Lampu kristal yang menggantung di ruang tengah kediaman keluarga Arkatama tidak pernah benar benar mampu menghangatkan dingin yang membeku di antara Kyna dan Julian. Lima tahun pernikahan seharusnya menjadi perayaan tentang kesetiaan namun bagi Kyna itu adalah lima tahun pengabdian dalam sunyi yang mencekam. Tepat pada malam peringatan pernikahan mereka sebuah kebenaran pahit terkuak melalui celah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Di sana di bawah kucuran air yang menderu Kyna mendengar suaminya menggumamkan satu nama yang selama ini menjadi hantu tak kasat mata dalam hidup mereka yakni Elara sang cinta pertama yang baru saja menginjakkan kaki kembali di tanah air.
Julian adalah pria yang membangun tembok es di sekeliling hatinya namun bagi Elara pria itu bersedia menjadi api yang menghangatkan. Setiap kali Julian pergi dengan alasan membantu seorang teman yang sedang kesulitan Kyna hanya mampu menjawab dengan seulas senyum tipis dan kata kata pendek yang menyembunyikan luka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Pertanyaan yang meluncur dari bibir Kyna seketika membekukan senyuman lembut di wajah Aldrian.
Keheningan yang pekat langsung menyelimuti ruang kerja, menyisakan deru pelan mesin laptop di bawah telapak tangan Kyna yang masih menekan kapnya dengan erat.
Aldrian terpaku dalam posisi berjongkok, sepasang matanya berkedip lambat seolah seluruh sistem program kelembutan otomatis di dalam dirinya baru saja mengalami gangguan fatal akibat satu kalimat jujur yang paling ia hindari selama lima tahun ini.
Untuk beberapa saat, Aldrian hanya menatap Kyna dengan ekspresi yang sulit diartikan, perpaduan antara keterkejutan yang mendalam dan kilatan defensif yang samar.
Ia kemudian bangkit berdiri perlahan, membetulkan letak jam tangan mewahnya demi mengulur waktu untuk menyusun kembali topeng ketenangannya.
Aldrian menghela napas panjang, sebuah gestur yang biasa ia lakukan setiap kali ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah pihak yang paling dewasa dan sabar dalam menghadapi "tingkah" istrinya.
Dengan nada suara yang sengaja diberatkan namun tetap menjaga ritme lembutnya, Aldrian menyangkal tuduhan itu dengan mengatakan bahwa Kyna sudah terlalu banyak berpikir akibat kelelahan.
Pria itu bersikeras bahwa tidak ada orang lain di hatinya dan pernikahan mereka selama setengah dekade ini adalah bukti nyata dari komitmennya, sebuah pembelaan klise yang kini terdengar seperti lelucon garing di telinga Kyna.
Kyna tidak membalas; ia hanya menatap kosong ke arah laci meja di mana dokumen visa dan paspornya tersimpan rapi, menghitung jam demi jam yang tersisa sebelum ia benar-benar melangkah keluar dari sandiwara melelahkan ini.
Melihat Kyna yang kembali menutup diri dalam kebungkaman, Aldrian menganggap perbincangan malam itu telah selesai.
Ia menepuk bahu Kyna dengan pelan sembari memintanya untuk segera mematikan laptop dan beristirahat karena besok ia harus pergi ke kantor pagi-pagi sekali untuk menyelesaikan urusan proyek bersama Evan.
Begitu punggung tegap Aldrian menghilang di balik pintu kamar, Kyna perlahan melepaskan cengkeramannya dari laptop, menarik napas dalam-dalam untuk meredakan gemuruh di dadanya yang kini terasa jauh lebih lapang setelah menyuarakan kebenaran.
Keesokan paginya, suasana rumah terasa sunyi setelah Aldrian berangkat kerja lebih awal dari biasanya.
Sesuai dengan rencana yang telah disusun matang-matang, tepat pukul 10 pagi saat Sani melangkah keluar pagar untuk pergi berbelanja ke pasar bulanan, sebuah mobil boks hitam milik agen penyalur barang mewah bekas berhenti tepat di depan gerbang.
Kyna menyambut sang kurir dengan ketenangan luar biasa, menyerahkan sepuluh kotak jam tangan desainer yang selama ini menjadi simbol kepalsuan cinta Aldrian untuk diverifikasi keasliannya di tempat.
Proses transaksi berjalan dengan sangat lancar tanpa kendala berarti.
Setelah menandatangani nota penjualan digital, Kyna menatap layar ponselnya yang bergetar pendek, menampilkan sebuah notifikasi transfer dana segar dalam jumlah fantastis yang langsung masuk ke dalam rekening bank pribadi barunya, dana yang akan menjadi modal utama kelangsungan hidup dan biaya kuliahnya selama berada di Eropa nanti.
Kyna mengulas senyum puas yang pertama dalam lima tahun terakhir; ia tidak lagi merasa menjadi wanita lumpuh yang tidak berguna karena kini ia telah memegang kendali penuh atas nasibnya sendiri.
Kyna bergegas kembali ke kamar untuk menyelesaikan kemasan koper kecilnya sebelum Sani kembali dari pasar.
Namun, saat ia sedang memeriksa kembali paspor dan lembaran visa di dalam tas selempangnya, pandangannya tidak sengaja tertangkap oleh secarik kertas kecil yang terselip di bagian bawah laci meja kerja Aldrian yang sedikit terbuka, sebuah memo internal bertanggal lima tahun lalu yang selama ini luput dari perhatiannya.
Kyna menarik kertas kusam itu dengan jantung yang mendadak berdegup dua kali lebih cepat, matanya terbelalak saat membaca baris demi baris instruksi rahasia yang ditulis langsung dengan guratan tangan Aldrian kepada tim hukum keluarga Wibowo.
Memo medis itu menyatakan dengan sangat jelas bahwa pihak rumah sakit dilarang keras memberitahukan kepada Kyna bahwa operasi kakinya lima tahun lalu sebenarnya memiliki tingkat keberhasilan hingga 90% untuk sembuh total, namun Aldrian sengaja membayar tim dokter untuk memanipulasi hasil pemulihan agar Kyna tetap menjadi pincang secara permanen.
sebuah kondisi cacat buatan yang sengaja diciptakan Aldrian agar Kyna selamanya merasa rendah diri, tidak akan pernah berani meninggikannya, dan tetap terkunci dalam sangkar emas utang budi pernikahan mereka.