NovelToon NovelToon
All About Love (Love Story)

All About Love (Love Story)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.

Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.

Detik berikutnya, napasnya tercekat.

Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.

Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

you're mine 9

Devan berdiri di depan Nara, secara refleks menutupi perempuan itu dengan tubuhnya. Sikap protektif yang tidak disadarinya, tetapi sangat jelas bagi Sandra, dan itu semakin membuat Sandra marah.

"Kita bicara nanti. Sekarang aku mohon, pergilah dulu," jawab Devan datar. Dingin. Nada yang biasa ia gunakan untuk mengakhiri pembicaraan.

Sandra tertawa sinis. "Pergi katamu? Dan membiarkan kalian melanjutkan keintiman kalian? Kalian pikir aku bodoh?"

Nara menunduk. Tangannya meremas ujung kemeja putih yang sedikit kusut. Ia merasa seperti terdakwa yang tertangkap basah, padahal yang ia lakukan hanya... merindukan seseorang selama lima tahun.

"Sandra, berhenti. Cukup, kataku. Pergilah!" perintah Devan. Suaranya rendah, namun mengandung peringatan.

"Atas dasar apa aku yang harus pergi? Aku tunanganmu, kalau kamu lupa!" Sandra menghentakkan hak sepatunya ke lantai marmer dengan kasar. "Atau aku harus panggil Mama kamu ke sini supaya Mama kamu lihat sendiri apa yang sudah kamu lakukan di belakang Mama kamu dan Nathan? Dengan dia?"

Telunjuknya mengarah tepat ke wajah Nara. Menghina. Merendahkan dan mengintimidasi.

Devan maju selangkah. Rahangnya mengeras. "Jaga ucapanmu, Sandra. Ini kantorku. Dan dia karyawanku."

"Karyawan?" Sandra mendekat, senyumnya miring. "Karyawan yang kamu cium di ruang kerjamu? Karyawan yang kamu kunci pintunya untuk berduaan saja? Van, kamu anggap aku apa?"

Suaranya bergetar. Marah. Terluka. Namun di balik itu, ada sesuatu yang lebih pekat: rasa benci. Benci kepada Nara. Perempuan yang tiba-tiba datang dan dalam sekejap saja berhasil menggoyahkan setahun penuh usahanya.

Nara akhirnya bersuara, lirih namun tegas. "Bu Sandra, ini salah paham. Saya akan—"

"Diam!" bentak Sandra. "Kamu tidak berhak bicara di sini. Kamu itu siapa? Kamu pikir kamu bisa merebut Devan dariku? Jangan harap!"

Nara terdiam. Kata _merebut_ itu terasa seperti tamparan. Bukankah ia yang pergi? Bukankah ia yang mengalah? Mengapa sekarang ia yang dituduh sebagai perusak?

Devan menarik Nara ke belakangnya, lalu menatap Sandra tajam. "Cukup, San. Keluar sekarang. Kita bicarakan ini di rumah."

"Tidak!" Sandra menolak. Matanya berkaca-kaca, tetapi amarahnya lebih dominan. "Aku mau bicara di sini. Di depan dia. Supaya dia tahu diri. Nara, dengar baik-baik. Devan itu milikku. Kamu itu cuma masa lalu. Dan masa lalu seharusnya tetap dikubur."

Setiap kata Sandra seperti pisau yang ditancapkan satu per satu ke dada Nara. Ia mundur selangkah, melepaskan diri dari Devan. Ia tidak sanggup. Terlalu sakit.

"Saya... permisi, Pak," ucap Nara kepada Devan, lalu berjalan cepat melewati Sandra. Ia tidak menoleh lagi. Air matanya baru jatuh ketika ia keluar dari pintu itu.

Hening.

Devan mengusap wajahnya kasar. "Kamu puas, San?"

"Puas?" Sandra tertawa getir. "Aku hancur, Van. Kamu lebih membela dia daripada aku. Ingat, Van, perempuan itu yang sudah ninggalin kamu. Perempuan itu juga yang membuat adik kamu hampir mati. Dan kamu tanya aku puas?"

"Jadi kamu sudah tahu?" tanya Devan.

"Mama kamu sudah menceritakan semua. Kamu pikir bagaimana reaksi Mama kamu kalau tahu perbuatan kamu ini?" terangnya dengan nada sinis.

Devan tidak menjawab. Ia berjalan ke jendela, memunggungi Sandra. Kepalanya terasa semakin pening.

Sandra menatap punggung itu. Dulu, punggung itu selalu ia peluk dari belakang meski rasanya dingin seperti tembok rumah sakit. Dan kini, punggung itu menjadi benteng untuk perempuan lain. Kebencian di dadanya semakin membesar, membulat, menjadi tekad.

Ia merapikan rambutnya, menghapus air mata, lalu berjalan keluar tanpa pamit. Di lobi, ia langsung menghubungi seseorang.

"Tante, ini Sandra. Saya perlu bertemu Tante sekarang. Ada yang harus kita bicarakan. Perihal Nara dan Devan."

*Di rumah keluarga besar Ardiansyah.*

Mama Devan duduk di sofa, sengaja menunggu kedatangan Sandra. Wajahnya lelah, terlihat jelas sekali dia tengah mencemaskan sesuatu.

"Tante," suara Sandra melembut, namun menusuk. "Tante kemarin bilang kan, kalau lima tahun yang lalu Tante sudah berhasil memisahkan mereka berdua, Devan dan Nara. Tetapi lihat sekarang, Tante. Mereka kembali bersama. Aku tadi memergoki mereka berdua sedang berduaan di ruangan Devan, dengan pintu dikunci," jelasnya panjang lebar.

Mama menutup mulutnya dengan kedua tangan. Terkejut, meskipun dia sudah mengira sejak dia tahu kepulangan Nara. Tapi tetap saja hatinya merasa belum siap. "Jangan... Tuhan, jangan lagi..." ucap Mama dengan bibir dan tangan gemetar.

"Tante," Sandra bergeser, menggenggam tangan Mama. "Aku tidak akan membiarkan Devan kembali pada perempuan itu. Tetapi aku tidak dapat melakukannya sendiri. Aku membutuhkan Tante mendukungku."

Mama menatap Sandra. Di mata perempuan muda itu ada kemarahan, ada ambisi, dan kebencian—tetapi ada juga keteguhan. Keteguhan untuk mempertahankan Devan.

"Apa yang harus Tante lakukan?" bisik Mama. Suaranya lemah.

Sandra tersenyum. Tipis. Senyum kemenangan. "Kita tidak perlu menyakiti Nara, Tante. Kita hanya perlu membuatnya mengerti bahwa dia adalah racun. Bagi Devan dan juga Nathan."

Mama memejamkan mata. Lima tahun yang lalu ia melakukan hal yang sama. Sendirian. Kini ada Sandra di sisinya. Sandra memperjuangkan cintanya, dan sebagai ibu dia juga ingin melindungi kedua putranya. Apakah ini salah? Atau ini cara Tuhan untuk memperbaiki kesalahannya dulu?

"Bagaimana dengan Devan?" tanya Mama lirih. "Dia pasti akan membenci Tante."

"Dia akan marah, Tante. Tetapi Devan akan hidup," jawab Sandra tegas. "Lebih baik dia membenci kita sementara, daripada dia kembali pada perempuan itu, karena itu akan menyakiti Nathan lagi. Tante lebih tahu itu daripada siapa pun. Tante pasti tidak ingin hal yang sama terulang lagi pada Nathan, bukan?"

Hening panjang.

Akhirnya Mama mengangguk. Satu anggukan yang mungkin akan menghancurkan masa depan salah satu dari kedua anaknya.

Di luar, hujan kembali turun. Deras. Seperti tangisan langit yang mengetahui bahwa esok akan ada hati yang kembali dihancurkan.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!