannya.
Sementara Rayyan tentu saja tidak mendengarkan. Ia memutar kran, membersihkan gelas dan piringnya sendiri dari sisa-sisa nasi goreng lalu mengambil spon cuci.
"Rayyan jangan bandel! Itu lihat bajunya jadi basah!" Tegur Nayra dengan keras membuat Rayyan buru-buru mematikan kran, lalu memastikan perkataan mamanya yang ternyata benar. Di baju pramukanya ada beberapa titik air.
"Ini kecil, Ma. Bentar lagi juga kering."
"Sekali aja apa yang di omongin orang tua di dengerin bisa ngga? Nanti kalau seragam kamu itu basah siapa yang susah? Emang kamu mau ngga sekolah?"
"Ngga sampai segitu juga, Ma." Rayyan mulai menyadari ada berbeda dengan sikap Nayra, tapi sebenarnya sejak awal ia sudah merasakannya, tapi tak ingin memusingkannya. "Mama kenapa sih? Setelah diamin Rayyan sekarang malah marah-marah ngga jelas."
"Barusan kamu ngomong apa?"
"Enggak ada, Mama salah denger." Rayyan sambil tersenyum berharap Nayra tak marah lagi.
"Dari dulu kamu kamu paling pinter kalau ngejawab perkataan orang tua sama mempermalukan mereka juga!"
Ternyata masih marah membuat Rayyan yang tidak mengerti salahnya hanya menundukkan kepala. Tangannya memainkan bagian bawah baju sekolahnya. "Ma, Rayyan–"
"Cepat siap-siap, nanti terlambat!" Kata Nayra sambil melihat tam tangannya. "Mama juga pengen ngecek toko, ketemu beberapa orang, bikin konten dan banyak lagi setelah anterin kamu ke sekolah."
"Rayyan minta–"
"Rayyan, sepuluh menit lagi kamu telat!" Nayra mengambil piring, gelas, tempat nasi goreng dan telur yang sudah di tumpuk lalu mendekati Rayyan lebih tepatnya wastafel untuk membersihkannya. "Rayyan, kamu ngga dengar apa kata Mama?"
"Mama belum maafin Rayyan."
"Nanti diulang lagi!" Nayra sengaja sedikit meninggikan suaranya, tapi diam-diam hatinya mulai tidak tega karna raut memelas putranya. Tapi tidak, kalau ia tidak tegas nanti Rayyan pasti mengulangi kesalahan yang sama hingga menjadi kebiasaan sampai dewasa. Nayra sebagai seorang wanita tidak suka dengan laki-laki seperti itu.
Nayra sibuk mencuci piringnya sementara Rayyan masih di sana sambil memutar otak agar di maafkan. Rayyan sudah berusia empat belas tahun jadi mengerti kesalahannya karna semalam Nayra juga sempat memarahinya karna ketidak sapaannya. Ia menyesal tapi sulit sekali untuk tidak mengulanginya lagi.
Rayyan juga tak ingin membuat Mama malu karna menghadapi anak sepertinya, tapi kalau dalam suasana hati yang bahagia dan bersama orang yang di sukainya, ia sering lupa akan hal-hal yang benci Mamanya.
"Rayyan kamu masih di sana? Jangan bilang udah lupa sama yang baru saja Mama bilang? Kamu mau bikin Mama tambah marah lagi ya?"
"Eee enggak, Ma. Ingat kok." Rayyan buru-buru memasuki kamar, mengambil tas, memastikan penampilan di depan kaca dan hendak keluar tiba-tiba mengingat belum mencari mata pelajaran untuk hari ini.
Buru-buru Rayyan mencari buku serta membuka buku tugas yang beruntungnya tidak ada. Setelah memastikan semua bukunya lengkap ia buru-buru keluar dari kamar dan terlihat Mama sudah rapi menunggunya di depan pintu unit.
"Lama banget perasaan cuma ambil tas." Nayra keluar lebih dulu dari unitnya di susul oleh Rayyan. "Pasti lupa cari mapel? Awas aja kalau ada laporan masuk dari guru kalau kamu enggak mengerjakan tugas sekolah!"
"Enggak kok." Balasnya gugup lalu mengalihkan pandangan dari Nayra, bertepatan dengan tetangganya baru keluar dari unitnya. "Pagi Om Rara, mau pergi kerja ya?"
"Pagi Rayyan," balas Gatra sambil menukar senyum pada tetangganya. "Saya mau olahraga ke bawah."
"Emang Om ngga kerja?"
"Rayyan!" Tegur Nayra merasa anaknya tidak sopan.
Gatra melempar senyum tidak keberatan pada Nayra lalu mengalihkan pada Rayuan. "Saya enggak kerja kayak orang lain, Ray. Saya kerja di kapan dan kebetulan sekarang saya lagi libur jadi bisa bebas kemana aja."
"Keren, giman tuh kerjanya, Om?" Tanya Rayyan antusias.
"Panjang kalau di ceritain, Ray. Nanti kamu bisa telat." Kata Gatra, membuat Rayyan menoleh pada Nayra dengan tatapan bersalah.
"Yaudah deh, kapan-kapan aja ceritanya, Om. Rayyan mau pergi sekolah dulu."
"Iya, duluan, Mas." Pamit Nayra sambil tersenyum kecil pada Gatra yang membalasnya.